Senin, 07 Januari 2013

Because Your Heart And My Eyes


Mentari pagi yang cerah menyinari gubuk kecil yang terletak di atas bukit. Gubuk kecil berdinding bilik bambu dengan beralaskan lantai tanah dan beratap anyaman daun tebu kering. Di gubuk sederhana ini tinggal seorang pemuda berumur 20 tahun bernama Putra dan adiknya bernama Rafa berumur 13 tahun. Mereka berdua terpaksa tinggal di gubuk kecil di atas bukit karena hanya itulah peninggalan dari orang tuanya.
Hari senin yang menyebalkan.
“Rafa, sudah jam setengah tujuh cepat berangkat ke sekolah! Nanti kamu terlambat!”, Putra setengah berteriak sambil menyapu lantai tanah yang tidak harus disapu. Mendengar suara Putra, Rafa langsung mempercepat mengikat tali sepatunya dan berkata,  “iya bang, Rafa sudah selesai. Setelah bercermin memastikan semuanya rapi Rafa langsung menghampiri Putra “Bang, Rafa berangkat dulu ya!” Rafa mencium tangan Putra dan langsung berlari menuruni bukit.
Rafa terus berlari menyusuri jalan setapak dan melewati beberapa rumah kecil juga hamparan kebun sayur hijau. Suara kicauan burung dan hamparan tanaman sayur menemani perjalanannya. Perjalanan dari rumah ke sekolah membutuhkan waktu 25 menit dan Rafa melewatinya dengan berjalan kaki sesekali berlari. Sebenarnya ada sekolah swasta yang jaraknya lebih dekat dari tempat tinggalnya, namun Rafa memilih untuk sekolah di SMP negeri.
Rafa terus saja berlari menuju sekolah, karena di hari senin ini dia menjadi petugas upacara. Sesampainya di sekolah Rafa langsung di sambut oleh temannya, “Rafaaaa, bisakah kamu berpenampilan rapi?” kata Vika ketika melihat Rafa berantakan akibat berlarian. Vika adalah teman dekat Rafa sejak di bangku sekolah dasar.
“Hehehe, bentar dulu vik, aku butuh udara segar, Fiuh” Rafa berusaha mengatur nafasnya perlahan.
“Ini Raf, pake sapu tanganku untuk menghapus keringatmu itu” Vika menjulurkan sapu tangannya.
Rafa dengan sedikit ragu menerima sapu tangan Vika dan langsung menghapus keringat di keningnya. Tak lama kemudian suara bell sekolah berbunyi, semua siswa langsung berhambur ke lapangan sekolah untuk melakukan upacara bendera.
“Rafa, ayo cepat siap-siap!” suara Vika langsung membuat Rafa beranjak berdiri. “Iya Vik”, Rafa berdiri sambil membersihkan celananya.
Di sekolah hanya sosok Vika yang selalu perhatian padanya, berbeda dengan teman-teman yang lain mereka selalu menghindari Rafa dan mendekatinya jika membutuhkan bantuan belajar. “Rafa, kamu ini petugas pengibar bendera, rapikan dulu baju kamu” kata Vika sambil menunjuk baju Rafa. Rafa langsung merapikan bajunya “Iya, ini udah sangat rapi Vik, wih ni anak crewetnya minta ampun” Rafa tersenyum. Vika hanya mengerutkan alisnya.
Tepat pukul 07:15 upacara bendera di mulai. Rafa mendampingi Vika sebagai pemegang bendera. Namun upacara bendera menjadi kacau ketika Rafa salah mengaitkan ujung bendera. Ketika bendera dibentangkan ternyata Sang Saka Merah Putih terbalik. Pemandangan itu membuat semua siswa terperangah dan terdengar beberapa suara cekikikan akibat kesalahan itu. Seketika bapak Sunarno selaku kepala sekolah langsung mengomando agar semua barisan berbalik kanan. Rafa langsung sigap membetulkan Sang Merah Putih. Namun dirinya akan mendapat sangsi dari kepala sekolah.
Selesai upacara, para petugas upacara dikumpulkan oleh kepala sekolah di bawah tiang bendera.
“Bapak sangat kecewa kepada kalian! Kalian ini sudah kelas tiga sebentar lagi Sudah SMA, menjadi petugas upacara saja tidak becus!” Kata bapak kepala sekolah terlihat sangat marah. Rafa dan teman-temannya hanya bisa diam dan menundukan kepalanya.
“Bapak rasa kalian harus mendapatkan sanksi karena kalian sebagai petugas upacara kurang siap!” kepala sekolah bergerak mondar-mandir. “Tapi pak? Yang salah Rafa sebagai pengibar bendera?” kata seorang siswa di belakang. “Karena kalian bekerja sebagai tim, maka semuanya bapak hukum” kata kepala sekolah. Semua tema-teman Rafa langsung malihat ke Rafa. “Maaf pak, biar saya saja yang dihukum, karena saya tadi kurang konsen” kata Rafa. “Betul pak, biar Rafa saja yang bertanggung jawab” kata beberapa teman lain.
“Baiklah, Rafa sekarang kamu harus hormat bendera sampai akhir jam pertama. Yang lainnya silahkan masuk ke kelas” kata kepala sekolah sambil kembali ke ruangannya
Tanpa protes Rafa langsung memposisikan diri di depan tiang bendera dan melakukan hormat bendera. Teman-teman Rafa langsung menuju kelas, terdengar suara siswi yang menghawatirkan Rafa.
“Raf, kamu tak apa?”, Suara Vika terdengar sangat lembut.
“Tak apa Vik, kamu ke kelas saja”, Rafa menyuruh vika untuk segera pergi.
Rafa terlihat sangat tegar menjalani hukumannya, suasana di lapangan sudah sepi dan hanya dirinya berdiri di depan tiang bendera.Rafa memang bukan anak yang kuat, karena kepanasan dan setengah tenaganya terkuras akibat lari dari rumah menuju sekolah akhirnya Rafa jatuh pingsan. Seketika Rafa langsung dibawa ke UKS oleh seorang guru yang melihatnya.
“Pak, saya dimana?” kata Rafa ketika menyadari dirinya sudah berada di dalam ruangan bersih dan dan berwarna putih. “Kamu sudah sadar? Maafkan bapak ya, bukan bermaksud menyakiti siswa bapak yang berprestasi seperti kamu, tapi kamu harus bertanggung jawab atas kesalahanmu” kata kepala sekolah disamping Rafa.
“Saya mengerti pak, hanya saja saya yang terlalu lemah hingga jatuh pingsan” kata Rafa tersenyum malu.
“Rafaaa…!”, Vika panik memasuki ruang UKS. “Vika, Rafa sudah tidak apa-apa, bapak minta tolong belikan makan ke kantin untuk Rafa!”, kata kepala sekolah sambil menjulurkan uang lima ribu rupiah.
“I. iya pak” kata Vika malu-malu. “sekalian juga untuk kamu vik” tambah kepala sekolah. Dengan sopan Vika langsung meraih uang yang dijulurkan oleh kepala sekolah dan langsung menuju  kantin sekolah.
“Rafa, bapak masih ada pekerjaan lain, bapak tinggal dulu, kamu istirahat saja di sini” kata kepala sekolah sambil berjalan meninggalkan ruang UKS.
Beberapa menit kemudian Vika datang  “Rafa, kamu makan dulu ya!” kata Vika sambil membawa sepiring nasi rames dan segelas teh hangat. “Terimakasih vik, Letakan saja di meja itu” kata Rafa sambil menujuk meja. “Kamu ini Raf, aku tau kamu belum makan, atau mau di suapin nih?” kata Vika sambil menjulurkan makanan ke Rafa.
“Vika, aku bukan anak kecil, ku merasa kebaikanmu itu terlalu berlebihan. Dan aku tak sanggup menerima kebaikanmu Vik” Rafa memandag Vika. “Rafa, kebaikan ini bukan tanpa alasan, aku baik pada kamu karena kamu pantas mendapatkannya karena kamu juga sering membantu aku dalam belajar” Vika meletakan sepiring nasi rames di pangkuan Rafa.  “Terimakasih Vik, kamu memang temanku paling baik, maafkan kata-kataku tadi” Rafa tersenyum pada Vika. Vika membalas senyuman Rafa “Yaudah, aku harus pergi ke kelas dulu” Vika pamit.
Setelah menghabiskan makanan dan meminum obat, Rafa merasa agak baikan. Rafa langsung keluar dari ruang UKS dan menuju kelas. Kegiatan di sekolah hanyalah menunggu hasil ujian kelulusan yang akan di umumkan beberapa hari lagi.
“Rafa, kenapa di sini?” kata Vika saat melihat Rafa memasuki kelas.
“Aku udah baikan Vik” kata Rafa sambil memposisikan dirinya duduk di bangkunya.
“Vik, teman-teman yang lain kemana?” tanya Rafa.
“Teman-teman pada ke kantin Raf” kata Vika tersenyum.
“Oh, gitu ya?” Rafa meletakan kepalanya di atas meja.
“Oia kelas kita akan mengadakan rekreasi bersama dengan kelas tiga yang lain Raf” kata Vika terlihat sangat senang.
“Gitu ya? kemana?” Rafa terlihat kurang tertarik. “hemmm. Denger-denger mau ke malang, sepertinya kamu kurang senang mendengarnya?” kata Vika sambil berjalan mendekati bangku Rafa.
“Aku mau senang juga buat apa vik? Kamu tau sendiri aku ini hanya tinggal bersama abangku” kata Rafa.
“Berarti kamu tidak bisa ikut ya?” tanya Vika dengan nada rendah.
“Kok kamu yang jadi sedih Vik? Hayo kenapa?” tanya Rafa. Vika langsung salah tingkah, “Bukannya sedih Raf, cuma kurang pas aja kalau kamu tak bisa ikut” Vika berdiri meninggalkan Rafa.
Sebenarnya Rafa juga ingin ikut rekreasi namun dia harus mengesampingkan keinginannya, karena dia tak mau merepotkan abangnya. Abang Putra bekerja banting tulang hanya dapat mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Untuk makan saja Putra harus bekerja keras dan tak ada sisa untuk rekreasi.  Sebenarnya Rafa masih memiliki tabungan yang Ia rahasiakan dari Putra. Tabungan tersebut dikumpulkan sejak Rafa duduk di bangku kelas satu SMP dari uang jajannya. Rafa tak pernah membelanjakan uang jajannya di sekolah, uang djajan yang diberikan oleh abangnya selalu ditabungnya untuk biaya masuk SMA nanti. Namun Rafa juga tak pernah berharap bisa masuk SMA jika memang tak ada kesempatan untuk itu Rafa akan menjadi buruh tani.
Tiba-tiba Rafa di kagetkan oleh suara teman-temannya yang berkumpul di dalam kelas. “Rafa, kamu udah tau belum kita mau rekreasi bersama sebagai tanda perpisahan?” kata andika ketua kelas Rafa.
“Iya udah, tapi aku nggak bisa ikut tour ini” knada Rafa sedikit menyesal.
“Kenapa Raf?” kata teman-teman lain.
“Aku harus bantu abangku, karena pada tanggal tersebut abang sangat perlu bantuanku” kata Rafa tersenyum.
“Oh, gitu ya Raf? Sayang yah gak bisa berkumpul bersama” kata beberapa teman. “Iya, maaf ya aku gak bisa ikut” kata Rafa sambil menggaruk kepalanya dan tersenyum.
Hari sudah siang, bell sekolah sudah berbunyi para siswa berhamburan ke luar. Rafa juga berlari menuju pintu gerbang. Dia harus cepat sampai rumahnya untuk memasak buat abangnya. Rafa langsung berlari menelusuri jalan setapak dan hamparan rumput. Perjalanan pulang terasa lebih berat dibanding berangkat ke sekolah, karena jalannya menanjak.
Rafa mampir di warung saat menuju rumah, dia membeli tempe dan telor sebagai lauk buat abangnya. Namun na’as, saat melewati pinggir sawah, Rafa terjatuh ke kubangan lumpur. Tempe yang di belinya terbalut lumpur, dan telor yang di bawanya juga pecah tak karuan. Untung saja masih masih ada satu telor yang utuh dari empat telur yang di belinya. “Untung saja masih tersisa satu telur”, kata Rafa.
Rafa berdiri dan melanjutkan perjalanan pulang dengan hati hati. Baju penuh lumpur dan di tangan kanannya memegang tempe berbalut lumpur sedangkan tangan kirinya memegang satu telur yang tersisa.
Setelah sampai di rumah kecilnya, Rafa meletakan tempe berbalut lumpur dan telornya di dapur. Setelah itu Rafa ganti baju dan merendam bajumya ke cairan deterjen. Tempe yang berlumur lumpur langsung di cuci dan di potong-potong. Sedangkan telurnya di pecah dan di goreng.
“Assalamualaikum” suara Putra terdengar dari luar.
“Walaikum salam” abang kok pulang cepat?” tanya Rafa.
“Iya Raf, abang ada perlu ke kamu” kata Putra terlihat serius.
“Kita makan dulu bang, setelah itu sholat dan baru deh kita ngobrol” jawab Rafa.
“Hehe. Kamu ini Raf, yaudah yuk kita makan” kata Putra.
Rafa mengambil piring dan meletakan nasi jagung di atasnya dan langsung menyerahkannya pada putra.
“loh Raf? Tumben?” tanya Putra. “Biasanya ada empat telur dan tempe di meja ini? kenapa Cuma ada satu dan tempenya juga sedikit!” Putra menambahkan.
“Maaf bang, ini kesalahan Rafa, Rafa tadi jalan kurang hati-hati jadinya jatuh, tiga telurnya pecah bang” Rafa menyesal.
“Hahaha, ngapain sedih? Nih ambil kamu saja telurnya, Abang juga bosen makan telur tiap hari” kata Putra tersenyum.
“Bagaimana kalau kita bagi dua aja?” Rafa langsung membagi telur goreng menjadi dua bagian. Putra tersenyum pada Rafa, dan mereka makan dengan lahap.
Selesai sholat dzuhur keduanya langsung duduk di depan rumah di bawah pohon bambu. “Bang, katanya mau bicara sesuatu?” tanya Rafa.
“Oia abang lupa tadi mau ngomong apa ya?” Putra berpura-pura lupa.
“Idih, Abang ini masih muda sudah pikun” Rafa mencubit lengan Putra.
“Hahaha, bercanda kok Raf.” Putra tertawa dan mengosok lengannya.
“Gini Raf, abang ada teman yang bekerja di malang, kemarin abang bertemu dengannya di jalan” Putra memulai pembicaraan.
“Terus?” Rafa merespon.
Putra menceritakan bahwa dirinya berencana bekerja dengan temannya di malang. Namun Putra gak bisa meninggalkan Rafa sendiri di kampung sendirian. Cara terbaiknya adalah mengajak Rafa ikut bersamanya tinggal di malang. Tak ada penolakan dari Rafa, karena Rafa selalu menurut pada abangnya.
“Yaudah bang, Rafa ikut abang Rafa juga akan bekerja di sana” kata Rafa antusias. “apa? Rafa gak boleh bekerja, Rafa harus sekolah di sana” kata Putra.
“Tapi bang?”.
“Kamu jangan khawatir memikirkan biayanya, abang ada tabungan buat pendidikan SMA Rafa” Putra masuk ke rumah dan keluar membawa kaleng cat bekas.
“Apa itu bang?” tanya Rafa.
“Ini tabungan abang untuk Rafa, abang putuskan untuk menabung ketika Rafa mendapatkan beasiswa di sekolah, biaya yang sudah abang porsikan untuk biaya SMP Rafa abang tabung buat Rafa masuk SMA” kata Putra bangga.
