Welcome to Rayrowling's Blog. Media Berbagi Cerita.

Menulis dan membaca saat ini sudah mulai menjadi trend di kalangan Remaja. Selain itu banyak juga bermunculan cerita untuk kaum minoritas yakni cerita kaum pelangi yang isinya dominan dengan adegan panasnya. Dengan berdasar kedua alasan tersebut Rayrowling(Founder) membangun Blog ini sebagai Media Berbagi Cerita khususnya cerita cinta kaum pelangi yang tidak memfokuskan di adegan Hot-nya untuk lebih jelasnya silahkan baca Visi dan Misi Blog di About Site.
Apa Aja sih yang ada di Ray Rowling's Blog?
1. Tentunya berisi Cerita yang bertema kaum pelangi, baik fiksi maupun non fiksi dari pemilik Blog silahkan lihat label CORETANKU dan dari beberapa tulisan sahabatnya dengan label CORETAN SHABAT
2. Berisi karya lain dari penulis seperti puisi, Argument dan lain-lain untuk itu silahkan kunjungi PETA SITUS kami untuk mengetahui apa yang ada di blog ini. Terimakasih atas kunjungannya.

Wednesday, 2 January 2013

Mengejar Masa Lalu 01


Mengejar Masa Lalu - Wasiat si Mbok (Last Edited 9 Januari 2013)

Siang itu langit kabupaten banyuwangi terlihat gelap tetutup awan pekat dan terlalu dini untuk sang tirta langit turun ke bumi. Hal itu membuat seorang anak laki-laki di sebuah SMP swasta harus segera menyelesaikan soal terakhir Ujian sekolahnya. Dia bernama Johar Sugiono, Anak laki-laki itu akrab dipanggil dengan sebutan Jo di kalangan teman-teman SMP-nya. Sesekali Johar memandang langit dan tampak sangat gelisah, Bukan masalah soal UAS yang menjadi beban baginya namun tentang seorang perempuan yang selalu dipanggilnya Embok di rumahnya.
Soal terakhir berhasil ia selesaikan dan kini saatnya memberi kesempatan bagi teman-temannya untuk menyalin jawabannya. Untung saja teman sebangku Johar dapat diandalkan dan dia menyuruh Johar untuk keluar pertama. Johar pun bergegas menuju meja pengawas dan meletakan lembar jawabannya di atas Meja. Dengan sigap Johar langsung menuju ke luar kelas dan meraih tasnya berlari menuju kantor sekolah.
Setelah mendapatkan Ijin, Johar pun berlari menuju rumah kecil yang berjarak  1 KM dari sekolah. Terdengar dari jauh suara gemuruh petir yang membuatnya semakin kencang berlari. Beberapa menit kemudian akhirnya Johar berdiri di depan rumah kecil dari bilik bambu. Rumah itu adalah rumah yang melindunginya dari hujan dan panas matahari. Terlihat di dalam rumah sosok perempuan muda yang selalu dipanggilnya dengan sebutan mbak Yani sedang merawat Mbok Iyem.
Melihat Mbok Iyem yang mulai duduk di ruang tamu membuat Johar tersenyum karena merasa bahagia melihat Mbok Iyem sehat dari sakitnya. Dengan Nafas masih ngos-ngosan Johar mendekati rumah itu dan suara motor terdengar dari belakang. Ketika Johar menolehkan pandangannya terlihat laki-laki berseragam putih abu-abu datang bersama seorang tetangga terdekat. Pemuda itu bernama Adam yang merupakan kakak Johar.
“Mbok kenapa Dek?” tanya Adam sambil melompat dari boncengan motor. “Aku baru nyampek kak, dan itu Mbok Sehat” Jawab Johar sambil mengikuti langkah cepat Adam menuju ruang tamu. Di dalam Ruang tamu ada Bi Inah tetangga samping rumah mereka, perempuan tua bernama Mbok Iyem yang merupakan Orang tua Adam dan Johar juga seorang perempuan muda bernama Yani yang merupakan kakak perempuan satu-satunya Adam dan Johar.
“Mbok kenapa Mbak?” tanya Johar kepada Yani. “Tidak apa-apa dek, cepat kalian ganti baju dulu” jawab Yani begitu tenang. “Kenapa pak lek Joko jemput saya ke sekolah?” tanya Adam sedikit khawatir. “Kalian ganti baju dulu, dan cepat temeni Mbok disini nak” kata Bi Inah penuh kasih.
Akhirnya Johar dan Adam bergegas ke kamar mereka dan langsung ganti pakaian santai. Johar mendekati Mbok Iyem di ruang tamu, dan selanjutnya Adam yang mengambil posisi di samping Johar. “Kalian sudah makan?” tanya Mbk Iyem Lemah. “Sudah Mbok, Mbok istirahat di kamar aja ya!” Jawab Johar sambil memegang tangan Mbok Iyem. Mbok Iyem hanya menggelengkan kepala dan meneteskan air matanya.
“Adam, sini nak mendekat pada mbok” kata Mbok Iyem. Mendengar itu, Johar ganti posisi dengan Adam, dan sekarang Adam yang berdampingan dengan Mbok Iyem. “Mbok Istirahat di dalam aja ya Mbok, Mbok tidak mau sehat lagi?” kata Adam sambil mencium tangan Mbok Iyem. “Nanti Mbok juga istirahat lama nak, sekarang Mbok hanya ingin berkumpul dengan kalian semua” kata Mbok iyem di sela batuknya.
Yani yang berdiri di bersama Bi inah hanya bisa meneteskan air mata melihat Adam dan Mbok Iyem berdampingan. “Adam, Mbok banyak salah dengan Adam. Maafkan mbok ya nak!” Kata Mbok Iyem sambil Menangis. “Kenapa Mbok? Adam yang banyak salah pada Mbok” kata Adam sambil menangis. Johar juga berkaca-kaca di samping Adam.
“Johar, Mbok juga banyak salah padamu nak… maafkan mbok ya” Kata mbok iyem perlahan. Johar hanya diam dan melihat mbok iyem yang semakin melemah. “Yani, tolonglah Mbok ya nduk! Tolong sampaikan kebenaran pada mereka, Mbok Sudah tidak kuat lagi!” kata mbok Iyem dan lagi-lagi disertai batuk. Yani semakin terisak, tangisannya sudah tak terbendung lagi, Bi Inah berusaha memegang tubuh Yani yang berdiri di samping Mbok.
“Adam, Johar Maafkan Mbok ya nak” kata maaf terlulang dari bibir Mbok membuat Adam dan Johar semakin sedih. “Mbok, jangan ngomong gitu… Mbok pasti sembuh dan kita akan bersama selamanya Mbok” kata Johar melepas kesedihannya dengan isak tangisnya. “Pokonya Mbok berdosa kepada kalian berdua, dan Mbok Mohon maaf sebesar-besarnya dan Mbok harap kalian bisa rukun bersama dan membantu mbok menebus kesalahan mbok di masa lalu. Maafkan mbok ya nak” Kata Mbok Iyem dan langsung lemas tak berdaya. Suara Yani langsung melengking meneriaki kata Mbok. Adam Hanya bisa memeluk Mbok Iyem yang sudah tak bernyawa. Sedangkan Johar roboh di samping Adam mendapati mbok kesayangannya meninggal di depan matanya.
Beberapa tetangga terdekat masuk dan mengurus jenazah Mbok Iyem. Adam yang lebih tabah dapat mengontrol emosinya dan membantu mengangkat Johar ke kamarnya. Akhirnya Jenazah Mbok Iyem bersemayam di atas dipan yang berada di ruang tamu dan di samping jenazah itu Yani terus saja menangis. “Mbak, sudahlah… Jangan tangisi Mbok! Lebih baik kita doakan Mbok dan kita baca Yasin bersama” kata Adam sambil memeluk Yani di sampingnya. “Adek Johar kemana dek?” tanya Yani menyadari tentang Johar. “Johar masih pingsan mbak, mbak harus tenang dan sebaiknya mbak ngaji buat mbok” kata Adam dengan Bijak.
Setelah memastikan Yani tenang, Akhirnya Adam menuju kamar mandi dan berwudlu. Yani juga menuju kamar mandi untuk berwudlu, suara lantunan surat yasin terdengar memenuhi ruang tamu yang kecil itu. Sebelum mengaji, Adam masuk ke kamar Johar dan melihat Johar masih tak sadarkan diri ditemani Bi Inah. “Biar saya yang bangunin Bi” kata Adam mendekat. Bi Inah pun keluar dari kamar bergabung dengan yang lainnya.
