Welcome to Rayrowling's Blog. Media Berbagi Cerita.

Menulis dan membaca saat ini sudah mulai menjadi trend di kalangan Remaja. Selain itu banyak juga bermunculan cerita untuk kaum minoritas yakni cerita kaum pelangi yang isinya dominan dengan adegan panasnya. Dengan berdasar kedua alasan tersebut Rayrowling(Founder) membangun Blog ini sebagai Media Berbagi Cerita khususnya cerita cinta kaum pelangi yang tidak memfokuskan di adegan Hot-nya untuk lebih jelasnya silahkan baca Visi dan Misi Blog di About Site.
Apa Aja sih yang ada di Ray Rowling's Blog?
1. Tentunya berisi Cerita yang bertema kaum pelangi, baik fiksi maupun non fiksi dari pemilik Blog silahkan lihat label CORETANKU dan dari beberapa tulisan sahabatnya dengan label CORETAN SHABAT
2. Berisi karya lain dari penulis seperti puisi, Argument dan lain-lain untuk itu silahkan kunjungi PETA SITUS kami untuk mengetahui apa yang ada di blog ini. Terimakasih atas kunjungannya.
Showing posts with label Cerbung. Show all posts
Showing posts with label Cerbung. Show all posts

Monday, 11 February 2013

Mengejar Masa Lalu 08

Akhir Mengejar Masa Lalu part 07, Adam sudah bertemu dengan saudara kembarnya bernama Vicky, Dia adalah pemuda yang baik dan menganggap Adam dan Johar adalah adik laki-lakinya. Johar pun diangkat menjadi anak oleh Mama Adam. Kebahagiaan Aam berlipat ganda ketika ia berhasil mendapatkan cinta Stella. Namun bagi Johar hari-harinya semakin sulit dijalani, karena harus berhaapan engan Alex dan Nico 
            Beberapa bulan telah berlalu, Johar dan Adam telah menempuh Ujian kenaikan kelas dan menunggu hasil jerih payahnya selama setahun di kelas satu SMA. Kini di pagi yang cerah mereka berdua datang ke sekolah lebih awal dan berdiri di depan perpustakaan. “Mungkin nggak ya Aku menjadi juara kelas lagi?” Kata Johar tersenyum di depan Adam yang sedang sibuk dengan ponselnya. “Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menjadi juara kelas” jawab Adam dan masih sibuk dengan Ponselnya. “Kalau masalah naik kelas, seratus persen Aku yakin naik kelas kak, tapi hanya 50% keyakinanku akan mengalahkan kak Adam” Jawab Johar murung.
            “Loh? Belum tentu lah, kita kan sudah belajar bersama selama ini dek?” Kata Adam yang langsung menyimpan ponselnya di saku celana. “Akhir-akhir ini Aku banyak masalah kak, jadi kurang fokus dalam urusan sekolah, Aku juga sering bolos dan hal itu menjadi pertimbangan para guru untuk memberikan nilai.” Johar duduk di lantai. “Hmmm… sebenarnya kamu itu punya masalah apa sih? Setiap Aku tanya kamu selalu saja mengelak” Adam duduk di dekat Johar.
            Johar pun langsung menyebarkan penglihatannya ke sekitar sekolah yang agak sepi dan mulai berbicara pada Adam. “Aku pengen jumpa Papaku kak!” Kata Johar murung. “Pasti Jo, kamu akan berjumpa dengan beliau, Alex dan Vicky sudah berupaya membantu kamu juga kan? Sabar aja ya! Suatu saat kita akan menemukan Papa kamu” Adam memegang pundak Johar dan menenangkannya.
            “Oia, boleh kakak tanya satu hal?” Adam memandang dalam pada Johar yang sangat murung. “Apa kak?” Johar melihat ke Arah Adam. “Kamu sudah berjanji pada Mama akan tinggal dengan kakak di rumah, kenapa kamu masih bertahan di kontrakan Jo? terus saat di kontrakan Aku merasakan hubunganmu dan Nico tidak seperti biasanya” Kata Adam dengan suara pelan. “Maaf kak, Aku masih tidak enak pada Mas Yudi dan Nico jika kita semua menetap di rumah Mama, hampir satu tahun kita tinggal di kontrakan dan Aku merasa berat meninggalkan kontrakan kak” Kata Johar menundukan kepalanya, memandang garis ubin.
            “Ya, Aku juga sama dek… makanya terkadang Aku masih menginap di kontrakan. Tapi kakak menjadi tidak enak pada Mas Yudi dan Nico, seharusnya mereka bisa menempati kamar masing-masing jika Adek mau tinggal di rumah.” Jawab Adam. “Entahlah!” Kata Johar datar. “Oia, kamu belum jawab masalah kamu dengan Nico, mengapa kamu menghindari Nico beberapa bulan ini?” tanya Adam dengan nada penuh curiga. “Ada sesuatu kak, tak mungkin Aku menceritakan pada kak Adam” jawab Johar yang membuat Adam semakin penasaran.
            “Yang jelas kalau ngomong dek! Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan, mengapa harus ada rahasia di antara kita?” tanya Adam semakin penasaran. “Udahlah kak, Aku bisa menghadapinya kok, Oia tadi kak Vicky sms katanya hari jum’at pagi dia akan pulang, Jadi tidak sabar ingin bertemu dengannya” Jawab Johar sambil berdiri dan menjauh meninggalkan Adam sendiri menuju kelasnya. Hal itu dilakukan untuk menghindar dari pertanyaan Adam yang memojokan dirinya.
            “Hei, Ngapain kalian pagi-pagi sudah ada di sekolah?” Tanya Roy yang berjalan bertiga dengan Alex dan Rendy. “Biasa, Jaga sekolah!” Jawab Johar tersenyum. “Tidak terlalu pagi kok, kalian saja yang datangnya terlalu siang!” Jawab Adam yang berada di belakang Johar. “Oia, Stella gak bareng kalian?” tambah Adam mencari sosok Stella. “Bosen! Selalu Stella, Stella dan Stella yang ditanya tiap kita berjumpa.” Sungut Rendy yang sudah bosan mendengar kata Stella dari mulut Adam beberapa Bulan terakhir sejak Adam dan Stella berpacaran.
            “Haha, Masak Aku mau tanya tentang kalian? Sudah jelas kalian sehat dan berada di depanku” Adam tertawa mendekati Rendy dan merangkulnya kemudian mengacak-ngacak rambutnya. “Maklumlah, kita juga perlu diperhatikan oleh anggota kelompok, jangan Cuma satu orang dong” Tambah Alex tersenyum. “Udah Ah, jangan konyol deh! Sebentar lagi kita sudah di bangku keals dua dan tidak sepantasnya kita bersikap kekanak-kanakan” kata Johar sambil menghindar dari teman-temannya.
            “Hei Jo, mau kemana?” Tanya Rendy. “Ke ruang Olah Raga, mau ambil bola basket” Jawab Johar terus berjalan. Mendengar kata Bola Basket, Rendy dan Roy langsung berlari mengikuti Johar menuju ruang penyimpanan alat-alat olah raga. “Kamu gak ikut Dam?” Tanya Alex yang juga melangkahkan kakinya untuk mengikuti Johar. “Al, Aku mau bicara dengan kamu, kita ke kelas saja!” Ajak Adam terdengar serius.
            “Bicara apa? Di lapangan aja Dam, sekalian bermain basket.” Kata Alex yang sedang bingung untuk mengikuti Johar atau Adam yang sudah menaiki tangga. “Jangan!, Aku ingin membicarakan ini tanpa sepengetahuan Johar, ini menyangkut Johar Al. Ayolah ikut ke kelas!” Adam menarik Alex untuk mengikutinya menuju kelas.
            Ketika berada di dalam kelas yang kosong, Adam mulai melirik arah sekitarnya memastikan tidak ada yang mendengar. “Mau bicara apa Dam? Kayaknya serius banget!” Kata Alex. “Baiklah, pertama Aku mau tanya sesuatu padamu, Aku lihat kalian beruda tidak terlalu akrab sekarang, Akrab sih tapi kurang lepas dan tidak seperti dulu lagi!” Tanya Adam dan membuat Alex bingung untuk menjawabnya.
            “Maksudnya?” Alex memandang Adam. “Kamu dan Johar punya masalah apa?” Tanya Adam serius. “Enggak, tidak ada masalah kok, kamu tahu sendiri kita selalu belajar bersama saat ujian kemarin” Jawab Alex membela diri. “Iya, beberapa minggu ini, sebelumnya kenapa?” Tanya Adam menyudutkan Alex. “Aku gak tahu, mungkin itu Cuma perasaanmu saja, coba kamu tanyakan pada Johar jika jawabanku belum memuaskan! Emang ada apa sih kok curiga banget?” Alex mengkerutkan alisnya dan memandang sinis pada Adam.
            “Gak usah mandang gitu juga Al” Adam tersenyum dan berbalik menjauhi Alex. “Yaudah lupakan saja Al, oia satu pertanyaan lagi, bagaimana info tentang Ayah Johar?” Adam memastikan. “Papa masih mencari informasi ke para relasinya, kata papa Sulit mencari orang hanya bermodal foto masa SMAnya, dan sekarang pasti sudah berubah wajah dan tubuhnya.” Jawab Alex. “Iya juga sih, Aku hanya kasihan pada Johar Al, tadi pagi dia bilang sangat ingin bertemu dengan Ayahnya” Jawab Adam lesu duduk di atas meja.
            “Aku sudah berusaha semampuku Dam, atas saran Vicky kemarin Aku juga memosting di jejaring sosial juga, di video permainan music kalian juga kuselipkan di deskripsi youtube, Entahlah Aku jadi ikut merasa kasihan pada Johar” Jawab Alex sambil duduk di sebelah Adam memandang lantai kelas. “Yaudah Al, yang penting kita semua sudah berusaha kan? Sekarang hanya bisa berdoa kepada Allah atas usaha yang kita lakukan, semoga ada hasilnya.” Adam turun dari meja dan langsung keluar kelas meninggalkan Alex sendiri yang melamun memikirkan Johar.
            Di lapangan basket Johar asyik bermain bola basket bersama beberapa anak lain di sekolah. Di antara mereka ada Roy dan Rendy yang berdiri di pihak lain melawan tim Johar. Ketika Johar memandang ke lantai dua, terlihat Alex yang berdiri memandang ke arahnya. Johar tersenyum melambaikan tangannya guna mengajak Alex bergabung. Alex membalas senyumanya dan hanya memberi kode Ok dan langsung turun menuju lapangan basket. “Kak Adam! ayo main…!” Kata johar ketika melihat Adam melintas di sekitar lapangan Basket. “Timnya udah pas kan? Kamu main aja sendiri” Jawab Adam sambil meringis menghindari silaunya sinar matahari.
            “Ayo Dam, kamu di tim Johar dan Aku di team Roy dan Rendy” Alex menepuk pundak Adam dan langsung masuk ke lapangan basket. “Hei… over pemain nih” jawab Adam sambil melepas tas ranselnya. “Ini hanya permainan kak, bukan pertandingan… Ayo kita cetak skor terbanyak buat ngalahin mereka!” Johar tersenyum sambil memandang ke arah Alex yang berdiri di depan Roy dan Rendy. “Siap menjadi pecundang?” kata Alex tersenyum sinis. “Lihat saja nanti!” Kata Johar sambil  melemparkan Bola ke arah Alex.
            Akhirnya setelah beberapa menit berpanas-panasan bermain basket dan tim Alex memenagkan pertandingannya. Kemudian mereka semua menuju kantin sekolah untuk membeli minuman. “Dek, Nanti pulang ke rumah atau ke kontrakan?” Tanya Adam sambil meneguk minumannya. “Ke kontrakan kak, salam ke mama ya!” Jawab Johar sambil mengipas tubuhnya yang berkeringat. “Yaudah, yang penting malam sabtu dan minggu kamu menginap di rumah Mama seperti biasanya” Jawab Adam.
            “Kenapa sih kamu tidak tinggal bersama Adam saja?” tanya Rendy dengan mimik wajah keheranan. “Ya terserah Johar kan Ren?” jawab Roy ketus. “Heh monyet, Aku gak tanya kamu!” Rendy melempar Roy dengan tisu bekas. “Hahaha… udah-udah nanti berantem beneran!” Johar tertawa melihat tingkah Roy dan Rendy yang selalu tidak Akur. “Yaudah, Ayo kita pulang, semua sudah pada pulang tuh, dan beberapa nilai juga sudah terpampang di papan pengumuman” Ajak Adam sambil melangkahkan keluar dari kantin.
            “Eh Jo, kamu pulang ke kontrakan kan? Aku antar ke kontrakan ya!” Alex mendekati Johar. “Boleh, penghematan biaya Transport” Jawab Johar tersenyum. “Dek, kakak pulang dulu ya! Sampai jumpa besok pagi di sekolah. OK” Kata Adam ketika naik ke angkot menuju arah berbeda dengan Johar. “Iya kak, salam untuk mama!” Jawab Johar yang berdiri sendiri di depan gerbang.