“Rafa juga punya tabungan bang” kata Rafa sabil mengambil bambu yang sudah di sulap jadi celengan.
“Ini bang, tabungan Rafa” kata Rafa terlihat senang. “ini tabungan Rafa? Rafa dapat duit dari mana?” kata Putra heran.
“Ini tabungan uang djajan Rafa dari abang, hehe” kata Rafa cengengesan. “Berarti selama ini Rafa gak pernah jajan di sekolah?” Putra merasa sangat sedih dan matanya berkaca-kaca.
“Loh? Abang kok sedih?” Rafa kebingungan. Putra langsung memeluk Rafa dan menangis. “Rafa, Abang bekerja hanya untuk kamu, karena tak ada lagi keluarga abang selain dirimu” suara Putra berat.
“Iya bang, tapi kenapa abang bersedih?” tanya Rafa lugu. “Abang sedikit, kecewa kerena Rafa tak mau menggunakan uang jajan di sekolah, Rafa pasti menahan diri untuk tidak jajan semata-mata karena kasian pada abang?” kata Putra sambil melepas pelukannya. “Rafa nabung buat biaya SMA bang, membantu abanglah” Rafa tersenyum terpakasa. “Terimaksih Rafa, abang bangga mempunyai adik seperti kamu, tapi mulai saat ini kamu tidak usah menabung”. Kata putra.
“Iya bang, Rafa sudah tidak mau nabung lagi, karena bambunya sudah penuh. Hehehe”
“Kamu ini, Raf banyak alasan!”
“Bang kita pecahin bambunya yuk dan kita hitung berapa banyak tabungan Rafa” ajakRafa antusias. Seketika Rafa langsung membelah bambu itu dengan Parang dan alhasil beberapa uang koin bermaburan. Terlihat mimik wajah Rafa dan Putra di selimuti kebahagiaan.
Kota Baru dan Teman Baru
Seminggu berlalu, setelah pengumuman kelulusan, Rafa langsung memutuskan untuk berpamitan ke guru-guru dan ke teman-temannya karena besok dia harus pindah ke luar kota. Namun Rafa tidak mendapati Vika, akhirnya dia putuskan untuk menitipkan salam untuk Vika pada teman-temannya. Di tengah perjalanan Rafa dikejutkan oleh Vika yang menunggunya di persimpangan jalan.
“Rafa, aku dengar kamu mau ke luar kota ya?” tanya Vika.
“Iya vik, tadi aku sudah pamit pada guru-guru dan teman-teman namun aku tak melihatmu di sekolah jadi aku putuskan untuk titip salam untukmu” kata Rafa memandang Vika.
“Ke kota mana? Sampai kapan Raf”  Vika mendekati Rafa.
“Ke kota malang vik, entah sampai kapan aku tak tahu” kata Rafa.
“Hati-hati ya di kota orang, jangan nakal Raf, aku hanya bisa mendoakan kamu dan berharap kita bisa bertemu lagi.” mata Vika berkaca-kaca.
“Terimakasih vik, bolehkah aku tahu kenapa selama ini kamu selalu baik dan perhatian padaku?” tanya Rafa.
“Kamu ingin tau? Aku baik padamu karena aku suka padamu” Vika langsung berlari meninggalkan Rafa. Mendengar itu Rafa hanya bisa diam melihat Vika berlari menjauhi dirinya.
“Sampai jumpa Vik” kata Rafa pelan.
Rafa melanjutkan perjalananya menuju rumah kecil di atas bukit. Di perjalanan pulang Rafa terus memikirkan Vika dan semua kenangan bersama teman-temannya. sesampainya di rumah Rafa langsung berkemas untuk keberangkatannya besok pagi. Putra hari ini sudah tidak bekerja lagi dia juga berkemas-kemas merapikan barang bawaanya untuk hijrah ke kota malang. sebelumnya Putra telah meminta tolong temannya agar mencarikan kontrakan di sana.
“Loh? Rafa kok Melamun?, tanya Putra ketika mendapati Rafa melamun di kamarnya.
“Eh, abang. Siapa yang melamun?” Rafa mengelak.
“Hahaha, rafa aku ini kakak kamuy jadi aku hafal sikap kamu, ada masalah apa?”
“Hehe, yaudah aku cerita, tapi jangan diketawain bang”
“Iya, Abang janji”
“Gini bang, Rafa punya teman baik banget namanya Vika” Rafa memulai bercerita.
Rafa menceritakan tentang kebaikan Vika dari mulai Sekolah dasar hingga dia lulus SMP. Rafa juga menceritakan kejadian tadi siang ketika Vika bilang suka pada Rafa dan langsung pergi. Putra hanya tersenyum mendengar detail dari cerita Rafa.
“Adik suka gak ke Vika?”
“Suka gimana bang?”
“Yah siapa tau adik itu punya perasaan lain ke Vika?”
“Abang, Rafa itu tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Vika, Yang Rafa rasakan biasa saja seperti teman-teman lain. Bener juga sih kalau Rafa lebih respect pada Vika soalnya Vika itu sangat baik pada Rafa”
“Oh, beneran nih?”
“Iya Bang, Percaya deh pada Rafa”
“Iya percaya, Oia berarti Vika itu orang sangat baik pada Rafa? Kenapa Rafa tidak pamitan secara baik-baik padanya? Kalau bisa memberikan kenang-kenangan untuknya” Putra memberikan saran.
“Iya bang, Rafa juga berfikiran begitu, tapi apa yang akan Rafa berikan padanya?”
“Bagaimana Kalau Gantungan kunci ini?” Putra menunjuk gantungan kunci yang ada di lemari Rafa.
“Ih, ini kan gantungan kunci yang rafa buat sendiri, bentuknya juga jelek kok” kata Rafa protes.
“Maka dari itu, Pasti ini akan menjadi Hadiah terbesar Vika karena ini adalah buatan Rafa sendiri” Putra tersenyum.
Hari sudah mulai Sore, Rafa langsung berlari menuju rumah Vika. Perjalanan ke rumah Vika memakan waktu 30 menit. Sesampainya di rumah vika, rafa mengetuk pinyu dan yang membukakan pintunya adalah Vika sendiri.
“Asalamualaikum Vik”, Rafa tersenyum.
“Walaikumsalam, Rafa ada apa?” tanya Vika terkejut.
“Vik, Aku mau pamit dan mengucapkan banyak terimakash atas semuanya dari kamu untukku”
“Masuk dulu Raf”
“Ah tak usah Vik, Aku Cuma bentar saja takut kemaleman, nih kenang-kenangan dari aku”, Rafa menjulurkan gantungan kunci berbentuk orang.
“Terimakasih Raf” vika tersenyum.
“Yaudah, aku pamit dulu Vik”
“Tunggu, aku ambil sesuatu”, Vika berlari menuju kamarnya.
Beberapa menit kemudian Vika kembali lagi ke teras rumah.
“Raf, ini buat kamu”, vika menjulurkan Sapu tangan berwarna biru muda unutk Rafa.
“Eh, apa ini?”
“Itu kenangan dariku untuk kamu, semoga kamu tidak pernah melupakan aku” kata Vika tersenyum.
“Yaudah, aku simpan saja ya Vik, sampai jumpa. Assalamualaikum”
“Walaikum salam”
**************
Suara kokok ayam terdengar dari kejauhan. “Rafa, udah shubuh, kita sholat dulu yuk” ajak Putra. Tanpa di perintah dua kali Rafa langsung ke kamar mandi dan berwudlu. Mereka berdua bersholat jamaah untuk yang terakhir kalinya di gubuk kecil itu. Ketika matahari sudah terbit, Rafa dan Putra langsung menuju ke rumah kepala desa. Dia berpamitan dan menitipkan kunci kepada kepala desa agar jika ada yang mau menempati gubuk itu bisa memberikan kuncinya. Hal ini dilakukan oleh Putra agar rumah kecil itu masih ada yang merawatnya.
Setelah sarapan di sebuah warung makan dekat terminal, Putra langsung menuju peron dan menaiki bus jurusan malang.
“Rafa, mungkin kita akan lama meninggalkan kota kelahiran kita ini” kata Putra.
“Iya bang, semoga di tempat yang baru hidup kita lebih sejahtera.” Kata Rafa tersenyum.
“Amin! abang akan berusaha membahagiakan adek abang ini” Putra menggandeng tangan Rafa.
“Terimakasih bang, pasti almarhum bapak dan ibu senang melihat anaknya bernama Putra Ardiansyah sangat baik pada adiknya” Rafa tertawa sambil mencolek pinggang abangnya.
“Hehehe, iya pasti mereka juga sangat bangga karena anaknya yang bernama Rafa J.Septian merupakan anak yang kecerdasannya di atas rata-rata” balas Putra sambil menaiki bus antar kota. Mereka berdua tertawa bersama hingga akhirnya Rafa tertidur dan Putra pun juga tertidur di atas bus tujuan malang.
Menempuh perjalanan yang sangat panjang akhirnya mereka tiba di terminal arjosari malang. “Putra” joni teman Putra melambaikan tangannya. “Hai jon, terimakasih sudah menjemput kami” kata Putra sambil berjabat tangan. Akhirnya Putra dibonceng oleh joni, sedangkan Rafa bersama teman joni. Mereka langsung menuju rumah kontrakan milik joni. “Jon, beneran kita boleh numpang di tempat kamu?” kata Putra agak ragu.
“Santai aja put, kamu tinggal di sini aja dulu” kata joni penuh ramah tamah.
“Ini Rafa yang dulu masih kecil itu put? Kok beda yah ma kamu” kata joni ketika melihat Rafa.
“Kenapa jon? Lebih ganteng aku ya?” kata Putra sambil berkaca di cermin.
“Hahaha…mulai dulu kamu itu nggak berubah Put, narsisnya minta ampun coba kamu kaca pake spion bus di terminal tadi, pasti ketahuan perbedaannya. Hahaha” Joni tertawa lepas di ikuti Putra.
“Iyalah Jon, Rafa lebih ganteng, karena dia ini anak kedua pastinya ortuku dulu sudah mahir dan tau tekhniknya jadi gak asal coba seperti aku. Hehehe” kata Putra sambil merangkul Rafa. Rafa hanya tertawa kecil dan tersenyum malu karena Rafa masih canggung bergaul dengan teman-teman abangnya itu.
Dua hari berlalu akhirnya Rafa dan Putra bisa tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil yang sederhana. Putra juga sudah mulai bekerja di sebuah pabrik di malang. Sedangkan Rafa hanya menghabiskan waktunya di kontrakan dengan belajar untuk mengikuti tes masuk salah satu SMA negeri di malang, meskipun bukan SMA unggulan tapi Rafa sangat bersyukur jika masuk ke SMA itu. hingga pada saatnya tiba waktu penerimaan siswa baru di mulai. Rafa segera mendaftarkan dirinya di SMA tersebut.
Seminggu setelah ujian masuk, akhirnya nama Rafa terpajang di papan pengumuman di depan sekolah tersebut. Untung saja tabungan Rafa dan Putra cukup menutupi uang administrasi masuk SMA negeri itu.
“Rafa, abang makin bangga karena akhirnya Rafa bisa masuk SMA tidak seperti abang hanya lulusan SD, hehehe” kata puta ketika mereka makan berdua di rumah kontrakannya.
“Iya bang, Rafa senang bisa membahagiakan abang, dan Rafa bangga punya abang seperti bang Putra,” Rafa juga membalas pujiannya. Rafa juga janji tidak akan mengecewakan abang” kata Rafa tersenyum pada abangnya.
Hari ini adalah hari pertama Rafa masuk sekolah, seperti halnya sekolah lain hari pertama di isi acara masa orientasi siswa (MOS). Rafa berbaris di bagian depan, karena Rafa tergolong anak yang tinggi. Tiba-tiba seorang kakak pendamping Mos menegur Rafa, “Heh, nama kamu siapa?” tanya kakak angkat pendamping MOS.
“Rafa kak” suara Rafa terlihat gugup.
“Rafa, karena kamu cowok dan tinggi, kakak harap kamu jadi pemimpin kelompok kita” sambil menunjuk Rafa . “Saya kak?” Rafa ragu. “Iya kamu, emang siapa lagi di sini yang bernama Rafa? Oia ketua kelompok bisa dikatakan ketua kelas dalam MOS ini” suaranya agak sinis.
Akhirnya Rafa maju dan menerima slempang tanda ketua kelas. Sebagai ketua kelas Rafa harus terlihat ramah dan tegas di depan teman-temannya meskipun sebenarnya Rafa tergolong anak pemalu. Berbagai perlombaan pengisi acara masa orientasi siswa, kelas yang di pimpin oleh Rafa lebih unggul dari yang lain. Hal ini membuat Rafa jadi terkenal sebagai pemimpin kelompok terbaik.
Seminggu berlalu, akhirnya masa orientasi siswa telah usai. Dan aktivitas belajar mengajar segera dimulai. Rafa sebagai ketua regu saat mos langsung dipilih oleh teman-temannya sebagai ketua kelas.
“Assalamualaikum, selamat pagi semuanya” kata seorang guru perempuan muda dan cantik saat memasuki ruangan.
“Walaikumsalam” semua siswa langsung menjawab salam dengan kompak.
“Perkenalkan nama saya ibu Retno, guru ekonomi sekaligus wali kelas kalian. Siapa ketua kelas di kelas ini?” ibu retno terlihat ramah.
“Rafa bu, Rafa ketua kelasnya” semua teman-teman Rafa menunjuk ke arahnya.
“baiklah kalau sudah ada ketua kelasnya, ibu harap ketua kelas duduknya di bangku depan” kata ibu retno sambil meminta Rafa agar pindah.
“Tapi bu? Semua bangku sudah terisi dan tak mungkin kami berpindah tempat” kata seorang siswa di belakang.
“Kata siapa? kan bisa dirombak? Biar ibu yang menentukan tempat duduk kalian, dan setiap semester tempat duduk kalian bisa berubah lagi.” kata ibu retno sambil berdiri melihat kearah para siswa.
“Ibu belum kenal pada kalian semua, maka ibu rasa cara ibu mengacak tempat duduk kalian dapat dikatakan adil” ibu retno mulai membuka buku absen.
Semua siswa diminta untuk berdiri di depan kelas dan menunggu giliran di panggil untuk menempati bangku. Rafa mendapat bangku paling depan, teman sebangkunya bernama Rizki yang terlihat sangat acuh. “Mampus diriku harus duduk di depan” kata Rizki agak kecewa.
“Maaf, emang kenapa kok kayaknya takut duduk di depan?” Rafa penasaran dengan sikap Rizki. “Gini pak ketua, aku itu paling lemah kalau urusan hitung-hitungan, gak kebayang kalau nanti pas pelajaran matematika, fisika, kimia dan lain sebagainya aku akan mati kutu jika di tunjuk guru pak” Rizki terlihat sangat khawatir.
“Gak harus panggil aku pak Riz” Rafa protes. “Kenapa? Kamu nggak suka? Atau kamu mau aku panggil tuan?” Rizki menatap Rafa dengan tajam. “Haduh, kok malah marah-marah Riz? aku hanya ingin di panggil Rafa” Rafa melihat ke papan tulis.
“Heh, meski kamu itu ketua kelas, aku gak akan biarkan kamu seenaknya saja Raf” Rizki memandang Rafa. “tTerserah, yang penting aku itu gak pernah merugikan kamu” Rafa melihat ibu retno yang sibuk membagi tempat duduk. “Jika kamu mau pindah, aku panggil bu Retno” kata Rafa.