“Adek, bangun dek!” kata Adam sambil menepuk tangan Johar. “Kalau Adek begini terus Mbok akan merasa berat, Dek ayo sadar!” Adam mencoba memukul pelan pipi Johar. Perlahan akhirnya Johar membuka matanya. Dia masih terlihat kosong dan hanya menatap langit-langit rumah tanpa menghiraukan Adam di sampingnya.
“Adek….” Kata Adam singkat ketika melihat Johar yang sudah sadar. “Mbok, dimana Mbok kak?” Johar langsung bangun dan berusaha menuju ruang tamu, namun Adam memegangnya dan memeluknya. “Yang sabar ya dek, Mbok sudah pergi meninggalkan kita” kata Adam sambil menangis. “Iya, dimana mbok? Aku sudah tidak apa-apa kak Aku juga tahu itu, suara lantunan surat yasin itu sudah memperjelas semuanya” kata Johar sambil melepas melukan Adam. “Janji ya, jangan bersedih lagi dan lebih baik kita doakan Mbok!” kata Adam mengingatkan Johar. “Aku mau lihat Mbok kak!” kata Johar dengan nada pelan.
Akhirnya Adam memapah Johar menuju ruang tamu, beberapa tetangga langsung melihat ke arah mereka dan Yani masih terus mengaji di samping Mbok iyem. Johar mendekat ke jenazah Mbok iyem dan membuka kain batik penutup jenazah. Dan ketika itu juga Johar menangis dan mencium jenazah Mbok Iyem. Semua menjadi haru, baik Adam maupun Yani tak tahan melihat Johar yang bersimpuh di samping Jenazah Mbok Iyem. “Mbok, secepat itu kah Kau meninggalkan Jo? Sebentar lagi Jo lulus SMP mbok, Sebentar lagi Jo akan memakai seragam putih Abu-abu… Mbok pernah bilang kalau embok ingin melihat Jo memekai seragam putih Abu-abu, sebentar lagi akan terlaksana Mbok. Kenapa Mbok lebih dulu pergi? Mbok… Sekarang siapa yang akan membangunkan Jo untuk sholat shubuh? Mengingatkan Jo untuk selalu berbuat baik?” kata Johar sambil terus menangis di samping Mbok Iyem yang sudah membujur kaku.
Adam mendekati Johar dan mengajak Johar untuk lebih tabah. “Adek, jangan bikin Mbok tambah berat meninggalkan kita. Ayo adek Mandi dulu dan Mengaji untuk Mbok” Adam memegang lengan Johar dan berusaha membangunkannya. Dengan isak tangisnya Johar bangkit dan langsung mengikuti arahan Adam.
Ketika berada di dekat kamar mandi, Adam mengingatkan Johar untuk ikhlas atas kepergian Mbok. Adam juga memberikan masukan Agar Johar lebih dewasa lagi, dan tidak merasa bahwa dirinya sendiri. “Dek, Kamu itu tidak sendiri, masih ada Aku dan masih ada Mbak Yani. Aku ini kakakmu, Tak mungkin aku menyia-nyiakanmu. Jangan bersedih gitu, semua akan mengalami kehilangan dan semua akan merasa sedih namun tak semua orang larut dalam kesedihan.” Kata Adam sambil memegang pundak Johar.
Johar terdiam sejenak dan kemudian mengangguk. “Baiklah, kamu mandi dulu, setelah hujan reda kita akan memandikan Mbok di halaman” kata Adam penuh nada kesabaran. Johar pun masuk dan suara air terdengar dari dalam, Johar menyiram tubuhnya tanpa membuka Baju dan celananya. Dan setelah bisa mengontrol kesedihannya Johar pun mandi dengan bersih. Ketika selesai mandi, Johar bingung mencar handuk, karena sebelumnya dia tidak membawa handuk.
Ketika membuka sedikit pintu kamar mandi, Adam masih berdiri di depan kamar mandi dengan Handuk dan pakaian untuk Johar. “Kak….”, Kata Johar sambil menjulurkan tangannya. Adam memberikan Handuk dan sarung milik Johar. Beberapa menit kemudian Johar keluar dari kamar mandi dengan kain sarung yang terlilit dipinggulnya. “Kamu ambil wudlu dulu, kakak akan tunggu di ruang tamu. Sepertinya hujan mulai reda dan kita mesti cepat memandikan jenazah Mbok” kata Adam sambil menuju ruang tamu.
Johar pun sudah berada di ruang tamu dan terdengar agak serak suara lantunan surat yasin dari mulutnya. Sedangkan Adam membantu para tetangga membenarkan tempat mandi jenazah di halaman rumah. Setelah semua beres, akhirnya Adam masuk dan memberi instruksi kepada Johar untuk mengangkat jasad Mbok iyem. Johar dan Adam membantu memindahkan jasad Mbok iyem ke halaman dengan lantuntan tahlil. Setelah itu giliran Ibu-ibu dan Ustadzah yang mulai memandikan jasad Mbok Iyem.
Beberapa menit kemudian, jasad Mbok Iyem sudah selesai dimandikan. Pak RT menyuruh Adam dan Johar untuk mengangkat Jenazah Mbok Iyem. Namun Yani yang saat itu berada di luar melarang Adam dan Johar mengangkat jenazah Mbok Iyem. “Jangan, Mereka tidak boleh mengangkat Mbok”Kata Yani pelan sambil mendekat ke Pak RT. “Kenapa Yan?” tanya Pak RT. Yani pun menjelaskan alasannya dan Akhirnya Pak RT mengerti, Namun Johar dan Adam masih ingin membantu para ibu-ibu yang menggotong jenazah Mbok Iyem.
Setelah itu, Jenazah dibalut dengan kain Kafan dan disemayamkan sambil menunggu kabar dari tetangga yang menggali kubur. Sambil menunggu kabaritu , ibu-ibu membaca tahlil bersama dan Pak RT mengajak warga untuk bersiap-siap sholat jenazah. Usai tahlil bersama para ibu-ibu keluar dan sekarang giliran bapak-bapak masuk untuk sholat jenazah. Adam berdampingan dengan Johar berada di shaf terdepan.
Akhirnya kabar dari tetangga yang ada di kuburan datang, Jenazah Mbok Iyem di gotong menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Dan ketika semua orang pergi meninggalkan pemakaman itu, hanya ada Yani, Adam dan Johar yang terus duduk di dekat makam si Mbok. Tangis pun pecah ketika Yani meminta maaf sambil mengelus batu nisan Mbok iyem, “Mbok’e Yani banyak dosa pada Mbok’e dan Yani janji akan melakukan Apa yang Mbok’e pasrahkan pada Yani, Mbok’e tenang saja di sana dan semoga gusti Allah menempatkan mbok’e di tempat orang-orang yang beriman!”, kata Yani sambil terus menangis.
Melihat itu, Adam langsung menenangkan Yani dan suami Yani datang kembali ke pemakaman membujuk Yani pulang. Johar pun duduk di dekat batu nisan dan mengangkat kedua telapak tangannya dan berdoa untuk Mbok Iyem. Adam mengikuti Johar dan Setelah itu mereka bergegas pulang ke rumah.
Malam pun tiba, beberapa tetangga datang ke rumah kecil itu untuk melakukan acara tahlil bersama, tak banyak yang datang karena sebelumnya Pak RT bilang bahwa acara tahlilan hanya dilakukan secara kekeluargaan. Namun, mereka yang datang mengingatkan kepada Yani juga pada Adam dan Johar agar tidak terlalu repot dalam memberikan suguhan pada tetangga yang datang. Bagaimanapun juga walau hanya sekedar teh manis harus tetap disuguhkan, Karena ini merupakan ucapan terimakasih kepada para tetangga yang sudah meluangkan waktu untuk mendoakan Mbok bersama.
**************
            Seminggu berlalu di pagi yang cerah seperti biasa Adam dan Johar sudah Mandi dan siap beraktivitas. Adam yang sedang menghadapi ujian sekolah kenaikan kelas harus bergegas menuju sekolah, sedangkan Johar hanya tinggal menunggu pengumuman yang akan keluar seminggu lagi. Hal itu membuat Johar begitu santai dan tidak perlu datang ke sekolah. “Adam, Nanti kalau bisa langsung pulang ya! Mbok mau ngomong penting, kalau gak salah sekarang hari terakhir kamu ujian kan?” Tanya Yani sambil mengaduk teh hangat. “Insyallah, Adam usahain pulang secepatnya kalau Adam lancar ngerjakan saoal ujiannya Mbak. Hehehe” Jawab Adam sambil memasang sepatu.
