Welcome to Rayrowling's Blog. Media Berbagi Cerita.

Menulis dan membaca saat ini sudah mulai menjadi trend di kalangan Remaja. Selain itu banyak juga bermunculan cerita untuk kaum minoritas yakni cerita kaum pelangi yang isinya dominan dengan adegan panasnya. Dengan berdasar kedua alasan tersebut Rayrowling(Founder) membangun Blog ini sebagai Media Berbagi Cerita khususnya cerita cinta kaum pelangi yang tidak memfokuskan di adegan Hot-nya untuk lebih jelasnya silahkan baca Visi dan Misi Blog di About Site.
Apa Aja sih yang ada di Ray Rowling's Blog?
1. Tentunya berisi Cerita yang bertema kaum pelangi, baik fiksi maupun non fiksi dari pemilik Blog silahkan lihat label CORETANKU dan dari beberapa tulisan sahabatnya dengan label CORETAN SHABAT
2. Berisi karya lain dari penulis seperti puisi, Argument dan lain-lain untuk itu silahkan kunjungi PETA SITUS kami untuk mengetahui apa yang ada di blog ini. Terimakasih atas kunjungannya.
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Monday, 28 January 2013

Sebuah Janji



          Harapan dan kenyataan selalu berjalan beriringan, Namun tak semua harapan bisa menjadi kenyataan. Dua tahun berlalu Aku memutuskan menjadikan mereka yang pernah mengisi hatiku menjadi sahabat sejati, bahkan sebagai saudaraku. Meski salah satu dari mereka masih benar-benar ada ikatan saudara walaupun bukan saudara kandungku.
          Aku masih ingat bagaimana mereka berjanji akan melupakan masalah diantara kami, masalah yang kelam di waktu kuliah dulu. Dan hanya satu orang yang dapat memenuhi janjinya, dia adalah Jimmy. Sebagai seorang sahabat Aku bangga melihatnya bertunangan dengan gadis yang cantik dan sholeha. Aku datang menghadiri acara itu, dan membuatku sedikit iri karena dialah orang pertama diantara kami bertiga yang melaksanakan pertunangan.
          Berbeda dengan sahabatku yang satu lagi, Radit… Aku melihatnya tidak ada perubahan pada dirinya. Setahun setelah kami sepakat akan bersahabat dan berusaha meninggalkan masa kelam, Aku bertemu Radit di depan sebuah penginapan di jember. Radit berdiri memakai kaca mata hitam dan penampilannya sangat berbeda seperti Radit yang kukenal.
          Mungkin dia pikir dengan merubah penampilannya, orang-orang terdekatnya tidak akan ada yang mengenalinya. Aku berbalik arah dan mendekati sosok Radit yang berdiri di depan minimarket Seven Dream. “Radit? Ngapain disini?” tanyaku sambil membuka helemku. “Eh? Abang kok disini?” tanya Radit heran dan sedikit kebingungan. “Aku disini ada urusan dengan kontrakan Budhe, Ada urusan kerja ya? Kok gak ngasih kabar?” Tanyaku pada Radit.
          “Oh, Iya ada urusan pekerjaan disini, mau kemana? boleh ikut?” tanya Radit yang agak kebingungan. “Ikut? Kemana?” Tanyaku heran dengan sikapnya yang agak resah. “Kemana Aja, ke Kontrakan Budhe juga boleh” Radit langsung naik ke boncengan motorku. “Loh? Kamu gimana sih? Katanya ada urusan kerja? Sekarang masih jam 10 siang dan menurutku waktu yang pas untuk Pertemuannya!” Kataku sedikit curiga.
          “Tidak ada perubahan, Kamu masih saja cerewet dan agak sewot! Antar Aku cari makan!” Kata Radit datar. “Yaudah, makan dimana?” tanyaku. “Di warung depan Linggar Jati itu masih ada kan? Langganan kita dulu!” Kata Radit tersenyum. “Masih, tapi Aku malas Antri… Kita makan di jalan Riau aja, sebenarnya Aku mau makan disana!” Jawabku langsung melajukan motor ke warung langgananku di jalan Riau.
          “Mau dimakan disini atau dibungkus?” tanyaku. “Dibungkus Aja dan bawa ke kontrakan Budhe, Ok!” Jawab Radit yang masih melihat sekitar. “Baiklah, Seleramu belum berubah kan?” tanyaku memastikan. “Belum… Apa aja boleh” Radit tersenyum. Setelah makanan dibungkus, Radit menjulurkan uang untuk membayar makanan. “Aku saja yang bayar” Kataku menolak uang Radit. “Pengangguran mau traktir Aku?” Ledek Radit dan berhasil membuatku malu.
          “Pengangguran Sukses kan?” Aku tertawa dan pergi dari warung. “Sampai kapan kamu akan bekerja paruh waktu seperti itu Rom? Aku tahu semua tentang kamu dari kak Ana, kamu butuh pekerjaan kan?” Radit terus mengoceh diatas motorku dan Aku hanya bisa mendengarkannya tanpa merespon apa yang diucapkannya. Aku melajukan motorku menuju Kontrakan Bu dhe, “Ini rumah yang baru dibeli Budhe kamu? Lumayan Juga!” Kata Radit ketika melihat rumah kontrakan.
          “Lumayan Ancur kan?” Kataku tersenyum sambil masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah ada beberapa teman yang sedang asyik dengan kegiatannya masing-masing. “Baru pulang kuliah?” Sapaku pada penghuni Kos yang sedang duduk di depan pintu kamarnya. “Iya Mas, panas dan capek” Jawabnya sambil mengipas tubuhnya. “Mereka yang kos disini?” bisik Radit. “Iyalah, Kamu makan pakai sendok atau langsung pake tangan?” Tanyaku pada Radit. “Seperti biasa, Pake sendok!” Radit mencari sendok di dalam kamarku. “Tuh, sendok di rak bawah!” Kataku menunjuk Rak kecil di dalam kamar.
          Ketika kami menyantap makanan kami, berkali-kali ponsel Radit berdering namun dia tidak menggubrisnya. “Hapemu loh!” kataku melihat Radit yang lahap dengan makanannya. “Biarin, Gak penting” jawab Radit sambil berhenti makan. “Kamu makan kayak orang kelaperan aja, Jarang makan ya? Sudah berapa lama kamu gak makan?” Tanyaku heran melihat caranya makan.
          “Kurang ajar, kamu pikir Aku kelaperan? Emang sih kelaperan karena sejak tadi pagi belum makan!” kata Radit sambil tertawa. “Oia, kamu tadi belum menjelaskan kedatanganmu datang ke jember dalam rangka apa, dan kapan tiba di Jember? Bareng siapa dan naik Apa?” Tanyaku pada Radit ketika kami sudah selesai makan. “Profesi jadi wartawan ya? Banyak banget pertanyaannya!” kata Radit sambil mengeluarkan sekotak Rokok.
          “Rokok? Sejak kapan kamu merokok?” tanyaku heran. “Beberapa minggu yang lalu, Laki-laki harus merokok!” jawabnya sambil mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya. “Abang Mau?” Tawarnya sambil meletakan kotak rokok di depanku. Aku meraihnya dan melemparnya ke tempat sampah. “Kamu bisa baca tulisan itu?” Kataku sambil menunjuk tulisan yang tertempel di tembok. “Hehehe, jahat baget!” Jawab Radit yang mengurungkan membakar batang rokoknya.
          “Anda Boleh Saja Merokok Asal Asap Ditelan”Radit membaca tulisan itu berulang kali. “Ditelan ya?” tanya Radit melihatku. “Ya, boleh aja… Tuh ambil lagi sekotak rokokmu di tempat sampah” Jawabku tersenyum. “Masih seperti dulu, anti dengan asap rokok” jawab Radit mematahkan batang rokoknya dan melemparnya ke tempat sampah.
          “Bang, Kenapa sih abang itu gak mau diajak kerja di bali? Ada yang memberatkan disini?” tanya Radit. “Aku masih ingin dekat dengan Mama Dit, kamu tahu kan masalah apa yang menimpa keluargaku?” Jawabku. “Iya… Aku tahu Bang! Tapi itu bukan urusanmu memikirkan semuanya, abang juga berhak untuk bahagia!” jawab Radit ramah. “Entahlah, Aku hanya ingin menghibur mamaku Dit, beliau sering sakit-sakitan dan Aku ingin selalu ada disampingnya!” Jawabku sedikit murung.
          “Terus papa abang gimana? Jarang pulang lagi?” Tanya Radit sedikit penasaran. “Pulang sih, pulang dengan membawa anaknya.” Aku tersenyum. “Yaudah, abang sabar aja! Dia kan adik abang juga toh? Yang penting tante sehat dan semuanya bahagia” Kata radit menyemangati. “Iya, terus bagaimana dengan acara kamu di jember?” tanyaku mengganti topik.
          “Haha, Semua masih terkendali… Yaudah Antar Aku ke Penginapan lagi bang” kata Radit sambil berdiri merapikan bajunya. “Kamu mau meeting dengan pakaian seperti itu? bertemu klien atau bertemu dengan orang spesial nih?” Ledekku. “Jangan buruk sangka dulu, Aku akan ganti baju dipenginapan nanti!” Jawabnya datar. “Ngambek? Dasar gak ada perubahan!” kataku mentowel pipinya. Radit pun tersenyum dan sedikit memamerkan susunan giginya.
          “Yaudah, Ayo cepat, semakin panas semakin tidak baik untukku!” kataku pada Radit ambil keluar dari kamar. Radit mengikutiku dan langsung menuju Halaman depan rumah. “Mau pergi lagi mas?” Tanya penghuni kos lain. “Iya dek, nganter temen ke Seven Dream” jawabku ramah. Ketika di halaman, kulihat radit sedang menelfon seseorang dan ketika Aku mendekatinya dia langsung mematikan ponselnya.
          “Klien?” selidikku sambil menaiki motor. “Iya” jawabnya datar dan langsung naik dibelakangku. Perlahan Aku melajukan motorku dan diperjalanan Radit menayakan tentang mantanku yang tak jauh dari kontrakan. “Oia, kemarin cewek di foto facebook itu kos dimana? Yang cantik itu loh!” kata Radit. “Yang sudah putus itu kan? Gak jauh kok di depan sana!” jawabku sambil tertawa. “Hah? Putus lagi? sok laku aja mutusin cewek secantik dia!” Ledek radit mendengar Aku sudah putus dengan Pacarku.
          “Kamu mau? Dia maunya sama orang kaya Dit, cocok dengan kamu!” Jawabku sambil tertawa. “Masalahnya dia mau nggak ya?” jawab Radit dengan nada bercanda. “Kamunya yang gak mau Dit, dia kan cantik bukan ganteng” kataku dan berhasil membuatnya terdiam. “Dit, kok diam?” tanyaku dan dia masih diam. Hingga Akhirnya Aku berhenti di depan Pos Satpam Seven Dream. “Maaf kalau Aku salah bicara, Oia kapan pulang? Kalau nanti malam masih ada di jember kita jalan-jalan yuk!” ajakku dan berhasil membuatnya tersenyum lagi.