“Emang kamu berani?” kata Rizki.
“Berani” Rafa langsung mengangkat tangannya.
“Ada apa Raf?” tanya ibu Tetno. Rizki dengan seketika langsung meremas paha Rafa, “Saya mau tanya bu, jika ada teman yang penglihatannya kurang bagus bagaimana?” Rafa menanyakan sesuatu yang tak diduga oleh Rizki. “Bisa ditukar dengan yang lain, tapi nanti setelah semuanya duduk di tempatnya” ibu Retno melanjutkan membagi tempat duduk. Rafa melihat ke arah Rizki tersenyum, Rizki tersenyum kecut.
“Ok, semua sudah duduk di bangku masing-masing. Kalian bisa tukar tempat duduk jika ada keluhan dengan penglihatan kalian.” Kata ibu retno tegas. “Rafa, ibu minta kamu buat denah kelas dan kamu tempel di pojok meja guru.” Perintah ibu Retno. “Baik bu, saya laksanakan” Rafa langsung mengeluarkan penggaris dan bolpoin. “pakai kertas ini aja Raf” Rizki memberikan kertas hvs putih.
“Weh, terimakasih Riz, mulai tadi kamu bersikap baik seperti itu kan enak, siapa tau kita bisa jadi teman yang baik” kata Rafa tersenyum.
“Maaf ya Raf, aku hanya sedikit stress aja ketika harus duduk di depan” Rizki memnita maaf. “Tenang saja Riz, nanti akan ku bantu kamu dalam belajar, ok” Rafa menyemangati Rizki.
Akhirnya pelajaran pertama dimulai yakni pelajaran ekonomi. Dengan penuh keseriusan Rafa mengikuti pelajaran yang di berikan oleh guru-ruru. Hingga akhirnya tak terasa enam jam berlalu Rafa menimba ilmu di hari pertama itu. Hari pertama belajar, Rafa mendapat banyak tugas rumah dari guru-guru. Namun tugasnya masih bisa dikerjakan dengan mudah, karena pelajarannya masih ada hubungannya dengan pelajaran SMP.
“Rafa..Rafa..tunggu Raf” suara Rizki memanggil nama Rafa. Rafa langsung berhenti di pinggir jalan. “Ada apa Riz? Mana motor kamu? Kok malah lari-lari gak karuan gitu?” tanya Rafa yang heran ketika Rizki mengejarnya di gerbang sekolah. “aku butuh bantuan kamu Raf, motorku gak bisa dinyalain” kata Rizki sambil mengatur nafasnya.
“Emang kenapa Riz? mana motormu?” tanya Rafa. “di parkiran Raf” kata Rizki sambil menarik tangan Rafa menuju tempat parkir. Rafa langsung berlari menuju tempat parkir bersama Rizki.
“Oh, mungkin businya Riz” kata Rafa sambil mencoba menghidupkan mesin motor. “Aku kurang tau Raf, aku bisanya hanya naik motor aja Raf hehehe” Rizki tertawa sambil mengusap keringatnya.
“Yaudah buka bagasi motormu, siapa tau ada peralatan yang bisa digunakan” Rafa menyuruh Rizki. Setelah dibuka ternyata di dalam jock motor terdapat beberapa obeng, kunci dan ampelas. Langsung saja Rafa membuka busi motor Rizki dan mengampelas ujung businya. “Raf, kira-kira bisa nggak?” tanya Rizki panik.
“Tenang aja Riz, aku yakin bisa kok” kata Rafa percaya diri. Setelah busi dipasang kembali, akhirnya Rafa bisa menyalakan mesin motor milik Rizki. “Bener kan bisa?” Rafa tersenyum pada Rizki. “Rizki terlihat sangat senang karena motornya akhirnya bisa di gunakan.
“Raf, terimakasih ya. biar aku antar kamu pulang” kata Rizki. Seketika Rafa langsung ingat bahwa dirinya sudah terlambat pulang. “Waduh Riz, aku udah terlambat pulang” Rafa terlihat panik. “Yaudah, ayo aku antar kamu pulang Raf” kata Rizki.
Tanpa basa-basi Rafa langsung bonceng di belakang Rizki dan langsung menuju rumahnya. Jarak antara sekolah ke rumah Rafa sekitar 1 KM, Rafa memilih untuk jalan kaki karena memang dia tidak punya kendaraan apapun. Beberapa gank sudah di lalui, Rafa terus mengarahkan Rizki memasuki gang sempit menuju perkampungan padat.
“Rafa, ini rumah kamu?” Rizki terlihat terkejut ketika melihat rumah Rafa yang kecil dan sesak. “Iya Riz, ini tempat tinggalku di malang” kata Rafa sambil memasukan anak kunci ke lobangnya. “Ayo Riz masuk dulu” ajak Rafa.
Rizki mengikuti Rafa dari belakang, Rizki mengamati seluruh sudut ruangan tamu berukuran 4X4 beralaskan karpet berwarna biru. Rizki langsung memposisikan diri duduk di atas karpet dekat jendela. “Rafa, mana orang tua kamu?” Rizki bertanya dengan ragu.
“Sebentar ya Riz, nanti ku ceritain, aku ganti baju dulu ok” kata Rafa berlalu menuju kamarnya. Rizki hanya terdiam ketika melihat Rafa membuka seragamnya sambil berjalan menuju kamarnya.
“Riz, kamu mau minum apa? Adanya hanya teh dan air putih, hehehe” kata Rafa keluar dari kamar memakai boxer dan kaos kuning bergantung di bahu kirinya. Rizki langsung tercengang melihat Rafa bertelanjang dada.
“Riz,?” Rafa meminta kepastian Rizki untuk minum apa. “Eh. Air putih aja Raf” kata Rizki gugup. “Biasa ajalah Riz, jangan malu-malu gitu cuma air putih ngomongnya udah gugup” kata Rafa meledek Rizki. Rizki hanya tersenyum dan mukanya memerah. Jelang beberapa detik Rafa keluar dari dapur membawa dua gelas kosong dan satu teko air putih. kali ini Rafa sudah memakai kaos kuningnya.
“Oia Raf, kamu belum jawab pertanyaanku tadi, mana orang tua kamu? Lagi kerja ya?” tanya Rizki sambil meneguk air putih.
“Aku tinggal dengan abangku Riz” jawab Rafa.
“lah terus? Orang tua kamu dimana?” Rizki meletakkan gelas kosong sambil menatap Rafa. “Meninggal Riz” Rafa menerawang.
“innanillah, kapan meninggalnya Raf?” Rizki terlihat sangat terkejut.
ayahku meninggal karena kecelakaan saat aku berumur 16 bulan, sehingga aku hanya tahu wajah bapak dari foto satu-satunya yang ada di abang Putra. Ibu juga menyusul ayah karena sakit keras ketika aku berumur 4 tahun. mulai umur 4 tahun aku di rawat oleh abang Putra kakak kandungku. Aku tinggal di kabupaten jember menempati gubuk kecil peninggalan orang tua kami. Abang yang saat itu berumur 11 tahun sudah harus bekerja menghidupi dirinya dan diriku. untunglah masih ada beberapa tetangga yang selalu membantu kami, termasuk bapak kepala desa. Namun abang tak pernah berhenti bekerja demi menghidupi diriku. terkadang aku juga mengutarakan ingin berhenti sekolah dan ikut bekerja dengannya, namun abang melarangku. Kata abang, aku hanya harapan hidupnya dan tak ada yang lain. Hingga akhirnya beberapa minggu yang lalu aku pindah ke malang, karena abang mau mengadu nasib di kota ini.” Rafa mengakhiri ceritanya dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar cerita Rafa, Rizki larut di dalamnya dan mata Rizki berkaca-kaca.
“Raf, kamu yang tabah yah, pasti kamu akan mendapatkan kebahagiaan nantinya” kata Rizki. “Pastilah Riz. aku harus bisa menjadi orang yang sukses agar aku bisa membahagiakan abang Putra” Rafa tersenyum dan mengusap keringatnya.
“Aku pikir kamu adalah anak orang kaya yang sombong Raf, ternyata hanya orang sederhana yang baik hati” Rizki memuji Rafa.
“Baik hati? Haha. baru kenal aja bilang udah baik kamu Riz” kata Rafa.
“Hmmm, lebih tepatnya baru akrab, sebenarnya aku tuh udah memperhatikan sikap kamu semenjak masa orientasi siswa kemarin, dan kamu merupakan sosok ketua yang bertanggung jawab, tapi sedikit sombong” kata Rizki sambil tertawa kecil.
“Haduh, aku bukan sombong Riz, aku hanya kurang supel aja, sulit bagiku untuk menegur dan mengulurkan tangan kemudian berkenalan” Rafa membela diri.
“Iya, iya, pembelaan di terima. Hehehe” Rizki tertawa.
“Riz, sudah jam tiga sore tuh, sebaiknya kamu pulang dulu!, ntar orang tua kamu resah” kata Rafa sambil melihat jam dinding. “Halah, mama gak pernah ngurus diriku dia selalu menyibukan dirinya” kata Rizki enteng.
“Ya ampun aku lupa Riz, seharusnya aku masak buat abang, sebentar lagi abang pulang” kata Rafa terkejut dan panik.
“Yaudah, aku bantu kamu masak, bantu sebisaku aja, karena aku tidak bisa memasak. Hehe” kata Rizki.
“Okelah Riz, aku minta tolong kamu kupasin kentang dan wortel itu, aku mau cuci beras dulu” Rafa langsung menuju belakang rumah. setelah kembali dari mencuci beras Rafa terkejut “Ya ampun Riz, ngupasnya kok tebal banget?” tegur Rafa.
“Maaf Raf, aku belum pernah ngupas kentang.” Rizki menyesal.
“Yaudah, biar aku saja yang ngupas, tolong kamu potongin tempe di atas meja” kata Rafa. “Ntar salah lagi Raf” Rizki ragu.
“Kalau tempe gak masalah tebal atau tipis, kamu pasti bisa” kata Rafa menahan tawa.
Dengan sigap Rizki langsung memotong tempe di atas meja. “Rafa, udah beres nih” kata Rizki sambil memperlihatkan hasilnya.
“hahaaha… kamu gak pernah liat ibumu masak ya? motong tempe kok sembarangan?” kata Rafa melihat hasil pekerjaan Rizki.
“Tuh, bener kan salah lagi, aku tadi sudah bilang bakalan salah.” Kata Rizki sedikit protes. “hehehe. Aku kan tadi bilang, gak masalah tebal tipis motong tempenya, bukan memotong sembarangan tak beraturan seperti itu” Rafa tertawa melihat hasil pekerjaan Rizki.
“Assalamualaikum” suara Putra memasuki ruang tamu. “Walaikumsalam” Rafa langsung mencium tangan Putra. “Wah, ada tamu nih!” Putra melihat ke arah Rizki. “Iya bang, teman sekolah namanya Rizki” kata Rafa. Rizki langsung bersalaman dengan Putra. “Yaudah, silahkan abang mau mandi dulu” kata Putra ramah. “Iya bang, setelah mandi langsung makan ya” kata Rafa sambil meneruskankan pekerjaannya di dapur.
Raf, itu abangmu yang tadi kau ceritakan?” Rizki bertanya. “Iya, kenapa Riz?” tanya Rafa. “emmmm. Kayaknya kalian beda yah” Rizki sedikit ragu mengatakannya.
“Bukan hanya kamu yang bilang begitu Riz, tapi sudah banyak teman-teman abang juga berpendapat begitu, lebih ganteng aku yah? Hahaha” kata Rafa sambil tertawa.
“Ih, GR banget kamu, tapi jujur emang iya. Hehehe” kata Rizki.
“Yah, aku juga pasti seperti abang, berkulit agak gelap dan rambut acak-acakan, jika aku menjadi pekerja keras seperti dirinya” kata Rafa sambil meletakan tempe di meja. “Maaf ya Raf, aku gak bermaksud..” kata Rizki. “Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, kamu ikut makan yah” ajak Rafa. “udah terimakasih Raf, aku harus pulang” kata Rizki menolak ajakan Rafa.
“Kamu nggak suka ya makan masakan ini?” tuduh Rafa. “Bukan gitu kawan, aku sudah kenyang” jawab Rizki. “ketahuan nih sukanya berbohong, kamu kan belum makan?” Rafa sedikit meledeknya. “Hehehe, bukan begitu kawan, aku gak enak saja. Jika aku ikut makan disini pasti beban kalian tambah berat hari ini” kata Rizki tak enak hati.
“Kamu gak usah berfikiran begitu dek” kata Putra sambil memegang pundak Rizki dari belakang. “Eh mas, maaf yah jadi ngerepotin” kata Rizki malu-malu. “Iya bang, padahal makanan ini cukup buat kita semua” kata Rafa tersenyum pada Putra. “Yaudah, ayo kita makan dulu, silahkan Riz” kata Putra. Rizki malu-malu dan akhirnya mereka bertiga akan bersama. Khirnya Rafa memiliki sahabat baru setelah Vika yang dapat menerima dirinya apa adanya.
Apakah aku Gay?
“Rafa, abang keluar dulu yah, mungkin abang pulangnya larut malam, jadi kamu harus tidur sendirian di rumah” kata Putra. “Abang mau kemana? Kok rapi banget? Wangi lagi.” Rafa melihat abangnya berpenampilan rapi dan tampak lebih tampan.
“Abang ada perlu, emangnya kenapa? Nggak boleh abang menyisir rambut, sedikit rapi?” kata Putra tersenyum pada Rafa.
“Hahaha. Bolehlah, coba abang selalu berpenampilan seperti ini, pasti banyak cewek cantik naksir abang.”, Rafa memperhatikan Putra dari kaki hingga kepala . Putra tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dan langsung pamit berangkat.
Ke esokan harinya ternyata Putra belum bangun dari tidurnya. “Bang, bangun udah siang” Rafa membangunkan abangnya. “Iya, sekarang jam berapa Raf?” Putra mengucek matanya. “udah jam enam pagi bang, bentar lagi Rafa berangkat.
“Ya ampun, udah siang yah?” Putra langsung beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Rafa masih membersihkan ruang tamu dan meletakan sepatunya di depan rumah.
“Rafa, ini uang jajan kamu, ingat jangan di tabung lagi seperti dulu, uang jajan ini buat jajan di sekolah gak boleh di bawa pulang” kata Putra mengingatkan Rafa. “Iya bang, terimakasih. Rafa berangkat dulu yah”, Rafa menyalami dan mencium tangan abangnya.
Menyusuri gang sempit Rafa teringat saat SMP dulu, untuk mencapai sekolah dia harus menyusuri jalan setapak dan kebun, namun sekarang untuk mencapai sekolah dia menyusuri gang kecil di perkampungan padat. Tiba-tiba Rafa di kejutkan dengan motor yang mengarah lurus padanya.
“Rizki? Ngapain disini?” Rafa terkejut saat pengendara motor itu ternyata Rizki. “Hehe, aku rencana mau jemput kamu bro” kata Rizki sambil berusaha memutar motornya. “’Gak usah repot-repot Riz aku biasa jalan kaki” Rafa jadi tak enak hati.
“Ayo dari pada nanti kamu telat” ajak Rizki. Rafa langsung ikut Rizki di atas motornya menuju sekolah.
“Riz, terimakasih atas tumpangannya” kata Rafa sambil menunggu Rizki yang memarkir motornya.
“Hai Rafa” kata dua gadis cantik yang lewat di depan Rafa. “Hai juga” Rafa melihat ke arah mereka dan tersenyum. Keduanya langsung tertawa dan salah tingkah.