            “Oia, Mbak Yani kenapa pagi-pagi begini udah datang ke rumah? Bagaimana dengan Mas Naryo?” tanya Johar pada Yani. “Mas Naryo lagi libur Jo, Jadi Mbak tidak perlu membuatkan bekal untuk Mas Naryo biar Mbak masak di sini saja” jawab Yani sambil meletakan dua gelas teh hangat di meja. “Baiklah, Adam berangkat dulu mbak” Kata Adam sambil mendekati Yani dan meraih tangannya. “Eh, teh hangatnya diminum dulu biar nggak laper” kata Yani mengingatkan. Setelah minum teh Adam menuju Johar dan menjulurkan tangannya, Johar pun meraihnya dan mencium tangan Adam. “Sukses ya kak” kata Johar. “Selalu, pasti sekarang juara satu lagi dek” jawab Adam percaya diri. “Halah sok banget… Udah sono berangkat!” kata Johar sambil tertawa melihat Adam.
            “Kalian ini sudah besar masih saja bersaing dan adu mulut terus” kata Yani melihat mereka bedua. “Yaudah, Assalamualaikum!” kata Adam sambil keluar menuju menuju jalan raya. Di dalam rumah sekarang hanya ada Yani dan Johar, Yani langsung meraih kain dan membersihkan meja di dapur. Sedangkan Johar langsung menuju kamarnya dan merapikan kamar tidurnya. Setelah mebersihkan kamar, Johar membantu Yani memasak di dapur, mulai memotong sayur hingga menggoreng ikan.
            Di sela memasak, Johar menanyakan Anting-anting Yani yang sudah tak menggantung di telinganya lagi. “Mbak, Kemana anting-antingnya?” tanya Johar saat menggoreng ikan. “Ada kok dek, Mbak simpan di rumah mas Naryo” jawabnya sedikit ragu. “Mbak jangan bohong, Kak Adam sudah bercerita katanya Anting-anting Mbak dijual ya? Untuk menutupi kekurangan dana acara tahlilan Mbok?” kata Johar sambil melihat Yani.
            “Eh, Adam tahu darimana? Jangan terlalu dipikirkan itu juga pemberian Mbok iyem kok” kata Yani sambil tersenyum. “Yah, tapi seharusnya mbak tidak perlu menjual anting itu, jual saja beras dan sembako yang dari tetangga ini mbak” kata Johar sambil menunjuk karung-karung berisi sembako. “Itu bisa kalian gunakan untuk makan Jo, Janganlah kalian jual sembako itu” kata Yani sambil terus menghaluskan bumbu.
            “Oia, tadi Mbak bilang mau ngomongin sesuatu yang penting kan, Ngomongin apa mbak?” tanya Johar penasaran. “Nanti saja setelah semua berkumpul Jo, Mbak ingin ngomong saat kamu dan Adam berkumpul. “Yaudah nanti aja, oia apalagi yang harus digoreng mbak?” tanya Johar sambil mengecilkan kompor minyak. “Sudah-sudah, biar mbak yang terusin, Jo Beresin ruang tamu saja” kata Yani dan Johar pun langsung keluar menuju ruang tamu.
            Di waktu bersamaan, di sekolah Adam sedang mengerjakan soal-soal Ujian Kenaikan kelas untuk mata pelajaran Matematika. Adam begitu cekatan mengerjakannya, dan penjaga kelas mengira Adam menyembunyikan contekan. “Heh, Coba berdiri” kata pengawas sambil memandang Adam. “Ada apa Pak?” Adam terlihat gugup. “Kulihat semua teman-temanmu itu kesulitan, tapi kamu malah santai dan terus mengerjakan soal itu, Jangan-jangan kamu curang ya?” kata guru penjaga kelas.
            “Curang bagaimana pak? Silahkan cek saja pak” kata Adam sambil berdiri. Guru itu pun memeriksa soal dan lembar jawaban Adam, memeriksa laci dan kursi Adam. “Di saku kamu itu apa?” tanya Guru pengawas. “Tidak ada pak, hanya saputangan.” Jawab Adam. Tanpa bertanya lagi guru itu menggeledah seluruh saku milik adam. dan saat itu juga Wali kelas Adam masuk keruangan itu.
            “Pak Bagiyo? Ada apa?” tanya wali kelas Adam. “Eh Anak ini terlalu lancar mengerjakan soal, jadi Aku kira dia melakukan kecurangan Bu” jawab Guru pengawas itu. “Tidak mungkin pak, saya wali kelasnya dan saya tahu semua murid saya, apalagi Adam yang memang sudah pandai dari awal masuk sekolah, dan dialah sang juara di kelasku pak” kata wali kelas Adam. “Oh, maaf bu kalau begitu, maaf ya nak Adam, bapak kira kamu melakukan kecurangan” jawabnya sambil terus meminta maaf.
            Adam hanya mengangguk dan melanjutkan menjawab soal-soalnya. Hingga beberapa menit kemudian Adam selesai pertama dan langsung mengumpulkan soal-soal itu. Segera Adam menuju pintu gerbang untuk pulang. Dan sesampainya di pintu gerbang Adam bertemu dengan Pak RT yang lewat di depan sekolah Adam. Adam pun memanggil Pak RT dan numpang menuju rumah.
            “Assalamualaikum” Adam mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. “Walaikumsalam” jawab Johar di dalam kamar. “Sudah pulang kak?” Johar menyapa Adam. “Belum, masih di sekolah Dek” Kata Adam agak kesal. “Loh? Kenapa sewot gitu?” Kata Johar sambil memegang pundak Adam. “Hahaha… Kena deh. Kamu kira kakak Marah ya? Nggak kok, meski tadi dibuat badmood sama pak Bagio yang sudah hampir pensiun itu” jawab Adam sambil membuka Bajunya.
            “Oalah, Aku kira ada masalah serius kak” Jawab Johar sambil membenarkan Rambutnya yang lurus. “Mana mbak Yani dek?” tanya Adam. “Mbak pulang kak, nganter makanan untuk suaminya, katanya sih sebentar lagi balik” jawab Johar sambil menuju dapur. Adam hanya diam dan langsung berganti pakaian dan celana Abu-abu miliknya diganti dengan kolor tigaperempat. “Adek udah makan?” tanya Adam ketika berada di pintu dekat dapur.
            “Belumlah, kapan Aku tega meninggalkan kakakku makan sendirian?” jawab Johar sambil meletakan nasi di piringnya. “Halah, emang Aku kapan pernah makan tanpa memikirkan dirimu dek? Kita kan selalu makan bersama saat ada Mbok dulu” jawab Adam sambil menuangkan Air putih. “Mbok… Jadi kangen si mbok kak” Kata Johar pelan. “iya dek, pasti Mbok sekarang sudah tenang dek” kata Adam yang juga terlihat kalut.
            “Sudah, Mbok jangan dipikirin terus nanti malah tambah berat loh ninggalin kita disini” kata mbak Yani mengagetkan. “Eh Ayo mbak makan bersama!” kata Johar sambil terseyum. “Mbak sudah makan sama mas Naryo tadi, kalian makan dulu setelah itu kita bicara di ruang tamu” Kata Yani sambil membantu menyiapkan makan untuk Adam. “Oh iya emang mau ngomongin apa mbak? Sepertinya penting banget!” Kata Adam sambil piring yang sudah berisi nasi jangung. “Makan dulu, biar Mbak tunggu di ruang tamu ya!” kata Yani sambil menuju ruang tamu.
            Akhirnya Adam dan Johar menyelesaikan makannya dan menuju ruang tamu dimana ada Yani yang menunggu mereka. “Apa itu Mbak?” Tanya Johar ketika melihat kotak tua yang dipeluk Yani. “Eh, kalian sudah selesai makannya? Silahkan duduk disini” kata Yani sambil membenarkan posisinya. “Emang itu kota apa?” kali ini Adam yang menanyakan. “Ini adalah kotak wasiat milik Mbok Dek, dan mungkin hari ini Mbak akan berikan Wasiat yang sudah dititipkan Mbok” kata Yani sambil membuka kotak itu.
            “Pertama adalah Cicin ini yang diwariskan untuk Adam, Cicin yang selalu dijaga oleh Mbok meski saat-saat kekurangan uang Cincin ini tidak akan dijualnya” kata Yani sambil menjulurkan cicin emas pada Adam. Adam menerima cicin itu dan membolak-balikan cicin itu, “Sepertinya ini bukan ukuran Mbok deh” kata Adam sambil memperlihatkan Cicin itu ke Johar. Johar hanya diam dan melihat cicin yang indah itu.