          “Beneran? Awas kalau bo’ong!” jawab Radit sambil tersenyum bahagia. Namun tiba-tiba wajahnya menjadi sedikit kebingungan ketika melihat mobil biru mendekatinya. “Ini mobil kamu kan?” tanyaku pada Radit. “Iya…” Jawabnya Ragu. Pintu mobil terbuka dan keluarlah sosok laki-laki yang tingginya hampir sama dengan Radit. Laki-laki itu memandangku dengan heran dan mendekati Radit yang berdiri canggung.
          “Temen kamu Dit?” Tanya pemuda itu. “Emm… Ini Abangku Yog” kata Radit ragu. Aku sudah dapat menagkap situasi diantara mereka, Aku bisa menebak dengan mendengar Radit berbicara. Laki-laki itu memliki hubungan khusus dengan Radit, Dan Aku hanya tersenyum melihat tingkah Radit yang sedikit gagu di depanku. “Hai, Romy” Kataku menjulurkan tangan pasa pemuda bernama Yoga. Yoga terlihat ramah dan meraih tanganku untuk berjabat tangan.
          “Dari bali juga?” tanyaku langsung pada Yoga. “Enggak, Aku tinggal di jember mas!” jawabnya ramah. “Mas sendiri asli jember?” Tanya Yoga. “Ya, Aku tinggal di sekitar jalan Kalimantan” jawabku datar. “Yaudah Dit, Aku mau pergi dulu… Sudah siang dan semakin panas!” kataku sambil memakai helmku. “Loh, kok buru-buru mas? Gak masuk dulu?” kata Yoga menawarkan diri. Aku kembali membuka helmku dan sedikit heran mendengar tawaran dari Yoga. “Kamu juga nginap di sini?” kataku heran. “Iya, kenapa heran gitu mas?” tanya Yoga penuh selidik.
          “Ah, tidak apa-apa, Yaudah kalau tawaran tadi masih berlaku Aku mau masuk kedalam, karena sebelumnya Aku juga belum pernah masuk ke tempat ini” jawabku sambil tersenyum. Kulihat wajah Radit semkin kebingungan, Aku tahu mimik wajah itu dia berusaha menyembunyikan sesuatu dariku. Aku tidak mempermasalahkan kalau pun benar apa yang ada dalam pikiranku, karena Radit adalah masa laluku yang harus dibuang jauh-jauh. Bukan sosoknya yang dibuang tapi kenangan bersamanya dulu.
          Di dalam kamar penginapan, Yoga banyak cerita tentang dirinya. Dia adalah seorang penyiar salah satu staiun Radio di kota jember. “Oh, jadi kamu seorang penyiar? Pantesan suaranya sangat ramah!” kataku tertawa. “Mas sendiri kerja apa?” tanya Yoga. “Aku seorang pengangguran.” Jawabku tersenyum dan berhasil membuat Yoga heran. “Jangan bercanda mas, gak mungkin pengangguran” Kata Yoga tersenyum ke arahku. “Loh, tanyakan saja ke Radit, kerjaku Apa… Karena dia banyak tahu tentang diriku” Kataku melihat Radit yang sedang hanyut dalam lamunannya.
          “Eh, gimana?” tanya Radit. “Kamu kenapa Dit? Kok melamun terus?” Kata Yoga sangat ramah dan penuh perhatian. Aku tersenyum mendegar Yoga seperti itu, dan berhasil membuat Radit salah tingkah. “Oia, kalian sudah lama berhubungan?” tanyaku langsung pada pokok permasalahan. “Hubungan apa ya?” tanya Yoga sedikit kikuk. “Yah, Hubungan… Bisa bertemanan atau apalah” Kataku sambil memakan kacang yang mulai tadi dicampakan oleh kami bertiga. “Ok, kami baru bertemu hari ini, dan sebelumnya kami berkenalan di facebook!” Jawab Radit cepat.
          “Dit?” Yoga memandang Radit. “Sudah Yog, jangan ditutupi lagi… Abang sudah tahu tentang diriku dan Aku tidak bisa menyembunyikannya” Kata Radit pasrah. “Ya ya ya… Baguslah kalau begitu, jadi intinya kamu tadi bohong kan? Hmmm… Katanya ada urusan kerja ternyata liburan ke jember!” Aku mencibir Radit. “Eh mas, Yang sopan dong ngomongnya!” Kata Yoga yang tak suka dengan apa yang kukatakan ke Radit. “Eh, Maaf ya Yog! Aku disini bukan menjadi penyakit diantara kalian, Aku kesini karena tadi undanganmu untuk masuk dan sebelumnya Aku mengantar Radit ke tempat ini” jawabku santai.
          “Iya, tapi kamu seperti memojokan Radit” jawabnya Ketus. “Memojokan? Dit, bagian mana kalimatku yang memojokan kamu? Gak ada kan? Yaudah daripada semakin ribut mending Aku pamit pergi dari sini, oia Kacangnya enak loh terimaksih kacangnya ya!” Aku tersenyum dan langsung keluar dari kamar itu. “Bang… Maaf ya bang!” Kata Radit mengejarku. “Santai aja Dit, Kamu jalanilah kehidupanmu, sesuai apa yang kamu katakan tadi, kamu berhak untuk behagia kan? Gak usah malu-malu gitu sepertinya Yoga itu baik kok” jawabku dan langsung pamit untuk kembali ke kontrakan.
          Di kontrakan Aku tersenyum sendiri mengingat apa yang terjadi beberapa menit yang lalu. Aku tahu Radit pasti malu mengakuinya bahwa dia sekarang masih sama seperti dulu, berhubungan dekat dengan laki-laki dan melakukan hal yang dilakukan oleh dua laki-laki pencinta sejenis. Aku juga mengingat pernyataannya dua tahun yang lalu yang berjanji akan berubah dan menjalani kehidupan sesuai kodrat laki-laki. Aku tahu itu berat, Aku pun juga sedang berusaha dan mengindari hal-hal seperti itu.
          Beratnya untuk berubah menjadi lebih baik pasti juga dirasakan Radit, namun dia tidak terlalu kuat menahan godaan yang semakin besar. Bukan urusanku lagi mengenai kehidupannya, itulah yang dia pilih dan dia sadar memilihnya. Mengingat kejadian dua tahun yang lalu juga ada sosok Jimmy yang selalu membuatku bersemangat. Dia seutuhnya berhasil menjahui dunia pelangi ini, dunia yang tidak banyak orang memahaminya.
Pertunangannya dengan gadis cantik di kota malang merupakan cara tercepat baginya untuk menjauh dari kehidupan dunia pelangi, Aku banyak belajar pada dirinya, dan dia tidak bosan-bosannya menasehatiku untuk menjauhi dari dunia itu. Namun, Aku punya cara tersendiri, cara yang masih kugunakan hingga saat ini. Tidak terasa waktu begitu cepat ketika memikirkan dua sahabatku, sahabat yang memberi warana dalam kehidupanku dan ketika jam dinding menujukan pukul 17:00 WIB, Radit menghubungiku via sms, mengingatkan akan tawaranku untuk jalan-jalan.
Ingat janjinya ya! Jalan-jalan nanti malam” Sms dari Radit. “Jalan-jalannya dipending dulu Dit, kamu bisa jalan dengan Yoga kan?” jawabku. “Nggak, Waktuku sudah selesai dengan Yoga!” Jawab Radit. “Maaf Dit, Aku masih trauma dengan masalah yang dulu. Hehehe” jawabku. “Aku tidak mau tahu, pokonya nanti malam pokoknya harus jadi!” Jawab Radit. “Lihat saja nanti” jawabku.
Malam pun tiba, Tanpa mengkonfirmasi radit datang ke kontrakan dengan mobilnya. “Mau kemana?” tanyaku pada Radit. “Loh? Yang tadi ngajak siapa?” Jawabnya kesal. “Hemmm… Yaudah, kamu taruh mobil kamu di halaman dan kita naik motor aja Dit” Saranku dan Aku pun masuk kedalam kamar mengambil kunci motor. Ketika Radit keluar dari mobilnya setelah memarkir mobilnya, Aku memberikannya helm dan mengajaknya keluar untuk makan malam.
“Mungkin kamu kangen dengan suasana ini, masih ingat kan jalan ini?” kataku di perjalanan menuju tempat yang Aku tuju. “Bukit rembangan?” tebak Radit. “Haha, iya lama Aku tidak makan nasi goreng disana!” jawabku sambil terus melajukan motor ke bungkit rembangan. Tepat di depan kelurahan kemuning Lor Aku menghentikan motorku memilih warung yang memliki penerangan yang cukup. “Kalau sama kamu di warung ini, kalau sama cewek baru yang disana” kataku menunjuk deretan warung yang memiliki penerangan yang minim. “Hahaha, bisa aja! Jadi inget masa lalu” kata Radit tersenyum sendiri. “Jangan berfikiran macem-macem” kataku sambil menimpuk kepala radit dengan sapu lengan jaketku.
Di warung itu, Aku banyak bertanya tentang hubungan radit dengan Yoga, radit mengaku kalau Yoga adalah kenalannya dan tidak ada hubungan diantara mereka dan hanya saling kenal dan akrab saja. “Iya, saling kenal dan akrab artinya berbeda kan?” Aku memandang Radit sambil tersenyum. “Aku manusia Bang, Manusia hanya bisa berusaha dan Tuhan yang menentukan” jawab Radit.
“Iya, itu pilihanmu kok! Aku tidak ada hak untuk ikut campur dalam kehidupanmu” Aku memandang ke arah gemerlap lampu kota jember dari atas bukit. “Aku masih butuh waktu, butuh waktu untuk bertahan dan bersabar, belajar mengendalikan diri dan mencoba menjalin hubungan dengan seorang perempuan” Kata Radit sambil meminum teh hangat yang dihidangkan.
“Bisa, suatu saat nanti kamu pasti bisa menjauh dan menahan keinginan itu” jawabku meyakinkannya. “Pastilah, tapi kapan Aku tidak tahu, yang jelas saat ini Aku masih bimbang, bimbang dengan kehidupanku yang setiap waktu selalu menambah Dosa” jawab Radit terdengar pasrah. “manusia tidak ada yang sempurna dan sudah ditakdirkan melakukan kesalahan, namun bagaimana cara kita mengurangi kesalahan itu dan jangan lupa untuk bermunajat kepadaNya agar diberi kemudahan untuk mengatasi masalah yang ada” jawabku yang kuusahakan terdengar sangat ramah.
Ketika dua porsi nasi goreng datang dan dihidangkan Radit mengucapkan kata-kata yang membuatku sangat senang mendengarnya. “Aku masih ingat dengan Janji Kita bang, Suatu saat Aku akan menepatinya, Janji yang pernah kita ikrarkan bersama dulu” Kata Radit tersenyum dan langsung melahap nasi gorengnya. “Aku juga masih ingat dengan Janji kita bertiga dulu, suatu saat nanti kita akan berkumpul lagi dengan janji baru setelah semua diantara kita menjalankan janji yang pernah kita sepakati” Aku pun melahap nasi gorengku.
“::SEKIAN::”