“Cie, siapa tuh?” tanya Rizki. “Gak tau juga, tadi tiba-tiba nyapa aku, yah ku sapa balik” Rafa menjawab datar sambil melangkahkan kakinya menuju kelas.
Ketika melewati papan pengumuman Rafa langsung berhenti. Dia membaca ada  tulisan BEASISWA di papan pengumuman. Dengan sigap Rafa langsung mengeluarkan buku dan bulpoinnya untuk mencatat poin-poin penting dari pengumuman itu. “Raf, kamu mau ngajuin beasiswa ya?” tanya Rizki. “Iya Riz, untuk meringankan beban abang” Rafa menjawab dengan senyumannya.
“Rafa, kamu tertarik dengan beasiswa itu?” suara ibu Retno mengagetkan Rafa dan Rizki. “Eh, bu Retno” Rafa langsung mencium tangan wali kelasnya. Sikap Rafa yang hormat kepada guru-guru membuat para guru sangat mengenalnya. Rizki juga ikut-ikutan mencium tangan ibu Retno, meskipun sebenarnya jarang bagi siswa SMA bersikap seperti anak sekolah dasar bersalaman dan mencium tangan guru-gurunya. Apalagi budaya di kota yang kurang menghargai guru.
“Yaudah, ibu yakin kamu bisa dapat beasiswa itu Raf, karena kamu siswa ibu yang paling cerdas di kelas.” Ibu retno langsung pergi menuju ruang guru. “Cie, paling cerdas neh, ckckck” ledek Rizki sambil terkekeh. “Ngiri ya? hahaha” Rafa juga ikut tertawa. Dan akhirnya Rafa dan Rizki langsung menuju kelas.
Dua minggu berlalu, tak disangka Rafa berhasil mendapatkan beasiswa di sekolah itu, dia tidak khawatir lagi dengan biaya sekolah dan buku-buku sekolah. Rafa menyampaikan kabar tersebut pada abangnya.
“Bang, aku dapat beasiswa di sekolah, dua minggu yang lalu aku mendaftarkan diri dan Alhamdulillah aku lolos” kata Rafa saat duduk bersama abangnya di ruang tamu.
“Abang bangga padamu Raf, gak nyangka meski kamu di kota dan abang yakin sainganmu banyak di sini kamu masih saja mendapatkan beasiswa berprestasi” kata Putra sambil mengelus kepala Rafa.
“Oia, sebentar lagi abang mau keluar dulu”, kata Putra sambil berlalu menuju kamarnya.
“Kemana bang? Kok hampir setiap malam abang keluar dan pakaiannya selalu rapi?” kata Rafa. “Abang ada urusan dek” kata Putra dari dalam kamar.
“Abang udah punya pacar ya? Hayo ngaku saja.” Rafa menyusul Putra ke kamarnya. Pada  saat itu Putra sedang memakai celana dalam, namun Putra bersikap biasa aja karena mereka berdua selalu ganti baju atau mandi bersama-sama. “Mana ada cewek yang naksir abang?” kata Putra.
“Yaudahlah, kalau abang gak mau cerita, yang penting abang tidak lupa ma Aku” kata Rafa sambil memeluk tubuh Putra bertelanjang dada. “Iyalah, abang gak akan menelantarkan adik abang” Putra mengelus rambut Rafa.
Setahun berlalu, perlahan kehidupan Putra dan Rafa mulai membaik. Mereka berdua juga telah pindah kontrakan, kontrakan mereka lebih besar dari kontrakan yang lama. Rafa juga mendapatkan hadiah handphone pertamanya dari Putra saat kenaikan kelas. Rafa dan Rizki semakin akrab dan beberapa kali Rizki mengajak Rafa menginap di rumahnya.
“Raf, kamu tau Nnany anak kelas XI IPS3?” kata Rizki saat mereka belajar kelompok di rumahnya. “Hmmm.  yang cantik itu Riz?” kata Rafa tersenyum.
“Iya Raf, dia minta nomor hp kamu, aku yakin dia pasti suka ma kamu” Rizki antusias bercerita. Rafa hanya diam dan seperti memikirkan sesuatu. “Raf? Kamu kok diem? Nany cantik loh” kata Rizki menambahkan.
Rafa kaget dan langsung menjawab pertanyaan Rizki. “jangan dulu Riz, aku belum siap” kata Rafa. “Belum siap gimana maksud kamu?” Rizki heran. “Nanti ajalah aku ceritakan, ayo kita kerjakan dulu tugas Akuntansinya” kata Rafa mengalihkan pembicaraan.
Siang hari di depan Toilet Rafa dan Rizki mengobrol. “Rafa, sudah seminggu aku di desak oleh teman-teman Nany buat dapetin nomor kamu, aku bilang kalau kamu gak ada hape bro, tapi sampai kapan aku harus beralasan?” kata Rizki.
“Riz, kau bisa jaga rahasia nggak?” kata Rafa. “Weh kayaknya ada masalah ni, Rizki bisa di andalkan Raf” kata Rizki percaya diri.
“Yaudah kamu ikut aku kebelakang sekolah sekarang” Rafa mengajak Rizki. Sesampainya di belakang sekolah Rafa bercerita mengenai dirinya. “Riz, aku mau cerita ma kamu, dulu ada cewek saat aku SMP namanya Vika, menurut aku dia sangat cantik dan baik, hingga akhirnya dia mengatakan bahwa dia suka pada diriku. namun aku tak ada rasa apa-apa padanya dia seperti teman-temanku yang lain, dan sekarang ada Nany, tadi aku jumpa dengannya dan dia juga bilang kalau dia suka padaku. aku tak tahu ada apa dengan diriku cewek secantik mereka bisa-bisanya aku tolak.” Kata Rafa mengakhiri ceritanya.
“APA? Nany nembak kamu? Dan kamu tolak?” kata Rizki kaget. “Iya Riz, aku tak tahu ada apa dengan diriku” Rafa menundukan kepalanya.
“Maaf ya Raf, jangan-jangan kamu seorang GAY?” Rizki mengatakannya perlahan. “GAY? Apa itu?” kata Rafa kebingungan. “Sssst..! Jangan Keas-keras. kamu gak tau GAY? Ya ampun Raf kamu dari planet mana sih?” Rizki geram karena keluguan Rafa.
“Beneran aku gak tau Riz” kata Rafa kebingungan. Tiba-tiba Rizki tersenyum aneh pada Rafa. “Ngapain senyum-senyum Riz? ada yang salah dengan diriku?” Rafa risih melihat sikap Rizki. “Lucu aja ma kamu, kenapa kamu kuper banget yah? yaudah nanti kamu ikut aku” kata Rizki.
“Ok, Ayo masuk ke kelas dulu, sebentar lagi pelajaran di mualai” ajak Rafa.
Sepulang sekolah Rafa langsung dibawa Rizki ke rumahnya. “Riz, kok kamu gak antar aku ke rumah?” tanya Rafa kebingungan. “Katanya kamu gak tau apa itu GAY? Dan aku berniat memberitahumu Raf” kata Rizki sambil menarik Rafa masuk ke rumahnya.
“Kamu tunggu di dalam kamar saja Raf, aku mau ambil minum dulu” kata Rizki sambil berlalu masuk ke dapur. Rafa sudah hafal rumah Rizki karena dia sering belajar kelompok di rumah ini. seperti biasa Rafa langsung duduk di atas tempat tidur Rafa. “Minum dulu Raf, nanti jam 14:00 aku akan antar kamu pulang” kata Rizki.
“Iya Riz aku harus masak buat abang” Rafa menerima segelas sirup orange dan langsung menegaknya. “Oia, beneran kamu nggak tahu apa itu GAY?” kata Rizki sambil mendekati Rafa. “Iya, beneran aku nggak tahu apa itu, apakah itu sebuah singkatan?” tanya Rafa kebingungan.
“Hahaha…dasar bego, zaman udah maju kan ada internet Raf” Rizki tertawa. “loh, emang aku harus gimana Riz, komputer aja baru bisa setelah kamu ajari kemarin” tanya Rafa agak penasaran. “Yaudah, kamu cari aja di google apa itu gay, kalau belum tau nanti aku yang beri tahu kamu” kata Rizki sambil menyalakan komputernya.
Rafa langsung memposisikan dirinya di depan komputer Rizki dan mulai mengetik kata gay di kotak pencarian google. Rizki hanya mengamati Rafa dari tempat tidurnya dengan senyuman yang aneh. Sesekali Rafa menoleh ke arah Rizki dan juga ikut senyum malu-malu. Dan akhirnya layar komputer menampilkan hasil pencarian google.
Rafa terlihat serius membaca tulisan yang ada di dunai maya mengenai apa itu gay, tiba-tiba Rafa langsung menoleh ke arah Rizki, “Riz, emang ada cowok suka ama cowok seperti yang ada di tulisan ini?” tanya Rafa penuh penasaran. Rizki hanya tertawa kecil dan menghampiri Rafa, “Raf. liat gambar-gambar ini, apa ini belum cukup bagimu untuk percaya bahwa di dunia ini ada pecinta sejenis?” kata Rizki sambil memperlihatkan gambar-gambar erotis dua pria yang sedang berciuman.
Rafa hanya melototi gambar-gambar itu tanpa berkomentar. Rizki terus meng-klik gambar gambar erotis pria gagah dan meninggalkan gambar-gambar cowok seksi di depannya.
Entah karena penasaran atau memang Rafa adalah seorang gay, Rafa tetap menelusuri gambar satu persatu di komputer Rizki. Rizki menatap Rafa tajam dan langsung mencium bibir Rafa, Rafa langsung kaget membuat dirinya mundur sehingga kursi yang di duduki Rafa roboh. Mereka berdua langsung terjatuh ke lantai dengan posisi Rafa di bawah dan Rizki di atas.
Rafa langsung menahan Rizki yang berusaha menciumnya lagi. “Riz, apa yang kamu lakukan?” Rafa protes. “Aku hanya mengetes kamu apakah kamu gay atau bukan Raf” Rizki tersenyum pada Rafa. Rizki langsung berdiri dan membantu membangunkan Rafa yang masih tergeletak di lantai. “Kamu kok lemas gini Raf? Kenapa?” tanya Rizki.
“Aku nggak tahu Riz, aku takut kalau aku seorang gay, karena jujur aku tak pernah mencintai seorang gadis” kata Rafa dengan keringat bercucuran. “Sudahlah Raf, jangan dipikirkan, aku harap kamu merahasiakan ini dari orang lain” kata Rizki sambil mematikan komputernya.
“Emang kenapa Riz?” tanya Rafa sambil membenarkan seragam sekolahnya. “Karena gay belum di terima oleh masyarakat, dan gay dikucilkan oleh kebanyakan orang” Rizki terlihat serius. “Apa kamu gay Riz? karena setahuku kamu juga tidak ada cewek” kata Rafa lugu.
“Haha, kalau emang iya kenapa? Kamu mau membeberkan kepada orang lain?” tantang Rizki. “Apa? Beneran kamu seorang gay Riz? kenapa kamu beritahu aku?” tanya Rafa tidak percaya. “Iya Raf, aku cerita pada kamu karena aku yakin kamu orang yang bisa jaga rahasia. Yaudah ayo kamu aku antar pulang ke rumah kamu Raf.” Ajak Rizki.
*************************
Setelah mengetahu apa itu Gay, setiap hari Rafa merasa sangat penasaran dengan dirinya sendiri. Pertanyaan yang selalu muncul adalah “Apa benar dirinya seorang gay?”. Rafa belum yakin bahwa dirinya adalah seorang gay, karena dia juga tidak pernah merasa menyukai pria lain. Hanya satu laki-laki yang dia sayangi di dunia ini yakni Putra sebagai abang satu-satunya.
“Adek, akhir-akhir ini abang lihat kamu sering melamu, kenapa?” kata Putra yang duduk dis amping Rafa di ruang tamu. “Ah, abang ini ada-ada saja, Rafa bukan melamun bang, Rafa lagi berfikir buat ngerjakan tugas sekolah ini” kata Rafa sambil meletakan bulpoin di atas buku matematikanya. “Oh, begitu ya? berati selama ini abang salah, abang pikir Rafa lagi memikirkan seseorang yang mengisi hati Rafa, cewek cantik dan pintar di sekolah” Putra meledek Rafa sambil terkekeh.
“Idih, Rafa belum mau pacaran bang, Rafa tidak mau mengecewakan abang, kalau Rafa pacaran nanti sekolahnya jadi berantakan” kata rawa membela diri. “Iya-iya, abang tau Rafa gak mungkin pacaran kok, tapi abang tak pernah melarang Rafa pacaran.” Putra merangkul Putra.
Saat Rafa dan Putra asik mengobrol di ruang tamu tiba-tiba Rizki datang. “Assalamualaikum” Rizki turun dari motornya dan melepas helm. “Walaikumsalam” Putra dan Rafa menjawab salam Rizki.
“Yaudah, abang mau masuk dulu, tuh Rizki sudah datang” Putra beranjak menuju kamarnya. “Hehe, seperti biasa minta ajarin PR matematika bro” Rizki tertawa cengengesan. “Yaudah, sini Riz,  ini juga belum selesai, kita kerjakan bersama-sama aja” Rafa menyuruh Rizki masuk.
“Raf, abang berangkat dulu yah” Putra pamit pada Rafa. “Iya bang, Hati-hati bang” jawab Rafa. “Eh Raf, abang kamu mau kemana? Bukannya dia seharian bekerja?” tanya Rizki ingin tahu. “Aku kurang tau Riz, mungkin mau kencan ama ceweknya kale, hahaha” Rafa tertawa.
“Aneh, kamu kan adiknya, seharusnya kamu tau apa yang dilakukan abang kamu Raf, yaudah kita lanjut belajarnya” Rizki rada kesal dengan jawaban Rafa yang kurang tau mengenai saudaranya. “Yaudah, nanti aku cari tau Riz, kita lanjut dulu belajarnya” Rafa menjawab dengan terus mencorat-coret kertas hitung.
Setelah belajar dan mengerjakan tugas, Rizki mengajak Rafa untuk jalan-jalan. “Raf, jalan-jalan yuk! Apa kamu nggak bosen di rumah terus?” tanya Rizki. “bosen sih Riz, tapi.. aku masih kepikiran tentang diriku ini Riz” Rafa menatap Rizki. “Tentang apakah kamu gay atau bukan itu ya? hahaha” jangan dipikirkan terus, karena jawaban itu akan datang dengan sendirinya. Yang penting aku tak mempengaruhimu untuk menjadi seorang gay, aku juga gak mengajakmu menjadi seorang gay meskipun aku di takdirkan menjadi gay Raf” Rizki memandang Rafa serius.
“iya Riz, tapi sepertinya aku memang mengarah ke arah itu, karena kemarin aku tak sengaja menonton film porno, namun aku tak terangsang pada pemain wanita melainkan aku terangsang melihat cowok bule telanjang” Rafa tertunduk malu. “Udahlah Raf, kalau kamu memang seorang gay, tak perlu khawatir karena aku akan menjaga rahasiamu” Rizki merangkul Rafa. Rafa tersenyum dengan sikap sahabatnya itu. “Yaudah Raf, aku pulang aja dulu, sampai jumpa besok, ok!!” kata Rizki sambil memakai helmnya.
Rafa menutup pintu rumah dan mengkuncinya. Setelah itu Rafa langsung masuk kamar dan bersiap untuk tidur, namun karena banyak pikiran Rafa tidak bisa memejamkan matanya. Seperti biasa Rafa langsung mengambil buku pelajarannya dan membacanya dengan posisi tiduran. Tiba-tiba terdengar suara motor di depan rumahnya. Rafa langsung keluar dari kamar menuju ruang tamu untuk mengintip siapa yang datang. Ternyata yang datang adalah Putra. Rafa langsumg membukakan pintu rumah dan menyambut abangnya.