            “Cicin itu adalah salah satu warisan Mbok, tapi ada wasiat yang lebih penting lagi, ini menyangkut jati diri kalian berdua” Kata Yani terdengar sangat serius. “Jati diri? Maksudnya?” Kata Johar dan Adam hampir bersamaan. “Sebelumnya mbak mau tanya kepada kalian berdua, kalian Sayang dan cinta pada Mbok?” tanya Yani. “Tidak ada Orang lain yang paling kusayangi selain Mbok seorang” Kata Johar mantap. “Begitu juga dengan diriku Mbak” Adam menambahkan.
            “Alhamdulillah, kalau begitu kalian bisa membantu Mbok menebus kesalahannya dimasa lalu, dan ini menyangkut diri kalian dan hal ini juga yang membuat Mbok meminta maaf pada kalian berdua diakhir hayatnya.” Kata Yani dengan mata yang berkaca-kaca. “Iya Mbak, Tapi kami tidak tahu kalau mbak Yani tidak Cerita apa sebenarnya yang terjadi” Kata Adam. “Kalian bukan Anak kandung Mbok” Kata Yani singkat sambil menundukan kepala.
            “Maksudnya Mbak? Kami bukan anak kandung si mbok? Terus kami anak siapa?” Tanya Adam beruntun. “Berikan Mbak Waktu untuk bercerita!” kata Yani sambil mengusap Air matanya. “Saat itu Mbak masih berumur sepuluh tahun dan Hidup berdua dengan Mbok setelah bapak meninggal. Aku masih ingat saat itu Mbok menginginkan seorang anak laki-laki, namun Bapak memberikan anak pertama berjenis perempuan dan setelah dua tahun kemudian Bapak Meninggal dunia. Saat itu tepatnya tujuh belas tahun yang lalu, kami tinggal di sebuah desa terpencil namun desa itu merupakan akses antar kota. Mbak masih ingat saat Mbak bermain di depan rumah ada seorang laki-laki berlari menuju rumah Mbok yang berada di tempat terpencil itu. Dia meminta tolong pada Mbok untuk membantu istrinya yang akan melahirkan bayi yang dikandungnya. Laki-laki itu tidak bisa membawa istrinya ke rumah sakit yang masih jauh karena ban mobilnya pecah.” Yani menghentikan Ceritanya.
            “Siapa laki-laki itu Mbak?” tanya Adam penasaran. “Dia adalah Ayahmu dek” jawab Yani pelan. “Apa ayahku?” Adam sangat Heran. Kemudian Yani melanjutkan ceritanya, “Mbok saat itu adalah seorang dukun beranak, dan entah berapa kali Mbok membantu persalinan perempuan dari desa-desa terdekat. Mbok langsung bergegas menuju ayahmu  dan membantu dia memapah ibumu masuk ke rumah. Mbok menyuruhku untuk mempersiapkan air hangat dan membawa kain batik untuk menutupi paha ibumu. Ayahmu sepertinya tidak kuasa melihat ibumu yang akan melahirkan dan dia memutuskan untuk menunggu di luar rumah. Setelah beberapa lama kemudian terdengarlah suara tangisan seorang bayi dan ibumu pingsan karena kelelahan.” Sesekali Yani menghentikan pembicaraan dan melihat keluar rumah.
            “Itu pasti kak Adam” Kata johar merespon cerita Yani. Adam langsung memandang Johar dan seketika Johar merasa canggung, Adam sangat konsentrasi mendengar cerita Yani dan tak mau ada orang lain merusak jalan ceritanya. “Lanjut mbak!” kata Adam serius. “Suara bayi itu bukanlah suara tangisan Adam, melainkan suara saudara kembarnya!” Jawab Yani sambil melihat ke arah Adam dan Johar. “Kembar? Aku dan kak Adam kembar?” Kata Johar merespon Cerita Yani. “Bukan Dek, Kalian bukanlah saudara kandung!” Kata Yani.
            “Lanjut saja mbak, jangan hiraukan Johar yang crewet ini” kata Adam terlihat agak emosi dengan sikap Johar. “Ibumu melahirkan dua anak laki-laki dan anak kedua adalah kamu dek, Namun ada keanehan yang terjadi. Semua bayi yang terlahir ke dunia akan menangis, namun tidak dengan dirimu. Kau hanya menggerak-gerakkan tubuh kecilmu, dan Mbok langsung membungkus Adek dengan kain bersih dan menyuruhku membawa Adek ke kamar Mbok. Dari dalam kamar Aku mengintip keluar dari celah bilik bambu melihat Ayah Adek sudah berada di dekat Ibu Adek.  Sesuai dugaan Mbok, ternyata Ayah adek tidak tahu kalau ada dua bayi di rahim istrinya” Kata Yani dan menghentikan ceritanya ketika Adam merespon cerita Yani.
            “Berarti Mbok menculik Aku?” Tanya Adam. Yani hanya mengangguk dan akhirnya matanya mengalir di pipinya, “Maafkan Mbok ya dek” kata Yani sambil memegang paha Adam. “Tidak apa-apa Mbak, Adam senang kok Mbok merawat Adam dengan penuh kasih sayang” jawab Adam sambil memegang pipi Yani.
            “Sebentar Mbak, Jo mau tanya… sampai kapan Kak Adam tidak menangis dan seberapa lama orang tua kak Adam di rumah itu? pastinya mereka lama dan akan menemukan kak Adam.” Kata Johar mencoba menganalisa situasi masa lalu.
.           “Mereka hanya dua jam di rumah, setelah ibu Adam sadar dan Ayah Adam memasang Ban cadangan barulah Mereka pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan bayi dan istrinya. Tak lama kemudian, Adam mulai menangis dan menjerit histeris.” Kata Yani menjawab pertanyaan Johar.
“Mbak, Ayah dan Ibu tidak pernah datang lagi ke rumah itu?” tanya Adam. “Sebenarnya, dua hari setelah mereka pergi, Ayah Adek datang lagi ke rumah membawa kebutuhan pokok. Aku yang bermain di depan rumah langsung berlari menuju Ibu di dapur ketika melihat Ayah Adek dari kejauhan. Mungkin Adek merasakan bahwa Ayah adek berada didekat Adek, dan seketika Adek Menangis kencang. Aku membantu mencoba menenangkan Adek, sedangkan mbok keluar menemui Ayah Adek. Mbok hanya mengatakan kalau di dalam ada pasien yang sedang melahirkan dan Mbok buru-buru akan mengurus pasien itu. Ayah adek tidak memiliki rasa curiga dan langsung memberikan oleh-oleh kepada Embok dan pamit pulang.” Kata Yanti menjelaskan ketika ayah Adam berkunjung.
“Wah kak Adam memiliki saudara kembar yah… pasti dia juga Ganteng kayak kak Adam” Johar meledek Adam yang terlihat bahagia mendengar cerita itu. “Kalian memang ganteng-ganteng kok, apa kalian tidak sadar bahwa kalianlah pemuda ganteng di desa ini? Lihat Semua pemuda di kampung ini, semuanya berkulit coklat pekat seperti kulit Mbak ini. “Jangan bilang gitu Mbak, Kita kan di Desa banyak pemuda yang bekerja di sawah sedangkan kami diwajibkan bersekolah oleh Mbok. Dan juga di daerah sini jumlah pemudanya juga sedikit Mbak, jadi gak pantas dibandingkan dengan mereka” kata Adam sambil tertawa.
“Oia Mbak, Kalau kisah Jo yang crewet ini bagaimana? Aku juga ingin tahu kenapa dia crewet banget dan siapa sebenarnya orang tua Johar ini” kata Adam sambil mencibir Johar. Johar terlihat tidak suka dengan kalimat Adam, dia hanya diam menatap kotak di pangkuan Yani. “Kalau Johar, Mbok mewariskan ini” Yani mengeluarkan kertas foto yang terdapat gambar sepasang Laki-laki dan perempuan berseragam SMA. “Jo, Mbok juga meminta maaf kepada kamu karena merahasiakan identitas kamu sebenarnya” kata Yani sambil menatap Johar yang fokus memandangi foto itu. “Mbak, ini foto siapa?” tanya Johar penasaran. “Itu orang tua Adek” Jawab Yani datar.
“Iya pemuda ini mirip banget dengan Adek, coba Jo memakai kacamata seperti laki-laki ini pasti tidak ada bedanya” Kata Adam ketika melihat foto itu. “Ceritakan saja mbak, Apa mereka semua meninggalkan Aku pada Embok? Atau Sama seperti kak Adam mbok mengambilku dari kedua orang tuaku?” Kata Johar sangat penasaran.