Cerita ini Hnyalah Karangan Fiktif dan murni imajinasi penulis… jadi kalau ada kesamaan nama, tempat dan kejadian itu hanya ketidak sengajaan. Likenya dong… Hehehe

Thursday, 10 January 2013

Suamiku Seorang Gay (Last edited at 10/01/13)




Suamiku seorang gay
Pernikahan adalah impian semua anak perempuan dikala masih kecil, Aku pun juga begitu, selalu memimpikan ada seorang pangeran tampan datang melamarku, untuk menikahiku. Impian itu semakin besar dengan berimajinasi  mbahwa Aku akan memiliki beberapa anak dan hidup bahagia bersama pangeran dan anak-anakku. Dan akhirnya setelah bermimpi bertahun-tahun Ayah menemukan seorang pangeran untuk menjadi imam dan suamiku.
Dia itu adalah Mas Hafiz. Mas Hafiz seorang pemuda tampan dan mapan, hal itu membuat Ayah menerima perjodohan yang direncanakan beberapa tahun belakangan. Namun kali ini perjodohan itu terjadi dan hari itu juga Aku melihat mas Hafiz secara langsung. Sebenarnya Aku sudah tahu bahwa Aku akan dijodohkan dengan laki-laki tampan itu, karena Ayah pernah menanyakan padaku tentang Mas Hafizs saat menunjukan fotonya. Hingga hari pertemuan yang sudah ditentukan tiba.
Ayah dan Ibu terlihat sangat sibuk saat itu, mereka membuat acara berjalan sangat lancar. Dan kali ini tinggal jawabanku dan mas Hafiz, apakah kami mau akan perjodohan ini atau sebaliknya. Kedua orang tuaku memang hanya memlihkan pasangan hidup, namun beliau selalu memberikan semua keputusan kepadaku. Aku hanya bilang kepada mereka, kalau mereka mantap dan menilai mas Hafiz baik maka Aku siap dinikahi oleh Mas Hafiz.
Saat malam pertemuan itu, Ayah selalu menyanjung calon suamiku. Aku hanya bisa tersenyum mendengar sanjungan Ayah terhadapnya dan tak sabar ingin melihatnya. Namun, Aku harus menunggu minuman yang dibuat oleh bibi di dapur dan harus sesuai sekenario dari Ibu. Aku harus membawa minuman itu kedepan dan bersalaman kepada mereka.
Dan Akhirnya, Minuman itu selesai dan Aku mengantarnya ke ruang tamu, dan semua di ruang tamu berhenti berbicara dan hanya melihatku dengan tatapan heran. Setelah meletakan minuman di meja, Aku bersalaman kepada Tante Nana dan menyimpulkan tangan di dada memberi isyarat kepada Om Dony dan Mas Hafiz. Ku lihat Maz Hafiz memandangku dengan tatapan biasa, dan kutangkap raut wajahnya menyimpan banyak masalah.
“Ini loh Bu Aisyah yang sering Aku bicarakan ditelfon. Maklumlah dia ini tinggal dipesantren di kampung halaman nenennya sejak SD dan setelah lulus SMA dia kuliah dijogja dan jarang pulang jadi Bu Nana jarang melihat aisyah ketika arisan di rumah ini” kata Ibu memperkenalkanku panjang lebar. Aku hanya tersenyum malu mendengar apa yang diceritakan Ibu pada mereaka.
“Aisyah Kok diem? Jangan Malu-malu nak” Kata Bu Nana sambil menyentuhku. “Biasalah Ma, Anak yang akan dijodohkan pasti malu-malu” jawab Om Dony. “Aku gak malu Pa, Assalamualaikum Aisyah” Suara Mas Hafiz terdengar menyapaku. Aku hanya bisa menjawab salamnya dengan masih menundukan kepala. Mendengar salamku, Semua semuanya tertawa dan terdengar sangat bahagia.
*******
            Seminggu berlalu, Acara pertunangan diselenggarakan tidak terlalu mewah dan hanya keluarga terdekat yang diundang. Kali ini wajah Hafiz sudah terlihat berbeda, dia terlihat sangat bahagia sore itu. Ntah berapa kali dia tersenyum ketika melihatku, dan itu juga membuatku bahagia melihat senyunmnya yang tulus.
            Ketika acara selesai, Mas Hafizs menemaniku di halaman belakang, dan saat itu juga kali pertama bagiku berkomunikasi dengan mas Hafiz. “Aisyah, Kedua orang tua kita akan segera menikahkan kita berdua, bagaimana perasaanmu?” Mas Hafiz bertanya padaku dengan jarak yang tidak terlalu jauh.
“Aisyah bahagia Mas, bahagia karena dapat membahagiakan kedua orang tua, bahagia karena Aisyah ada yang menjaga dan sebagai imam, Bahagia karena, Aisyah bisa segera menjalankan Sunnah Rosul” jawabku sambil menundukan wajah.
“Aisyah cinta sama mas? Aisyah akan sayang pada mas?” Mas Hafiz menanyakan hal yang seharusnya sudah ia tahu.
“Insyallah Mas” itulah yang Aku katakan padanya.
“Alhamdulillah Aisyah, Mas akan menjadi suami untuk Aisyah, suami yang akan menjadi iman dan melindungin Aisyah. Insyallah” Kata mas Hafiz dan terdengar sangat berat. Tak banyak yang kami omongin sore itu, hingga akhirnya Mas Hafiz beserta keluarga pamit pulang.
            Hubunganku dengan Mas Hafiz lebih dekat dan intens mengirim SMS dan bertelfonan. Dari rasa suka timbul rasa Cinta dan Akhirnya Aku bisa menyayangi mas Hafiz. Sesekali mas Hafiz berkunjung ke rumah menemui Ibu dan Ayah, namun tujuan utamanya adalah diriku. Dan beberapa minggu kemudian Mas Hafiz dan Ibunya mengajak Aku dan Ibuku pergi kesebuah Mall untuk membeli sesuatu. Namun ketika tiba disebuah Mall Aku tahu mereka akan membelikanku pakaian dan mencari perhiasan buat Mas kawin nanti.
            “Adek Aisyah minta mas kawin apa?” tanya Mas Hafiz. “Tidak usah terlalu dipikirkan mas, seperangkat alat Sholat saja cukup” jawabku merendah didepannya. “Janganlah, Biar ada kenangan nanti Aku belikan perhiasan kalung aja ya!” kata Mas Hafiz. “Yaudah mas, sesuai kemampuan mas Hafiz saja” jawabku sambil tersenyum. 
            Tak terasa, akhirnya pernikahan itu telah tiba, Ketika malam pertama Aku sedang haid jadi tidak dapat melakukan kewajibanku sebagai seorang istri. Hingga akhirnya seminggu berlalu masa haidku berakhir namun Mas Hafizs belum menyentuhku meski kami tidur sekamar dan dirumah hanya ada Aku dan Mas Hafiz.
            Namun, perhatian mas Hafiz tidak pernah berkurang dan mengganti panggilan unukku menjadi kata Sayang. Meski tinggal serumah dengan kedua orang tua mas Hafiz, Aku masih canggung menghadapi kedua orang tuanya. Hingga akhirnya Mas Hafiz mengajakku pindah tinggal berdua disebuah rumah warisan Ayahnya di luar kota. Di rumah inilah Aku mulai menjadi istri yang melayani suaminya, Namun bukan melayani batiniyah melainkan lahiriah. Memasak dan mencuci adalah tugasku sehari-hari sebagai seorang istri.
            Aku memiliki harapan yakni jika Aku tinggal berdua dengan Mas Hafiz, mungkin Mas Hafiz akan menafkahiku, nafkah batin yang belum pernah diberikannya. Namun, harapan itu sia-sia, setiap kali mas Hafiz pulang kerja dia langung tidur dan bangun di pagi hari dan kembali bekerja. Aku selalu mencoba sabar menerima keadaan, namun Aku tak tahu sampai kapan Aku akan bersabar.
            Hingga Akhirnya Aku menutarakan apa yang ingin kukatakan selama ini. Ketika Mas Hafiz naik ke kasur untuk tidur Aku berkata, “Dalam hubungan suami istri, kewajiban seorang suami adalah menafkahi istrinya dan bukan hanya nafkah lahiriyah melainkan juga nafkah batin”.
            “Asiyah, Mas belum siap.” Jawabnya datar. Mendengar jawabannya Aku langsung diam dan tidak pernah mengungkitnya lagi. Hingga keesokan harinya saat menjelang tidur, tak kusangka mas Hafizs memelukku dan menciumiku, Aku tak mengira mas Hafiz sudah siap untuk melakukannya. Malam pertama dengan maz Hafizs dilakukan setelah 17 hari pernikahanku dengannya.
            Namun, Aku heran dengan mas Hafiz, dia memakai pengaman saat berhubungan denganku. “Mas, mas belum siap punya anak?” tanyaku pada mas Hafiz. Mas Hafiz hanya diam dan menundukan kepalanya. Aku merangkul mas Hafiz mencoba mengurangi beban yang tak pernah diceritakannya. “Sayang, maafkan mas Hafiz ya” jawab mas Hafiz lirih. “Aku yang seharusnya meminta maaf mas” kataku disampingny sambil menyandarkan kepalaku dipundaknya.
******
Pernikahanku dengannya sudah menginjak bulan ke empat, dan pada bulan kempat ini ibu menanyakanku tentang kehamilan. Aku hanya bilang pada mereka, “Allah belum mempercayai kami untuk merawat seorang bayi”. Namun semakin lama mereka curiga bahwa Aku dan Mas Hafizs memiliki masalah tentang kesuburan. Kedua orang tua mas Hafiz mendesakku untuk periksa kedokter, dan itu membuat Ayah dan Ibu tersinggung.
Ketika Mas Hafiz dinas ke luar Kota, Ayah dan Ibu datang kerumah menemuiku. Dan ternyata kedua orang tua mas Hafiz juga datang bersama. “Aisyah, kalian ada masalah? Ibu yakin tidak ada masalah dengan kesuburan kamu, karena keluarga kita tidak mengalami hal seperti ini sebelumnya” kata Ibu. “Oh, Mbak pikir Hafiz yang mandul?”, Kata mama Nana.