            Ketika angkot yang dinaiki Adam menjauh, tiba-tiba Alex datang dengan motornya dari belakang Johar. “Adam udah pulang?” tanya Alex. “Iya baru saja naik angkot,  mungkin mumpung ada angkot lewat Al jadi gak nunggu kamu disini, Oia jadi nganter Aku nggak?” tanya Johar. “Ayo naik! Kita lewat jalan alternatif aja ya, soalnya kamu gak ada helm dan di waktu seperti ini pak sulipi bergentayangan” Kata Alex dan langsung melajukan motornya. “Heh, pak polisi bukan sulipi” Johar memprotes Alex sambil tertawa. “Hahaha… Kalau pilisi itu yang bener-bener mengayomi masyarakat, kalau pak sulipi itu yang meresahkan masyarakat” Kata Alex tertawa dan terus melajukan motornya menuju kontrakan Johar.
            Setibanya di rumah konrakan, Johar bertemu dengan Yudi yang sedang duduk di ruang tamu. “Mana Adam Jo?” Tanya Yudi yang mendapati Johar datang dengan Alex. “Kak Adam  malam ini nginep di rumahnya mas!” Jawab Johar yang terlihat sangat kelelahan. “Loh kamu gak ke sana juga Jo?” Tanya Yudi yang duduk di ruang tamu. “Nggak mas, Jo tidur di sini aja.” jawab Johar sambil duduk di ruang tamu. “Yaudah, Aku berangkat dulu Jo, Oia kalau Nico datang, suruh Nico buat bayar tagihan listrik bulan ini! Uangnya sudah ada di lemari.” Kata Yudi dan langsung keluar menuju terminal. “Ok, Mas!” jawab Johar sambil berdiri dari duduknya.
            “Al, Aku capek banget pengen rebahan di kasur!” Kata Johar sambil menggerak-gerakan tangannya. “Yaudah sana kau istirahat aja!” Jawab Alex. “Terus kamu gak mau pulang?” Tanya Johar heran. “Tadi Aku sudah bilang kan? Mama dan Papa lagi ke luar kota. Jadi di rumah hanya ada pembantu, kamu gak kasihan sama Aku?” Kata Alex memelas. “Yaudah, Ayo ke kamar aja Al, atau lebih baik kamu di ruang tamu aja!” Kata Johar sambil berdiri mendekati kamarnya.
            “Yah… masak Aku sendirian? Percuma dong Aku disini yang bertujuan mencari teman!” Kata Alex mengikuti Johar. “Yaudah, di kamar aja Al, kamu bisa main gitar atau mijitin Aku. Hehehe” Johar tertawa sambil berbaring di atas kasur. “Emang kamu sakit Jo? Kok minta dipijitin?” Tanya Alex tersenyum. “Iya Al, leher dan punggungku sakit semua, gara-gara olah raga tadi itu. Maklum lah lama gak berolah raga. hehehe” Jawab Johar sambil tertawa lemas.
            “Sini Aku pijitin!” Alex langsung meraih betis Johar dan memijitnya. “Sebentar, ini gratis kan?” tanya Johar sambil tertawa melihat Alex. “Kalau gak gratis kamu gak mungkin bisa membayarnya karena harga pijitanku paling mahal di dunia ini” Alex tertawa dan terus memijat betis Johar. “Alhamdulillah kalau gratis. Terusin yah. Hehehe” kata Johar dan membenarkan posisinya lagi.
            “Yaudah, Buat kamu apa aja boleh” Kata Alex. “Awas kalau macem-macem!” Johar berbalik lagi. “Iya nih Orang… berbaring dan rilex aja lah! Curiga terus!” Alex memaksa Johar untuk tidur. Alex memijat Johar dengan lembut di bagian leher dan punggungnya. Hingga beberapa menit kemudian, Johar minta ijin untuk membuka baju. “Al Aku buka Baju dulu, gerah banget!” Kata Johar. Alex menghentikan pijatannya dan melihat ke arah Johar yang berusaha duduk dan melepas bajunya. “Ya ampun, Baju kamu juga basah tuh!” Kata Johar melihat baju Alex yang basah.
            “Aku tahan mulai tadi Jo, takutnya kamu berburuk sangka lagi padaku!” Kata Alex sambil mengelap titik keringat di keningnya. “Yah, nggak juga Al… Buka Aja baju kamu! Oia, Kalau capek udahan mijitnya!" Kata Johar dan kembali telungkup. “Enak aja udahan, kalau udah nyaman jangan lupa gantian mijitin Aku” Alex menekan kepala Johar. “Oalah, Aku pikir gratis ternyata minta gantian! Tapi jangan sekarang ya Al Aku bener-bener sangat lelah” kata Johar yang berbaring telungkup di atas kasur.
            “Yaudah, kamu istirahat aja Jo” Alex berdiri dan mendekati jendela untuk menikmati udara yang berhembus. Ketika melihat Johar yang berbaring di atas kasur Alex mengunci pandangannya pada Johar yang berbaring kelelahan. “Lihat apa Al?” tanya Johar yang tiba-tiba memergoki Alex yang melamun memandangnya. “Masih aja perhatikan Aku kamu Jo, Gak mungkin Aku macem-macem lagu, kamu tidur aja!” Jawab Alex. “Hehe, enggak kok Al, Aku tidak memikirkan buruk tentang kamu, karena Aku lebih nyaman bersama kamu kok” kata Johar. “Nyaman? Maksudnya?” Tanya Alex heran. Johar tidak menjawab dan memilih untuk diam dan akhirnya dia terlelap dalam tidurnya.
            Udara yang berhembus tidak dapat menghilangkan gerah di tubuh Alex. Keringat bercucuran dan membuatnya sedikit mengkilat. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamar Johar. “Jo, ada orang tuh” Alex mencoba membangunkan Johar, namun Johar tidak bangun dari tidurnya. Terpaksa Alex membuka pintu sedikit dan melihat siapa berada di luar. “Heh, ngapain kamu disini?” kata Nico yang mendorong pintu kamar Johar dan membuat Alex sedikit terpental.
“Kalian berdua ngapain sih? Berduaan di kamar sama-sama gak pake baju! Kalian mesum di rumah ini ya?” Suara Nico membangunkan Johar. “Ada apa Nic?” tanya Johar kaget sambil mengusap wajahnya. “Kamu mesum dengan orang ini Jo?” Nico mendekati Johar. Wajah Nico terlihat sangat marah dan membuat Johar kebingungan. “Apa yang kamu katakan Nic? Kamu jangan salah sangka dulu!” Johar mencoba menjelaskan pada Nico. “Iya Nic, kami tidak melakukan apa-apa!” Tambah Alex.
            “Heh, kamu ini hanya tamu di sini, jangan banyak bicara!” Kata Nico berbalik mendekati Alex. “Aku memang tamu, tapi tak sepantasnya kamu berburuk sangka Nic” Alex terus mencoba memberikan penjelasan pada Nico. “Diam!” Bentak Nico pada Alex. “Heh Nic, mau kamu itu apa? Kamu cemburu? Cemburu kalau Alex ada di kamarku? Ok Aku dan Alex barusan melakukan sesuatu yang belum pernah kau lakukan denganku!” Johar marah pada Nico. “Jo…!” Alex mencoba menenangkan Johar yang terpancing oleh ulah Nico.
            “Oh, kamu lebih memilihnya daripada memilihku Jo? Aku tahu kamu sebenarnya homo Jo, dasar laki-laki munafik bilang saja kalau kamu tidak mau denganku gara-gara Aku miskin kan? Sekarang Aku tahu, bahwa sebenarnya kamu itu gila harta Jo” Nico mencerca Johar. “Maksud kamu? Kalu bicara hati-hati Nic” Tanya Johar heran dan berdiri. “Kamu memilih orang ini karena dia kaya kan? Kamu lebih memilih tinggal dengan Adam karena Adam sekarang sudah kaya kan?” kata Nico menatap Johar.
            “Gila kamu Nic, sudah gak waras! Al ayo kita keluar aja, jangan hiraukan dia yang sudah tak waras!” Johar mengambil kaosnya yang ada di bawah kakinya. Alex juga meraih bajunya yang ada di dekat Nico dan mereka berdua langsung keluar dari kamar. Ketika Alex mengikuti Johar dari belakang, Nico meraih Ballpoint yang berada di atas meja Kamar Johar dan langsung menusukan ke punggung Alex. “Ahh…!” Alex mengeluh kesakitan dan memegang luka di punggungnya. “Kenapa Al?” Tanya Johar dan terkejut melihat punggung Alex yang menancap Ballpoin.
            “Bangsat!” Johar memegang krah baju Nico dan memukul Nico tepat di wajahnya. “Sudah Jo!” Alex memaksa Johar dan menariknya keluar. “Bajingan kau Nic! Setan!” Johar terus membentak Nico dan memukulnya. “Jo cukup! malu kalau di dengar tetangga!” Alex meringis memegang pundaknya dan melihat Nico yang menunduk tak berdaya menutupi wajahnya. “Kamu tidak apa-apa kan? Coba kulihat lukamu!” Kata Johar di ruang tamu. “Nyilu dan sedikit perih, tidak seharusnya kamu seperti itu ke Nico” jawab Alex dengan wajah kesal.
            “Biarin Al, sekali-kali dia pantas mendapatkannya.” Jawab Johar sambil memeriksa luka di punggung Alex. “Kamu keterlaluan Jo!” Jawab Alex ketus. “Yaudah, kita ke dokter Al dan jangan bahas anak itu lagi!” Kata Johar panik menarik Alex ke depan rumah. “Bagaimana dengan Nico? Kamu lihat kan darah yang keluar dari hidungnya tadi?” Alex menjadi khawatir. “Sudahlah, kamu maunya apa sih Al? Jangan buat Aku kesal padamu!” Kata Johar sambil mengerutkan alisnya.
“Maaf Jo, Kamu bisa bawa motor kan?” Kata Alex langsung mengalihkan arah pembicaraanya “Bisa Al, biar Aku yang bawa motor kamu! Di dekat sini ada dokter kok” Kata Johar sambil menaiki motor Alex. Akhirnya Johar membawa Alex menuju dokter yang tidak jauh dari tempat mereka. Dokter banyak tanya mengenai luka yang ada di punggung Alex, “Kenapa ini? Kena paku?” tanya Dokter sambil membersihkan luka di punggung Alex.
            “Bukan Dok, tadi kena plastik… saya kurang hati-hati!” jawab Alex sambil meringis kesakitan. “Kalau memang plastik, tidak masalah, tapi luka ini agak lama sembuhnya, jangan terlalu sering kena air dan selalu jaga kebersihan dan rajin ganti kain kasanya!” Jawab Dokter sambil membalut Luka Alex. “Tidak masalah kan dok? Takutnya ada benda yang tertinggal di dalamnya!” kata Johar memastikan. “Sudah saya periksa, tidak ada yang tersisa di lukanya, hanya pendarahan ringan aja!” Jawab Dokter ramah.
            Setelah ke dokter, Johar membawa Alex menuju rumahnya. “Jo, sekarang kamu mau kemana?” Tanya Alex ketika Johar memarkir motor Alex di depan garasinya. “Mungkin Aku ke rumah kak Adam aja, Sudah saatnya kami menetap di rumah itu.” jawab Johar lemas sambil duduk di teras rumah. “Yaudah, ayo masuk dulu Jo! Oia, kejadian ini jangan sampai ada yang tahu ya! Bisa jadi masalah serius nantinya.” Kata Alex yang duduk di samping Johar. “Aku tahu kok! Maaf Al tadi itu salahku! Andai saja Aku bilang pada kamu apa yang terjadi antara Aku dan Nico, dan Andai saja Aku tidak mengatakan kalau kamu adalah kekasihku, kamu tidak akan seperti ini Al” Kata Johar pelan.
            “Sudahlah, meski tadi hanya bo’ongan Aku sangat seneng kok mendengarnya!” Alex tersenyum meletakan tangannya di atas tangan Johar. Johar menarik tangannya dan merubah arah pembicaraan. “Oia, kamu nggak mau ngajak Aku masuk dan memberi minum atau apa gitu?” Tanya Johar sambil berdiri dari kursi di teras rumah. “Hahaha, yaudah Ayo masuk Jo, kamu sudah hubungi Adam kalau kamu ada disini?” tanya Alex sambil menyentuh punggung Johar dan sedikit mendorongnya masuk ke rumah. “Nanti saja Al” Kata Johar.
            Beberapa jam berlalu, setelah makan di rumah Alex johar mendapati ponselnya berdering. “Kak Adam Al” Kata Johar sambil mengangkat panggilan Adam. “Iya kak, Aku di rumah Alex nih…! Kalau tidak keberatan bisa jemput di rumah Alex? Kalau gak bisa tunggu saja di kontrakan!” kata Johar. “Yaudah, Aku kesana dek, mumpung Pak Joni tidak sibuk!” Jawab Adam di ujung telefon. “Yaudah kak, Aku tunggu sekarang!” Johar langsung mengakhiri sambungan telefonnya.
            “Adam mau kesini?” tanya Alex khawatir. “Kok khawatir gitu Al?” Tanya Johar heran. “Jangan ceritakan masalah ini ya Jo! Pada siapa pun tak terkecuali Adam” Kata Alex memohon. “Iya, tidak mungkin juga Aku akan menceritakannya! Kamu tenang aja Al semua akan baik-baik saja setelah Aku pergi dari kontrakan itu masalahnya pasti akan menguap begitu saja” Jawab Johar.