“Baiklah, Sama seperti Adam… kelahiranmu dibantu oleh Mbok sebagai dukun beranak. Namun saat itu ibumu sangat muda dan merupakan siswi SMA dari luar kota. Mbok menemukan ibumu berada di pinggir hutan dengan perut yang buncit. Saat itu kandungannya sudah tujuh bulan. Ibumu sangat depresi dan lari jauh dari rumah hingga terdampar ke rumah kami dulu. Dua bulan ibumu tinggal bersama kami, namun selama itu dia tidak berbicara sepatah kata pun mengenai dirinya. Mbok yakin Ibumu masih sangat muda dan terlihat sangat depresi. Hingga Akhirnya tiba saatnya kamu lahir ke dunia ini.” Yani mencoba mempersingkat ceritanya.
“Selanjutnya bagaimana Mbak? Kenapa Aku bisa dirawat oleh Mbok?” tanya Johar pada Yani. “Kamu terlahir sehat dan Ibumu juga selamat meski itu adalah pertama kali dia melahirkan di usia yang masih muda. Setelah kelahiranmu ibumu mulai berkomunikasi dengan kami, Aku selalu diceritakan tentang kehidupan ibumu. Dan saat ibumu bercerita barulah kami tahu bahwa ibumu merupakan siswi SMA yang sedang hamil karena kecerobohannya melakukan hubungan intim diluar nikah. Menurut ibumu, Ayah kamu adalah laki-laki yang sangat tampan di sekolah dulu. Meski ayahmu adalah anak pindahan, dia bisa bergaul dengan semuanya dan menjadi pusat perhatian karena ketampanan dan kekayaannya.
Namun semua terjadi begitu saja, ibumu yang menjalin hubungan dengan ayahmu diwaktu SMA harus menanggung beban hidup. Menanggung resiko dari kelakuan mereka berdua.” Kata Yani sambil memegang Tangan Johar. Johar terlihat sangat kecewa mendengar cerita itu, namun Adam merangkul Johar dan menenangkannya. “Semangat Dek! Semua orang pasti berbuat salah kok” kata Adam menyemangati.
“Kenapa ibu bisa menderita dan kenapa Ayah tidak bertanggung jawab? Berarti Aku adalah anak haram Mbak!” kata Johar sedih sambil menundukan kepala. “Jo… gak ada anak haram. Yang ada kesalahan orang tua yang melakukan hubungan di luar nikah, bukan Anak yang di hasilkannya” kata Adam.
            “Iya Dek, Adam benar gak ada yang namanya anak haram. Semua sama dan anak itu tidak akan menanggung dosa orang tuanya yang melakukan hubungan di luar nikah” lanjut Yani. “Iya Mbak, lanjutkan saja ceritanya” kata Johar sambil menarik nafas panjang. “Ibumu juga pernah bercerita bahwa dia pernah menemui Ayahmu dan ibumu tak pernah menceritakan kalau dia sudah telat datang bulan. Hingga suatu hari Ayahmu harus pergi meninggalkan ibumu, dia pergi ke luar kota dan berjanji akan menemui ibumu setelah lulus SMA di luar kota nanti. Namun ibumu tidak pernah mendapatkan kabar dari Ayahmu dan tiap hari perut ibumu semakin buncit. Hingga akhirnya Orang tua ibumu itu mengetahui bahwa ada yang tidak beres dengan perut ibumu.
            “Ibumu mendapat amarah dari kedua orang tuanya dan mereka menyuruh ibumu menggugurkan kandungannya. Pastinya ibumu menolak karena yang dikandungnya adalah hasil dari orang yang sangat dicintainya. Hingga akhirnya ibumu dipaksa meminum sebuah obat penggugur kandungan oleh nenekmu, namun ibumu lari dari rumah dengan perut yang buncit. Ibumu merasa bahwa dirinya telah dibuang oleh keluarganya, hingga dia berakhir di rumah kami yang dulu.
            Setelah kelahiranmu, ibumu tak pernah melihatmu. Menyusuimu pun dia juga tidak pernah, dan Mbok merasa ibumu sudah tidak waras karena tidak peduli kepada anak yang dilahirkannya. Beberapa hari kemudian ibumu hilang dari rumah dan kami tidak tahu kemana dia pergi. Embok sudah mencari dan bertanya kepada orang-orang di sekitar kampung namun hasilnya nihil. Hingga dua hari kemudian terdengar kabar bahwa ada seorang perempuan yang tewas tenggelam di sumber air di desa sebelah. Mbok langsung ke desa itu dan ternyata itu adalah Ibumu. Mbok yakin Ibumu mengakhiri hidupnya sendiri untuk menghilangkan beban hidup.” Yani mengakhiri cerita tentang masa lalu Johar sambil membuka Kotak yang ada di pangkuannya.
            “Dek, jangan sedih dong. Masih ada kakak yang akan selalu menemani Adek sampai adek besar nanti” kata kak Adam sambil merangkul Johar. “Emang Aku masih kecil kak? Hehe..”  Johar memaksakan diri untuk tertawa dan bersikap tegar.
“Terakhir adalah amplop ini, Ini adalah tabungan Mbok dan Mbak telah menghitungnya semua berjumlah Rp 3.452.000,-. Mbok ingin Uang ini membantu Adam dan Johar mencari keluarganya.” Yani meletakan amplop di atas meja. “Embok punya uang sebanyak itu darimana? Kenapa kita tidak pernah tahu?” tanya Johar  pada Yani. “Entahlah, Mbak juga tidak tahu dek” jawab Yani datar.
“Sekarang ini adalah harapanku dan harapan besar Mbok, Temukan Keluarga kalian dan sampaikan permintaan maaf Mbok pada keluarga kalian, terutama Adam, Mbok ingin sekali meminta maaf kepada orangtua Adek, namun Mbok sudah tidak lagi punya kesempatan hingga Ajal menjemput. Semalam Mbak bermimpi Mbok sedang bersedih di ruangan yang sangat sempit, Aku yakin Sekarang Mbok masih belum tenang sebelum kalian menyampaikann rasa maaf Mbok kepada Keluarga kalian” Kata Yani sambil memohon kepada Adam dan Johar.
“Tapi kemana kita mencari mereka mbak? tak ada informasi yang kami tahu tentang mereka!” Kata Adam. “Mbok hanya bilang kalian pegilah ke kota surabaya dan disana kalian Akan mendapatkan petunjuk mengenai Orang tua kalian, Firasat Mbok dulu tidak mungkin salah dek, Aku mohon Adek Mencari keluarga Adek” Kata yani.
“Baiklah, Adam Berjanji akan mencari Orangtua Adam dan menyampaikan permintaan maaf kepada mereka. Johar akan selalu bersamaku sampai kami menemukan keluarga kami” kata Adam mantap. “Tapi kak? Bagimana sekolah kita? Bagaimana cita-cita dan masa depan kita?” Protes Johar. “Masalah Sekolah, Kita lanjutkan di kota Surabaya, Dan kita mulai perjuangan kita disana”. Kata Adam sambil tersenyum pada Johar.
********
Beberapa Minggu setelah kebenaran itu, Akhirnya tiba saatnya mereka Pergi meninggalkan Kabupaten Banyuwangi. Langit yang cerah menyemangati kepergian mereka dan semua kebutuhan mereka sudah dipersiapkan. Bagi mereka berdua, surat-surat dari desa adalah hal paling penting di samping surat Ijazah dan keterangan dari SMA Adam.
Saat Matahari mulai meninggi, Adam dan Johar berpamitan kepada tetangga dekat rumah. Yani yang berdiri di depan rumah melihat mereka berpamitan dan terakhir Adam mendekati Yani. “Mbak, Doakan kami ya! Kami akan merindukan Mbak dan semua kenangan yang ada disini” Kata Adam sambil mencium tangan Yani. Yani hanya terisak dengan tangisannya dan mengelus Kepala Adam.
“Mbak, Rawat peninggalan rumah ini ya, Rumah ini adalah warisan Mbok yang terakhir, dan Tolong Rawat makam Mbok ya. Jangan lupa selalu doakan kami saat mbak Selesai Sholat, dan jangan pernah melupakan kami berdua, Johar akan merindukan Mbak” Johar memeluk Yani dengan Erat sambil terus menangis. “Johar, sampai saat terakhir begini kamu masih saja cerewet, Mbak Janji akan merawat rumah dan makam Mbok, Janji Akan selalu mendoakan kalian”, Yani mengelus kepala Johar.
Akhirnya Adam dan Johar menaiki motor milik Mas Naryo suami Yani, Dan Seorang Ojek dari kampung itu. Adam dan Johar terus melihat ke rumah dari bilik bambu itu, disana masih terlihat Yani dan para tetangga berdiri sambil melambaikan tangannya. Johar dan Adam pun tak berpaling dari pandangan itu, hingga Akhirnya pandangan itu benar-benar hilang. Dan saat itu juga perjuangan Hidup di kota surabaya akan menjadi bagian hidup Johar dan Adam.