“Bukan gitu Na, Aku hanya memastikan tidak ada salah dengan keluargaku” jawab Ibu yang terpancing emosi. “Sudah ma, jangan salahkan orang lain” jawab papa Doni. “Aisyah, tolong ceritakan pada kami apa kalian ada masalah?” tanya papa Doni dengan suaranya yang lembut. Aku semakin tersudut dengan keadaan ini, dan akhirnya Aku menceritakan bahwa mas Hafiz selalu pakai pengaman ketika berhubungan intim dan hal itu yang membuat Aisyah belum hamil.
Mendengar itu, Semua menjadi diam dan seketika di ruang tamu menjadi hening. Namun mama Nana merangkulku dan meminta maaf padaku, karna mama telah berfikiran negatif tentang Aisyah. Mama juga meminta maaf kepada Ibu dan semua sudah tahu, masalah kehamilanku adalah tergantung Mas Hafiz. “Ma, kita harus bicara pada Hafiz!” kata Papa Doni. “Jangan Pa, Mas Hafiz melakukan itu dengan alasan belum siam memiliki seorang anak” Aku memohon pada papa agar tidak menyinggung mas Hafiz.
“Iya, mungkin kami akan sedikit menyindirnya saja nak, Kamu yang sabar ya! Semua akan baik-baik saja.” Kata mama sambil terus mengelus tanganku. Akhirnya kedua orang tuaku, juga kedua mertuaku pulang ke rumah masing-masing, dan Aku tidur sendiri dimalam yang sepi. Mas Hafiz masih pulang besok malam, dan Aku harus bertahan sendiri di rumah. Aku mencoba membuka lemari Mas Hafiz, kulihat baju-bajunya berantakan dan berkerut. Melihat itu, Aku putuskan untuk menghabisakan malam dengan membereskan lemari mas Hafiz.
Aku megeluarkan semua Baju mas Hafiz yang berada di bagian atas. Ketika melipat salah satu kemejanya, Aku menemukan sebuah amplop yang sudah kusut. Penasaran dengan Amplop itu, Aku mencoba membukanya dan mengambil selembar kertas yang ada di dalamnya. Ketika membaca surat itu, Aku langsung beristighfar dan tak terasa air mataku mengalir. Aku menangis membaca selembar hasil tes darah Mas Hafiz. Surat itu menyatakan Mas Hafiz terjangkit virus HIV.
Aku mengembalikan Amplop itu ke dalam saku kemeja Mas Hafiz, dan merenung apa yang telah terjadi. Sekarang Aku tahu, Mas Hafiz memiliki alasan lain atas tindakannya memakai pengaman. Aku tahu Mas Hafiz sangat mencintaiku dan tak ingin Aku juga terjangkit virus mematikan itu. Kini hilang sudah impianku memilki banyak Anak dari mas Hafiz, karena satu pun tak mungkin diberikan oleh mas Hafiz.
Di sisi lain Aku merasa sakit hati padanya, sakit hati karena cemburu dan curiga. Aku memiliki keyakinan bahwa mas Hafiz pernah melakukan zinah dengan pelacur. Dan Allah telah menghukum mas Hafiz atas tindakannya itu. Aku ingin menanyakan semuanya kepada mas Hafiz, namun Aku harus sabar menunggu hingga dia kembali ke rumah besok malam.
Ke esokan harinya, Aku berusaha melupakan apa yang kutemukan semalam, Namun rasa gundah masih terus menyelimutiku berharap mas Hafiz segera pulang ke rumah. Tiba-tiba ada suara ketukan pintu di depan rumah. Aku segera berlari menuju pintu dan membukakan pintu itu. “Assalamualaikum” Kata laki-laki di depanku. Aku hanya menjawab salamnya dan bertanya kepadanya, “Maaf Mas cari siapa ya?” Tanyaku sambil memegang daun pintu.
“Saya mau tanya, Apa benar ini rumah Hafiz?” tanya laki-laki itu. “Iya, tapi Mas Hafiz belum pulang” Kataku sambil terus berdiri di dekat daun pintu. “Maaf ya ukhti, Saya teman Hafiz saat kuliah dulu, Mbak istri mas Hafiz?” Tanya laki-laki itu. “Iya, saya istrinya… Tapi lebih baik Mas kembali nanti malam saja, karena Mas hafiz baru nanti malam pulang ke rumah” jawabku datar. “Yaudah Mbak, nanti malam saya datang lagi, Assalamualaikum” Laki-laki itu langsung pergi menjauh dari rumah. Aku pun langsung mengunci pintu rumah dan berdiam diri di rumah.
*******
            Tak terasa hari berlalu sangat cepat, dan kulihat matahari sudah berada di ufuk barat. Aku semakin berat dengan waktu yang semakin cepat. Jantungku pun berdetak sangat kencang, dan semakin gelisah ketika masuk sholat maghrib. Selesai sholat, Aku mendengar ketukan pintu lagi, dan setelah kubuka masih laki-laki sama seperti tadi siang. “Assalamualaiku, mas Hafinya sudah datang mbak?” tanya laki-laki itu. “Aku menjadi tidak enak jika menyuruhnya pergi lagi seperti siang tadi. “Mas hafi belum pulang, mungkin sebentar lagi pulang. Mas tunggu disini saja ya, Aku mau buat minuman” kataku menyuruhnya duduk di teras rumah.
            Aku menyeduh teh dan membawanya ke teras, “Ayo mas diminum dulu!”. “Terimakasih ya mbak, Oia Mas Hafiz sudah lama menikahnya?” Tanya laki-laki itu. “Alhamdulillah sudah hampir dua bulan!” jawabku sambil tersenyum. “Oh, Kira-kira jam berapa ya mas Hafiz pulang?” Laki-laki itu bertanya lagi. Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang sama yakni “sebentar lagi”.  “Oia, Nama Mas siapa?” tanyaku padanya. “Oh, Aku Roby mbak, mbak sendiri siapa?” tanya Roby.
            “Aku Aisyah mas. Maaf ya Mas Roby harus duduk di luar karena Aku takut menjadi fitnah para tetangga jika di dalam rumah” Aku mencoba meminta maaf atas keadaan malam itu. dan tiba-tiba mobil mas Hafiz masuk ke gerbang. Aku berdiri menyambut Mas Hafi dengan perasaan yang tak enak. Ketika melihatnya, Aku langsung mencoba menghilangkannya dengan jilbabku. Aku mendekati mas Hafiz dan langsung mencium tangannya. “Kamu baik-baik saja kan sayang?” tanya mas Hafiz. “Alhamdulillah mas” jawabku sambil tersenyum.
            “Hei Hafiz, Assalamualaikum!” Kata Roby yang berdiri di teras rumah. “Walaikumsalam, Roby? Ngapain kamu disini?” Seketika mimik wajah mas Hafiz menjadi tegang dan sesekali melihat ke arahku. “Alhamdulillah, Akhirnya aku bertemu denganmu Fiz” kata Roby sambil memeluk mas Hafiz. Mas Hafiz sedikit canggung dengan keadaan itu, namun bagiku itu adalah hal wajar bagi seorang laki-laki untuk berpelukan sebagai ganti berjabat tangan.
            “Yaudah Mas, ayo kita masuk dulu” ajakku pada Mas Hafiz. “Fiz, Istrimu cantik loh, dan sepertinya dia sholeha” Kata Hafiz. “Sudah lama kamu disini?” Tanya mas Hafiz khawatir. “Tenang Fiz, Aku baru tiba kok, dan Aisyah menyuruhku untuk menunggu di luar rumah, sungguh benar-benar istri yang berabkati” Pujinya padaku.
            Akhirnya, Mas Hafiz mengajak Roby untuk menginap di rumah. Aku tidak pernah keberatan dengan itu karena ada tiga kamar di rumah ini. Mas Hafiz menempatkan Roby di kamar belakang dekat dapur. Dan kamar kami berdua ada di depan dekat ruang tamu. Rencanaku untuk menanyakan surat hasil tes itu harus kutunda karena Aku tak mau orang lain mendengar bahwa Mas Hafiz terkena virus HIV.
            Malam pun semakin larut, setelah makan malam Aku kembali ke kamar menonton acara Tv di kamar hingga mata terasa berat. Aku putuskan untuk ke kamar mandi dan ketika keluar dari kamar ku lihat mas Hafiz dan Roby sedang asyik menonton Bola. Sudah menjadi kebiasaan mas Hafiz kalau ada bola selalu menyempatkan diri untuk menontonnya. Apalagi ada sahabatnya dan Aku yakin mas Hafiz akan tidur di ruang tamu kali ini.
            Namun perkiraanku salah, saat Aku mulai terlelap ku rasakan ada seseorang yang berbaring dis ebelahku, dan saat Aku lihat ternyata mas Hafiz berbaring di sebelahku. Aku tersenyum dan melanjutkan tidurku, memejamkan mata sambil memeluknya.
            Tiba-tiba udara dingin berhembus membuat diriku menggigil, Aku membuka mata dan terlihat pintu kamar terbuka lebar. Aku kaget dan segera beranjak dari tempat tidur menuju pintu kamar untuk menutupnya. Namun Aku tersadar kalau mas Hafiz tidak lagi di sampingku. Suara Televisi di rung tengah masih terdengar, segera Aku cek dan tidak ada seorang pun di sana. Ku arahkan pandanganku ke kamar tamu dan terlihat cahaya lampu kamar masih menyala, dan perlahan Aku menghampiri kamar itu. Terdengar suara mas Hafiz berbicara dengan Roby. Semakin dekat semakin terdengar suara obrolan mas Hafiz.
“Aku sangat mencintai Aisyah, Aku tak mau menyakiti hatinya” suara mas Hafiz terdengar sangat pelan.