            “Bagaimana lukamu Al? masih terasa sakit?” tanya Johar. “Masih Jo, perih dan agak panas!” jawab Alex sambil meringis. “Terus siapa yang akan mengganti perban itu Al?” Tanya Johar khawatir. “Ya kamulah, siapa lagi? Tak mungkin aku minta bantuan mama atau papa, pasti mereka akan banyak tanya nantinya” Jawab Alex merengut. “Hah? Aku harus datang ke sini setiap hari mengganti perban itu? Macam perawat saja!” Tukas Johar. “Ya Nggak Juga Jo, Gantinya bisa di sekolah kan? Di toilet atau di UKS!” Saran Alex. “Oh… yaudah kalau gitu, kamu bawa aja perlengkapannya dan Aku akan mengganti perban di punggung kamu” Johar mengiyakan saran Alex.
            Akhirnya Adam datang ke rumah Alex, Adam tidak mau berlama-lama dan segera berpamitan. “Al, Aku balik dulu ya! Sudah hampir maghrib dan harus cepat pulang ke rumah!” kata Adam. “Yaudah kalian berdua hati-hati ya!” Alex mengantar mereka hingga depan gerbang. Di perjalanan pulang Johar tidak banyak bicara, dia hanya diam memikirkan apa yang akan terjadi ketika dia bertemu dengan Nico nanti. Berkali-kali Adam mengajak Johar berbicara namun Johar menjawabnya dengan singkat dan tak bersemangat. Ada sedikit curiga pada diri Adam. “Dek, kenapa suram gitu?” tanya Adam memandang Johar. “Enggak kok, Oia kak mulai malam ini kita pamit ke mas Yudi dan Nico ya! Sudah saatnya kita meninggalkan rumah itu!” kata Johar.
            “Akhirnya, kamu mau juga tinggal di rumah mama bersama kakak! Yaudah barang-barang yang masih ada di kamar kita itu bawa aja dek, sebagian punya kakak udah ada di rumah kok!” jawab Adam.
            Setibanya di rumah kontrakan, Johar tidak mendapati Nico, hanya ada Yudi yang sedang memainkan gitarnya. “Assalamualaikum mas!” kata Adam. “Walaikum salam, kalian darimana? Katanya sekarang mau menginap di rumah mamamu Dam?” tanya Yudi. “Iya mas, begini mas Yudi… Mungkin kami berdua tidak akan tinggal di rumah ini lagi. tapi kami akan sering berkunjung ke rumah ini mas!” Adam menghentikan pembicaraannya ketika Yudi mulai menghentikan permainan gitarnya.
            “Yaudah Dam, sebaiknya kalian tinggal di rumah itu, tapi jangan lupakan saudara-saurdaramu yang disini” Yudi tersenyum. “Pastinya mas, Mas Yudi banyak membantu, ntah kalau kami tidak bertemu dengan mas Yudi mungkin kami tidak akan seperti ini” kata Adam yang juga tersenyum. “Iya mas, Aku juga mau bilang banyak terimakasih dan memohon maaf yang sebesar-besarnya pada Mas Yudi, karena sebelumnya selalu berburuk sangka” Tambah Johar. “Hahaha, karena Aku pengamen kan? Itu kan dulu Jo! Oia kalian gak mau nunggu Nico dulu?” tanya Yudi.
            “Iya, Nico kemana Mas?” Tanya Adam. “Belum pulang Dam,  sebentar lagi pasti dia pulang kok!” jawab Yudi sambil membakar ujung rokoknya. “Yaudah mas, sekalian kami mengemasi barang-barang ya!” Adam berdiri menuju kamarnya. Johar mengikuti Adam dan langsung mengemasi barang-barang milik mereka. “Dek, karpet kamar biarkan di sini aja ya! Bawa buku dan baju kita aja dek!” kata Adam mengingatkan Johar. “Oia, biar kakak yang bawa ini ke depan gang ya! Sambil mengingatkan Pak Joni untuk bersabar!” kata Adam dan langsung keluar membawa barang-barangnya.
            Ketika Adam berada di luar rumah, dia berpapasan dengan Nico yang terlihat cak-acakan. “Hei Nic, darimana aja? Kami akan pindahan mulai malam ini!” sapa Adam ketika berpapasan dengan Nico. “Johar juga ikut?” tanya Nico heran. “Itu rencana Johar, dan dia yang ingin cepat-cepat tinggal di rumah, itu Johar ada di kamar lagi beres-beres, Oia… kenapa muka kamu? Berantem Nic?” Adam sedikit heran melihat plipis Nico lebam. “Tidak, Aku terpelesat di kamar mandi Kak! Yaudah Aku kesana dulu ya” jawab Nico dan langsung berjalan menujuu rumah.
            Mendengar penjelasan Nico tentang luka lebam di plipisnya membuat Adam kurang yakin jika luka itu akibat jatuh. Adam memiliki keyakinan bahwa luka yang didapat adalah luka pukulan dan  terlihat ada warna biru lebam disekitar mata Nico. Adam pun menyangkut pautkan akan kurang dekatnya hubungan Nico dan Johar serta keputusan Johar yang terkesan terburu-buru untuk pindah rumah. Namun Adam lebih memilih berpositif thinking dan tidak terlalu memikirkan hal aneh tentang Johar dan Nico.
            Di dalam rumah, ketika Nico masuk ke ruang, Yudi langsung menyapa Nico “Nic, darimana aja kamu?” tanya Yudi pada Nico. “Dari jalanan mas!” jawab Nico datar dan langsung melangkahkan kaki menuju kamar Johar. “Sebentar, kamu kenapa? Berantem sama siapa kamu?” Tanya Yudi Heran. “Bukan Mas, tadi Aku terjatuh di kamar mandi!” Nico menutupi plipisnya. “Oh, makanya hati-hati ya!” Kata Yudi dan melanjutkan bermain gitar.
Nico pun masuk ke kamar Johar dan mendapati Johar sedang memasukan beberapa barang ke dalam ranselnya. “Kamu mau pergi dari rumah ini?” tanya Nico memegang pundak Johar. Johar masih marah pada Nico dan menepis pegangan tangannya. “Bukan urusanmu lagi, Oia Terimakasih selama ini kamu sudah menjadi bagian dalam hidup kami, menjadi saudara kami dan banyak membantu kami! Satu lagi, terimakasih untuk ilmu yang kau berikan!” kata Johar memasukan beberapa pakaiannya ke ransel.
            Nico tak menjawabnya dan langsung memeluk Johar dari belakang. “Maafkan Aku Jo!” suara Nico pelan. “Lepaskan Nic!” kata Johar pelan dan berusaha melepas pelukan Nico. “Jangan macem-macem Nic, otak kamu itu sudah gak waras!” Johar mengecilkan suaranya dan heran melihat plipis Nico yang berwarna biru. “Aku sayang kamu Jo!” kata Nico yang juga pelan. Johar terdiam sejenak memandang Nico yang terlihat sangat tulus. “Maaf Nic” Jawab Johar dan langsung keluar membawa ranselnya.
            “Mas, Kak Adam masih di luar ya?” tanya Johar sambil duduk di samping Yudi. Johar memilih untuk menunggu Adam di ruang tamu karena menurutnya ruang tamu yang ada Yudi merupakan tempat aman dari Nico. Ketika Adam datang, mereka berdua langsung berpamitan kepada Nico dan Yudi. “Nic, terimakasih atas kebaikanmu selama ini ma’afin Adam jika punya banyak salah!” Kata Adam berjabat tangan dengan Nico. “Iya kak, Nico juga minta maaf jika punya salah” Nico memeluk Adam dengan erat.
            “Aku akan kesini lagi kok, jangan terlalu bersedih Nic” kata Adam sambil tersenyum. “Aku juga berterimakasih pada kamu Nic, terimakasih atas semua kebaikanmu” Kata Johar yang ragu menjulurkan tangannya. “Nico juga minta maaf Jo!” Kata Nico dan berusaha memeluk Johar. Tidak ada pilihan selain merangkul Nico dan menepuk punggungnya. “Aku tidak akan menyerah!” bisik Nico di telinga Johar. Johar pun langsung melepas pelukan Nico dan berusaha bersikap biasa. “Yaudah, kami pamit dulu ya!” kata Adam dan mereka pun pergi dari rumah Yudi dan Nico.
            Ketika berada di perjalanan menuju rumah, Johar memikirkan Nico, di dalam pikirannya hanya Nico dan bekas pukulan di plipisnya. Johar merasa terlalu berlebihan bersikap menghadapi Nico. Dan rasa sesal pun datang menghantuinya. “Maafkan Aku Nic, tadi Aku emosi dan tidak bisa mengontrol diri! Sekarang kamu pasti kesakitan” kata Johar di dalam hatinya. “Dek… Kok sering melamun sih?” tanya Adam ketika mereka berhenti di depan rumah. “Eh, sudah sampai ya kak? Maaf Johar kecapean kak jadi keseringan melamun. hehehe!” jawab Johar  dan langsung keluar dari mobil.
            “Yaudah, setelah sholat dan makan, sebaiknya kamu tidur aja dek” Saran Adam mendekati Johar. “Iya kak, Sebaiknya begitu biar tidak sakit kan?” Johar tersenyum dan melangkahkan kakinya menuju pintu rumah. Ketika mereka berdua masuk ke dalam rumah, mama Adam menyambutnya dengan sangat bahagia. “Akhirnya, Anak-anakku tinggal disini dan berkumpul bersama!” kata Mama Adam sambil mendekati mereka berdua.
            “Assalamualaikum Ma” kata Adam tersenyum. “Walaikumsalam, eh mama sudah masak enak malam ini. Kalian pasti lapar kan?” Mama Adam membantu membawakan koper milik Adam. “Kami belum sholat ma, sebentar lagi maghrib udah lewat! Kami sholat dulu aja.. Oia biar kami yang bawa barang-barang kami! Ini berat loh.” Kata Adam meraih koper miliknya dan Menuju lantai dua. “Permisi Ma” Johar tersenyum mengikuti Adam dari belakang dan hal itu membuat Mama Adam tersenyum bahagia.
Malam itu adalah malam yang sangat membahagiakan bagi Adam dan Mamanya karena Johar sudah tinggal bersama mereka, tidak seperti yang dirasakan Johar yang sedang kalut, dia lebih memilih untuk tiduran di kamar sendiri daripada duduk dengan Mama Adam menonton acara televisi. Masih banyak hal yang Johar pikirkan, yang terpenting baginya adalah mendapatkan kebahagiaan dan menemukan ayahnya. Merasa sedih dan butuh teman untuk mengobrol, Johar teringat Alex yang sedang sakit, dia selalu memikirkan luka di punggung Alex.
Mengingat luka itu membuat Johar semakin tidak suka pada Nico, Nico yang selama ini ada untuknya ternyata dia orang yang nekad dan sangat ambisius. Namun di hati kecil Johar, dia merasa bersalah pada Nico. Melihat luka lebam di pelipis Nico menggambarkan betapa berlebihan tindakannya pada Nico. “Apa dosaku, mengapa orang-orang didekatku menjadi kesakitan begini?” Kata Johar dalam hatinya dan terus gelisah di tempat tidur.
Ketika meraih ponselnya, Johar langsung mencari nama seseorang yakni Vicky. Dia mengirim sms ke Vicky sekedar menanyakan kabar, dan ketika mendapat balasan dari Vicky wajahnya langsung bahagia. Malam itu Johar menghabiskan malamnya dengan ber-sms dengan Vicky.
****
            Ke esokan harinya, Adam dan Johar tiba di sekolah agak siang, karena hari itu adalah hari terakhir mereka datang ke sekolah untuk mengambil undangan pengambilan raport kenaikan kelas. Ketika memasuki gerbang sekolah, keduanya bertemu dengan Stella dan Roy yang datang menggunakan motor. “Baru datang juga?” Tanya Roy berhenti di dekat Adam dan Johar. Adam tersenyum dan berkata, “Iya Roy, sebenarnya mau lebih siang lagi, tapi nih anak buru-buru banget pengen ke sekolah.” Adam menyenggol bahu Johar pelan.
            “Oh, berarti sama seperti nyonya Adam ini” Jawab Roy sambil tertawa melirik Stella yang sudah turun dari motor Roy. “Hehehe… ini kan hari terakhir sebelum libur panjang nanti, jadi pengennya berlama-lama berkumpul dengan teman-teman!” Stella tertawa kecil. “Bukannya tidak ingin waktu terbuang sia-sia tanpa adanya kak Adam nih?” Johar meledek Stella dan berhasil membuatnya tersipu malu. “Apaan sih nih anak, yaudah ayo kita masuk.. Oia, Alex dan Rendy udah datang belum?” Tanya  Adam. “Rendy bilang agak siangan, kalau Alex sepertinya belum datang, motornya aja tidak ada” Jawab Roy sambil memarkir Motornya.
            “Eh Aku ke toilet dulu ya! Kebelet pipis” kata Johar dan langsung berlari ke arah toilet. “Aneh, tidak seperti biasanya anak itu ke toilet pagi-pagi seperti ini” kata Adam dan terus berjalan menuju tempat favorit mereka yakni di depan perpustakaan. “Yah, mungkin banyak minum air Dam, yaudah kita tunggu Alex disini aja” jawab Roy sambil duduk di depan perpustakaan.