“kok belum tidur Raf?” tanya Putra. “Gak bisa tidur bang, abang tiap malam pulang jam segini?” tanya Rafa heran. “Iya Raf, abang ada urusan bersama teman-teman” kata Putra terlihat menutupi sesuatu. “Maaf bang, apa Rafa tak boleh tahu apa yang abang lakukan dengan teman-teman abang? Karena setiap Rafa tanya jawabannya adalah sama yaitu ada urusan.” tanya Rafa penuh harap.
“Benar, tadi abang memang lagi ada urusan Raf, kamu percayalah pada abang” Putra sedikit panik. “Yaudah bang, besok Abang harus bekerja jam 8 pagi lebih baik istirahat saja” Rafa terseyum dan langsung masuk kamar.
*********
Ke esokan harinya Rafa meminta tolong pada Rizki untuk melakukan sesuatu buat dirinya. “Riz, nanti malam kamu maen ke tempatku ya, aku butuh bantuanmu” kata Rafa dengan nada penuh harap. Tentu saja Rizki menerima permintaan Rafa, “Ok lah bro. apa sih yang nggak buat seorang sahabat seperti kamu” kata Rizki sambil mengerlingkan matanya.
“Oia, gimana Raf? Kamu sudah dapat jawabannya belum?” tanya Rizki. “Aku pusing kalau memikirkan itu, kamu bilang jawaban itu pasti datang dengan sendirinya, jadi Aku akan menunggu saja Riz” sambil berjalan menuju tempat parkir motor. “Yaudah, ayo kita pulang Raf” ajak Rizki.
Sesampainya di rumah Rafa langsung masak sayur dan lauk buat makan siang abang putra dan dirinya. Hingga akhirnya Putra datang dan mereka makan bersama. “Bang, nanti malam abang keluar lagi nggak?” tanya Rafa. “Hmmm. Belum tau Raf, kayaknya enggak Raf emang ada apa?” tanya Rafa.
“Oh, enggak apa-apa bang, Rafa kan cuma pengen tau aja, karena Rafa merasa sudah lebih setahun abang jarang istirahat cukup di rumah, pagi kerja malam keluyuran.” Rafa sedikit memasang wajah prihatin. “Sudahlah Raf, Abang selalu sehat kok tanpa ada rasa sakit apapun” kata Putra.
“Hemm, Abang udah mulai pikun yah?, akhir-akhir ini abang kan sering mengeluh sakit kepala?” Rafa menerawang. “Iya juga Raf, Abang lupa, tapi cuma sakit kepala biasa kok mungkin karena kecapean” kata Putra tersenyum. “Lah, makanya bang, kalau malam nggak usah keluyuran” Rafa menasehati Putra. Putra hanya tersenyum dan mengangguk.
Matahari sudah terbenam, selesai sholat maghrib Rafa langsung mengingatkan Rizki untuk datang ke kontrakannya. Jelang beberapa menit Rizki-pun datang dengan membawa bungkusan. “Assalamualaikum” Rizki langsung masuk ke ruang tamu.
“Walaikumsalam, eh bawa apa tuh?” tanya Rafa. “Oh, ini tadi aku beli martabak manis buat kita” Rizki tersenyum. “Wah, baik banget kamu sob, tau banget kalau akau udah lama gak makan kue itu. hehehe” Rafa tertawa kecil. “Yeeee, ini bukan buat kamu aja, buat aku juga kale, karena aku tadi belum makan malam” Rafa mengangkat bungkusan yang di bawanya.
“Hahaha, iya-iya aku ambil piring dulu di dapur” Rafa beranjak menuju dapur. Rafa melewati kamar Abangnya, dan seketika tercium wangi parfum yang baru di semprotkan. “Pasti Abang mau keluar nih” kata Rafa dalam hati sambil berlalu mengambil sebuah piring. “Riz, ntar bisa antar aku nggak?” kata Rafa pelan-pelan. “Kemana?” Rizki memasukan potongan kue kedalam mulutnya. “Ada deh, ntar aku ceritakan pada kamu” kata Rafa sambil memotong kue di tangannya.
Tiba-tiba Putra ke ruang tamu. “Raf, kayaknya abang harus keluar lagi malam ini, eh ada Rizki, udah lama Riz?” kata Putra saat sedang keluar menuju ruang tamu. Rizki tersenyum dan menganggukan kepalanya. “Iya Bang, tapi jangan malam-malam pulangnya. Ingat kesehatan Abang!” kata Rafa penuh perhatian.
“Yaudah, Abang berangkat dulu ya!” Putra keluar dari rumah dan langsung berjalan kaki menuju jalan raya. “Riz, aku mau minta tolong malam ini antar aku mengikuti Abang yuk” kata Rafa dengan nada sedikit memelas.
“Boleh, tapi aku mau minum dulu, ok. hehe” Rizki langsung ke dapur. Rafa mengambil jaketnya di dalam kamar, dan langsung keluar dan mengunci pintu. Rizki melajukan motornya perlahan dan ternyata Putra masih ada di pinggir jalan dekat gang. “Riz, abang nunggu siapa ya?” tanya Rafa penasaran. “Aku kurang tau Raf” Rizki menggerakan bahunya.
Tiba-tiba datang mobil kijang hitam berhenti di depan Putra. Putra langsung membuka pintu mobil dan masuk ke mobil. Mobil melaju perlahan dan semakin lama semakin cepat. Rafa dan Rizki menjaga jarak di belakang mobil. Akhirnya mobil kijang itu berhenti di sebuah café, Putra dan dua orang laki-laki turun dari mobil kijang hitam itu. mereka langsung masuk ke café dan duduk bertiga. Rafa dan Rizki melihat dari kejauhan dengan rasa penasaran.
“Raf, kok abang kamu ke tempat ginian?” tanya Rizki. “Emang kenapa Riz? Aku juga kurang tau” Rafa tetap fokus melihat gerak-gerik abangnya. “Ini tempat terkenal sebagai tempat transaksi para pekerja seks, tuh liat cewek-ceweknya seksi-seksi” kata Rafa sambil menunjuk tempat itu. “Heh, yang bener kamu Riz? jangan ngaco ah, Abang gak mungkin boking cewek Riz, karena kita berdua sangat hati-hati dalam membelanjakan uang” Rafa menepuk pundak Rizki. “Lah, aku kan gak bilang abang kamu mau boking!! Aku Cuma bilang tempat ini terkenal sebagai tempat transaksi” Rizki memberi pengertian.
Tak lama kemudian datang seorang wanita yang umurnya tidak dapat dikatakan muda lagi. perempuan itu bergabung dengan Putra dan kedua temannya. tanpa memesan minuman akhirnya wanita itu langsung pergi lagi bersama salah satu teman Putra, teman Putra tampak melambaikan tangannya dan melempar satu bungkus rokok ke meja Putra. Putra dan teman satunya hanya tertawa.
Beberapa menit kemudian datang lagi seorang tante-tante dan langsung menuju meja Putra. Seperti beberapa menit yang lalu tante tersebut tidak memesan minuman dan langsung keluar bersama salah satu dari mereka, dan kali ini Putra. Putra memasuki mobil yang di kendarai tante-tante tersebut.
“Riz, Abang mau kemana tuh?” tanya Rafa heran. “Yaudah, ayo kita ikuti saja Raf” Rizki langsung menyalakan motornya dan mengikuti mobil itu. Mobil yang ditumpangi Putra berhenti di sebuah penginapan, Putra turun sambil merangkul tante-tante tersebut.”Raf, mau ngapain Abang kamu kesini?”, tanya Rizki.
“Aku juga bingung Riz, sebaiknya kita langsung tanyakan pada Abang aja sekarang.” Kata Rafa sambil turun dari motor Rizki. Rizki dengan sigap memegang tangan Rafa ”Heh, kamu gila? Katanya kita mau mata-matain abang kamu, tunggu sampai kita menemukan bukti-bukti dulu” kata Rizki mengingatkan Rafa.
Akhirnya Rafa mengerti dan kembali ke motor Rafa. “Riz, kamu gak ngantuk? Ini sudah jam 22:00 Riz, kita pulang saja yuk” ajak Rafa. “Yaudah Raf” Rizki mengangguk dan langsung menuju ke kontrakan Rafa.
“Raf, kamu jangan tanya macam-macam pada abang kamu, pura-pura aja kamu gak tahu apa-apa, nanti aku akan bantu kamu mencari bukti-bukti lain, ok” Rizki mengingatkan Rafa sambil memegang tangan Rafa. “Iya Riz, kamu memang sahabatku yang paling baik” Rafa tersenyum.
Akhirnya Rizki pamit untuk pulang dan Rafa masuk ke rumah. Setelah beberapa jam, terdengar suara mobil di depan rumah Rafa, ternyata Putra sudah datang. Mendengar itu, Rafa langsung ke luar dari kamarnya. “Sudah pulang bang? Dari mana sih bang? Kok abang sering pulang dini hari seperti ini” tanya Rafa. “Rafa, kamu kok belum tidur dek?” tanya Putra. “Sebenarnya udah tadi, tapi selalu terbangun ketika abang datang dini hari seperti ini” Rafa menjawab.
“Ooh, maafkan abang yah kalau selama ini Rafa terganggu tidurnya” kata Putra sambil membuka bajunya. “Bang, Rafa tanya sekali lagi abang sebenarnya darimana sih? Kok hampir tiap malam abang keluar? Dan pulang dini hari?” tanya Rafa dengan wajah serius. “Yaudah Abang mau buat pengakuan nih, abang itu sebenarnya cari duit tambahan dengan cara kerja sebagai pelayan di cafe” kata Putra berbohong.
“Abang berbohong ya?” Rafa melihat Putra dengan tajam. Tiba-tiba Rafa teringat pesan Rizki untuk tidak terlalu gegabah mengambil keputusan “Abang berbohong pada Rafa, Abang janji akan banyak istirahat hari ini” kata Rafa sambil memeluk abangnya. Sebenarnya Rafa sudah tahu bahwa abangnya itu tidak bekerja sebagai pelayan di café.
“Ma’afin Abang ya Dek, Abang tak bisa buat adik kekurangan di sini, abang mau adik bisa jadi orang sukses” kata Putra sambil mengelus rambut Rafa. “Yaudah, Abang sekarang istirahat saja” Rafa langsung masuk ke kamarnya.

Kebohongan Abang Putra
“Riz, aku berfikiran bahwa abang sekarang berubah, berubah menjadi orang pembohong” Rafa menceritakan kejadian semalam pada Rizki di rumah Rizki. “Kamu positif thinking dulu pada abang kamu Raf” kata Rizki sambil membenarkan posisinya.
“Raf, aku boleh mengatakan sesuatu nggak ma kamu?” kata Rizki terdengar serius. “Apa itu Riz?” Rafa menatap langit-langit kamar Rizki. “Tapi kamu jangan marah ya!” lagi-lagi Rizki tampak serius. Rafa langsung bangun dan duduk di kasur Rizki. “Emang kamu mau ngomong apa? Gak mungkilah aku marah, emang kamu pernah melihat aku marah?” Rafa menimpuk muka Rizki dengan bantal. “Raf, Rafa hehehe” Rizki tertawa terkekeh.
Rizki langsung merubah posisinya dan langsung duduk di depan Rafa. “Raf, sebenarnya aku mau bilang pada kamu, kalau aku itu suka kamu” Rizki langsung memandang mata Rafa. “Apa?” Rafa langsung memalingkan wajahnya.
Rafa tak bisa percaya dengan kata-kata Rizki, Rafa hanya terdiam dan tak mau melihat Rizki. Tiba-tiba Rizki meletakan tangan kanannya di dada Rafa, “Raf, kamu mau terima aku kan?” tanya Rizki. Rafa hanya diam dan berdiri menghindar dari Rafa. “Aku tau Raf, kamu juga memendam rasa padaku, karena jantung kamu tidak bisa berbohong, detak jantung kamu begitu kencang. Rizki menghampir Rafa dan langsung memeluknya. “Riz, sebenarnya aku belum dapat jawaban dari pertanyaan tentang diriku ini, namun sekarang aku sudah mendapatkan jawabannya ternyata aku benar-benar berbeda dengan laki-laki pada umumnya. Aku juga punya rasa yang sama kamu Riz” Rafa memeluk Rizki dengan erat.
“Raf, benaran kamu suka ma aku? Kamu mau jadi kekasihku?” Rizki memperjelas. Rafa hanya tersenyum dan mengangguk. Rizki tersenyum dan langsung mencium bibir Rafa, Rafa yang tak pernah ciuman hanya terbelalak dan diam atas perlakuan Rizki. Beberapa menit berciuman, akhirnya Rizki melepas Rafa dari pelukannya. Rizki tersenyum pada Rafa dan langsung mengambil ballpoin di tasnya.
Kemudian Rizki menuju meja belajarnya dan meraih kalender dan melingkari tanggal hari itu. “Raf, lihat ini, lihat tanggal ini Raf. Tanggal ini kita resmi pacaran, semoga kamu tak pernah meninggalkanku” Rafa terlihat sangat senang. Akhirnya Rafa menyadari bahwa dirinya adalah seorang gay.
Dua hari berlalu sepulang sekolah Rafa mendapatkan kabar dari tetangganya bahwa Putra ada di puskesmas. Mendengar itu Rafa dan Rizki langsung menuju puskesmas yang tak jauh dari rumah. Ternyata Putra sudah ada di halaman puskesmas di temani oleh salah satu teman kerjanya. “Abang, Abang kenapa?” tanya Rafa panik. “Abang kamu tadi pingsan dek, mungkin abang kamu ini kecapean” kata teman Putra. “Yaudah, biar aku cari becak dulu Raf” kata Rizki. Putra dibawa pulang menaiki becak, yang di dampingi oleh Rafa. “Abang baik-baik saja Raf, kamu tenang aja, abang hanya kecapean dan pusing saja.” Kata Putra setelah sampai di kamarnya. “Rafa sudah bilang, Abang banyak istirahat saja, Rafa akan bantu abang cari duit bang” Rafa meneteskan air mata di samping Putra.
“Rafa gak boleh cari duit, Rafa harus belajar agar jadi orang sukses” Putra mengelus kepala Rafa. “Percuma bang Rafa sukses, kalau abang menderita seperti ini” suara Rafa berat. “Abang sudah bilang abang baik-baik saja dan abang hanya butuh istirahat sebentar, yaudah Abang mau tidur dulu” Putra memejamkan matanya. Rafa langsung meninggalkan Putra dan menemui Rizki di ruang tamu.
“Riz, besok aku mungkin tidak ke sekolah, aku harus merawat Abang untuk sementara, aku minta tolong buatkan surat izin untuk guru kelas” kata Rafa. “Baiklah, biar aku buatin surat, sekarang aku pamit dulu yah, kamu yang tabah aja, abang kamu hanya kecapean saja kok” Rizki memeluk Rafa dan langsung pulang.
Setelah dua hari Rafa merawat Abangnya, akhirnya Putra pulih kembali. Setiap hari Rizki selalu mengunjungi Rafa di rumahnya untuk meminjamkan catatanya. Putra tak mau sakit lebih lama, karena Putra harus segera bekerja dan jika dia tetap berbaring di tempat tidur maka Rafa akan sering bolos sekolah untuk merawat dirinya. Untung saja ada Rizki yang selalu datang menemui Rafa, membuat Rafa tidak ketinggalan mata pelajarannya.