“Sekali saja, setelah itu Aku pergi dari kehidupanmu, Apa kamu tak pernah berfikiran bagaimana perasaanku?” kali ini Roby yang berbicara pelan. Dan setelah itu tak ada suara lagi yang dapat kudengar. Aku mencoba mendekat ke pintu, melihat apa yang terjadi di celah lubang kunci. Hasilnya Nihil, Aku tak dapat melihat dari lubang kunci yang kecil itu.
            Dengan penuh tekad, Aku membuka pintu kamar tamu dan ketika terbuka sedikit saja langsung pemandangan yang membuatku shock dan seketika Aku mengucapkan Istighfar. “Astaghfirullah” kataku ketika melihat mas Hafiz sedang berciuman dengan Roby.
            “Aisyah, bukakan pintu…” suara Mas Hafiz terdengar sedih. Aku tak menghiraukannya dan langsung menuju jendela kamar untuk menguncinya dan mematikan lampu. Berkali-kali mas Hafiz berusaha membujukku untuk membukakan pintu. Aku hanya diam dan menangis di dalam kamar. Dan Aku tak tahu kapan Aku terlelap dan terbangun ketika matahari sudah terang.
            Di luar kamar tak terdengar suara Mas Hafiz, Aku langsung mengemasi beberapa pakaianku dan perlahan membuka pintu kamar. Ku lihat mas hafiz terlelap di dekat pintu kamar. Perlahan Aku melewatinya menuju ruang tamu, dan kulihat Roby sedang duduk merenung semua yang terjadi. Ketika melihatku Roby berdiri dan berusaha mengatakan sesuatu, namun Aku berlari langsung keluar dari rumah.
            Aku terus berjalan tak tahu harus kemana. Berjalan menjauh dari suamiku yang kucintai, dan kali ini Aku merasa pernikahanku akan hancur. Aku menangis sambil terus berjalan dengan tas di tanganku dan Aku ingin segera pulang bertemu dengan Ibu. Tiba-tiba Mas Hafiz datang dengan motornya dari belakangku memanggil namaku. Di saat bersamaan Ada taxi lewat dan Aku langsung menghentikan taxi dan menyuruhnya untuk segera pergi menjauh.
            Ku lihat mas Hafiz menangis sambil terus mengejarku di belakang taxi. “Aisyah…” itulah yang kudengar darinya. Dan tiba-tiba terdengar suara keras dari belakang, Ketika Aku melihatnya Mas Hafiz terjatuh jauh dari motornya karena sebuah Mobil menabraknya. Aku berteriak di dalam taxi dan menyuruh sopir taxi berhenti.
            Aku langsung berlari menuju mas Hafiz yang sudah berlumuran darah, dan sopir taxi yang kutumpangi berinisiatif membawa mas Hafiz ke rumah sakit terdekat. “Ya allah, selamatkan mas Hafiz” Aku berdoa di dalam taxi menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Mas Hafiz langsung di masukan ke ruang ICU dan seorang dokter memintaku untuk menunggu di luar.
            Beberapa menit kemudian, Roby datang ke rumah sakit dan mendekatiku menanyakan kabar mas Hafiz. “Bagaimana Hafiz mbak?” tanya Roby panik. “Dokter masih berusaha menyelamatkannya” jawabku dengan air mata terus mengalir. “Mbak, Maafkan Aku ya! Aku yang salah…” Kata Roby. “Bukan saatnya, dan jangan meminta maaf kepadaku minta maaflah kepada Allah!” Aku memandangnya dengan tatapan emosi. “Iya Mbak, Aku sangat berdosa telah melakuka hal itu” Roby berlutut di depanku.
            Aku hanya diam melihat Roby, dan terus mengkhawatirkan mas Hafiz. “Mbak, Aku dan Mas Hafiz sebeanarnya sudah lama mengakhiri hubungan kami sejak Kuliah dulu, namun semalam Aku memaksa mas Hafiz melakukan Apa yang pernah kami lakukan dulu untuk yang terakhir kalinya” Roby terus berusaha menjelaskannya. Dan ketika itu juga Aku melihat Mama dan Papa berada kejauhan menuju ruang UGD. “Roby, sebaiknya kamu pergi dan jangan cerita kepada siapa pun tentang masalah kita, dan Aku harap kamu dapat merahasiakan aib mas Hafiz itu, karena kedua orang tua Hafiz sudah mendekat” Aku langsung berjalan menjauh dan berlari menuju Mama dan Papa.
            Mama tak kuasa menahan sedihnya dan terlhat sangat khwatir dengan keadaan Mas Hafiz. Kemudian Tim dokter datang dengan membawa kabar buruk, Mas Hafiz harus rela kehilangan satu kakinya. “Pasiaen harus menjalani amputasi di kakinya, karena tulang-tulang kakinya sudah hancur dan tak dapat diselamatkan” kata Dokter menjelaskan kepada mama dan papa. Mama langsung pingsan, Papa langsung membawa mama ke kursi dan membaringkannya. “Pak, Paien harus segera ditangani dan kami meminta persetujuan keluarga” Kata Seorang suster. “Baiklah Sus, lakukanlah yang terbaik buat anakku” Papa menandatangani surat-surat.
**********
            Beberapa hari kemudian, Mas Hafis sudah sadar setelah tiga hari koma di rumah sakit. Aku bergantian dengan mama dan Ibu untuk menjaga Mas Hafiz, dan sesekali Roby datang menjenguk. Ketika pertama kali mas Hafiz sadar, dia memanggil namaku dan hanya Aku yang boleh masuk oleh dokter. “Aisyah….Maafkan Mas Hafiz ya!” suara mas Hafiz berat. “Iya Mas, Aisyah sudah maafin kok” Jawabku sambil meneteskan air mata. “Mas sudah menyakiti Aisyah” Suara Mas Hafiz terbata-bata. “Mas Istirahat dulu ya, Mama juga ada di sini mas, biar Aku panggilkan mama” Aku langsung ke luar dari ruangan itu dan menyuruh mama masuk.
            Bergantian kami masuk ke ruangan mas Hafiz hingga kahirnya mas Hafiz terlelap akibat obat bius yang disuntikan suster. Beberapa hari kemudian, mas Hafiz sudah membaik dan sudah dipindah ke ruang perawatan. Mas Hafiz juga sudah mengetahui tentang kaki kirinya yang sudah tak dapat menemaninya lagi. Ketika Aku yang menjaga Mas Hafiz sendirian, tiba-tiba mas Hafiz membahas masaalah dimalam itu. “Aisyah, Mas sekarang sadar bahwa mas tidak pantas menjadi suamimu, bahkan mas tidak pantas menjadi suami perempuan lain yang soleha dan tulus sepertimu” kata Mas Hafiz.
            Tiba-tiba Roby datang dan masuk ke ruang perawatan. “Fiz, maafkan Aku. Gara-gara Aku kamu menjadi seperti ini” Roby menangis di sampingku. Aku hanya melihat Roby yang sangat terlihat menyesal. “Aku juga salah Rob, Jika Aku tidak menjalani hubungan denganmu saat kuliah dulu mungkin semua tidak akan menjadi seperti ini. Namun itu lah yang terjadi, sebaiknya kamu juga memnita maaf kepada Aisyah” Mas Hafiz menyuruh Roby meminta maaf kepadaku.
            Aku hanya diam tak bersuara ketika Roby mengutarakan penyesalannya dan meminta maaf kepadaku. “Aisyah, Aku adalah laki-laki tak berguna, laki-laki yang tak pantas menjadi suamimu, laki-laki yang hanya memliki satu kaki, dan laki-laki yang tak dapat memberikan kamu seorang anak karena suatu alasan yang tak mungkin kuceritakan, Jika kamu mau minta cerai bilang pada mas Hafiz!” Kata Mas Hafiz sambil meneteskan air matanya.
            “Aisyah sudah tahu alasannya mas, Mas mendapat banyak cobaan dan menahan penderitaan begitu panjang, Meski mas tidak bisa memberikan anak buatku karena penyakit di darah mas Hafiz dan meski mas adalah seorang gay, Namun jika Mas hafis berjanji akan berubah dan bertobat, Aku tak akan pernah meminta mas Hafiz untuk menceriakan Aisyah. Karena Aisyah sangat mencintai Mas Hafiz dan Aisyah Memaafkan semua hal yang pernah dilakukan mas Hafiz pada Aisyah. Mari kita jalani hidup lebih baik, meski tak ada kemungkinan kita mendapatkan seorang anak, Aku yakin kita akan bahagia mas!” jawabku sambil terus menangis.
            “Jadi Aisyah sudah tahu kalau mas terjangkit HIV? Maafkan Mas ya! Itulah alasan mengapa Mas Hafiz selalu memakai pengaman karena Aku tak mau kamu juga terjangkit Virus mematikan itu” Mas Hafiz mencoba meraih tanganku.
            “Aisyah, Mar Hafiz…. Kalian benar-benar saling mencinta. Aku meminta maaf kalau selama ini Aku menipu mas Hafiz dengan Surat hasil tes itu. Tak ada Virus HIV di darah Mas Hafiz, karena Surat itu adalah palsu yang kubuat untuk menghancurkan hidupmu dulu, maafkan Aku Fiz” Roby menceritakan semua kebenarannya.
            “Jadi, Aku tidak terjangkit Virus? Alhamdulillah Ya Allah1” Kata Hafiz sambil memelukku. Aku semakin haru dan bahagia mendengar itu dan Roby sekali lagi meminta maaf dan pamit untuk pergi dari kehidupan kami.
******
            Beberapa tahun kemudian, Mas Hafiz masih bisa bekerja di kantornya sebagai administrasi dan Hubunganku dengan mas Hafi semakin harmonis. Aku disibukan dengan kedua anakku yang cantik-canti. Ya sekarang Aku menjadi seorang istri seutuhnya seorang istri sekaligus seorang Ibu di rumah kecil kami. Dan Aku selalu yakin Allah selalu memberikan jalan yang terbaik pada HambaNya jika dia memnta padaNya.
::Sekian::