Bersambung… next Mengejar Masa Lalu 02


Wednesday, 5 September 2012

Antara Prinsip, Cinta dan Persahabatan



            Prinsip memang harus dipegang teguh, sampai akhir hingga ajal menjemput. Ini kisah seorang pemuda berumur 20 tahun yang selalu menjaga prinsipnya. Dia adalah Faris dengan prinsipnya yakni “Persabatan tidak boleh dikotori oleh Cinta”. Baginya prinsip itu adalah harga mutlak demi kebaikan dirinya dan orang lain.
            Ntah berapa kali Faris menjauhi beberapa temannya, Faris selalu menjauhi mereka jika mereka mengatakan Cinta atau sekedar memberi isyarat pada Faris. Faris memang pemuda yang egois, egois bagi kebanyakan orang. Namun baginya dia hanyalah orang yang selalu memegang prinsipnya. Hingga suatu hari Faris mendapatkan ujian akan keteguhan prinsipnya. Prinsip yang telah banyak mengecewakan orang-orang yang mencintainya.
***
            Seperti biasa Faris selalu menghabiskan waktu senggangnya untuk tidur siang, namun siang itu Faris mendapat telefon dari sahabatnya bernama Ciko, Ciko adalah sahabat Faris sejak delapan bulan yang lalu dan mereka berdua sama-sama akan menghadapi wisuda dua minggu lagi. Dengan suara masih berat Faris menjawab panggilan telfon Ciko.
“Hem… ada apa Cik?”
Shit… Capek Aku Bilangin kamu Ris, Panggil aja Iko” Ciko terdengar marah, namun Faris membalasnya dengan canda tawanya. Ciko memang sangat tidak suka jika Faris memanggilnya dengan kata Cik, baginya kata Cik adalah panggilan untuk chinese dalam artian nyonya.
“Maaf Tuan Iko Ssi, saya hanya bercanda dan seperti biasa saya berhasil membuat alismu mengkerut, hem… ada perlu apa ko?” tanya Faris tentang alasan Ciko menelfonnya.
            Ciko mengutarakan maksudnya, yakni dia ingin mengajak Faris untuk menghadiri pesta ulang tahun Boy Friend Ciko. Tentu saja Faris mengiyakan ajakan Ciko, karena saatnya bagi Faris untuk memperbaiki hubungan dengan mantannya. Ya… BF Ciko adalah Mantan Faris, dan setelah bertahun-tahun berhubungan dengan Faris Akhirnya Hubungan yang dimulai dari hubungan persahabatan berakhir gara-gara salah satu dari mereka tersakiti. Sejak saat itulah Faris membentuk prinsip baru dalam hidupnya, prinsip yang membuat dirinya terlihat sangat egois.
            Waktu sudah menunjukan pukul 18:00, Faris pun sudah siap di depan kosnya menunggu Ciko datang menjemput. Hingga beberapa menit kemudian Ciko datang dengan mobilnya. Suara klakson di depan gerbang sebagai isyarat bagi Faris. Faris pun langsung bergegas menuju mobil Ciko.
“Aku tidak harus membawa hadiah kan?” tanya Faris saat membuka pintu mobil.
“Aku juga tidak membawa hadiah Ris… hahahaha”, Kata Ciko dan diakhiri tawanya.
“Loh? Kok gitu? Ayo Ko cari hadiah dulu. Masak kita berdua tidak ada yang membawa kado.”
“Tenang Ris, Aku sudah bawa kado kok, Kamu adalah kadonya dan si Kado juga tidak boleh bawa Kado” lagi-lagi Ciko tertawa.
“Ah… Ribet penjelasanmu. Yaudah Aku ikut kamu saja” kata Faris dan langsung duduk disamping Ciko.
            Ciko memang pemuda yang sangat lucu, baginya keceriaan didepan umum adalah harga mutlak. Ciko memang tidak pernah terlihat bersedih meski pernah kecewa dengan sikap Faris dulu, karena Faris yang tetap dengan prinsipnya pernah menolak Ciko dan menghindari Ciko. Namun Ciko tidak patah semangat, dia masih memperjuangkan persahabatannya dengan Faris, dan berusaha mengubah perasaannya terhadap sahabatnya tersebut.
“Ris, Terimakasih ya… “, Ciko tersenyum sambil terus fokus menyetir.
“Untuk apa?”, Faris memandang Ciko dan langsung mengerutkan alisnya ketika melihat Ciko tersenyum sendiri.
“Untuk semuanya, untuk persahabatan kita, untuk delapan bulan terakhir dan untuk malam ini” jawab Ciko.
“Hem… Aku juga ingin bilang terimakasih banyak kamu memang teman dan sahabatku paling baik Ko”. Faris tersenyum pada Ciko dan mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah Mike.
*******
            Di sebuah komplek perumahan yang mewah, Ciko berhenti tepat di rumah yang sedang riuh dengan suara alunan musik. Terlihat beberapa mobil terparkir berdekatan disekitar rumah itu. Ciko dan Faris pun keluar dari mobil menuju rumah itu.
“Ko, Ramai banget” celetuk Faris ketika memasuki gerbang.
“Sepertinya memang begitu, ini pesta ulang tahunnya yang terakhir yang dirayakan dengan teman-teman kampusnya”, jawab Ciko sambil terus berjalan mendampingi Faris.
            Tepat di depan pintu rumah terlihat sosok laki-laki yang sudah tidak asing lagi bagi mereka berdua. Dia adalah Mike seorang pemuda berumur 20 tahun yang mengadakan pesta ulang tahunnya. Mike memang pemuda yang sangat tampan dan kaya, apapun yang diinginkannya selalu dapat dipenuhi oleh kedua orang tuanya, termasuk mengadakan pesta yang sangat meriah untuk memperingati kelahirannya.
            Ketika melihat Ciko, Mike langsung tersenyum dan mimiknya berubah ketika melihat Faris. Wajah putihnya langsung berubah menjadi kemerahan, dan terlihat sangat canggung.
“Ciko, Semua sudah datang dan kamu orang spesial yang datang paling akhir” Tukas Mike memandang Ciko.
“Ngaco… Terdengar yang lain tau rasa kau”, tukas Ciko sambil mencubit perut Mike.
“Hai, selamat ulang tahun mike”, kata Faris menjulurkan tangannya ketika Mike melihatya dengan ragu.
“Hai, ternyata kejutan itu adalah kamu Ris… terimakasih sudah datang ke pesta ini, dan maaf sebelumnya kalau…”, kata Mike dan langsung terpotong oleh Faris.
“Sudahlah, semua sudah berlalu… ngomong-ngomong sampai kapan kita di depan pintu?” kata Faris sambil tertawa pelan.
            Akhirnya mereka bertiga masuk ke ruang tengah berkumpul bersama teman-teman kuliah Mike. Tidak ada seorang pun yang Faris kenal di ruangan itu, namun hampir semua pasang mata melihat ke arahnya. Faris mencoba bersikap sewajar mungkin dan tersenyum pada mereka semua.
            Lampu mulai redup, Acara inti segera dimulai. Mike langsung memposisikan dirinya ditengah ruangan dan seketika kue tar yang diatasnya ada lilin berangka 20 menghampiri Mike. Suara alunan musik berubah menjadi alunan piano yang memainkan lagu selamat ulang tahun. Semua tamu pun ikut bernyanyi dan akhirnya mike meniup lilinnya.
            Ciko berada disekitar Mike dan pastinya di samping Mike adalah kedua orang tuanya. Setelah acara potong kue kedua orang tua Mike pamit ke lantai dua dan membiarkan putranya beramah tamah pada tamu-tamunya.
            Saat Ciko mulai sibuk mengobrol dengan teman-teman Mike, saat itu juga Faris merasa sendirian di ruangan itu. Meski Ciko meninggalkan Faris, namun Faris tetap berusaha menikmati suasana pesta di ruangan itu. Faris menjelajah ruangan itu mengambil segelas minuman yang sudah disediakan.
            Namun Faris terkejut ketika seorang pemuda menghampirinya dan langsung tahu nama Faris.
“Faris ya?” kata pemuda itu.
“Eh, Iya… Apa kita pernah jumpa?” Faris berusaha membuka memorinya mencari gambaran pemuda itu.
“Kenalkan nama saya Joy, sebelumnya kita memang belum pernah jumpa dan saya tahu tentang kamu dari Mike” jawabnya sambil tersenyum.