            Di dalam toilet Johar menemui Alex yang sejak pagi sudah menunggunya. “Lama banget! Aku merasa lukanya semakin parah Jo, Rasa sakitnya tidak hilang.” Kata Alex dan langsung berdiri di wash tofel. “Maaf Al, Aku sudah berusaha berangkat pagi kok, oia mana peralatannya biar Aku ganti perbannya!” Kata johar sambil mencuci tangannya. “Nih, lakukan dengan cepat dan segera kembali pada teman-teman dan ajak mereka ke dalam kelas” kata Alex sambil menjulurkan kotak berisi keperluan untuk menggantik perban Alex.
            “Kamu mandi Al?” tanya Johar. “Enggaklah, kan tidak boleh kena air” Jawab Alex sambil meringis ketika perban di punggungnya dibuka. “Pantesan!” jawab Johar terkekeh. “kenapa bau ya? Itu derita kamu Jo!” Adam tertawa kecil dan sesekali meringis menahan rasa perih ketika Johar membersihkan lukan Alex. “Enggak kok, Aku hanya merasa bahwa parfum yang kamu pakai ini terlalu banyak dan wanginya minta ampun. Ketahuan kalau gak mandi” jawab Johar sambil tersenyum dan terus mengobati luka Alex.
            “Syukurlah kalau begitu, daripada bau nanti cewek-cewek gak ada yang melirik lagi” Jawab Alex datar. “Emang doyan cewek?” tanya Johar sambil menekan luka Alex dan berhasil membuat Alex meringis kesakitan. “Aseeem, hati-hati Jo!” Tukas Alex. “Ini juga hati-hati kok, Ok, udah selesai” Kata Johar dan membantu Alex memakaikan seragamnya. “Oia, emang kamu suka cewek Al?”Johar menanyakan pertanyaan yang belum dijawab oleh Alex. “Kenapa? Cemburu ya?” Kata Alex tertawa melihat Johar. “Stress…!” Kata Johar sambil mentoyor kening Alex dan keluar dari toilet. Alex hanya tertawa dan membereskan ranselnya sambil melihat Johar dari pintu toilet.
            Tak jauh dari toilet Johar berhenti ketika ada suara memanggil namanya. “Jo… Tunggu sebentar” suara seorang gadis menghentikan langkahnya. Johar heran melihat gadis yang tidak dikenalnya berlari menuju dirinya yang mematung. “Syukurlah Aku bertemu denganmu” kata Gadis bernama Rista itu. “Rista?” Kata Johar pelan. “Kamu kenal Aku?” Rista tersenyum bahagia. “Itu di dada kamu jelas terpampang nama kamu” Johar menggerakan melihat ke nama di seragam Rista.
            “Oh, Aku kira kamu kenal Jo” Jawab Rista malu-malu. “Yaudah, kalau hanya mau bicara ayo bergabung dengan teman-temanku disana, Aku sudah ditunggu.” Kata Johar dan langsung membalikan badannya. “Eh, sebentar… Aku hanya mau ngasih ini sama kamu” kata Rista menjulurkan sebuah amplop berwarna biru muda. “Apa ini?” Johar heran tanpa menerima Amplop itu. “Ini undangan buat kamu dan teman-temanmu Jo, datang ya!” kata Rista sambil menempelkan undangan ke tangan Johar. “Oh, InsyaAllah dan terimakasih atas undangannya ya, Sorry Aku harus ke depan perpustakaan.” Kata Johar tersenyum dan berpamitan kepada Rista. “Datang ya! Ajak semua teman-teman kamu itu” Rista membalas senyuman dari Johar dan berjalan membelakangi Johar.
            “Heh… Lama banget ke toiletnya!” Tukas Roy ketika Johar tiba di depan perpustakaan. “Maaf, tadi Aku bertemu seseorang di belakang sana” Jawab Johar sambil duduk di sebelah Roy. “Siapa Jo?” tanya Adam heran. “Namanya Rista, Aku belum pernah melihatnya sebelumnya, sepertinya dia bukan dari kelas kita kak, Nih Undangan darinya, satu undangan untuk kita semua!” kata Johar sambil menjulurkan undangan ke arah Adam. “Rista Oktaviana?” Roy heran membaca nama diundangan itu.
            “Kamu kenal?” Tanya Johar heran. “Hahaha… Aku sih tahu nih orang, bahkan Stella dan Alex tahu siapa nih anak” Kata Roy tertawa sambil melihat ke arah Rendy yang sedikit gelisah. “Siapa sih?” Desak Adam penasaran. “Ehemmm, Kalau pacaran dengan Rista pasti bangganya minta ampun dia itu cewek tercantik di sekolah ini” Jawab Roy dengan nada berlebihan. “Oia, ah paling juga cantikan Stella” Jawab Johar sambil tersenyum ke arah Stella. “Enggak kok kak, Rista itu bener-bener cantik, dan itu menjadi cinta pertama rendy di sekolah ini” Jawab Stella sambil melirik Rendy.
            “Hahaha, Stella langsung buka Aib nih” Kata Roy tertawa. “Itu dulu ya, sekarang Aku sudah tidak tertarik lagi pada Rista” Sungut Rendy. “Hadeeeh… bilang gitu karena dulu pernah ditolak kan?” Ledek Roy dan berhasil membuat Rendy sedikit kesal. “Eh Monyet… Aku belum mengatakan cinta padanya dan rasa itu juga sudah hilang” Kata Rendy sambil melempar roy dengan daun kering.
            “Sudah, ngapain bahas tuh anak? Kalau mau datang saja ke pesta ulang tahunnya besok malam!” kata Johar dan langsung berdiri berjalan menuju kelas. “Kemana Jo?” tanya Adam. “Ke kelas, Ini kan hari terakhir kita masuk kelas itu Kak, Aku pengen bernostalgia mengingat satu tahun terakhir” Kata Johar sambil tertawa memamerkan susunan giginya. “Bener banget, Ayo kita ke kelas aja! Di sini juga agak panas” Kata Rendy mengikuti Johar. “Panas karena diledekin ya?” Kata Roy yang juga berjalan menuju kelas dan diikuti oleh Adam dan Stella di belakang mereka.
            Tak berapa lama ketika mereka duduk dan bercanda di dalam kelas, tiba-tiba Alex datang bergabung. “hei, nagapai ke sekolah jam segini? Sebentar lagi juga sudah pulang kan?” Ledek Adam. “Kalau Aku tidak datang siapa yang mau ambil undangan untuk orang tua?” tukas Alex sambil duduk di meja dekat pintu. “Loh kok jutex gitu Al?” tanya Stella yang tidak suka dengan cara berbicara Alex pada Adam. “Maaf Stell, bukan maksudku untuk berbicara seperti itu kok, maaf ya Dam” Alex langsung mendekati teman-temannya dan meminta maaf.
            “Oia, kita diundang untuk datang ke pesta ulang tahun Rista besok malam” Kata Roy bersemangat. “Aku sudah Tahu” Jawab Alex datar. “Loh darimana kamu tahu? Padahal baru tadi pagi Johar mendapatkan undangan dari Rista loh” Roy melihat ke arah Johar. “Eh, maksudku Aku tahu kalau itu undangannya” Kata Alex menunjuk undangan yang masih di tangan Roy. “Oh Aku pikir kamu sama seperti Johar, mendapat kesempatan bertegur sapa dengan Rista, Eh Jo, Sikat Aja tuh Rista” kata Roy bersemangat.
            “Bukan tipeku, Aku mau yang sederhana dan berjilbab” Jawab Johar datar. “Tapi itu cantik dan kaya loh” Roy masih berusaha membela Rista. “Kalau Johar tidak mau, kenapa kamu yang maksa Roy?” tuka Alex yang tidak suka. “Eh, sebentar… kenapa kamu sensi gitu Al? jangan-jangan kamu suka Rista ya?” ledek Roy. “Eh nih anak crewet banget, semua orang dijodohin ke satu orang, kamu sendiri juga suka kan?” Rendy juga menjadi kesal dengan ulah Roy. “Hahaha, kalian semua kok sewot gitu sih? Ampun deh daripada dikroyok kalian mending Aku diam” Kata Roy sambil terkekeh.
            “Sudah, gak usah ribut… kita sudah diundang besok malam, semua terserah Johar. Kalau Johar hadir kita juga hadir, kalau enggak yaudah kita juga gak usah hadir karena undangannya hanya ada satu dan itu diberika pada Johar” kata Adam memberikan opsi untuk semuanya. “Bener banget, mau tidak mau kita ikuti apa yang Johar pilih” tambah Roy yang sependapat dengan Adam. “Bagaimana Jo? Kok diam gitu?” Tanya Stella mengagetkan Johar.
            “Eh, Yaudah daripada Aku malu tidak hadir di acara tersebut mending kita semua hadir aja, Rendy ikut kan?” Tanya Johar dengan nada meledek Rendy. “Kalau ada paksaan Aku ikut kok” Rendy tersenyum dan membuat semua tertawa. “Sorry, Aku tidak tahu bisa datang atau tidak” Alex memotong pembicaraan mereka.”Yaudah, kita berlima saja, tanpa ada Alex juga tidak masalah kan?” Jawab Johar dan membuat semuanya terdiam. “Yaudah, emang terserah Aku kok!” Tukas Alex sedikit kesal dan langsung keluar dari kelas.
            “Kenapa tuh orang?” tanya Adam khwatir. “Nggak tahu, banyak kali” jawab Stella pelan. “Yaudah biarkan dia sendiri saja” tambah Roy dan Rendy hampir bersamaan. “Jo, kamu kenapa sih? Kamu ada masalah dengan Alex? Tanya Adam menyudutkan ohar. “Loh? Kenapa harus Aku kak? Aku tidak ada masalah dengannya dan kakak lihat sendiri bagaimana kita berteman.” Jawab Johar dengan nada agak kesal. “Bukan gitu Jo, sepertinya tingkat emosi kamu dan Alex itu sama, Aku tanya baik-baik kamu jawabnya ketus, Kalau memang ada masalah tolong ceritakan pada kami” Kata Adam pelan.
            “Kak… Aku dan Alex tidak bermasalah, kalau pun sekarang Aku punya masalah… kalian semua tahu kok apa masalahku, Yakni masalah dengan nasib orang tuaku yakni ayahku kak” jawab Johar juga pelan dan pergi meninggalkan mereka berempat. “Haduuu… semuanya kurang kondusif, yaudah ayo kita keruang administrasi saja, minta undangan untuk kita dan segera pulang, kalau lama-lama disini bisa terjadi perang dunia ke tiga” saran Rendy mengajak semuanya menuju ruang administrasi. “Yaudah, sebaiknya kita pulang saja” jawab Adam danlangsung  berdiri bersamaan dengan Stella.
*****
            Ke esokan harinya, Adam dan Johar menunggu mamanya yang datang kesekolah untuk mengambil raposrt kenaikan kelas. Keduanya tidak khawatir akan kenaikan kelasnya, yang membuat keduanya agak khawatir adalah siapa diantara mereka berdua yang lebih unggul. Tepat ketika jam dinding menujukan pukuln 10:00 WIB, Suara mobil mama Adam masuk halaman rumah. Saat itu juga Adam dan Johar bergegas menunggu Mamanya membawakan hasil belajar selama satu semester dari sekolah.
            “Kalian berdua memang membanggakan” kata mama Adam sambil memeluk Adam dan Johar bergantian. “Bagaimana ma?” tanya Adam yang sudah tidak sabar. “Lihat saja sendiri!” Jawab Mama Adam sambil menjulurkan buku raport ke Johar dan Adam. “Alhamdulillah, Aku juara kelas!” Adam sangat gembira melihat ranking di raportnya. “Bener kan, sudah kuduga Aku bakalan kalah” jawab Johar kurang bersemangat membuka raportnya. “Jangan gitu sayang, kalian juara satu dan dua kok, nilainya juga hanya selisih beberearapa poin” Mama Adam menyanjung keduanya. “Hehehe, pastilah Ma… Alhamdulillah Johar hanya bisa dikalahkan oleh kak Adam” Jawab Johar tersenyum pada Adam dan Mamanya.
            SAYA MENYADARI PART INI SEBENARNYA PERLU DIPERBAIKI LAGIIII… Namun Atas kunjungannya saya ucapkan banyak terimakasih, dan maaf jika kurang memuaskan pembaca L, Oia, Silahkan kirim kritik dan sarannya di kolom komentar baik di facebook maupun di Blog… Jangan Lupa, suka tidak suka tetep Minta Like-nya…. :D hAhAha See You in Mengejar Masa Lalu 09.


Monday, 28 January 2013

Handsome Little Liars Chapter 1-A



by: Nino
Penyunting : Rayrowling
Duuaaarrrr!!!!!
Tidak seperti malam-malam sebelumnya, langit mendung dengan disertai petir dan angin kencang melanda kawasan Solobaru. Malam ini mungkin adalah malam yang tidak akan bisa dilupakan oleh empat orang sahabat ini. Nino Maulana, Pasha Kurniawan, Ariel Pradana dan Rory Setyawan sedang menginap di rumah Pasha untuk merayakan kelulusan mereka. Seperti pada umumnya para cowok remaja, di kamar itu mereka bercanda sambil mendengarkan music dan juga tidak ketinggalan satu botol minuman keras menemani malam mereka.