Wednesday, 9 January 2013

Cinta dan Ketegaran Omye.


Ini adalah segelitir kisah dari sahabatku seorang buchi yang bertahan dengan keadaannya. Aku tahu menjalani cinta seperti dia tak mudah dan memang harus berakhir dalam perpisahaan. Namun Omye bisa berkorban demi kebahagiaan pasangannya itulah yang patut dibanggakan. Kisah itu Aku rangkum dalam sebuah curhatan Omye dalam judul, Cinta dan Ketegaran Omye.

Aku merasa empat tahun yang kujalani dengannya sia-sia. Aku tak mengrti apa yg ada dalam pikiran seorang cewek seperti dia. Aku tidak menyebut pasanganku itu sebagai pheme, karna dia hanya mempunyai satu Buchy dan mempunyai rasa yg tinggi terhadap lelaki. Aku tak tahu apakah Aku terlalu sabar dalam menghadapinya? Atau…dia lah yang terlalu kejam padaku. Namun, yang bisa kulakukan hanyalah bertahan menghadapinya, menghadapi orang yang kucintai.
Aku akui dia memang seperti terlalu menyayangiku. Begitu pun dengan diriku yang tak kalah besar rasa sayangku padanya. Mungkin karena Aku terlalu menyayanginya, membuatku selalu menjadi seorang pemaaf. Memafkan semua yang dilakukannya, bahkan memafkan perbuatannya yang selalu menyakitiku, menyakiti perasaanku. Entah sudah berapa kali dia menduakanku, baik dibelakangku maupun di depan mataku.
Di saat dia menduakanku, Aku hanya diam dan menjauh dan  menyimpan rasa sakit hatku sendiri. Aku pun ikhlas, mengikhlaskannya melakukan apa pun yang dia suka. Jika begitu, Aku hanya bisa meminta putus, meminta Julie meutuskan hubungan ini. Namun, Julie tak pernah memutuskanku sebagai kekasihnya. Kalau sudah begitu, Aku hanya mengalah terdiam sendiri menunggu dia kembali kepadaku.Tanpa rasa bersalah dia akan kembali padaku lagi setelah mencampakan pasangannya.
 Begitulah selama empat tahun Aku menjalani cinta dengannya, sudah berapa kali dia menduakanku. Bahkan, dia juga berani mesra bahkan ciuman dengan pacarnya tepat di depan mataku. Aku tak pernah membencinya, membenci akan kelakuannya dan rasa syang itu tidak pernah terkikis oleh ulahnya. Bukan karna Aku bodoh, tapi karna Aku masih memikir kan perasaannya jika Aku harus marah atau pun protes dengan ulahnya.
Aku masih ingat saat tahun baru 2010. Jauh sebelumnya dia berjanji akan merayakan malam tahun baru bersamaku. Tentu saja itu membuatku sangat bahagia, namun kebahagiaan itu hilang bersama ledakan kembang Api di langit. Hingga memasuki hari pertama di tahun itu, Aku hanya mendapat kabar bahwa dia bersama Doni. Betapa sedihnya diriku malam itu, malam yang sangat kubenci jika mengingatnya.Itulah dia, dia yang sanggup membohongiku demi kesenangannya dengan deretan orang bergantian selama hubungan kita. Rudi, Eko, Ari, Sunika, Adek, dan banyak yang lainnya yang tidak bisa kusebutkan.
Hingga 13 november 2012 kemarin, dia memutus kan untuk menikah dengan Aris dengan alasan Aku menghianati cintanya. Namun, memang seperti tak punya hati, dia memintaku yg mengantarkannya ke balai nikah. Saat itu Aku benar-benar hancur, Namun demi kebaikan dan kebahagiaanya lagi-lagi Aku bertahan.
Aku mencoba tegar, tegar ketika ijab qabul dimulai saat itu. Aku hanya bisa tersenyum, tersenyum pahit akan keadaan ini. Aku hanya berusaha ikhlasdan tak hentinya Aku berdoa kepada Allah agar Aku selalu tegar dan Allah memberikan jalan terbaiknya kepadaku.
Hingga Tgl 27 Desember 2012 kemarin, dia mengadakan pesta pernikahan. Aku diminta hadir seminggu sebelum accara di mulai. Lagi lagi Aku harus melawaan hati dan tetap tersenyum. Dan untuk terakhir kalinya Aku tetap melaku kan keinginannya. Aku mengukir inai di tiap jari nya tanpa setetes air mataku. Dan Akhirnya dia bersanding di pelaminan.
Kesakitan telah membuatku tegar. Dan kini Aku tetap hidup seperti biasa. Meski luka di hati semakin parah, namun Aku tetap berjalan dan bernafas walau tanpanya.
Aku tetap bisa makan…
Tetap bisa minum air…
Dan tetap mengisap rokok…
            Aku hadapi semua ini sendiri, tanpa seorang sahabat, tanpa seorang taman, tanpa bercerita kepada siapapun, semua Aku simpan dalam hati dan ku tulis di catatan ini. Aku hanya bisa berharap Semoga kisahku ini dijadikan iktibar bagi sahabat belog semuanya. Janganlah mencintai manusia melebihi cinta terhadap Tuhan, karena disaat manusia menghianatimu dan melukaimu hanyalah Tuhan tempatmu mengadu, dan hanyalah Tuhan yang selalu menolongmu.
Sekian

Tuesday, 8 January 2013

Vino dan Mimpinya



Di mataku sore itu terlihat sangat indah. Langit senja menyemburkan warna jingga kemerahan yang memayungi barisan rumah bilik bambu di pinggir rel kereta api. Namun keindahan itu tidak dapat menerangi hatiku yang kelabu. Hati seorang yang putus asa, hati seorang yang tidak ada pilihan lain lagi selain mati menjemput maut.
Aku terus berjalan di tengah jalur kereta api untuk menjemput malaikat mautku. Wajahku terasa sangat tebal dengan luka lebam dan bibir berdarah yang segar. Kulihat kedua tanganku juga masih terdapat darah yang sudah mengering. Aku tak mau hidup lebih lama lagi, Aku hanya ingin hidup di dunia lain yang jauh dari keluargaku dan kehidupan fana ini, menunggu seseorang yang kucintai disana.
Jantungku berdegub semakin kencang ketika goresan pedang malaikat mautku terdengar dari kejauhan. Suara gemuruh dan klakson kereta api membuat diri ini tak berdaya dan hanya bisa pasrah dan memejamkan mata. Selamat tinggal ayah, selamat tinggal kakak, dan selamat tinggal Danu, You are my love until the end.