“Adek, besok Adek harus ke sekolah, karena hari ini Abang udah baikan dan besok Abang juga harus masuk kerja” kata Putra sambil membereskan tempat tidurnya. “Iya bang, pasti Rafa ke sekolah, jika abang berjanji tidak keluar malam lagi” kata Rafa penuh harap. Putra hanya bisa menjawab kata “Iya” untuk menuruti kehendak adiknya.
Ke esokan harinya, Rafa mulai kembali ke sekolah, dan  seminggu lagi akan menghadapi ujian semester ganjil membuat dirinya akan di sibukan dengan belajar dan belajar. Partner belajar tetapnya adalah Rizki, namun pada saat ujian akan bertambah anggota belajar kelompoknya. Rafa harus belajar keras agar dia tetap menjadi juara di kelasnya. Ternyata usahanya tak sia-sia setelah berjuang keras akhirnya Rafa tetap menjadi juara kelas.
Keberhasilannya menjadi juara kelas membuat Putra selalu bangga pada Rafa. “Bang, Putra lagi-lagi juara kelas” Rafa memamerkan hasil belajarnya ketika Putra baru pulang bekerja. “Hem adik Abang sangat hebat yah” Putra melihat hasil belajar Rafa selama satu semester. “Yaudah, jangan berhenti buat abang bangga ya, Abang mau mandi dulu ok” Putra menyerahkan buku hasil belajar Rafa.
“Ok bang, silahkan” kata Rafa tertawa penuh kebahagiaan. Rafa sangat bahagia karena dia menjadi juara kelas lagi, dan abangnya sudah lama tak pernah keluar malam hari.
Rafa langsung masuk menuju kamarnya. ketika melewati kamar Putra, Rafa melihat tas kecil yang selalu di bawa Abangnya bekerja yang tergeletak di atas kursi. Rafa tertarik melihat isi tas Putra. Kemudian Rafa membuka tas itu dan dia terkejut karena di dalam tas itu banyak obat sakit kepala. “Adek, ngapain buka tas Abang?” Putra menghampiri tasnya dan memindahkannya ke kamar. “Abang masih sakit?” tanya Rafa. “Nggak kok, Abang sehat-sehat saja dek” Putra menutup-nutupinya.
Sebenarnya Putra masih sering merasa sakit kepala, jadi dia sering mengkonsumsi obat sakit kepala. Terkadang dia merasa mual dan muntah-muntah. Putra harus menelan obat sakit kepala minimal dua kali dalam sehari untuk meringankan sakitnya. Dengan desakan Rafa akhirnya Putra memutuskan untuk memeriksakan dirinya ke rumah sakit.
Pada hari minggu Rafa dan Putra menuju rumah sakit dekat tempat tinggalnya. Putra langsung menuju resepsionis rumah sakit dan mengisi form pendaftaran. Tiba saatnya giliran Putra untuk masuk ke ruang dokter. Rafa mengikuti Abangnya memasuki ruangan pemeriksaan. Akhirnya pemeriksaan selesai, “dok, abang sakit apa?” tanya Rafa ingin tahu setelah melakukan medical cek up.
“Abang kamu baik-baik saja, hanya sedikit kecapean saja” kata seorang dokter yang memeriksa Putra. “Alhamdulillah, kalau begitu” kata Rafa penuh syukur. “Bang, Rafa keluar dulu ya, mau ke toilet karena sudah dari tadi Rafa nahannya” Rafa langsung ke luar dari ruangan dokter.
“Saudara Putra, Sepertinya kami harus melakukan pemeriksaan ulang karena keluhan yang ada alami ini mendekati penyakit yang ganas” kata dokter itu.
“Penyakit apa dok?” tanya Putra panik.
“Saya belum bisa memastikan, Apakah anda mengalami gangguan penglihatan Akhir-akhir ini?”, tanya Dokter.
“Iya dok, Saya merasa penglihatan saya sedikit kurang tajam”, jawab putra.
“Ok, saya mau tanya, apakah ada gangguan keseimbangan?’ tanya dokter.
“saya merasa baik-baik saja dok, tapi terkadang saya merasa kesulitan menggerakan kaki, seperti kaku”, Jawab Putra.
Sebenarnya ada sesuatu di kepala anda, namun perlu dilakukan pemeriksaan ulang” kata dokter.”emang ada apa dok?” Putra panik. “Sebaiknya kamu datang lagi dua hari lagi karena dokter yang dapat menangani penyakit kamu datang tiga hari lagi, ini resep obat yang dapat meringankan rasa sakit kamu” Dokter menyerahkan resep obat ke Putra.
“Baik dok, saya akan kembali lagi dua hari lagi” kata Putra sambil berjabat tangan. Putra langsung keluar dari ruangan dokter itu dan melihat Rafa yang sedang sibuk mengotak atik handphonenya. “Raf, pulang yuk” kata Putra. Rafa langsung tersenyum dan berdiri, “Pak dokter terimakasih ya” Rafa berpamitan pada dokter itu.

*********
Tiga hari berlalu, sekarang Putra sudah berada di rumah sakit. Putra melakukan beberapa tes kesehatan, termasuk foto rongsen. Sekarang Putra hanya menunggu hasilnya. “Pak Putra? Silahkan masuk ke ruangan.” Kata seorang suster cantik. “pak Putra, ini adalah hasil lab dan foto rongsen” dokter mulai membacakan hasil cek up.
“Saya sakit apa dok?” Putra sangat penasaran. “Sebelumnya saya harap pak Putra berlapang dada menerima kabar ini, bapak terkena kanker otak” dokter itu menyerahkan hasil analisis. “Apa? Kanker otak?” Putra terkejut tak percaya. Seketika jatungnya berdetak sangat kencang.
“Pak Putra tenang saja, penyakit bapak kemungkinan bisa di sembuhkan, namun membutuhkan biaya yang besar dan tingkat kesuksesannya sangat kecil” dokter  membuka informasi yang seharusnya Putra tahu. “Dok, seandainya penyakit saya tidak di operasi, berapa lama  saya bisa bertahan hidup?” tanya Putra.
“Kenapa pak Putra bertanya seprti itu? bapak tidak mau sembuh?” tanya dokter heran. “Tidak ada kesempatan bagi saya untuk sembuh pak, saya tidak ada biaya untuk operasi” Putra jawab dengan sejujurnya. “Waktu pak Putra kurang dari dua bulan, dan saya ada resep obat untuk memperlambat pertumbuhan penyakit bapak, sehingga waktu hidup bapak bisa lebih panjang sekitar tiga bulan” kata dokter tersebut. Putra hanya bisa pasrah menerima kenyataan bahwa dirinya akan hidup hanya tiga bulan lagi.
Putra pulang ke rumah dengan tidak ada semangat lagi, melihat Rafa yang sedang belajar membuat Putra teringat pada janji dan mimpinya untuk membuat adiknya menjadi orang sukses. Waktu semakin lama semakin mendekati kematiannya, Putra memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai buruh pabrik dan fokus dengan pekerjaan sampingannya. Sebenarnya gaji yang di terima Putra sebagai buruh pabrik hanya bisa buat bayar kontrakan dan uang  makan sehari-hari itupun juga masih harus benar-benar irit. Akhirnya Putra memutuskan ikut temannya sebagai gigolo yang melayani tante-tante kesepian. Dari situlah Putra mendapatkan uang lebih dan dapat mengontrak sebuah rumah yang lebih besar dari sebelumnya. Namun Putra tak mau Rafa tau bahwa dirinya menjadi gigolo yang sering di boking oleh tante-tante. Maka dari itu Putra selalu beralasan keluar malam karena ada alasan dan terakhir Putra mengaku bahwa dirinya sedang bekerja sebagai pelayan café, Putra tak ada pilihan lain selain membohongi adiknya sendiri.
“halo, Rico? Ric aku butuh banyak uang sekarang, kalau ada tawaran langsung kabari aku, sekarang aku tak mau pilih-pilih lagi” Putra menelfon temannya. malam harinya ketika Rafa tertidur lelap Putra keluar menuju café dimana biasanya dia berkumpul dengan teman-temannya sesama gigolo.
“Hai put, aku ada job nih, lumayan honornya gede loh, 1jt bro” kata Rico saat Putra tiba di café. “Ok, aku ambil bro, siapa client kita?” tanya Putra penasaran. “Eits, tunggu dulu, aku belum selesai, client kita buka tante-tente melainkan om-om homo, mau nggak loh?” tanya Rico sambil tersenyum cengengesan.
“Apa? Gila kamu” Putra protes. “Aku hanya menawari kamu aja, katanya kamu butuh duit?” Rico membujuk Putra. Putra tak ada pilihan lain, terpaksa dia harus melayani seorang om-om homo. Putra langsung menuju alamat sebuah hotel yang di berikan oleh Rico. Putra mengetuk pintu kamar nomor 40 dan yang keluar adalah seorang laki-laki berumur 40 tahunan. “siapa?” tanya orang itu sambil melihat Putra dari ujung kaki sampa ujung kepala.
“Saya Putra om” Putra tersenyum padanya. “Oh, silahkan masuk” perintah laki-laki paruh baya itu. dan tanpa basa-basi Putra langsung menyuguhkan pelayanannya, Putra tak ada pengalaman menservice seorang laki-lai. Jadi Putra berimprovisasi dan bersikap profesional melayani laki-laki itu.
sebulan berlalu, setiap malam Putra mengumpulkan lembaran rupiah untuk biaya hidupnya dan membeli obat karena obat yang harus di konsumsinya harganya sangat mahal. Namun rahasia Putra akan segera di ketahui oleh Rafa. Sepulang sekolah Rafa memergoki abangnya sedang memasuki mobil kijang hitam yang dulu pernah membawanya. Rafa dan Rizki mengikuti Putra dan ternyata menuju sebuah hotel, Putra diturunkan di depan hotel dan langsung masuk ke ruang resepsionis.
Putra menanyakan letak sebuah kamar, sedangkan Rafa dan Rizki mengikutinya dari belakang. Putra langsung masuk ke kamar bernomor 89. “Riz, abang nemuin siapa yah?” tanya Rafa. Beberapa menit kemudian Rafa memberanikan diri untuk mendekati kamar yang dimasuki oleh Putra, ternyata pitu kamar tidak terkunci. Perlahan Rafa membuka pintu itu dan “ ABANG? KENAPA BANG?” Rafa berteriak dan langsung lari melewati Rizki.
“Rafa, tunggu!” Rizki mengejar Rafa ke luar hotel.
“Riz, ternyata Abang selama ini menjadi gigolo dan bukan gigolo biasa, tadi di dalam dia melayani dua orang laki-laki” Rafa menangis di parkiran hotel. “Yaudah, kita pulang ke rumah yuk, nanti kamu ceritakan lagi” kata Rizki. Rizki tak pernah melihat Rafa sesedih seperti ini, karena Rafa termasuk orang yang sangat kuat. Rafa memeluk tubuh Rizki dan terus terisak.
Rizki mencoba menenangkan Rafa dengan cara memegang tangan Rafa. Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil diikuti suara rem. Rafa terkejut ketika Rizki berteriak dan sebuah truk langsung mengahantam mereka berdua.
Hilangnya Cahaya di hidup Rafa.
“Adek, maafkan abang ya, abang terpaksa lakukan ini semua demi Adek” Putra menangis di samping Rafa yang terbaring di RS. Rafa sedang kritis akibat kecelakaan yang di alaminya. Rafa mengalami patah tulang dan beberapa luka lecet, kepala di perban dan harus melakukan operasi di matanya karena terdapat serpihan kaca.
Sudah dua hari Rafa tak sadarkan diri dan selama itu Putra selalu menemaninya. Tiba-tiba tangan Rafa bergerak dan menyentuh pipi Putra yang terlelap tidur. “Abang, Abang” rintih Rafa.
“Adek, kamu sudah sadar? Biar aku panggil suster dulu” Putra langsung keluar mencari suster. Putra kembali dengan seorang suster dan dokter. Dokter langsung memeriksa keadaan Rafa. “Bang, kenapa dengan Rafa? Rafa ada dimana? Kenapa semua lampu di matikan?” Rafa panik. “Tenang saja Raf, sebentar lagi dokter datang” Putra menenangkan Rafa.
Seorang dokter datang dan langsung memeriksa keadaan Rafa. “Dokter, bagaimana dengan keadaan Rafa?” tanya Putra khawatir. Dokter langsung memeriksa mata Rafa, dan ternyata Rafa mengalami kebutaan akibat benturan dan serpihan kaca yang masuk ke bola matanya.
“Rafa mengalami kebutaan dan tak ada cara lain selain mencari donor mata untuknya agar dia bisa melihat dunia lagi” dokter membicarakan keadaan Rafa pada Putra. Putra langsung meneteskan mata dan tak bisa menerima bahwa Rafa kehilangan penglihatannya. “Bang apa kata dokter? Kenapa Abang bersedih?” tanya Rafa sambil meraba-raba.
“Raf, kamu yang sabar ya, Abang akan berusaha mencari cara agar kamu cepat sembuh” kata Putra meyakinkan Rafa. “Kenapa dengan mata Rafa? Rafa tidak bisa melihat bang, semuanya gelap” Rafa panik dan menangis.
“Rafa..Rafa tenang dulu, Abang akan berusaha cari cara agar Rafa bisa melihat lagi” Putra memeluk Rafa. “Maafkan Rafa bang, Rafa membuat beban Abang makin berat” Rafa menyesal karena dia harus mengalami hal ini.
“Seharusnya Abang yang minta maaf pada Rafa, gara-gara abang Rafa jadi begini, maafkan Abang dek abang gak ada cara lain selain menjalani profesi sebagai gigolo, Abang minta maaf karena selama ini Abang berbohong” Putra minta maaf. dan akhirnya mereka berdua saling memahami dan menerima keadaan masing-masing.
Dua hari berlalu sekarang Rafa telah menerima keadaannya, dan menjalani terapi untuk kesembuhan kakinya. Setiap malam Putra harus mengumpulkan lembar rupiah dengan melayani tante-tante dan om-om hidung belang, semua yang dia lakukan hanyalah untuk kesembuhan Rafa. “Bang, Rafa lupa nanyakan sesuatu, kemarin Rafa kecelakaan saat berboncengan dengan Rizki, Rizki bagaimana keadaanya bang?” tanya Rafa.
“Rizki baik-baik saja Raf, Rizki sudah ada dirumahnya” kata Putra. “Assalamualaikum” suara ibu-ibu masuk ke ruang rawat. “Walaikum salam, tante Anisa” jawab Putra. “Bagaimana keadaan Rafa? Maafkan tante ya, karena kemarin gak sempat jenguk Rafa” kata tante Anisa.
Rafa hanya tersenyum mendengar suara tante Anisa, karena Rafa berharap tante Anisa datang bersama Rizki. “Tante, Rizki dimana? Rizki sehat kan?” tanya Rafa senang. “Raf, maafkan anak tante ya, anak tante sudah bikin kamu cacat seperti ini” tante Anisa memeluk Rafa. “Semua memang sudah takdir tante, oia Rizki dimana?” tanya Rafa. Tante Anisa menoleh ke arah Putra, dan Putra hanya menundukan kepalanya.
“Rafa, tante tidak tahu harus bilang apa, Rizki telah meninggal dalam kecelakaan itu Raf” tante Anisa menangis. “TIDAK, itu tak mungkin terjadi” Rafa panik dan mencoba turun dari tempat tidur. “Rafa, kamu tenang dulu” kata Putra yang sigap memegangi Rafa. “Bang, Rizki bang, tak mungkin dia meninggalkan Rafa” Rafa menangis.