“Akhirnya kita lulus juga, silahkan!” kata Rory kepada sahabat-sahabatnya sambil menyerahkan segelas minuman kepada Pasha.
“Iya, Tidak disangka waktu selama tiga tahun berjalan sangat cepat” jawab Pasha dan meneguk minuman yang diberikan kepadanya.
Lalu tiba-tiba suara petir yang keras menyambar bumi dan menyebabkan listrik padam. Suara menadi hening karena music yang mereka putar juga mati, hanya suara rintikan hujan dan petir mendominasi malam itu.
“Apa yang terjadi?” Tanya Nino kepada Pasha.
“Mungkin ada pohon yang tumbang dan mengenai kabel listrik” jawab Pasha sambil menyalakan korek apinya.
Terdengar ada bunyi sesuatu dari luar pintu kamar Pasha. Bunyi itu adalah suara pintu yang dibuka sangat pelan.
“Eh… Ada sesuatu di luar sana.” celetuk Nino dengan wajah tegangnya.
“Teman-teman” gumam Ariel dengan nada ketakutannya.
Mereka saling bertukar pandangan, saling menatap mata masing-masing dan seakan tahu maksudnya. Dengan berbekal senter yang ada di tangan Pasha, mereka berempat memberanikan diri berjalan menuju pintu kamar. Dan Sesuatu mengeutkan mereka semua.
“Doorrr…!” teriak seorang cowok seumuran mereka dari balik pintu.
“Aaarghhhhh” serempak mereka berempat berteriak karena terkejut.
“Itu tidak lucu Nerro!” protes Pasha kepada cowok yang bernama Nerro.
“Aku malah berpikir ini lucu teman” elak Nerro sambil melangkah masuk ke dalam dengan senyumannya.
“Aku pikir sesuatu! Eh malah kamu yang ngagetin.Oia, Bagaimana dengan rencana masuk kuliah kamu?” Tanya Ariel sambil duduk.
“Seperti yang pernah Aku bilang tadi, bahwa kita akan kuliah di universitas yang sama” jawab Nerro sambil menuangkan minuman ke gelas.
“Pasti akan sangat menyenangkan” Rory ikutan menimpali jawaban Nerro
“Giliranmu!” kata Nerro sambil menyodorkan minuman ke Nino
Semua tertawa ketika Nino tiba giliran buat minum, karena semua tahu bahwa dia paling tidak kuat dalam urusan ‘minum’.
“Hati-hati Nin. Nanti kamu bisa mabuk dan membeberkan rahasia kamu kepada kita semua!” ejek Pasha sambil tertawa. Lalu semuanya ikut tertawa
“Teman adalah tempat untuk berbagi rahasia. Dan itulah yang membuat kita dekat, benar kan?” kata Nerro menjelaskan.
“Ayo di minum” lanjut Nerro menyuruh Nino.
“Yeah” seru Ariel menyoraki sambil diikuti tawa teman-temannya.
*****
Duuaaarrrr!!!!
Petir terus saja menyambar, dan saat ini kamar pasha sudah sepi karena mereka semua larut dalam mabuknya. Tiba-tiba Nino terbangun dan melihat sekelilingnya dan menyadari bahwa Nerro dan Pasha sudah tidak ada lagi di kamar. Lalu dia membangunkan Ariel dan Rory.
“Hey bangun!” kata Nino sambil menepuk kaki Ariel dan Rory.
“Ehm” jawab Rory malas sambil membuka matanya.
“Di mana Nerro dan Pasha” Tanya Ariel yang sudah sadar sepenuhnya.
“Kami tidak tahu” jawab Nino sambil berdiri dan mulai mencari. Dia berjalan ke arah pintu kamar yang terbuka. Di lihatnya dari kejauhan ada seorang yang tengah berjalan ke arahnya.
“Nerro” Tanya Nino hati-hati.
“Dia sudah tidak ada” jawab orang itu yang ternyata Pasha.
“Apa maksudnya dengan dia sudah tidak ada?” Tanya Nino bingung.
“ Aku sudah mencarinya kemana-mana” jelas Pasha sambil memandang ketiga temannya bergntian. “Dan kupikir aku mendengar sebuah teriakan” lanjut Pasha menjelaskan.
Duuaaarrrrr!!!!!
Seperti bunyi petir yang mengagetkan, pernyataan Pasha juga mengagetkan Nino, Ariel dan Rory.

Mohon Komentarnya buat saudara Nino... Sepertinya ini akan menarik :) terimakasih

Sunday, 27 January 2013

Mengejar Masa Lalu 07


          Akhir Mengejar Masa Lalu Part 06, Adam sudah menemukan keluarganya dan Johar mengalami hal yang sangat berat untuk dijalani. Alex sahabat barunya menciumnya dan Nico mengatakan bahwa dia cinta pada Johar. Terlalu banyak yang dipikirkan johar membuat dirinya sakit, Namun akhirnya Adam datang lagi menyemangatinya.

Kebahagiaan dan Kebimbangan
            Ke esokan harinya, seperti hari-hari biasa Johar dan Adam berangkat ke sekolah dengan menaiki Angkot. Ketika tiba di gerbang sekolah Alex menunggu mereka dengan motornya. “Kok masih disini Al?” sapa Adam ramah. “Iya, nunggu kalian berdua!” jawabnya sambil tersenyum. “Oh, Ayo kita masuk Al, kayak satpam aja di dekat gerbang.” kata Adam dan terus melangkahkan kaki masuk ke sekolah.
            Johar selalu bersikap acuh ketika Alex berada di sampingnya, Namun Adam tidak mengetahui jika Adiknya tidak mau bicara dengan Alex. “Johar masih sakit Stell, makanya dia males ngomong!” kata Adam ketika bersama Stella. “Oh, Aku pikir ada masalah serius! Soalnya wajah Johar murung gitu!” kata Stella ketika melihat Johar yang Acuh dan sedikit murung.
Saat istirahat pun, Johar memilih untuk menghindar dari Alex dan berjalan sendiri tanpa ditemani Adam. Karena jika bersama Adam pastinya tak jauh dari Alex. “Kak, Johar ke belakang sekolah ya!” Johar berbisik pada Adam dan langsung pergi. “Ngapain?” tanya Adam heran pada Johar yang sudah berjalan menjauh. Johar hanya tersenyum dan terus ke belakang sekolah. Dia memlih rumput yang sudah kering untuk menjadikannya alas duduk.
            “Melamun?” suara Alex mengagetkan Johar. Johar hanya diam memandang Alex, dan ketika Alex akan duduk di sebelahnya, Johar langsung berdiri. “Hei, kamu kenapa sih? Sampai kapan kamu akan menghindar?” kata Alex sambil memegang tangan Johar. “Heh…. Kalau kamu tidak melakukan itu Aku gak akan menjadi seperti ini.” kata Johar kesal. “Heh, Kamu juga harus sadar dong… kamu lupa kalau kamu membalas ciuman itu, jika kamu tidak mau mengapa kau juga melupat bibirku?” Alex tak kalah kesal.
            Johar terdiam memikirkan kejadian kemarin sore, “Kamu pikir Aku menikmatinya? Coba kamu berfikir, Seandainya Aku menikmatinya gak mungkin Aku pergi dari rumah kamu! Kamu pikir Aku laki-laki seperti apa hah?” Kata Johar memegang krah baju Alex. “Jangan munafik kau Jo, Kamu juga menikmatinya!” Alex mendorong Johar. Mendengar itu Johar menjadi marah dan reflex memukul wajah Alex hingga hidungnya berdarah.
            “Ough…!” Alex langsung memegang hidungnya dan mengusap darahnya yang mengalir dengan menatap wajah Johar. “Puas kau?” Kata Alex dan langsung berjalan menuju toilet terdekat. Johar mengkhawatirkan Alex dan mengikutinya ke toilet. “Al maakan Aku… Johar membantu Alex membersihkan darah di wajahnya. Alex terdiam membiarkan Johar membersihkan darah dengan sapu tangannya. Sesekali Johar mencuci sapu tangan mengilangkan darah dan mengusap kembali ke hidung Alex yang masih berdarah.
            “Darahmu masih terus mengalir Al, kita ke UKS aja ya!” kata Johar semakin panik melihat darah tak henti dari hidung Alex. “Sebentar lagi juga akan berhenti Jo!” kata Alex meraih sapu tangan dan membersihkan darahnya sendiri dengan kesal. “Aku panggil teman-teman dulu ya” kata Johar berbalik. Namun tangan Alex memegang Johar, “Gak usah, kamu saja disini sudah cukup.” Kata Alex sambil berkaca di depan cermin.
“Darahnya sudah berhenti, tapi sakitnya masih terasa!” tambah Alex memegang hidungnya. “Maaf Al!” Johar berkali-kali mengucapkan kata maaf. “Aku harus balas kamu Jo” Alex memandang Johar dengan tatapan penuh sinis. “Tapi, kamu juga yang salah!” Johar membela diri. “Aku memukul kamu? Nggak kan?” Kata Alex mulai berdebat lagi. “Yaudah, silahkan pukul Aku” kata Johar sambil memandang Alex. Alex tersenyum melihat Johar yang pasrah. “Tapi jangan di hidung ya!” kata Johar mengingatkan dan menutup matanya.
            “Jangan Crewet! Kalau kamu memang laki-laki terserah Aku mau mukul yang mana” Kata Alex. “Iya, tapi jangan di hidung, Aku tahu rasanya sangat sakit!” Kata Johar dan kembali membuka matanya. Alex langsung mengecup bibir Johar dan berlari keluar toilet. “Bangsar! Aleeeex…!” teriak Johar geram. Alex masuk ke kelas dan mendapati Adam bersama tiga temannya berkumpul di meja Alex. “Kamu kenapa Al?” tanya Stella melihat noda merah di sekitar hidung Alex.
            “Tadi terbentur tembok di belakang”, Jawab Alex sambil memalingkan wajahnya dari teman-temannya. “Tembok? Emang kamu nyium tembok Al?” kata Roy yang pindah ke depan Alex memandanginya dari dekat. Alex langsung mentowel kepala Roy dan menutupi hidungnya dengan sapu tangan basah. “Loh? Itu kan sapu tangan Johar. Johar kemana Al?” tanya Adam.
            “Ada Apa kak? Aku disini.” Johar memasuki kelas. “Syukurlah, Aku kira kamu menghilang Jo” Adam tersenyum pada Johar. Johar memandang Alex dan keduanya saling beradu pandang. Alex tersenyum pada Johar dan melempar sapu tangannya yang basah. “Nih ku kembalikan sapu tangan jeleknya.” Kata Alex. Johar menangkap sapu tangannya dan melemparnya kembali pada Alex, “Bersihkan dulu! Buat kering dan wangi!” kata Johar dan langsung duduk di bangkunya.
            “Sebentar, Aku merasa kalian berdua ada masalah ya?” tanya Adam memandang Alex dan Johar bergantian. “Tanya saja ke Johar Dam, sebenarnya ada apa!” kata Alex datar. Mendengar itu membuat Johar langsung memandang ke arah Alex. “Dek, masalah apa lagi?” Adam memandangi Johar. “Eh, nggak ada kok! Tuh si Alex aja minta di hajar! Kayak anak kecil aja!” Gerutu Johar. “Bukannya kamu yang kayak kecil Jo? Lihat manyun seperti itu malah kayakn balita” Roy menertawakan ekspresi wajah Johar. Johar tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
            Sepulang sekolah ketika Johar dan Adam menuju dapur untuk makan, mereka berpapasan dengan Nico. Johar masih bersikap dingin pada Nico dan tak mau bertegur sapa. “Nic, makannya kok dikit?” tanya Adam ketika melihat Nico makan. “Gak selera!”jawabnya datar dan pindah ke ruang tamu membawa makanannya. “Nico kenapa dek? Kok jawabnya datar banget?” tanya Adam pada Johar. “Entahlah, Aku tak terlalu memperdulikannya!” jawab Johar dan langsung menyantap makanannya. “Ya juga sih, mungkin dia tahu kalau kita kerja di cafĂ©?” Kata Adam menebak. “Dia sudah tahu kok, Aku yang menceritakannya saat bersama mas Yudi” Jawab Johar.
            “Oh, Pantesan sepertinya dia kurang suka dek! Mungkin dia iri atau kurang suka dengan apa yang kita dapatkan, jadi gak enak pada Nico!” kata Adam sambil menyantap makanannya “Bukan kak, bukan itu masalahnya lupakan saja deh, Nanti juga bakalan berubah lagi!” Jawab Johar agak kesal. “Yaudah, oia nanti sore ikut kakak yuk!” Kata Adam. “Kemana?” tanya Johar. “Ke rumah mama” Jawab Adam datar. “Aku gak bisa, Aku harus mengamen!” Johar beranjak ke tempat mencuci piring dan langsung mencuci piringnya.