**Dua bulan sebelumnya**

“Vino” hardik ayah ketika Aku menyisir rambutku yang basah. Aku harus cepat membuka pintu kamar sebelum hardikan ayah berubah menjadi amarah. “Iya yah” kataku sambil menundukan kepala. “Aku kira kamu belum bangun, cepat makan!” kata ayah datar dan langsung menuruni tangga kembali ke dapur.
Aku langsung turun menuju dapur berkumpul dengan Ayah dan kedua kakakku Dika dan Diko. Aku jarang melakukan komunikasi dengan Ayah dan kak Dika karena mereka selalu bersikap dingin dan kasar kepadaku. “Kalau makan itu yang bener! Jangen lelet!” lagi-lagi ayah membentakku. Aku segera memposisikan diriku tegap dan melahap makananku dengan serius. Ku lirik kak Diko tersenyum melihatku sambil menggerakan Alisnya menghiburku yang selalu tertekan di rumah.
Setelah makan Aku pun kembali ke kamar untuk mengambil tas dan sepatuku. “Hufh, akhirnya selesai juga sarapanku” Aku mengeluh sendiri di dalam kamar. “Kamu yang sabar ya Vin” suara kak Diko mengagetkanku. Hanya Kak Diko di rumah ini yang selalu menganggapku bagian dari keluarga ini. Aku tersenyum pada Kak Diko dan memeluknya “Kak, sampai kapan mereka membenciku? Sudah 19 tahun lamanya mereka kasar terhadapku” Aku mencoba meluapkan semua perasaanku. “Kamu yang sabar aja ya, suatu saat mereka juga menyayagimu” kata-kata itu sudah lazim di telingaku, namun selama ini masih saja Ayah dan Kak Dika bersikap arogan dan kerap menghadiahkanku tinjunya.
“Yaudah, mending kamu berangkat kuliah, nanti telat loh! Oia nih buat jajan” Kak Diko menjulurkan uang lima puluh ribu untukku. Aku berterimakasih kepada kak Diko dan mulai berjalan menuju pintu kamar. Kak Diko yang ada di depanku langsung turun menuju garasi. Sedangkan Ayah dan kak Dika berangkat ke markas TNI untuk menjalani kegiatan rutinnya.
Akhirnya usai juga ketegangan pagi ini. Aku sangat senang ketika semuanya sudah sibuk dengan pekerjaannya. Ayah dan Kak Dika yang berangkat ke Markas TNI, sedangkan Kak Diko berangkat ke kantor polisi. Aku pun langsung turun dari kamar menuju garasi dan mendekati motorku yang berdiri sendiri di garasi. Aku memanasi motor sambil mengeluarkannya dari garasi, memakai helem dan langsung meluncur ke kampus.
Sesampainya di kampus ujian mental belum berakhir. Stage dua ujian mental dimulai. Ketika memasuki tempat parkir kampus sambutan kata “Profesor” sudah bersautan ditelingaku. “Pagi prof, Hai prof, prof…” panggilan itu selalu mengisi hari-hariku di kampus. Aku dipanggil dengan sebutan profesor bukan karena Aku pintar ataupun rajin ke perpustakaan, namun gara-gara penampilanku yang terlalu rapi dan culun untuk lingkungan kampusku. Dengan kacamata tebal rambut rapi disisir kesamping dan pakaian ala guru tahun 60an.
Berpakaian rapi seperti itu hanya membuat para dosen senior senang melihatku dan tak hayal Aku selalu menjadi anak emas di kelas. Namun di mata teman-temanku penampilanku ini sudah sangat jadul (jaman dulu) yang lolos seleksi alam dan mestinya dimusnahkan. Sebenarnya Aku malu dengan apa yang dikatakan teman-teman kampus namun Aku tidak mempunyai keberanian dan kepercayaan diri yang besar untuk merubah penampilan yang sudah tercetak saat Aku di sekolah dasar.
Apalagi, Ayah yang selalu suka melihatku berpenampilan seperti ini. Pernah sekali Ayah memukuliku gara-gara Aku ke kampus memakai celana jeans. Dan saat itu juga Aku tak berani memakai jeans ke kampus, lebih baik bertahan dengan sebutan profesor daripadan mendapat tinju dari ayah.
Tak terasa hari sudah mulai sore, Aku segera kembali ke rumah dengan terburu-buru, karena jika Aku terlambat pulang pasti Kak Dika akan membentakku. Di perjalanan pulang ketika melewati kompleks perumahan Aku menemukan kelinci putih yang tergeletak di jalan. Sepertinya kelinci ini korban tabrak lari dan tidak seorang pun menolongnya. Aku segera memeriksanya dan ternyata kelinci putih kecil ini masih hidup, Aku langsung membawa kelinci itu ke rumah untuk dirawat.
Sesampainya di rumah Aku mencoba mencari kardus di gudang dan meletakan kelinci itu di kamar. Kaki kelinci malang itu patah, dan langsung ku balut dengan kain kassa. “Semoga aja kamu sembuh yah” Aku mengelus kelinci putih itu. “Adek pelihara kelinci?” Kak Diko masuk kamar mengagetkanku. “Eh enggak kak, Ini Aku temukan di jalan dan kakinya patah, jadi Aku putuskan untuk ku rawat dan ku kembalikan setelah sembuh” Jawabku sambil melihat kelinci putih itu. “Yaudah, sembunyikan ya! Jangan sampai ketahuan Diko karena dia Akan marah” Kak Diko mencoba mengingatkanku.
Seminggu kemudian kelinci itu sudah mulai berjalan lagi, saatnya Aku mencari pemiliknya. Aku membawa kelinci itu menuju tempat saat kelinci itu tergeletak. Ketika Aku duduk di atas motorku kulihat seorang pemuda tampan, tinggi dan sedikit pucat sedang membuang sampah di depan rumahnya.
“Mas, maaf ganggu” Aku mencoba memanggilnya ketika dia berjalan masuk ke rumahnya. Dia menatapku seperti tatapan teman-temanku yang selalu menatap keanehan dalam diriku, namun berbeda dengan teman-temanku yang mengerutkan alis ketika pertama melihatku. Dia tersenyum dan menjawab panggilanku “Iya, bisa saya bantu?” itulah pertama Aku mendengar suaranya yang berhasil membuat diriku menganggap semakin sempurnalah dirinya.
“Seminggu yang lalu, Aku menemukan kelinci ini tergeletak di sana. Mas tahu siapa pemilik kelinci ini?” Aku menjulurkan kardus berisi kelinci. “Fio? Iya ini kelinciku dan hilang seminggu yang lalu”, jawabnya yang terlihat sangat senang. “Syukurlah, oia Aku Vino” Aku menjuluran tanganku dan memperkenalkan diriku. “Aku Danu, Ayo masuk dulu Vin”, Danu menjabat tanganku dan langsung menarikku ke dalam halaman rumahnya. “Eh, motorku masih disana” Aku mencoba menahan tarikan tangannya. “Oh, Iya. Masukan saja motornya” Kata Danu sambil melepas pegangan tangannya.
Aku menuju motorku dan memasukannya ke halaman rumah Danu. Kulihat halaman itu penuh dengan rumpt hias dan beberapa tanaman yang hijau. “Rumahmu sejuk ya!” Kataku sambil melihat keseluruh sudut halaman. “Begitulah” Jawab Danu singkat.
Danu menyuguhkan secangkir teh dan beberapa potong kue bolu. “Jadi kamu yang merawatnya hingga kelinci itu sehat lagi? bakat jadi dokter hewan nih” Danu membuka percakapan. “Halah, biasa aja lagian Aku kuliah bukan di medical hanya seorang mahasiswa ekonomikataku sambil tersenyum malu. Percakapan kami terus mengalir seperti seorang sahabat yang sudah sangat akrab. Hingga kehidupan keluarga kami berdua menjadi topik perbincangan.
Dari cerita Danu, ternyata Danu juga seperti diriku , tidak mempunyai ibu dan tinggal di indonesia bersama pembantu yang mengurusnya. Ayah dan adik perempuannya tinggal di luar negeri. Ibu Danu sudah setahun meninggal. Aku juga menceritakan tentang kehidupanku yang selalu hidup dalam ketegangan di dalam rumah, dan hidup penuh olokan di kampus akibat penampilanku.
Hingga sebulan lamanya Aku berteman dengan Danu, dan cinta itu mulai tumbuh dalam diriku. laki-laki pertama yang Aku cintai dulu adalah kakak kelasku bernama Farhan, namun sayang Farhan bukan seorang homoseksual dia murni laki-laki heteroseksual yang mau menjalin hubungan hanya dengan lawan jenisnya. Aku langsung membuang rasa cinta itu dan fokus dengan sekolahku. Namun hari ini Aku kembali jatuh cinta kepada seorang laki-laki yang baru sebulan ku kenal yakni Danu.
Di minggu pagi ketika di rumahnya Aku mengorek tentang pribadinya. Apakah dia sama sepertiku seorang gay ataukah dia seorang hetero? Tak mungkin bagiku untuk bertanya langsung padanya dengan kalimat ‘Dan kamu gay bukan? Atau Dan kamu suka cowok gak?’ itu akan merusak pertemananku dengannya. Lebih baik Aku mengorek hal pribadinya itu dengan pertanyaan-pertanyaan lain saja.
 “Dan, selama Aku berteman dengan kamu kenapa Aku tak pernah melihatmu jalan dengan pacarmu?” Aku memulai mengorek informasi. “Oh, Aku sudah tiga bulan putus dengan pacarku Vin, kenapa?” jawabnya yang ditutup dengan pertanyaan buatku. “Tiga bulan putus? Yang sabar aja ya karena stok cewek di dunia ini masih banyak kok” Aku meliriknya ketika mengatakan hal itu. Terlihat Danu tersenyum melihat kelincinya berlarian. “Terus? Kamu kenapa tidak jalan dengan cewekmu Vin?” mampus pertanyaan itu menghantam diriku. Tidak mungkin Aku menjawab, sorry Dan Aku tak suka cewek atau Aku gay Dan. Untung Aku masih punya jawaban lain yang  lebih pantas dan masuk akal baginya “Mana ada cewek mau ma diriku yang culun ini Dan” Aku akhiri dengan nada tertawa.
“Yaudah, gimana kalau Aku…?” Danu memotong kalimatnya dan kemudian tersenyum sendiri. “Kamu kenapa Dan?” tanyaku yang berharap kelanjutan kalimatnya adalah Aku ingin jadi kekasihmu. “Tapi tak mungkin kamu mau Vin” jawab Danu semakin membuat aku penasaran. “Bagaimana Aku mau kalau kamu belum mengatakannya”  jantungku semakin berdegub kencang berharap hal konyol dikatakan Danu. “Yaudah Aku ingin bilang kalau Aku ingin merubah penampilanmu itu” Danu tersenyum padaku. Shit! Aku pikir dia akan mengatakan cinta padaku, ternyata Aku salah.
“Okelah, apapun yang menurutmu bagus buatku Aku akan mencobanya” jawabku yang berhasil membuat Dia kegirangan. Hal pertama yang dilakukan Danu adalah membawa diriku ke salon. “Vin, kamu harus merubah style rambutmu dan salon ini adalah salon langananku” kata Danu sambil memasuki Salon. Tak perlu waktu lama untuk membentuk rambutku, hanya tiga puluh menit style rambutku berubah menjadi rambut acak dan sedikit poni mengarah ke samping kanan bawah. “Wow, Ini Vino?” Kata Danu memujiku yang berhasil membuat mukaku memerah.