“Hemmm… jangan bilang kalau kamu itu…” Faris memotong kalimatnya. Joy langsung tersenyum dan bertingkah melihat semua orang di pesta.
“Faris, feeling kamu memang selalu tepat, dan itu terbukti dari putusnya kamu dengan Mike dulu”, lagi-lagi Joy tertawa.
“Hahaha… bisa saja, well kenapa gak kumpul dengan mereka” kata Faris menunjuk Arah Mike dan Ciko.
“Kamu sendiri bagaimana? Aku lihat kamu mulai awal datang sepertinya sudah tidak nyaman berada disini” Kata joy sambil menujuk Faris.
            Saat Faris tersenyum, Joy langsung mengajaknya menuju halaman samping rumah Mike. Faris mengikuti Joy ke samping rumah dan duduk di sebuah bangku taman. Saat Joy mengeluarkan sebungkus rokok, Faris langung mengatakan bahwa dia tidak suka berdekatan dengan orang yang merokok dan pamit untuk masuk kedalam.
“Sorry, gak jadi merokok deh” kata Joy.
“Silahkan saja, Aku tidak pernah melarang orang merokok.” Jawab Faris sambil tersenyum.
“Gak jadi, Aku hanya ingin menemanimu saja, karena aku tahu kamu itu tidak kenal dengan mereka yang di dalam” jawab Joy sambil meneguk minumannya.
            Obrolan pun mengalir begitu saja. Faris merasa ada perasaan lain yang akan tumbuh nantinya jika mereka berdua semakin akrab. Namun perasaan itu hanyalah sebatas suka pada Joy. Suka bagi Faris berbeda dengan Cinta, Suka baginya adalah pondasi mau dibawa kemana rasa suka itu. Ada dua kemungkinan, Cinta dan Kagum. Namun kali ini, Faris merasa, rasa sukanya akan mengalir dan berakhir pada rasa cinta kepada Joy.
            Waktu semakin lama semakin larut, dan beberapa tamu sudah pulang. Hingga akhirnya Ciko datang menghampiri Faris di halaman samping.
“Hei, Kamu kok disini Ris?”
“Tanya dirimu aja Ko, kenapa kamu lupa sama orang yang kau bawa kemari”
“Hahahaha, Aku tadi mencari kamu, tapi kamu tidak ada didalam ruangan dan akhirnya teman-teman mengalihkan semuanya, termasuk dirimu. Maaf ya Ris”
“Tidak apa Ko, Faris mulai tadi tidak sendiri kok, Mulai tadi kita berdua ngobrol bersama” Sela Joy saat Ciko meminta maaf pada Faris.
“Terimakasih Joy, Si Faris ini orangnya memang gitu sulit untuk membaur. Dan sekali lagi maaf ya Ris”
“Iya, tapi…” jawab Faris sambil melihat ke ruang tengah.
“Tapi apa?”
“Aku laper, dan Saat di dalam Aku tidak makan Hidangannya, tolong ambilkan ya Ko” Kata Faris sambil tersenyum memohon pada sahabatnya.
“Ok boss, santapan segera datang” jawa Ciko dan langsung menuju ruang tengah.
            Sesaat semua hening diantara Joy dan Faris. Hanya ada suara Motor dan Mobil para tamu yang sudah pergi menjauh dari rumah. Faris masih memikirkan akan perasaannya pada Joy. Faris merasa nyaman saat mengobrol dengan Joy, Namun konsentrasinya buyar oleh pertanyaan Joy tentang Ciko.
“Ris, sepertinya kamu dan Ciko memang benar-benar dekat ya. Sepertinya asyik tuh hubungan persabatan kalian” kata Joy.
“Iya, Ciko memang satu-satunya sahabatku yang tersisa” jawab Joy datar.
“Yang lain kemana?” Joy memandang Faris.
“Yang lain Aku hindari, dan semua itu gara-gara Prinsip yang kupegang” kata Faris semakin datar.
“Wah… ada yang ngomongin prinsip nih… Mau prinsip atau makan?” Kata Ciko sambil melihat ke arah Faris.
            Terlihat Ciko tidak sendiri, Mike menyusul ke halaman Samping dengan membawa makanan. Joy langsung berdiri dan izin untuk mengambil minuman untuk mereka di dalam. Faris langsung menerima makanan dari Ciko dan mengajak Ciko untuk duduk.
“Aku tidak diajak duduk?” tukas Mike yang berdiri disamping Ciko.
“Apaan, Kamu kan yang punya rumah, So silahkan duduk saja. Hahaha” Faris sengaja membuat suasana tidak kaku.
“Tapi… Aku mau juga disuruh duduk oleh kamu Ris” kata Mike sambil duduk di bangku taman.
“Halah, Pangku saja pada Ciko. Ko, Pangku Mike” kata Faris sambil tersenyum.
“Biasanya Aku yang Sering dipangku Ris” kata Ciko sambil tertawa melihat Mike.
            Saat mereka bertiga mulai ngaco akhirnya Joy datang dengan membawa minuman dingin. Malam itu memang malam yang menyenagkan bagi mereka berempat. Malam yang membahagiakan bagi Faris, karena dapat membuang rasa amarah dari masalah yang timbul saat bersama Mike dulu. Faris lebih suka melihat Ciko bahagia bersama Mike, baginya kebahagiaan seorang sahabat adalah segala-galanya.
****
            Seminggu berlalu setelah pesta itu, Faris memiliki teman telfon dan SMS yakni Joy. Joy sangat inten menghubungi Faris, dan Akhirnya Faris memilik suatu hasrat pada Joy, perasaan Cinta pada Joy. Namun Faris tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Ketika ada kesempatan Joy mengajak Faris untuk makan di sebuah café. Faris pun menyetujuinya dan bertemu disebuah café yang menjadi tempat favorit Faris.
“Ris, Aku masih penasaran dengan prinsip kamu” kata Joy.
“Banyak prinsip yang kupegang Joy, Prinsip yang mana yang membuat kamu penasaran?”
“Prinsip yang dapat menjauhkan kamu pada sahabat-sahabatmu”
“oh, Aku itu paling anti menjalin hubungan dengan sahabat, bagiku hubungan persahabatan kalau ada rasa cinta nantinya persahabatan itu akan hancur mengikuti hancurnya cinta itu”
“Bagitu ya? Kalau memang itu prinsipmu Aku tak mau menjadi sahabatmu”
“Kenapa?” tanya Faris.
“Aku takut nantinya Aku jatuh cinta padamu. Hahahaha” Joy langsung tertawa.
            Saat Joy mengatakan hal itu, Faris merasa sangat senang. Faris memang memiliki rasa pada Joy, namun menunggu moment yang tepat untuk mengungkapkannya. Faris memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya saat Wisuda mereka berdua. Meski mereka beda fakultas namun mereka akan Wisuda hari dan tempat yang sama, dan saat itu Juga Faris berencana akan mengatakan semuanya pada Joy.
****
            Beberapa hari berlalu, saat Faris mempesiapkan semua keperluan Wisudanya yang akan dilaksanakan dua hari lagi, ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Dengan santai Faris mengangkat telfon itu.
“Halo, siapa?” kata Faris.
“Faris?”
“Iya siapa?”
“Kamu tidak perlu tahu siapa diriku, yang perlu kau tahu adalah sebuah kebenaran yang tidak pernah kau ketahui. Bagaimana mungkin insting seorang Faris bisa dikelabuhi dan tidak dapat mencium kebenaran yang ada”
“Halo, maksudnya apa ya? Dan kamu ini siapa?”
“Dengar… Mike kekasih sahabatmu itu tanpa sepengetahuan Ciko dia bermain dibelakangnya” kata orang itu.
“Maaf, saya tidak ada waktu untuk mengurusi urusan mereka” kata Faris sambil menutup sambungan telfonnya. Faris langsung memutar memorinya, mengingat tingkah laku Mike dan Ciko saat di pesta ulang tahun. Menurutnya hubungan Mike dan Ciko tidak ada yang janggal, Mike seperti benar-benar menyayangi Ciko.
            Berkali-kali nomor yang tidak dikenal menghubungi Faris. Namun Faris tidak lagi menggubrisnya hingga beberapa menit berlalu masuklah sebuah pesan.
“Kamu tidak ingin tahu siapa yang menjadi selingkuhan Mike? Kalau begitu sebagai hadiah Wisuda kamu, Kuberikan suatu rahasia kecil. Mike dan Joy adalah sepasang kekasih dan itu sudah berjalan hampir dua bulan yang lalu”
            Saat tahu selingkuhan Mike adalah Joy, Faris langsung gemetar dan hancurlah sudah harapannya untuk bersama Joy. Berkali-kali Faris mencoba menghubungi nomor yang mengirim pesan teks itu, namun hasilnya nihil. Nomor itu sudah tidak aktif lagi.