“Kamu relakan saja Rizki Raf, tante tahu Rizki adalah sahabat terdekatmu karena Rizki bercerita bahwa Rafa adalah seseorang yang membawanya menjadi juara tiga di kelas” tante Anisa terisak. “Sudahlah Raf, kamu yang sabar ya, Rizki memang sahabat yang paling baik, tapi dia sudah tenang di alam sana” Putra memegangi pundak Rafa.
“Rafa, sekali lagi tante mohon maafkanlah kesalahan Rizki karena telah membuat dirimu kehilangan cahayamu” tante Anisa mengelus rambut Rafa. “Ini bukan salah Rizki tante, tapi salah Rafa” Rafa berusaha meraih tangan tante Anisa dan langsng menciumnya. Air mata rafa jatuh ke tangan Tante Anisa.
“Yaudah, semuanya sudah terjadi tak patut menyalahkan diri sendiri, lebih baik kita doakan Rizki semoga dia di terima di sisiNYA.” kata Putra bijak. Tante anisa hanya menganggukkan kepalanya dan terisak. Kemudian Tante Nisa mencium kening Rafa.
Setelah 10 hari Rafa dirawat di rumah sakit, akhirnya Rafa sudah dapat berjalan lagi meskipun harus menggunakan bantuan tongkat. Akhirnya Putra memutuskan untuk membawa Rafa pulang ke rumah. Hampir tiap malam Putra harus bekerja sebagai gigolo demi mendapatkan lembar rupiah untuk menutupi biaya rumah sakit Rafa.
Putra mengabaikan kesehatannya dan sudah hampir dua uminggu dia tidak mengkonsumsi obatnya. Putra terpaksa tidak membeli obat itu karena dia harus membayar biaya rumah sakit Rafa. Ketika kepalanya sakit Putra selalu mengkonsumsi obat penghilang rasa sakit. Semakin hari keadaan Putra semakin parah.
“Rafa, Abang pergi ke rumah sakit dulu ya, Abang harus memeriksakan diri Abang” Putra minta ijin. “Abang masih sakit?” tanya Putra. “Iya Raf, kalau Rafa ada perlu silahkan Rafa telfon aja, ini abang sudah set ponsel Rafa agar mudah menghubungi Abang” Putra meletakan ponsel ke tangan Rafa.
“Abang jangan khawatir, Abang pergi saja” Rafa tersenyum di tempat tidurnya. Putra langsung bergegas ke rumah sakit, untuk menemui dokter yang menangani penyakitnya.
“Pak Putra, sudah lama anda tidak cek-up?” kata dokter. “iya dok, saya di sibukan dengan mengurus adik saya, dia kecelakaan dan mengalami kebutaan” jawab Putra. “Saya ikut prihatin, sebaiknya kamu harus beritahu adik kamu mengenai penyakit kamu ini” dokter memberi saran.
“Dok, nanti pada saatnya saya akan beritahu dia, sekarang saya ingin tahu, berapa lama lagi saya akan bertahan?” Putra terlihat sangat khawatir. “Saya belum tahu Putra, hasil lab belum datang, silahkan kamu tunggu saja dua jam lagi” kata dokter . “Baik dok, nanti saya akan kembali lagi” Putra langsung keluar dari ruang dokter.
Putra memutuskan untuk menunggu hasil lab di rumah sakit.  dia menyusuri koridor menuju lobi rumah sakit. Dan tiba-tiba Putra melihat seorang ibu-ibu di depan ruang ICU yang terlihat putus asa menangis di depan dokter. Putra berhenti dan melihat ke arah wanita itu, “Dok tolong selamatkan nyawa anak saya, tolong dok carikan donor cangkok hati untuk anak saya, berapapun akan saya bayar Dok” tangis ibu itu kepada seorang dokter.
“Maaf bu, saya tidak bisa menjamin ada orang yang mau mendonorkan hatinya buat anak ibu, kita pasrah saja pada sang pencipta” kata dokter dan meninggalkan wanita itu. “Kenapa dok?” tanya ibu itu. “Karena Prosdurnya sangat panjang dan tak mudah mencari pendonor, permisai bu” kata dokter.
Putra langsung menghampiri wanita itu, “Maaf bu, saya tadi tidak sengaja mendengar obrolan ibu dengan dokter” kata Putra. Wanita itu hanya menatap Putra heran, “Kamu siapa?”. “Oia, saya Putra. Tadi saya dengar kalau tidak salah ibu butuh donor cangkok hati? saya bersedia” kata Putra tanpa ragu. “Apa? Kamu serius?” tanya wanita itu. “Iya bu, tapi…” Putra menghentikan pembicaraannya. “Iya saya tahu, kamu mau uang kan? Sebutkan saja nominalnya biar nanti aku berikan pada keluarga kamu” wanita itu terlihat sangat senang. “Bisa bicara di tempat lain?” ajak Putra. “Yaudah, kamu ikut saya ke rumah, kita bicarakan di rumah” kata wanita itu.
Beberapa menit Putra tiba di sebuah rumah berlantai dua yang ukurannya sangat besar. Putra langsung tercengang melihat rumah besar tersebut. Sekarang Putra yakin, bahwa ibu ini tidak main-main mengenai ucapannya, apapun akan dilakukan demi kesembuhan anaknya. “Oia, saya lupa memperkenalkan diri. nama saya Rika, panggil saja tante Rika” kata tante Rika. “Iya tante, rumah tante sangat besar tak salah ku menawarkan diri pada tante?” jawab Putra basa-basi. “Putra, sebelumnya saya mau bertanya, kenapa kamu rela mendonorkan hati kamu?” tanya tante Rika.
“Ceritanya sangat panjang tante, intinya ini juga menyangkut seseorang, seperti tante apa aja akan dilakukan demi orang itu.” jawab Putra terlihat murung. “Maksud kamu?” tante Rika penasaran. “Sebenarnya saya tidak akan lama lagi hidup di dunia ini, karena ada penyakit kanker pada diriku” Putra mulai bercerita.
Putra menceritakan mengenai dirinya, tante Rika nampak sangat terkejut dan prihatin dengan keadaan Putra. “Tante, saya mau mendonorkan hatiku ini dengan imbalan tante mau membiayai pemindahan mataku untuk Rafa, dan merawat Rafa sampai dia benar-benar sembuh” kata Putra mantap. Tanpa pikir panjang tante Rika menjawab “Baiklah, aku setuju dan aku janji aku akan urus adik kamu sampai dia benar-benar sembuh” kata tante Rika.
Ke esokan harinya seperti biasa Putra merawat Rafa di rumah. “Bang, sudah seharian abang menemani Rafa di rumah, Abang gak kerja?” tanya Rafa. “Rafa, kamu ini kenapa? Bukannya kamu senang kalau Abang selalu di rumah menemani Rafa?” Putra melihat Rafa. “Maaf bang, Rafa memang senang jika Rafa selalu bersama abang, namun bukan seperti ini Bang” Rafa meraba-raba untuk mencari abangnya. Putra langsung mendekati Rafa. Ketika tangan Rafa menemukan tubuh abangnya Rafa langsung memeluknya
“Bang, Rafa sayang ma abang, Rafa tak mau kehilangan abang” Rafa menangis. “Tenang saja Raf, Abang tak mungkin meninggalkan Rafa karena abang juga sayang Rafa” Putra mencium kening Rafa. Baru pertama kali Putra mencium kening Rafa. Rafa langsung tersenyum dan kembali memeluk Putra.
Tiba-tiba ada telfon dari tante Rika. Putra harus ke rumah sakit untuk menjalani tes kesehatan, terutama tes darah. Setibanya di rumah sakit tante Rika sudah menunggu didekat ruang anaknya. “Assalamualaikum tante”. “Walaikumsalam, udah siap?” tanya tante Rika. Akhirnya Putra menjalani serangkaian pemeriksaan, jika darah Putra dengan darah anak tante Rika sama maka operasi akan segera di laksanakan.
Setelah beberapa jam menunggu hasil,ternyata hasil darah Putra menyatakan Putra tidak mempunyai penyakit di aliran darahnya dan layak untuk mendonorkan hatinya. “Alhamdulillah, berarti Kafa bisa di selamatkan” tante Rika senang. “Maaf tante, Kafa?” Putra agak heran. “Iya, Kafa adalah anak tante yang berbaring di sana” tante Rika menunjuk keruang anaknya. “Namanya hampir sama dengan nama adik saya, dia bernama Rafa” kata Putra tersenyum. “Hehehe, itu kan hampir sama Put, banyak kok di dunia ini yang namanya sama persis” kata tante Rika.
Setelah dari rumah sakit, tante Rika mengajak Putra ke rumahnya sekali lagi. “Putra, ini ada sedikit uang untuk kamu dan adik kamu” tante Rika menjulurkan amplop di atas meja. “Terimakasih tante, Putra memang butuh uang ini buat bayar kontrakan yang sudah menunggak” kata Putra. “Yaudah, sekarang kita ke kontrakan kamu, karena aku belum pernah melihat adik kamu” kata tante Rika.
Setibanya di kontrakan, Putra meminta pada tante Rika untuk tidak bersuara, dengan alasan Rafa masih sensitif dengan keadaan Abangnya. “Assalamualaikum” Putra memasuki rumah. “Walaikumsalam bang”, Rafa mencoba berjalan dari kamar menuju ruang tamu. Melihat keadaan Rafa tante Rika menjadi sangat prihatin, wajah Rafa pucat dan kurus. Putra langsung meraih tangan Rafa dan menuntunnya ke ruang tamu. Putra melihat ke arah tante Rika, tante Rika hanya menggelengkan kepalanya sebagai tanda dia juga prihatin.  Kemudian tante Rika berpamit untuk kembali ke rumah sakit, Putra mengantarnya di depan rumah.
Setelah beberapa Minggu Tibalah saatnya hari dimana Rafa akan kehilangan abangnya untuk selama-lamanya. “Adek, Abang sudah mendapatkan donor mata buat Rafa” kata Putra saat membawa Rafa ke rumah sakit. “Oh, berati ini kejutan besar buat Rafa bang?” Rafa tersenyum kegirangan.
“Iya dek, tapi abang juga mau pamit pada Adek” Putra meneteskan air mata. Hari ini adalah hari terakhir Rafa mendengar suara Putra. “Abang mau kemana?” tanya Rafa.
“Abang tak bisa cerita sekarang, setelah adek sembuh abang akan beri tahu Adek” jawab Putra sambil memeluk Rafa. “Janji ya bang, Abang tak boleh lama-lama tinggalkan Rafa, karena Abang satu-satunya keluarga Rafa” Rafa mempererat pelukannya. “Yaudah, abang pamit dulu, Rafa cepat sembuh ya, Abang Sayang Rafa” Putra langsung keluar dari kamar rawat. Putra tak sanggup meninggalkan Rafa sendirian, “Abang..bang Putra jangan pergi dulu” Rafa berteriak dan seorang susuter harus menyuntikan obat bius untuk menenangkan Rafa. Tante Rika yang menunggu Putra di depan ruang rawat Rafa seketika matanya berkaca-kaca.
Putra dan tante Rika langsung menemui tim dokter. “Dok, saya sudah siap, tante saya titip adek saya pada tante” kata Putra. “Putra, kamu jangan khawatir aku akan merawat adik kamu seperti ku merawat Kafa” kata tante Rika meneteskan air matanya. “Terimakasih tante, Putra sangat bahagia mendengarnya” kata Putra tersenyum.
Tante Rika hanya bisa meneteskan air matanya. Putra langsung memasuki ruang operasi dan sempat tersenyum pada tante Rika. jelang beberapa menit Rafa di bawa ke ruang operasi untuk menjalani operasi mata. Setelah beberapa jam, akhirnya Rafa di bawa ke ruang perawatan. Selanjutnya giliran Kafa memasuki ruang operasi waktu yang dibutuhkan lebih lama di banding Rafa. Namun setelah menunggu 8 jam, akhirnya proses operasi selesai dan anak tante Rika juga di kembalikan ke ruangannya.
*************
Beberapa hari kemudian, waktu yang sangat menegangkan telah tiba bagi Rafa. Dokter membuka perban yang menutupi mata Rafa, perlahan Rafa membuka matanya. “Coba buka mata anda perlahan” perintah Dokter. Rafa membuka matanya perlahan “Dokter, Rafa bisa melihat lagi, Alhamdulillah ya Allah” kata Rafa tersenyum.
Rafa langsung mencari sosok Abangnya di ruangan itu, namun Rafa tak mendapatinya. Hanya ada dokter, dua orang suster dan seorang wanita yakni tante Rika. “Dok, Abang kemana?” Rafa panik mencari Putra. “Rafa kamu tenang dulu” kata tante Rika. “Anda siapa? Mana abang Putra?” tanya Rafa. “Panggil saja tante Rika, aku yang mengurus pengobatan kamu” kata tante Rika.
Rafa langsung terdiam dan mengira bahwa tante Rika adalah pelanggan abangnya. “Rafa, ini surat dari abang kamu sebelum Abang kamu pergi Dia titip ini buat Rafa” tante Rika memberikan amplop berisi surat. Dengan ragu Rafa mengambil surat itu, dan membaca isinya.
“Assalamualaikum, Rafa adikku tersayang, tak ada sosok lain lagi selain dirimu di dunia ini yang paling abang sayang. Sekarang pastinya Rafa telah menemukan kembali cahaya yang kemarin hilang yakni penglihatan Rafa. Andai saja Putra bisa menemani adik saat-saat bahagia seperti hari ini pasti Putra akan menjadi manusia yang  sangat beruntung. Raf, seperti yang aku katakan kemarin, abang akan melakukan apa saja agar adek bisa melihat lagi, termasuk hal besar ini. Melalui surat ini abang akan menceritakan rahasia kecil abang. Sebenarnya sakit kepala abang itu bukan gara-gara sakit biasa, namun ada sesuatu di kepala abang, yakni penyakit kanker. Tak ada cara untuk menyembuhkan penyakit abang, selain melakukan operasi dan tingkat keberhasilannyapun sangat kecil. Abang terpaksa merahasiakan semua ini pada adek agar adek tidak terlalu terbebani. Dan agar abang bisa hidup lebih lama, abang harus mengkonsumsi obat impor yang disarankan oleh dokter. namun harga obat tersebut sangat mahal, dan tak ada cara lain lagi untuk mendapatkan uang lebih selain menjadi seorang gigolo. Pada awalnya abang hanya menjadi gigolo untuk tante-tante kesepian, namun waktu hidup abang sudah sangat sebentar, abang putuskan untuk menjadi gigolo yang melayani siapa saja termasuk seorang gay yang kemarin kepergok oleh Rafa. Semua itu ku lakukan demi masa depan Rafa, sengaja abang mengumpulkan uang agar Rafa tidak kekurangan saat abang tiada. Namun rencana hanya rencana, Rafa kecelakaan dan semua tabungan abang untuk Rafa habis untuk pengobatan Rafa.
Rafa, abang tak mau meninggalkan Rafa dalam keadaan gelap gulita, maka ku hadiahkan mata abang untuk adek, dan semua dibiayai oleh tante Rika. Tante Rika itu sangat baik, abang mohon Rafa mau tinggal di rumah tante Rika hingga Rafa sembuh total. Sekali lagi, maafkan abang ya, abang tak bisa bikin Rafa sukses. Selamat tinggal Rafa selamat tinggal semoga kita berjumpa di surga. Amin. Putra ardiansyah.”  Rafa meneteskan air mata saat membaca surat yang di tulis Putra sebelum meninggal. “Cahaya Rafa bukan Penglihatan ini bang, Cahaya Rafa Adalah Bang.” Rafa terisak.  “Rafa, kamu yang tabah ya. tante sudah berjanji pada almarhum untuk merawat kamu sampai sembuh” kata tante Rika.