            “Kenapa?” tanya Adam yang masih makan. “Aku harus mengamen kak!” Kata Johar. “Mengamen ya… kita tidak usah mengamen dek, Mama memberiku jatah uang untuk kamu juga!” Kata Adam tersenyum. “Itu uang kak Adam, mulai saat ini Aku ingin berjuang sendiri kak!” Jawab Johar dan meninggalkan Adam di dapur. Ketika mau masuk ke kamar, Johar berpapasan lagi dengan Nico yang akan menuju dapur. Johar masih tidak mau bertegur sapa dengan Nico. Nico juga begitu sepertinya dia menghindar dari tatapan Johar.
            Di dalam kamar Johar duduk di atas kasur dan memainkan gitarnya. Meski tangannya memetik gitar namun pikirannya melayang jauh memikirkan Nico dan Alex. Johar memikirkan Nico akan perasaannya, selama ini Nico baik pada Johar, johar pun begitu dan menganggap Nico selayaknya saudara sendiri. Berbeda dengan Alex, Hubungannya baru dekat beberapa bulan terakhir, dan itu membuat Johar merasa nyaman jika bersama Alex, namun dia tak tahu apa yang dirasakannya sebelumnya.
            “Heh, ngelamun aja!” Adam menepuk pundak Johar. “Dek, ayolah ikut kakak ke rumah!” Adam terus membujuk Johar. “Kalau menginap Aku gak mau!” kata Johar. “Iya enggak, kita gak usah nginep dek!” kata Adam memastikan. “Yaudah, Aku libur lagi ngamennya dan terpaksa harus memakai uang tabungan lagi buat ongkos besok.” Johar melihat ke arah lemari. “Aku udah bilang, kalau Aku dapat uang…!” Kata Adam memberikan uang pada Johar.
            “Simpan saja kak, kakak tahu kan kalau Aku jarang pegang uang?” kata Johar tanpa melihat jumlah uang yang dijulurkan Adam. “Yaudah, Aku simpan di tabungan kita aja!” Kata Adam menuju lemari dan meletakan uang untuk Johar di samping tabungannya. Johar terdiam dan terus memainkan gitarnya. Gitar yang dimainkan Johar adalah Gitar pemberian Alex. Setiap memegang gitar itu, dia selalu teringat akan Alex, kebaikannya dan perhatiannya.
            Matahari perlahan pulang ke peraduannya, Bias cahaya berwarna jingga terpancar dari ufuk barat. Ketika Johar selesai sholat, dan Adam membaca Alqur’an, terdengar suara ketukan pintu di depan rumah. Hingga Akhirnya mereka berdua keluar menuju pintu depan, dari kaca terlihat mama Adam melihat ke dalam rumah. “Mama Dek!” Kata Adam dan bergegas membuka pintu rumah.
            “Wah, baru sholat Nak?” Kata Mama Adam sambil tersenyum ramah. “Iya Ma” Adam meraih tangan mamanya dan menciumnya. Hal sama juga dilakukan oleh Johar, “Tante….” Johar menyapa dengan nada sopan. Pandangan mereka langsung mengarah ke sosok pemuda di belakang mama Adam. Pemuda berkaca mata hitam dan berjaket kulit dengan ransel di punggungnya.
            “Siapa Ma?” Tanya Adam ragu. “Oh, Siapa hayo?” Mama Adam menggodanya. “Kak Vicky?” Tebak Johar di samping Adam. Pemuda itu langsung membuka kacamatanya dan tersenyum ke arah mereka berdua. “Kalian pasti sudah tahu ya? Kamu adikku kan?” Kata Vicky sambil menjulurkan tangannya ke Adam. Adam tersenyum lebar dan meraih tangan Vicky menarik dan merapatkan badan mereka, Adam pun menepuk punggung Vicky dengan tangan kirinya. 
            “Ough… jangan keras-keras Dam!” Kata Vicky melepas pelukan Adam. “Ini Johar kan?” Vicky tersenyum menjulurkan tangannya pada Johar. Johar tersenyum dan masih heran menatap Vicky yang memilki wajah sama dengan Adam. “Benar-benar mirip, wajah kalian mirip banget!” Kata Johar bergantian memandang Vicky dan Johar. “Apaan Sih!” Kata Adam sambil mendorong Johar karena malu. “Beneran loh, Aku heran aja… Meski wajahnya sama kayak kak Adam, masih lebih gagah kak Vicky lah, lihat rambutnya yang agak panjang dan penampilannya yang keren, juga kulitnya lebih bersih, putih dan lebih berisi lagi” Kata Johar memuji Vicky.
            “Yaiyalah, Aku dan Vicky tumbuh di lingkungan yang berbeda, sudah pasti kita juga berbeda!” Adam tertawa. “Sudah-sudah… Ayo kita pulang ke rumah!” Ajak Mama Adam. “Sekarang?” Tanya Adam ragu. “Iya, pak Joni menunggu di depan!” Kata Mama Adam. “Tunggu sampai Nico atau Mas Yudi datang ya Ma, sebentar lagi mereka datang sekalian kami mau ganti baju dulu!” Kata Adam. “Yaudah, boleh masuk kan?” Tanya Mama Adam.
            “Ya Allah, Masuk saja Ma!” Kata Adam yang mengajak Mamanya dan Vicky masuk. Adam menemani mamanya di ruang tamu, sedangkan Johar ganti celana dan pakaian, setelah itu langsung bergabung di ruang tamu. Beberapa menit kemudian, Yudi dan Nico datang, “Assalamualaikum” seru Yudi sambil masuk ke ruang tamu. “Walaikum salam, Mas ini mamaku” Kata Adam memperkenalkan Mamanya. Yudi langsung bersikap ramah dan bersalaman dengan Mama Adam dan Vicky.
            “Terimakasih ya Yud, Sudah menjaga Adam selama ini!” Kata Mama Adam. “Ini Nico ya?” tanya Mama Adam dan disambut oleh Nico dengan senyumannya. Suasana di ruang tamu yang ramai membuat Adam langsung ke kamar untuk ganti pakaian. “Kapan-kapan main ke rumah Yud, ajak Nico juga!” kata Mama Adam berbasa-basi.
            Tidak lama kemudian, Adam keluar membawa ranselnya. “Mau ikut mamamu ya?” Tanya Yudi melihat Adam. “Iya Mas, Aku dan Johar mau menginap disana, mungkin besok kami kesini lagi mas!” kata Adam tersenyum. Melihat Adam siap, mama Adam berpamitan dan mengajak Adam dan Johar keluar. “Oia, Ini buat Yudi dan Nico.” Kata Mama Adam menjulurkan uang ke Yudi. “Gak usah repot-repot Bu, Haduh jadi merepotkan.” kata Yudi malu-malu. “Buat beli sesuatu Yud, mari Yud, Nic!” Kata mama Adam dan langsung berjalan menuju gang.
            “Mas, Adam nginep di rumah dulu ya!” Adam berpamitan ke Yudi. “Nic, Jaga kamar ya!” tambah Adam ke Nico. Keduanya hanya tersenyum melihat mereka beriringan menuju gang. “Tidak lama lagi mereka pasti akan pergi dari rumah ini” Kata Nico. “Ya tidak apa-apa Nic, mereka sudah menemukan keluarganya! Johar pasti juga seneng jika tinggal bersama Adam dan keluarganya” Jawab Yudi yang berdiri di depan rumah.
            ******
            Akhirnya mereka berempat tiba di rumah mama Adam. Johar mengikuti Adam di belakangnya. “Kalian sepertinya akrab banget, persaudaraan kalian memang kental” kata Vicky tersenyum melihat Johar yang selalu mengikuti Adam. “Oia, Adam juga adekku karena Aku yang lahir paling akhir” kata Vicky menegaskan. “Loh? Bukannya yang lahir pertama itu menjadi kakak?” Kata Adam.
            “Tanya saja ke mama, siapa kakak dan siapa adek disini” Vicky tersenyum berjalan ke dalam rumah. Ketika berada di ruang tamu, Johar dan Adam langsung duduk dan bersantai. “Kalian gak mau ke kamar?” tanya Vicky. “Sebentar, masih capek Vick” jawab Adam. “Eits, panggil Aku kakak! Jangan dibiasakan panggil namaku, OK!!” kata Vicky tersenyum.
            “Ada apa sih?” Tanya Mama Adam mendekati mereka. “Kak Vicky dan Kak Adam berebut menjadi yang seorang kakak tante!” kata Johar menertawakan keduanya. “Ma, Aku yang jadi kakak kan?” tanya Vicky memastikan. “Kok bisa gitu? Aku yang lahir duluan!” jawab Adam. “Hehehe, kalian seperti anak kecil, begini hanya selisih beberapa menit dan itu membuat mama hampir mati melahirkan kalian berdua. Sekarang kalian berebut menjadi kakak” Mama Adam duduk di sofa.
            “Yang terlahir lebih dulu adalah adik, dan yang terakhir adalah kakak! Itu sudah menjadi kebiasaan orang-orang jawa!” Kata Mama Adam dan berhasil membuat Vicky tertawa dengan kemenangannya. “Kok gitu? Yaudahlah lumayan jadi yang termuda!” kata Adam tersenyum. “Adek dalam saudara kembar umurnya lebih tua loh” Vicky menggoda. “Sudah-sudah, kalian ke kamar aja!” Mama Adam menyuruh mereka masuk ke kamar.
Mereka bertiga langsung menaiki tangga, Vicky masuk ke kamarnya sedangkan Adam dan Johar masuk ke kamar sebelahnya yang sudah disiapkan oleh Mama Adam. Di dalam kamar Johar kagum dengan kamar yang luas dan langsung duduk di atas kasur. “Kak empuk banget kasurnya!” kata Johar menggenjot kasur. “Iya dek, pertama kali Aku tidur di kasur seperti ini rasanya nyaman banget!” jawab Adam sambil meletakan ranselnya di sebelah meja belajar.
            “Enak yah kak, kakak sudah menjadi orang kaya!” kata johar spontan. “Siapa? Aku jadi orang kaya? Ini kan bukan milik Aku dek, ini miliki Mama dan keluarganya” kata Adam. “Tapi kan kak Adam anak tante juga toh?” kata Johar sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur. “Ya tapi gak sesimple itu dek!” Adam juga ikut rebahan di atas kasur.
            “Boleh gabung?” Kata Vicky di dekat pintu. “Masuk aja Vick!” kata Adam. “Eits, kakak!” kata Vicky melihat Adam dan menunjuk Adam. “Silahkan kakak Vicky!” Kata Adam dengan nada mengejek. “Nah gitu dong, dibiasakan ya!” kata Vicky sambil naik ke tempat tidur. “Oia, kak Vicky sekolah di jakarta ya? Pasti kelas dua SMA!” tebak Johar. “Iya, Aku sekolah di sana dan tepat banget Aku sudah kelas Dua SMA, Kalian Juga kan?” Vicky merebahkan tubuhnya di tumpukan bantal.
            “Aku masih kelas satu kak!” kata Johar tersenyum. “Oia, kamu kan selisih satu tahun dengan kita, Adam gimana?” Kata Vicky melihat Adam. “Sama, Aku juga kelas satu, lebih tepatnya mengulang di kelas satu!” Adam tersenyum. “Hah? Berarti lebih cepet Aku ya!” kata Vicky gembira. “Yah, situ kan kakaknya…!” jawab Adam ketus.
            “Oia, ceritakan gimana kehidupan kalian di banyuwangi dulu, dan bagaimana ceritanya kalian bisa bertemu dengan mama, Katanya kalian mengamen dan bernyanyi di cafe ya?” Vicky memberikan banyak pertanyaan. “Yang mana dulu harus dijawab? bertanya itu satu-satu jangan borongan seperti itu” Sungut Adam. “Hahaha, terserah deh, tapi ceritakan kehidupan kalian di banyuwangi dulu!” kata Vicky duduk mempersiapkan diri untuk mendengarkan cerita Adam dan Johar.
            *****
            Ke esokan harinya, Adam dan Johar diantar ke sekolah oleh Vicky. Mereka bertiga tidak langsung masuk ke sekolah, menghabiskan detik demi detik bersama karena nanti malam Vicky harus pulang ke jakarta lagi. Ketika mereka Asyik mengobrol, Stella datang menghampiri mereka “Hai Dam!” kata Stella mengumbar senyum termanisnya. “TTM kak Adam” Kata Johar sangat pelan. Mendengar itu Vicky terkekeh, “Hari gini masih gak jelas?” kata Vicky pelan.
            “Hei Stell, teman-teman yang lain udah di dalam belum?” tanya Adam. “Hm… gak tahu ya, eh kalian masih disini?” tanya Stella. “Oia, kenalain ini Vicky!” kata Adam. “Kak Vicky!” Vicky memandang Adam. “Hadeuh…!” Adam mengeluh. “Oh, hai kak” Kata Stella menyapa Vicky. “Ini toh calon adik Ipar” Vicky tersenyum manis dan berhasil membuat Stella malu-malu. Mendengar itu Adam menjadi kikuk dan mengajak untuk segera masuk ke sekolah.
            “Hahaha, Yaudah kalian masuk aja… Oia Jo, Jangan terlalu sering mengganggu Adam dan Stella loh!” Vicky menunjuk Johar. “Ok Boss, di kelas nanti ditinggal berdua aja kok” Johar mengedipkan matanya sambil tersenyum. “Halah…. Fitnah!” Kata Adam menimpuk kepala Johar. Vicky tertawa dan langsung masuk ke mobilnya.