            Malam itu Faris tidak dapat tidur dengan tenang lagi. Terlalu banyak yang ia pikirkan, diantaranya adalah tentang hubungan Joy dan Mike. Faris mengingat masa lalunya dengan Mike. Hubungan mereka berakhir gara-gara Mike selingkuh dengan orang lain. Mike memang terkenal sebagai playboy atau lebih tepatnya sebagai maniak sex. Mengingat hal itu membuat Faris marah dan tidak sengaja membanting ponselnya sebagai pelampiasan amarahnya.
            Keesokan harinya, Faris sudah lebih tenang dan meraih ponselnya yang hancur berantakan di lantai. Faris mencoba merakit kembali ponselnya dan meski banyak retakan namun ponselnya masih dapat berfungsi. Tidak ada pesan baru lagi yang masuk, dan akhirnya Faris memutuskan untuk mandi dan langsung menuju kampus guna mempersiapkan Wisuda keesokan harinya.
            Dari pagi hingga sore hari Faris disibukan dengan persiapan wisuda, membuat dirinya sejenak melupakan perasaannya yang hancur. Dan ketika dia makan disebuah resto masuklah sebuah pesan teks di ponselnya. Pesan itu ternyata dari Joy.
“lebih dari 24 jam tidak ada kabar dari kamu membuat Aku khawatir tentang dirimu. Lagi ngapain Ris?”
Faris tidak langsung membalas pesan itu, karena dai ingin langsung menghubunginya via telefon. Faris ingin mendengar suara Joy walau hanya sekali saja.
            Saat tiba di kosan, Faris langsung menelfon Joy, seperti biasa Joy dengan nada yang ceria menyambut suara Faris.
“Halo Ris, wah sesibuk itukah yang mau wisuda esok pagi?” kata Joy diujung telfon.
“Hahaha… Biasa aja Joy, sibuk mencari penginapan untuk orang tua. Karena sebentar lagi orang tua akan datang ke kota ini. Bagaimana dengan kedua orang tua kamu?” tanya Faris.
“Mama dan Papa sudah ada dipenginapan sejak sore tadi, ya… sepertinya mereka sekarang lagi istirahat disana.”
“Oh, syukurlah Joy” Kata Faris datar.
“Tidak seperti biasanya? Stress mau Wisuda besok ya?”
“Eh… nggak Joy. Masih bisa ceria kok. Hem… boleh tanya sesuatu nggak?” Faris ragu-ragu mengutarakan pertanyaannya.
“Tanya aja Ris, mumpung satu pertanyaan gratis nih. Hahaha”
“Wah, syukurlah… Aku mau tanya kamu punya hubungan khusus nggak dengan Mike?”
Sejenak hening. Joy diam dan tidak ada jawaban darinya. Faris juga terdiam menunggu jawaban dari Joy atas pertanyaannya itu.
“Joy?” Faris memastikan Joy masih ada disambungan telefonnya.
“Akhirnya… Pertanyaan yang itu muncul. Baiklah… Aku akui kalau aku memang ada hubungan dengan Mike dan itu sudah berjalan dua bulan lebih.” Kata Joy sambil mendengus.
“Oh, ternyata benar apa yang dikatakan orang itu, tapi kamu tahu kan kalau Mike menjalin hubungan dengan Ciko?”
“Iya, saya tahu kok. Dan itulah bodohnya diriku, mau menerima Mike saat dia masih menjalin hubungan dengan yang lain. Aku sudah bilang padanya Aku siap mundur kapan saja kalau dia memang lebih memilih Ciko”
“Kasihan Ciko” kata Faris datar.
“Aku juga merasa tidak enak dengan Ciko, tapi bagaimana lagi… Aku bingung.”
“Itu urusanmu Joy. Semoga kamu bisa bahagia dengan Mike. Oia… sampaikan salamku untuk Mike”
“Salam apa Ris?”
“Bilang pada Mike, Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab. Suruh Mike mengatakan sebenarnya pada Ciko, karena Aku tak mungkin mengatakan itu padanya. Oia sampai disini dulu obrolannya lain waktu kita lanjut ya. Soalnya Orang tua sudah menghubungiku Joy.” Faris terdengar ingin cepat-cepat mengakhiri saluran telefonnya dengan Joy.
“Ok Ris, nanti Aku sampaikan, hati-hati ya!” Jawab Joy sebagai akhir dari sambungan telefon.
*****
            Suara alarm yang diseting pukul 05:00 membangunkan Faris dari tidurnya. Kini Faris lebih tenang setelah semalam mendengar langsung dari Joy. Meski dia merasa pupus akan harapannya, namun baginya yang seharusnya lebih sakit adalah Ciko.
            Saat semua sudah siap, Faris langsung menjemput kedua orang tuanya di hotel. Membawa mereka berdua ke gedung tempatnya akan di Wisuda. Di lahan parkir, Faris bertemu dengan sahabatnya yakni Ciko.
“Wah, Tambah ganteng aja Ris”
“Kamu juga begitu Ko, pantas dengan Toga itu” kata Faris sambil tersenyum.
            Kedua orang tua Faris berkenalan dengan kedua orang tua Ciko, mereka berenam langsung menuju halaman Gedung.
“Ma, pa. tunggu di sini ya…” Kata Faris sambil mencium tangan Mama dan papanya. Ciko pun juga melakukan hal yang sama pada orang tuanya. Kemudian mereka berdua bersama-sama masuk kedalam Aula.
            Ribuan mahasiswa berbagai Fakultas dan jurusan berkumpul jadi satu menempati kursi yang sudah disediakan. Faris berkumpul dengan kelompoknya begitu juga dengan Ciko. Mereka berdua menunggu giliran masing-masing. Hingga akhirnya giliran Faris tiba. Faris sangat bahagia ketika seorang rektor menyematnya sebagai Seorang sarjana. Jerih payahnya selama 4 tahun terbayarlah suda.
            Faris langsung duduk lagi ditempatnya, dengan wajah yang berseri-seri dia mencoba mengirim SMS pada kedua orang tuanya.
“Pa, Faris sudah diwisuda. Dan sebentar lagi Acara selesai. Mama dan papa tunggu dihalaman ya!”
            Saat semuanya selesai, akhirnya para wisudawan diperbolehkan keluar dari Aula. Faris mencari kedua orang tuanya. Faris berlinang air mata ketika melihat mamanya memeluknya dengan erat.
“Selamat ya nak, mama bangga padamu.”
“Terimakasih ma, kalau bukan dari keringat mama dan papa tidak mungkin Faris menyelesaikan Studiku ini”
“Papa juga bangga padamu nak. Yah… masak cowok nangis? Hapus dulu air matamu Ris sebentar lagi kita foto bareng” kata Papa faris meledeknya.
            Tiba-tiba Ciko dan keluarganya datang bergabung dengan keluarga Faris. Melihat Ciko Faris langsung memeluknya dan itu merupakan pelukan terakhir untuknya.
“Ris, terimakasih ya… Terimakasih atas semuanya termasuk persahabatan kita. Dan terimakasih juga kamu telah menyuruh dia mengatakan sejujurnya padaku. Meski Aku sakit hati, namun Semua terobati oleh hangatnya seorang sahabat sepertimu.” Kata Ciko panjang lebar.
“Ssst… ngomong apa sih?” kata Faris memberi kode pada Ciko.
“Hahaha… ayo foto bareng” Ciko tertawa.
****
            Hari itu adalah hari terakhir Faris bertemu dengan Ciko. Dan terakhir kalinya bertemu dengan Joy. Joy yang dapat menarik hatinya setelah bertahun-tahun karena tidak ada seorang laki-laki yang mampu memikatnya lagi. Namun pertemuan itu hanyalah pertemuan seorang teman biasa yang saling berjabat tangan memberikan ucapan selamat atas Wisudanya masing-masing.
            Faris sudah lebih dewasa, baginya masih banyak tantangan yang harus dihadapinya kedepan nanti. Baginya tidak ada yang dapat membuatnya hancur dan terpuruk apalagi tentang cintanya, cinta kaum minoritas.
            Didalam Mobil, Faris tersenyum sendiri dan membuka penutup batrei ponselnya. Faris mengambil kartu didalamnya dan membuang semua kenangannya di kota itu. kota yang akan menjadi kenangan yang terkubur. Sahabat, mantan, dan orang-orang spesial lainnya hilang bersama kartu selulernya.
::SEKIAN::
Cerita ini hanyalah Fiktif belaka, dan tidak mungkin ada kesamaan nama tokoh dan kejadian. :D