“Yaudah, kita balik ke rumah lagi Vin, Langkah kedua sudah menunggu di rumah” kata Danu sambil menatapku dengan senyumannya yang menawan. Namun tiba-tiba ponsel Danu berdering “Halo, ada apa Yan? Sorry Aku tak punya waktu bye!” begitulah yang Aku tangkap dari pembicaraan Danu dengan wajah kesalnya.
“Siapa Dan?” tanyaku ingin tahu. “Biasa sang mantan” kata Danu datar. Aku langsung kaget karena nama yang di sebutnya adalah “Yan” Ryan kah? Atau Sofyan? Nama-nama laki-laki berakhiran Yan mengisi pikiranku. “Oh mantan kamu! hmm emang siapa namanya tadi Aku dengar kamu manggil dia dengan panggilan Yan atau yank ya?” kataku menggodanya.
“Hehe, namanya Dian” seperti biasa Danu tersenyum ketika menjawab semua pertanyaanku. Mendengar kata Dian Aku langsung mengeneralisasi bahwa Danu adalah laki-laki hetero, Nama Dian adalah nama buat cewek dan yang ada dalam pikiranku adalah Dian Sastro aktris cantik indonesia dan Dian wiji utami gadis cantik di kampusku. “Pasti Dian itu cantik ya?” kataku asal. Danu terkekeh tanpa menjawab pertanyaanku.
Sesampainya di rumahnya, Danu membawaku menuju kamarnya. ini adalah pertama kali Aku memasuki kamar Danu, karena sebelumnuya Aku hanya menginjakan kakiku di ruang tamu dan halaman belakang. “Vin, kamu cobain pakaian-pakaian ini” Danu menunjuk beberapa kantong plastik yang ada di atas kasur. “Hah? Kamu membelikan ini buatku Dan?” Aku tak bisa menyembunyikan kesenanganku.
“Iya, beberapa potong pakaian yang sengaja Aku belikan untukmu biar kamu bisa merubah penampilanmu” kata Danu sambil mendorongku menuju pakaian-pakaian itu. “Terimakasih Dan, tapi apakah kamu akan tetap di sini ketika aku mencoba pakaian-pakaian ini?” Aku meliriknya dengan tujuan menggodanya. “Haha, ok Aku keluar dulu Vin, kamu cobain aja” kata Danu sambil menutup pintu kamarnya. Aku langsung memakai T-shirt dan celana jeans dan merapikan diri di depan meja rias di kamar Danu.
Di atas meja itu terdapat bingkai foto yang diletakan terbalik. Aku coba meraih bingkai foto itu dan membaliknya. Terlihat foto Danu dengan seorang laki-laki seumurannya dan laki-laki itu sama tampannya dengan Danu. Mungkin ini adalah sepupu Danu dan lumayan siapa tau nanti Aku bertemu dengannya pikirku. Bagaimana kalau laki-laki ini sama seperti Aanu? Laki-laki normal yang tidak mungkin menjalin cinta sejenis. Pikiranku berkecamuk dengan cinta yang Aku butuhkan di dunia ini.
“Wah, kamu pantes banget pakai pakaian itu Vin, Aku jadi pangling melihatnya” suara Danu mengagetkanku dari belakang. Aku berbalik dan lupa meletakan kembali bingkai foto yang aku pegang. “Sorry Dan, aku lancang melihat foto ini, tapi ku hanya ingin membuat foto ini berdiri kembali” kataku ketika Danu melihat foto yang Aku pegang.
“Itu tidak masalah Vin, foto itu memang sengaja Aku letakan terbalik dan sebentar lagi foto itu akan Aku buang ke tempat sampah” kata Danu sambil menghampiriku dengan jus jeruk di tangannya. “Emang kanapa Dan? Foto ini pasti saudara atau sepupumu ya?” tanyaku sambil memberikan foto itu pada Danu dan mengambil jus jeruk kemudian ku letakan di meja. “Bukan, Dialah yang bernama Dian, Dian Wahyu pratama. Laki-laki yang pernah mengisi hari-hariku dulu” Danu menatapku dengan tajam.
“Kamu?” tanyaku gugup. “Iya, Aku sama sepertimu Vin, laki-laki pilihan yang saling mencintai sesamanya” Danu memegang pundakku. Sama? Bagaimana dia tahu tentang diriku? Aku diam dan sedikit ketakutan. “Pasti kamu berfikiran bagaimana Aku tahu kamu juga seorang gay?” Danu tersenyum menatapku yang terpojok. “Kamu tau darimana Dan?” mukaku memerah ketika Danu semakin mendekatkan wajahnya kewajahku. Jantungku semakin berdegub kencang dan berkeringat “Perasaanku yang mengatakannya”. Hembusan nafas Danu semakin memburu dan sekejap Danu mendaratkan bibirnya di bibirku. Aku hanya memejamkan mata menikmati ciuman Danu.
“Cklek” di ikuti kilatan cahaya membuat Danu melepas ciumannya. Ternyata ada seseorang yang berdiri di dekat pintu sambil memegang kamera digital. “Dian!” Danu kaget. “Ternyata ini yang membuat kamu berpaling dariku Dan, tapi tidak apa-apa Aku akan menghancurkan hidupmu dan hidup laki-lakimu itu” Dian langsung berlari ke luar. “Dian!” teriak Danu dan mengejarnya sedangkan diriku hanya mematung di dalam kamar Danu.
Beberapa menit kemudian Danu kembali lagi. “Dan? Aku ketakutan dengan ancaman Dian” Kataku dengan nada Cemas. “Kamu tenang saja Vin, Aku akan selalu bersamamu melindungimu sampai kapanpun”, Danu memelukku yang masih mematung berdiri. “Vin, maukah kamu menggantikan Dian dan berjanji tidak akan meninggalkanku?” Danu melanjutkan kata-katanya sambil memelukku. “Kapanpun Dan, karena Aku juga mencintaimu” Aku melepas Danu dan memintanya untuk mengantarku pulang.
Sesampainya di rumah ternyata Ayah dan kak Dika sudah lebih dulu di rumah. “Darimana saja kamu? Dan apa-apaan ini? berpakaian seperti ini” suara kak Dika menyambutku dengan kasar. Untung saja ada kak Diko disana “Vin, cepat masuk kamarmu” kata kak Diko menyelamatkanku.
Aku langsung membaringkan tubuhku di atas kasur memikirkan kejadian siang tadi yang terjadi di rumah Danu. Betapa senangnya mengingat diriku sekarang sudah memiliki kekasih yang akan mengisi hari-hariku ke depan. Namun kebahagiaan itu berubah ketika Aku mngingat kejadian Dian datang dan ancamannya merasuk dalam pikiranku. Aku menjadi takut membayangkan apa yang akan dilakukan Dian nanti. Tak terasa Aku memejamkan mataku karena kelelahan mengingat kejadian-kejadian tadi.
Sebantar rasanya Aku memejamkan mata dan langsung terbangun oleh suara ayah yang menggedor pintuku dengan kasar. Aku langsung melompat dari tempat tidur dan berlari membukakan pintu. Aku buka kunci pitu dan seketika pintu di dorong dari luar dengan keras. “PRAAKK” tamparan mendarat di pipiku.
“Mau jadi apa kamu Vin!” Ayah memperlihatkan fotoku yang sedang berciuman dengan Danu. Aku hanya diam tak tahu harus menjawab apa. Semua sudah tahu dan Dian ternyata bergerak lebih cepat. Ayah terus menamparku dan Aku terjatuh ke lantai, seketika kak Dika menendangku dan berhasil membuat perutku melilit.
“Ayo bangun kau, sudah lama Aku ingin menghajarmu Vin” kata kak Dika menarik kaosku untuk berdiri. Setelah Aku berdiri, Aku disambut dengan tinjuan diwajahku dan berhasil membuat darah mengalir dari hidung dan bibirku tergores luka. Lagi-lagi Aku jatuh dan tak kuat rasanya menahan sakit ini.
“Sudah, cukup Dika!” suara kak Diko membentak kak Dika. “Jangan pernah membela orang biadap ini ko!” suara ayah juga membentak Kak Diko. “Iya, lepaskan aku Diko, biar Aku menghajar anak ini” suara kak Dika terdengar dan berhasil menendang perutku lagi. “Jangan Ka, nanti Vino bisa Mati” Kata Kak diko.
“Seharusnya dia memang mati, dia telah membunuh Bunda” suara kak Dika meraung. “Dika, jangan selalu menyalahkan Vino, Bunda Meninggal memang sudah Takdirnya ketika melahirkan Vino. Kalau kalian Tetap menghajar Vino, Aku akan menghubungi teman-temanku dan melaporkan kalian ke kantor polisi” ancam kak Diko.
“Baiklah, tapi Aku tak mau melihatnya di sini, pergi kau Vin” kata ayahku sambil mengakhiri dengan satu tendangan lagi. Aku mendengar kak Diko dan Ayah masih berdebat di ruang tamu. Aku sendiri masih kesakitan di kamar dan berusaha berdiri. Tempatku bukanlah di rumah ini, Aku harus keluar dari rumah ini. Aku telah mengecewakan semuanya dan tak tahu harus pergi kemana.
Aku menuruni tangga dan menuju ruang tamu. “Pergi kau bajingan!” suara kak Dika menggema di ruang tamu. “Vin, kamu mau kemana dek?” tanya kak Diko ramah. Aku hanya diam dan terus berjalan menuju pintu. “Ayah, kak Dika, kak Diko maafkan Vino selama ini telah menyusahkan kalian, terimakasih telah merawatku” kataku berpamitan. “Mati saja kau!” kak Dika berdiri dan ditahan oleh Kak Diko.
Aku langsung keluar dari rumah berjalan memakai jaket  menutupi wajahku yang luka. Bagaimana keadaan Danu? Pasti dia juga menderita sepertiku dan semoga dia lebih tabah dariku, sepanjang perjalanan Aku selalu memikirkan Danu, Ayah dan kakak-kakakku. Kata-kata kak Dika selalu terulang di telingaku, “Mati saja kau!… Mati saja Kau!”. mungkin benar kata Dia lebih baik Aku mati dan tidak menyusahkan mereka lagi. Aku putuskan untuk menjemput malaikat mautku di lintasan kereta api. Malaikat mautku itu adalah kereta Api yang melaju menuju arahku.
Suara kereta api semakin mendekat dan Aku mencoba tersenyum mengingat kejadian bersama Danu. “Twuuuuuuuuuuuuuuuut” Akhirnya malaikat mautku menjemputku. Hantaman yang keras mementalkan diriku ke samping jalur kereta. Suara kereta api masih terdengar dan Aku langsung membuka mataku dan kulihat ternyata Danu memelukku. “Vin, jangan tinggalkan Aku” itulah kata-kata dari Danu untuk mengingatkan akan janjiku padanya.
Setelah kereta lewat suaranya-pun sepi menjauh, tiba-tiba terdengar suara laki-laki menghampiri kami berdua, “Sudah ayo kita pergi dari negara ini” ternyata laki-laki itu adalah Papa Danu. Danu tersenyum dan berdiri memeluk papanya. “Papa akan melakukan apa saja untuk kebahagiaanmu nak, dan kehidupanmu bukan untuk negara ini. Ayo ikut papa tinggal di luar sana dan bawa kekasihmu ini”, kata papa Danu yang memeluknya erat. “Terimakasih Pa”, Danu tersenyum dan papanya membalas senyuman itu. Aku pun di papah masuk ke dalam mobil, dan di sana kulihat sepasang kelinci putih yang salah satunya ku selamatkan tempo dulu. “Terimakasih Tuhan, kau mengirimkan kebahagiaaan ini, Aku akan menjaganya hingga akhir hayatku. Amien” Aku berdoa dalam hati semoga kabahagiaan ini abadi dan bertahan lama di negara lain nanti.
Sekian