            Di dalam kelas, Johar langsung bergabung dengan Roy dan Rendy yang sedang asyik mengobrol. “Dasar ibu-ibu, pagi-pagi udah Ngerumpi!” Kata Johar sambil memegang pipi Roy dari belakang. “Ih, tangannya dingin kayak mayat!” sungut Roy. “Eh, Alex belum datang?” Tanya Stella. “Belum Stell, sepertinya dia tidak masuk atau terlambat!” Jawab Rendy.
            “Oh, kayaknya dia lebih memilih gak masuk, daripada terlambat!” Kata Stella. “Pasti Stell, surat sudah siap tinggal SMS Alex!” kata Roy sambil mengeluarkan amplop berisi surat Izin. “Dasar, kalian selalu membawa surat izin untuk berjaga-jaga ya? Atau biar bolosnya lancar?” kata Johar heran. “Begitulah Jo, kemarin kamu yang gak masuk itu loh juga kami buatin surat kok!” Kata Roy sambil memasukan lagi amplop ke dalam tasnya.
            “Eh udah masuk, cepat sms Alex mau datang atau bolos?” kata Stella sambil duduk di bangkunya. Johar dan Adam juga bergegas menuju bangkunya yang terpisah dari tempat duduk Stella dan yang lainnya. “Jo” Kata Roy. Ketika Johar melihat Roy, Roy menggerakan bibirnya. Johar dan Adam menangkap kalau Alex jatuh di jalan dan dia kembali ke rumahnya. “Beneran?” Tanya Adam kaget. “Iya… Nanti kita kesana!” Kata Roy dan langsung berhenti ketika seorang guru masuk kelas.
            Waktu istirahat, mereka berdua menanyakan keadaan Alex. “Gimana ceritanya?” Tanya Adam. “Gak tahu, tadi yang bilang gitu adalah mamanya! Karena Alexnya tidur” Jawab Roy. “Yaudah, SMS aja sekarang, kalau Alex yang bales langsung ditelfon” Usul Rendy. Atas saran Rendy, Roy langsung mengirim SMS ke Alex, dan ternyata Alex membalasnya. Roy langsung menelfon Alex, “Gimana Al keadaanmu? Kok bisa jatuh sih?” Kata Roy khawatir.
            “Namanya juga Apes Roy, tapi Aku tidak Apa-apa, hanya bekas patah tulang kemarin agak sakit, tapi kata dokter beberapa minggu lagi juga sembuh!” Suara Alex dari telon yang di loudspeaker. “Yaudah nanti sepulang sekolah kita kesana!” Roy melihat keteman-temannya. “Yaudah, jangan lupa bawa oleh-oleh ya! Minimal makanan kek! Hehehe” Alex tertawa. “Udah sakit masih aja bercanda! Yaudah ntar lagi jam istirahat usai, kamu istirahat Aja Al, Bye” Roy mengakhiri sambungan telefonnya.
            “Yaudah kita kesana nanti siang!” usul Rendy. “Iyalah masak nanti malam!” Sungut Roy. Rendy langsung menimpuk kepala Roy dan membuat semua tertawa. “Jo, kamu ikut kan?” Tanya Stella. “Eh, iya Stell!” Jawab Johar ragu. “Baguslah, dengan begitu Alex akan seneng!” Jawab Rendy. “Iya, Alex dan Johar kan lengket banget setelah kita menjadi teman, tapi sekarang agak merenggang” tambah Rendy. “Iya dek, ada masalah dengan Alex?” selidik Adam.
            “Enggak kak, gak ada apa-apa kok!” Johar mengelak. “Syukurlah, jaga hubungan pertemanan ini, jangan sampai ada masalah diantara kita semua” Kata Adam bijak. “Syukur-syukur ada yang jadian Dam” Roy menambahkan. Mendengar apa yang dikatakan Roy membuat Jantung Johar berdegub kencang. “Siapa yang harus jadian Roy” tanya Rendy. “Siapa Lagi kalau bukan…” Roy menghentikan Kata-katanya.
            “…Tentu saja Adam dan Stella Rend, Udah kayak pacaran gini masih aja gak ada kejelasan!” Roy memandang Adam. Mendengar itu membuat Johar lega dan bisa menurunkan ritme detak jantungnya. “Kok malah bahas kami?” tanya Adam dengan wajahnya memerah. “Yah kamu Dam, Sebenarnya kamu punya perasaan cinta nggak ke Stella?” Tanya Rendy yang membuat Adam kikuk.
            “Jujur Aja kak, Atau Aku bongkar nih!” tambah Johar yang sudah dapat menguasai dirinya. “Eh, ini juga ikut-ikutan ngomong!” Adam melihat ke arah Johar dan berusaha mencoleknya. Johar hanya tersenyum pada Adam menghindar dari tangan Adam. Stella yang sudah tidak tahan denga ejekan sahabatnya, langsung pergi menghindari mereka. “Tuh kan Stellanya ngambek!” Kata Rendy. “Kalian semua harus tanggung jawab tuh!” Kata Adam dan langsung menyusul Stella.
            “Stell, tunggu….” Adam menghentikan Stella dan memegang tangannya. “Aku malu Dam, Malu dengan olokan mereka.” Kata Stella membuang muka. “Ngapain harus malu Stell, kamu tahu nggak? Apa yang kurasakan jika bersamamu!” Kata Adam sambil pindah ke depan Stella. “Aku itu nyaman dekat dengan kamu Stell, kenapa? Karena ada rasa sayang yang lebih untuk kamu!” Kata Adam memegang kedua tangan Stella.
            Di belakang Stella, Johar, Roy dan Rendy menghentikan langkahnya melihat mereka berdua. “Aku akan mengatakan sesuatu, dan ini bukan karena ejekan teman-teman, Aku hanya ingin kamu tahu kalau Aku Cinta kamu, ntah kamu cinta atau tidak tapi Aku bangga mencintaimu Stell, Satu pertanyaan untukmu maukah kamu jadi pacarku?” Adam memandang Stella dengan tatapan penuh harap.
            “Kamu tahu? Aku selalu memendam rasa ini Dam, rasa ini selalu ingin meledak jika Aku bersamamu. Dan mungkin saatnya Aku ungkapkan apa yang kurasakan, Aku juga suka dan Cinta kamu, dan Aku mau jati kekasihmu Dam” Stella tersenyum. “Cie... Ada yang harus traktiran nih!” Kata Roy mendekat. “Harus dong!” tambah Rendy yang mengelilingi mereka berdua. “Ih, Kakakku hebat, nembak cewek di sekolah dan dilihatin teman-teman yang lain juga” Kata Johar sambil merangkul Adam. Adam dan Stella hanya tersenyum bersama.
            “Traktiran ya?” Tanya Adam. “Iya, harus itu!” Kata Roy mantap. “Traktirannya minta ke johar aja ya!!” kata Adam sambil tersenyum pada Johar. “Loh? Kenapa harus Aku kak?” Johar kebingungan. “Lah, lupa dengan permainan kita dulu? Kamu bilang kita berlomba mendapatkan cewek! Dan sekarang siapa dulu yang punya pacar?” Kata Adam dan berhasil membuat Johar kikuk. “Ah, curang nih!” kata Johar menghindar sambil tertawa. “Hei, Mau kemana kau Jo!” Roy dan Rendy mencoba mengejar Johar.
            “Pokoknya traktirannya tetep harus kak Adam!” johar tertawa ketika Roy dan Rendy merangkulnya. “Iya Dam, Eh Stella kok masih malu-malu tuh!” Roy menggoda mereka yang lagi kasmaran. “Ok, Kalau Alex sudah sembuh!” Janji Adam dan membuat semuanya tertawa dan kembali ke kelas.
*****
            Setelah Sekolah selesai, Mereka berlima kumpul di depan Gerbang sekolah. “Ayo Dam bareng kita Aja! Tapi… gak Ada Helm sih” kata Rendy. “Aku menyusul, ntar lagi kakakku menjemput kok!” kata Adam. “Yaudah kita duluan ya!” Kata Roy dan Rendy. “Aku sama siapa?” Kata Stella. “Bareng Adam dan Kakaknya aja!” Roy meninggalkan Stella bersama Adam. “Udah, bareng kita aja Stell. Eh Aku harus manggil kak Stella ya?” Johar meledek Stella. “Apaan sih Jo, umurku masih tua kamu kale!” Sungut Stella di samping Adam. “yah, hanya beda tanggal aja kan?” Kata Johar tersenyum.
            “Stella tahu kan rumah Alex?” Adam memastikan. “Aku tahu kak!” Jawab Johar. “Loh kapan kamu main ke rumah Alex Jo?” Stella Heran dengan Jawaban Johar. “Beberapa hari yang lalu Stell, pulang dari rumah Kak Adam langsung mampir” Jawab Johar. “Eh itu kak Vicky!” Johar menunjuk mobil hitam yang perlahan mendekati mereka bertiga.
            “Masih seperti pagi tadi, kalian bertiga berdiri di tempat yang sama!” kata Vicky dari dalam mobil. “Hmmm… udah beda kak, tadi kan belum jadian, kalau sekarang udah resmi jadian!” Johar melirik Adam dan Stella. “Enggak Kak!” Kata Adam sambil merangkul Johar. “Halah, beneran loh… tanya aja ke Stella” Johar menunjuk Stella yang juga berdiri di dekat mobil. “Wih, sepertinya beneran nih, wah bagus dong udah jelas hubungannya… Ayo kita pulang!” Vicky tersenyum.
           
           
           
            “Maaf kak, kita gak bisa langsung pulang, ada teman yang kecelakaan!” Kata Johar. “Kalian mau menjenguknya? Yaudah aku antar kalian!” Kata Vicky bersemangat. “Eh… makasih kak!” Kata Johar dan membuka pintu di bagian tengah. “Heh Jo, kamu di depan Aja, biarin Adam dan Stella di belakang” Kata Vicky ketika johar masuk ke jok tengah. “Oia, lupa…” Johar tertawa dan langsung pindah.
            Adam dan Stella jadi salah tingkah ketika masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil Johar dan Vicky menggoda mereka yang lagi kasmaran. Berkali-kali Johar tertawa dan tak hentinya menggoda Adam. Adam dan Stella hanya bisa tetawa malu, namun keduanya bahagia bisa bersama. “Eh, kemantennya gak ada suaranya ya!” Kata Vicky. “Pada malu-malu kak, biasa baru jadian” Tambah Johar.
            Akhirnya beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah Alex. Motor Rendy dan Roy sudah terparkir di halaman rumah Alex. “Gimana Alex?” Tanya Adam ketika melihat Roy dan Rendy berada di beranda rumah Alex. “Kami nunggu kalian, biar bareng masuknya!” jawab Rendy. “Eh, ini kakaknya Adam yang kalian ceritakan tadi?” Kata Roy heran melihat Vicky yang mirip dengan Adam. “Vicky!” sambil menjulukan tangannya Vicky memperkenalkan diri.
            “Mirip banget, Tapi penampilannya beda jauh!” Rendy melihat penampilan Vicky yang modis. “Heh, jangan bilang kalau Aku kampungan ya!” Kata Adam memandang Rendy dan Roy. “Emang kampungan kok!” Kata Johar sambil tertawa. “Iya juga sih, kita kan dari kampung!” Adam tertawa. “Kok malah ngobrol disini? Cepat masuk!” Kata Stella yang sudah tak tahan lagi dengan ulah teman-temannya.
            Roy langsung memencet Bel rumah dan keluarlah pembantu rumah Alex. “Mbok, Alexnya ada?” tanya Roy. “Ada, di kamarnya, Den Alex kecelakaan” Kata pembantu itu. “Iya, kami datang ingin menjenguknya mbok!” Kata Roy. “Siapa mbok?” Mama Alex keluar. “Eh kalian silahkan naik ke kamar Alex langsung aja!” kata Mama Alex ketika melihat Roy dan Rendy. “Terimakasih tante” Mereka langsung naik ke kamar Alex.
            Di dalam kamar, Alex beraring sambil memainkan ponselnya. “Hei… jagoan kok keyok?” Rendy menghampiri Alex dan diikuti Roy, Stella dan yang lainnya. “Eh kalian datang juga ya! Terimakasih udah datang! Mana Oleh-olehnya?” Tanya Alex. “Eh, oleh-olehnya mana ya?” Roy pura-pura lupa melihat Rendy dan Stella bergantian. “Oleh-olehnya ada di Johar Al! Jo, mana Oleh-olehnya?” Rendy melihat Johar dan berhasil membuat Johar kebingungan.
            “Oleh-oleh apa? Aku gak bawa Apa-apa kok!” Kata Johar. Melihat Johar yang bingung membuat semuanya tertawa. “Hehehe, kalian datang aja Aku sudah seneng kok!” Kata Alex tersenyum pada mereka. “Rend itu siapa?” tanya Alex pelan ketika melihat Vicky yang berdiri di belakang Adam. “Lihat baik-baik Al, mirip nggak sama Adam?” Kata rendy. “Oh, ini kembarannya Adam ya?” Alex heran melihat kemiripan wajah Vicky dan Adam. “Biasa Aja Al, kayak gak pernah lihat anak kembar aja!” kata Adam mendekati Alex.
            Vicky juga ikut mendekat dan berkenalan dengan Alex, “Jatuh dimana?” tanya Vicky berbasa-basi. “Jatuh di jalan Hayam wuruk, ada anak kucing yang nyebrang jalan!” Kata Alex. “Kucingnya gimana tidak apa-apa kan?” kata Johar cemas. “Kamu lebih memikirkan kucing daripada temanmu Jo?” respon Alex ketus. “Yah, bukan gitu Al kalau sampai kucingnya mati katanya sih bikin sial terus, Aku kan gak mau kamu kena sial terus!” Kata Johar. “Iya Al, Aku juga pernah dengar seperti itu” Tambah Adam. “Nenekku juga bilang gitu” Rendy juga meyakinkan. Stella dan Roy hanya terdiam menyimak mitos yang mereka bicarakan.
            “Jangan terlalu percaya, itu hanya mitos dan kepercayaan kuno!” Vicky menyanggah mitos itu. “Iya, Aku gak percaya tapi kucingnya tidak apa-apa karena Aku menghindarinya dan membuat Aku terjatuh seperti ini” kata Alex sambil melihat tangannya. “Syukurlah semua baik-baik saja!” kata Johar. “Baik-baik aja? Kamu gak lihat Aku terkapar seperti ini?” Alex meledek Johar. “Kan belum parah toh?” Balas Johar. “Oh doakan Aku parah? Kecelakaan terus koma atau mampus gitu?” suara Alex terdengar serius.
            “Udah masih saja debat yang gak penting!” Adam menengahi. Johar diam memandang Alex dan Alex memilih melihat ke arah teman-teman yang lain. “Cepat sembuh Al, maaf kalau omonganku salah!” Kata Johar pelan. “Tidak apa-apa kok, Aku suka aja debat sama kamu, bermasalah sama kamu Jo! kayak dulu sebelum kita jadi teman.” Jawab Alex sambil tersenyum. “Gak sekalian berantem Aja kalian?” Rendy menambahkan. “Kamu tuh yang harusnya berantem” Roy kesal dengan celoteh Rendy. “Iya, kalau berantem sama kamu Aku mau Roy, Aku pengen mukul muka kamu yang menyebalkan itu” Kata Rendy terdengar kesal.
            “Heh, muka kamu tuh yang ngeselin, coba kamu ke terminal dan berkaca!” Roy tersulut emosi. “Eh, jangan ngotot gitu napa!” Rendy mendorong Roy pelan. “Haduh, sudah-sudah kenapa sih dalam kelompok ini gak pernah ada yang Akur? Tiap hari ribut aja!” Stella menengahi Roy dan Rendy. “Lucu ya kalian semua, kayak anak kecil” Vicky tertawa melihat ulah mereka. “Begitulah kak, kita semua selalu berdebat gak penting” kata Adam. “Tapi itu bagus loh, bisa memperkuat pertemanan, buktinya kalian solid banget meski selalu ada perdebatan yang gak penting! Terkadang cowok itu harus saling memukul biar mengerti perasaan masing-masing!”Kata Vicky menjelaskan.
            “Ya, tapi gak harus berkelahi kak!” Stella mengkerutkan alisnya. “Iya, eh ada yang gak pernah berdebat di kelompok ini kan?” kata Vicky sambil melirik Adam. “Pastilah kak, mana mungkin yang baru jadian berdebat dan bertengkar apalagi sebelumnya mereka juga gak pernah berdebat!” Kata Johar sambil tersenyum pada Adam. “Al, cepat sembuh ya! Biar kita cepat ditraktir Adam dan Stella. Mereka sudah jadian loh!” kata Rendy.
            “Heh yang bener?” Alex heran. “Kapan sih? Kok Aku yang terakhir tahu!” Kata Alex. “Tadi di sekolah Al, makanya jangan atraksi jatuh segala biar selalu update tentang hubungan kami” Kata Adam tersenyum. “Atraksi apaan, selamat deh pokoknya wajib traktiran!” Kata Alex yang bahagia mendengar Adam dan Stella jadian. “Makanya cepat sembuh!” Kata Stella sambil mencoba memijit betis Alex.
            “Al, kami pulang dulu ya! Masih ada kepentingan di rumah!” Adam berpamitan. “Loh? Kok buru-buru sih? Mama pasti bikin makanan untuk kalian” Alex memandang ke johar dan Adam bergantian. “Maaf Al, lain waktu aja ya… soalnya kak Vicky nanti malam udah kembali ke jakarta” Adam memastikan dirinya harus segera pergi. “Yaudah, makasih ya!” Alex tersenyum dan Akhirnya Adam Johar, dan Vicky keluar dari kamar Alex. “Stell, Aku pulang dulu ya!” Kata Adam berpamitan khusus ke Stella.
            Sesampainya di rumah, Vicky banyak bertanya mengenai teman-teman Adam dan Johar. Menurutnya mereka semua masih ke kanak-kanakan tapi seru juga. “Sebenarnya Aku paling gak betah di rumah, terlalu banyak kenangan dengan papa” Kata Vicky di sela obrolannya. “Kenapa Kak?” Tanya Johar prihatin. “Yah, di rumah ini Aku sering teringat papa, jadi Aku lebih suka di jakarta. Tapi setelah ada kalian berdua Aku malah malas mau ke jakarta” Suara Vicky melemah. “Yaudah jangan balik ke jakarta kak” usul Joihar Asal. “Enak aja, Sekolahnya mau ditinggal? Nanti bisa sejajar dengan Adam” Kata Vicky.
            “Yah, kapan-kapan kalian akan kuajak ke jakarta berjumpa dengan nenek di sana” kata Vicky bersemangat. “Heh, Jakarta yang sering di TV itu?” kata Johar senang. “dimana kamu tahu di TV ada jakarta? Kita kan jarang nonton TV dan hampir tak pernah” Kata Adam. “Yaelah, dulu saat di kampung Aku sering ngintipin rumah pak Joko buat nonton TV kak, meski hanya sekilas tapi Aku tahu itu jakarta” Kata Johar. “Hahaha, Kalian bener-bener ya! Jadi pengen ke banyuwangi!” Kata Vicky.
            “Iya, Aku juga kangen Mbak Yati” Johar merenung. “Nanti dek, kita pasti bertemu dengan Mbak Yati” Kata Adam menyemangati. “Loh? Kalian gak ngasih kabar?” Tanya Vicky. “Enggaklah, mau kasih kabar lewat apa? Ponsel kita gak ada!” Kata Johar. “Yaelah, Kalian gak ada Ponsel toh, padahal itu penting loh!” Kata Vicky.
            “Mau makan aja harus ngamen kak, Apalagi mau beli ponsel!” sungut Adam. “Yaudah, nanti kumintakan ke mama!” Kata Vicky. “Eh jangan kak… Gak usah!” Kata Adam. “Loh? Itu penting loh, kalau Aku ingin tahu kabar kalian gimana?” Vicky melihat Adam dan Johar bergantian. “Ya, nanti ajalah!” Adam pasrah. “Oia, Aku ingin sekali lihat kalian bermain gitar, katanya penghibur di cafĂ©?” Vicky meraih bantalnya.
            “Tiap malam Sabtu dan Minggu kami di cafe, tapi sayang kakak harus segera kembali” Kata Adam. “Yaudah, nanti di rekam ya! Terus kirim lewat email” Kata Vicky bersemanagt. “Email? Apa itu?” Johar bingung. “Oia, Aku lupa dikampung gak ada email ya? hehehe… nanti aja deh kujelaskan, Aku temui mama dulu Ok” Vicky keluar dari kamar Adam dan menuju Mamanya yang ada di ruang tengah.
            Tak berapa lama kemudian, Vicky masuk lagi dan mengajak Johar dan Adam jalan-jalan. “Dek Ayo ikut!” kata Vicky. “Kemana Kak?” Adam bermalas-malasan di kamarnya. “Ayolah, kalian semua harus ikut!” kata Vicky sambil menarik tangan Adam dan Johar untuk segera bangun. “Sebentar lagi maghrib loh!” Kata Johar sambil melihat jam dinding. “Sebentar aja, Maghrib kita sudah di rumah kok!” kata Vicky terdengar memaksa.
            Akhirnya mereka bertiga keluar dengan mobil menuju sebuah konter HP. “Mas, Hp ini berapa?’ Tanya Vicky. “Ini empat ratus mas, dan yang satunya lima ratus” Kata Penjaga Konter. “Boleh kurang nggak?” Vicky menawar. “Buat siapa sih?” Adam bertanya.
“Yah buat kalian lah, kalian itu harus punya ponsel meski ponsel biasa kayak punyaku!” kata Vicky. “Eh, gak usah kak!” kata Adam dan Johar hampir bersamaan. “Sudah, ini juga dari mama kok!” jawab Vicky.
            Johar dan Adam hanya bisa menerima, meski ada keraguan namun Vicky terus meyakinkan mereka. “Yaudah mas, bagaimana kalau semua delapan ratus ribu? Kalau boleh sih, kalau enggak kita cari ditempat lain aja” Vicky menawar dua ponsel bekas di etalase. “Yaudah mas, boleh aja… nanti kalau ada keluhan bisa diantar kesini lagi, garansinya satu bulan mas, gimana?” penjual itu balik bertanya. “Ok, deal ya mas!” kata Vicky sambil memeriksa ponsel-ponsel itu.
            Vicky juga membelikan kartu perdana untuk Johar dan Adam dan nomor keduanya langsung disimpan di ponselnya. Hingga Akhirnya suara adzan maghrib berkumandang, “Sudah Adzan, kita pulang yuk” Vicky mengajak mereka pulang ke rumah. Di rumah ketiganya sholat berjamaah, dan ini kali pertama Johar dan Adam sholat berjamaah. Hingga tiba waktu bagi Vicky untuk segera pulang ke jakarta. Tepat pukul 8 malam Vicky diantar ke bandara.
“Ini kali pertama Aku meninggalkan surabaya dengan berat hati!” kata Vicky memandang mamanya. “Kanapa sayang?” Mama Vicky memegang pipinya. “Karena mereka berdua ma, Aku punya saudara dan Aku masih menginginkan bersama mereka!” Vicky tampak sedih dan berat meninggalkan Mereka. “Tenang kak, kita tidak akan kemana-kemana kok, liburan langsung pulang aja kak!” kata Adam terdengar ramah. “Sampai jumpa ya dek!” Vicky memeluk Adam. “Eh, Jo… Tinggallah di rumah! Bagaimana pun kamu juga saudaraku!” Vicky tersenyum pada Johar. “Insyallah kak, dalam waktu dekat Aku akan tinggal disana! Terimakasih ya kak!” kata Johar sambil membalas senyuman Vicky. Vicky pun memeluk Johar dan berpamitan.
            “Sampai Jumpa di liburan smester ya!” kata Vicky dan langsung masuk ke dalam bandara. Vicky terus melihat ke arah mereka sambil terus tersenyum hingga akhirnya Vicky benar-benar harus masuk. “Yaudah, ayo pulang… besok kalian harus ke sekolah kan?” kata Mama Adam. “Iya Ma, besok malam kami juga harus pulang ke kontrakan! Dan bulan depan kami akan tinggal bersama mama!” Kata Adam.
            “Janji ya, bulan depan kalian harus tinggal bersama mama, Jo juga harus mau tinggal dengan tante!” Mama Adam tersenyum ke Johar. “Insyallah tante” Kata Johar. “Sebenarnya ada permintaan dari tante untuk Johar” Kata Mama Adam. “Apa itu?” Johar bertanya. “Aku ingin kamu juga memanggilku mama! Anggap Aku jadi mamamu Jo!” Kata mama Adam terdengar sangat memohon. Mendengar itu Adam dan Johar bertukar pandang dan tersenyum. “Aku gak pernah terfikirkan untuk memiliki mama lagi, Aku gak tahu Papaku dimana dan mama kandungku sudah meninggal, tapi bagaimana pun juga tante sudah kuanggap Mamaku sendiri.” Kata Johar tersenyum.
            “Jangan selalu bersedih Jo, kehidupan itu tidak ada yang tahu, yakinlah kehidupan selalu berputar dan Tuhan tidak pernah tidur dan bosan melihat hambanya! Mulai sekarang panggil Aku mama Ya!” Mama Adam membuka tangannya untuk menerima pelukan dari Johar. Johar ragu dan hanya tersenyum, Namun Mama Adam langsung memeluk Johar dan mengelus kepala Johar. “Kalian semua anak-anak Mama, jangan pernah berpisah lagi ya nak!” Mama Adam meraih adam untuk berpelukan bersama.
            Akhirnya Johar juga mendapatkan seorang Mama, meski mama angkat namun Johar sangat bahagia. Adam pun juga mendapatkan kebahagiaan yang datang bertubi-tubi, bertemunya dengan saudara kembarnya, Mendapatkan cinta Stella, dan sekarang Adam senang mendengar bahwa mamanya juga menganggap Johar sebagai anaknya. Namun, Masih ada masalah yang harus diselesaikan oleh Johar, masalah Alex dan Nico dan Juga mencari keberadaan Ayahnya. Bagaimana kelanjutannya, Baca  Mengejar Masa Lalu 08 J
            :: Mohon Like dan Komennya ya!!! Doakan penulis bisa menyelesaikan cerbung ini yang sudah tinggal 3 part lagi::