. Berkali-kali Rafa membaca surat dari Putra, seperti tidak percaya bahwa yang ia baca adalah surat terakhir dari abang tersayangnya. “Bang, kenapa Abang tega meninggalkan Rafa sendiri di dunia ini? ya Allah tempatkanlah Abang di tempat paling nyaman di alam sana” Rafa menangis. “Amin, semoga aja Putra di tempatkan di tempat yang nyaman dan damai, karena dia juga menyelamatkan satu nyawa lagi” kata tante Rika di samping Rafa.
“Maksud tante apa?” tanya Rafa heran. “Putra mendonorkan hatinya buat anak tante agar anak tante selamat dari maut, dengan imbalan tante mau merawat kamu dan membiayai semua perawatan kamu Raf” kata tante Rika. Rafa langsung menangis “ya Allah, Abang, kau masih memikirkanku saat-saat terakhirmu” Rafa terisak dan semakin sedih. Tante Rika mendekati Rafa dan langsung memeluknya,
“Kamu yang tabah yah, tante akan rawat kamu sampai kamu benar-benar mandiri, apa yang tante lakukan ini belum ada artinya dibanding pengorbanan Abang kamu. Rafa hanya dapat menangis meratapi kepergian Abangnya “Terimkasih tante” kata Rafa sambil melihat ke arah tante Rika.
Seminggu berlalu, Rafa di bawa oleh tante Rika untuk tinggal bersamanya. Di perjalanan mereka mampir di tempat pemakaman, “Rafa, ini makam abang kamu” kata tante Rika. Rafa seketika meneteskan air mata, dan langsung duduk di dekat batu nisan. “Sudah Raf, jangan sedih. Kamu harus tabah,agar abang kamu tenang di sana dan sebaiknya kita doakan saja abang kamu” tante Rika memegang pundak Rafa. Tante Rika juga duduk di samping Rafa dan langsung mendoakan arwah Putra di alam sana.
Akhirnya Rafa tiba di rumah tante Rika. Saat Rafa turun dari mobil tak menyangka bahwa ini adalah sebuah rumah. “Tante ini rumah Tante?” kata Rafa ragu. “Iya Raf, mulai sekarang kamu tinggal disini, itu ada bik Yuyun yang akan mengantar kamu ke kamar kamu, tante harus menjenguk anak tante di rumah sakit, mungkin dua hari lagi dia juga bisa pulang” tante Rika langsung pergi lagi.
“Mari mas, saya antar ke kamar, mas siapa namanya?” tanya bik Yuyun. “Nama saya Rafa bik” Rafa tersenyum. “Kok sama namanya dengan anak nyonya?” kata bik Yuyun. “Emang siapa nama anak tante Rika bik?” tanya Rafa heran. “Aanak nyonya itu namanya Kafa mas” kata bik Yuyun.
“Oh, nama saya Rafa bik, bukan Kafa” kata Rafa tersenyum. “Hehe, maaf mas Rafa bibik rada budek, maklum sudah tua” bik Yuyun tertawa. “Oh, g’masalah bik, Rafa maklumi itu” kata Rafa. “Mas, kata nyonya, mas Rafa ini keponakan jauhnya ya?” tanya bik Yuyun. “Jika beliau bilang begitu, pastinya iyalah bik. Hehe” Rafa terpaksa berbohong karena Rafa berfikir tante Rika sudah merencanakannya.
“Pantesan, mas Rafa hampir mirip dengan mas Kafa” kata bik Yuyun. “hehehe” Rafa hanya tersenyum.  “Bbeneran mas, meskipun gak begitu mirip tapi sekilah mas Rafa mirip dengan mas Kafa” bik Yuyun menambahkan. Rafa hanya terseyum dan akhirnya bik Yuyun mempersilahkan Rafa untuk istirahat.
Setelah di kamar, Rafa mencoba berbaring di atas tempat tidur yang sangat empuk. Tak pernah dia merasakan tempat tidur senyaman itu. karena kecapean akhirnya Rafa terlelap dalam tidurnya. Namun setelah beberapa jam, Rafa terbangun dengan suara lemari yang di buka. Ternyata itu bik Yuyun sedang membereskan baju Rafa. “Bik, biar Rafa saja yang bereskan, Oia siapa yang ambil baju-baju saya di kontrakan?” tanya Rafa. “Eh, mas Rafa istirahat saja, tadi pak Johan sopir nyonya yang berikan ini.” kata bik Yuyun.
“Yaudah terimakasih bik” Rafa tersenyum. “Oia, ayo mas kita ke dapur karena bibik lagi masak dan pastinya mas Rafa laper” ajak bik Yuyun. “Iya bik, nanti saya menyusul” kata Rafa sambil berusaha turun dari tempat tidur. “Bibik tinggal dulu ya mas” bik Yuyun pamit.
Rafa meraih tongkatnya dan keluar menuju dapur, tiba-tiba ada tante Rika. “Rafa sudah makan?” tanya tante Rika. “Belum tan, nanti saja” kata Rafa ramah. “Yaudah, tante masih ada pekerjaan, tante tinggal dulu ya” tante Rika langsung menuju kamarnya di lantai atas. Akhirnya Rafa tiba di dapur menemui bik Yuyun, bik Yuyun langsung mempersilahkan Rafa makan di meja makan.
Setelah makan Rafa menuju belakang rumah, belakang rumah terdapat kolam renang yang bersih dan  taman yang tertata rapi. Rafa menyusuri seluruh sudut rumah, namun dia hanya menyusuri lantai bawah dan halaman. Rafa tak mau lancang menaiki lantai dua, Rafa berfikir di lantai dua pasti kamar tuan rumah dan pastinya lebih mewah di banding kamar yang dia tempati.
Kafa dan Hatinya
Dua hari berlalu, Rafa sudah mulai dapat beradaptasi dengan rumah besar ini. Rafa selalu melatih kakinya untuk berjalan tanpa tongkat dan usahanya tidak sia-sia. Rafa sudah bisa berjalan tanpa tongkat meskipun hanya beberapa meter. Rafa di rumah besar ini tak mau diam, dia melakukan apa saja yang dia bisa, memangkas tananman, menyapu halaman dan lain-lain.
Pada sore hari ketika Rafa sedang asik menyapu halaman rumah tiba-tiba mobil tante Rika memasuki pelataran rumah. “Rafa, ngapain kamu nyapu di luar? Kamu masih sakit Raf” kata tante Rika. “Ah, gak masalah tante Rafa ingin cepat sembuh” kata Rafa sambil tetap menyapu. Tante Rika belum merespon jawaban Rafa, tiba-tiba keluar seorang pemuda  tampan seumuran Rafa.
“Rafa, ini anak tante, kenalan dulu” kata tante Rika. Dengan tertatih tatih Rafa mendekat ke arah tante Rika dan anaknya. Rafa langsung tersenyum ramah dan menjulurkan tangannya dan berkata “Hei,  Rafa”.
“Kafa” tante Rika memperingatkan Putranya. Rafa langsung menarik tangannya karena pemuda itu tidak meresponnya. “Yaudah tante masuk dulu Raf, kamu juga istirahat saja, ngapain nyapu halaman sudah ada bik Yuyun dan pak johan Raf” kata tante Rika. “Kampungan” Kafa mengeluarkan suaranya. Mendengar itu Rafa langsung kaget namun tante Rika memberi kode agar Rafa sabar.
Rafa langsung masuk ke dalam rumah, dan menuju dapur untuk meneguk air minum. Setelah itu Rafa kembali ke kamarnya. tiba-tiba tante Rika menemui Rafa di kamarnya, “Maafkan Kafa ya, dia memang begitu dengan orang baru, tapi pada dasarnya dia itu anak yang baik” tante Rika meminta maaf.
“Oh, Rafa tak masalah dengan sikap Kafa tan, Rafa memaklumi itu” Rafa tersenyum.
Tak terasa sudah hampir dua bulan Rafa tinggal di rumah besar milik tante Rika. Sekarang Rafa sudah bisa berjalan normal lagi, dan dia meneruskan sekolahnya yang sudah lama dia tinggal.  Semua juga berkat tante Rika. Dan tak lama lagi Rafa akan menghadapi ujian kelulusan.
Selama tinggal di rumah besar itu, Rafa tak pernah sesekali bertegur sapa dengan Kafa. Hal ini dilakukan karena Kafa sangat sombong dan memandang dia sangat rendah. Kafa adalah anak tunggal tante Rika, dan dia harus kehilangan ayahnya saat dia masih kecil jadi dia tidak pernah melihat ayahnya. sama seperti Rafa, Kafa hanya tau wajah ayahnya yang di pampang di kamar mamanya. Kafa tidak pernah tau bahwa dirinya telah diselamatan oleh seseorang yakni Putra.
Setiap pagi Rafa dan Kafa berangkat ke sekolah bersama-sama, tante Rika juga ikut bersama mereka yang diantar oleh pak johan. Setiap hari pak johan menyusuri jalan menuju sekolah Kafa kemudian langsung ke sekolah Rafa, terakhir ke kantor ibu Rika. Rafa dan Kafa tidak belajar di satu sekolah, Kafa belajar di sekolah elit sedangkan Rafa meneruskan di sekolah yang dulu.
Suatu hari sepulang sekolah, Rafa menunggu pak johan di depan sekolah namun pak johan tak kunjung datang. Rafa memutuskan untuk berjalan kaki menuju rumah yang jaraknya agak jauh, hingga dia sampai di rumah tante Rika sore hari. “Rafa, kamu darimana?” tante Rika heran melihat Rafa yang sedang memasuki gerbang rumah. “Dari sekolah Tante” Rafa menjawab dengan wajah kelelahan. “Pak johan tidak menjemput kamu Raf?” tanya tante Rika. “Nggak tan, mungkin pak johan sibuk dengan pekerjaan yang lebih penting” jawab Rafa sambil masuk ke dalam rumah bersama tante Rika.
“Pak johan, pak” tante Rika memanggil pak Johan. “Rafa tadi siang gak di jemput pak?” tanya tante Rika. “Lho, katanya dia mau pulang dengan temannya” pak Johan melihat ke arahku. “Siapa yang bilang begitu?” kata tente Rika heran. “Mas Kafa nyonya, katanya mas Rafa sms ijin akan kerja kelompok dan pulang di antar temannya” Pak johan bercerita. Tante Rika sudah tau pasti ini ulah Kafa yang membuat Rafa tak betah di rumah ini. “Tante, Rafa tak apa, jangan tegur Kafa ya” Rafa memohon pada tante Rika.
Hampir setiap Rafa bertemu dengan Kafa, Rafa selalu mendapat perlakuan yang tak menyenangkan. Hingga suatu hari, Kafa sedang berdiri di dekat kolam renang belakang rumah. tiba-tiba Kafa datang dan langsung mendorong Rafa masuk kolam. Rafa yang tidak bisa berenang hanya bisa meminta tolong sedangkan Kafa hanya melihatnya di pinggir kolam. Untung saja pada saat kejadian ada pak johan dan langsung menolong Rafa.
Tante Rika yang juga datang ke belakang rumah akhirnya geram pada sikap Kafa. Tante Rika memarahi Kafa “ Kafa, kamu ini masih belum berubah, kamu tidak pernah menghormati orang yang ada di rumah ini” kata tante Rika.
“Apa? Pembantu seperti mereka harus dihormati?” kata Kafa menantang. “Kafa, dulu kamu adalah anak yang baik, namun setelah di berikan kebebasan oleh mama kamu menjadi liar sampai kamu jatuh sakit” tante Rika meneteskan air mata. “Mama tak pernah peduli pada Kafa, mama selalu sibuk dengan kerjaan mama, kenapa mama selamatkan Kafa? Bukannya kalau Kafa meninggal mama tak repot lagi?’ Kafa langsung berlari menuju kamarnya. “Kafa!” teriak tante Rika sambil menangis.
“Rafa, kamu tak apa? Maafkan Kafa ya” kata tante Rika sambil memegang pundak Rafa yang basah. “Iya tante, Rafa tak apa, Kafa juga gak salah tante, tadi Kafa tak sengaja nyenggol Rafa karena tak dapat menjaga keseimbangan Rafa terjatuh” Rafa selalu membela Kafa karena Rafa tak mau jika Kafa selalu disalahkan maka dia akan terus di bencinya.
Setelah ganti baju, Rafa menuju kamar Kafa. Rafa mengetuk kamar Kafa, “Kafa? Kamu di dalam?” Rafa mengetuk pintu. Tak ada jawab dari dalam kamar, Rafa mencoba membuka kamar Kafa dan ternyata Kafa sedang menangis di kamar. Kafa langsung melihat ke arah pintu, dan langsung mengusap air matanya. “Heh lancang kamu ya, masuk kamar orang tanpa izin” Kafa memarahi Rafa.
“Maaf Kaf, bukan maksudku lancang tapi aku kuwatir aja karena kamu tak menjawab panggilanku” Rafa mendekati Kafa. “Stop, jangan dekati aku, aku tak sudi berdekatan dengan gembel yang hanya jadi parasit di rumah orang” Kafa membentak Rafa. Seketika Rafa menghentikan langkahnya.
“Kafa, sebenarnya aku tak mau jadi parasit di keluarga kamu” Rafa membela diri. “Baguslah, sebaiknya kamu pergi saja” Kafa memandang Rafa dengan sinis.
“Ok, aku akan pergi tapi kamu harus tau satu hal Kafa” Rafa menunjuk Kafa dengan geram. “Ada apa gembel?” Kafa berdiri. “Ingat Kafa, kamu boleh sombong sekarang dan bilang kalau kamu tak mau dekat denganku karena aku gembel, apa kau gak tau dalam tubuhmu itu ada organ milik seorang gembel” Rafa emosi dan langsung ke luar dari kamar Kafa menuju kamarnya.
Kafa masih mencerna apa yang di katakan Rafa tadi. Kafa langsung mengejar Rafa ke kamarnya. Kafa berjalan sangat cepat menuju kamar Rafa dan tak sengaja menabrak bik Yuyun. “Astagfirullah” kata bik Yuyun.
“Rafa, kamu harus jelaskan kata-kata kamu tadi, apa maksudmu ada organ milik orang lain di tubuhku?” Kafa memegang kerah baju Rafa. “Aku akan cerita jika kamu meminta dengan sopan!, setelah itu aku akan pergi dari rumah kamu ini.” kata Rafa memandang Kafa tajam.
“Maaf” Kafa melepas genggamannya perlahan. Rafa langsung berdiri dan mengambil ransel miliknya, “Semua bermula dari dua orang bersaudara yang mengadu nasib di kota ini, mereka adalah diriku dan Abangku” Rafa mulai bercerita. Kafa hanya diam melihat Rafa memasukan bajunya satu persatu. “Kami berdua adalah yatim piatu, kedua orang tuaku meninggal karena sakit, Aku di rawat oleh abangku sejak aku umur empat tahun” sesekali Rafa berhenti dan melihat kearah Kafa. “lulus SMP abang membawaku datang ke kota ini dan meneruskan sekolah di kota ini” Rafa terus measukan baju-bajunya ke ransel.” Namun setelah satu tahun di kota ini abangku terserang kanker otak dan dia membutuhkan obat yang harganya mahal agar dia hidup lebih lama” mata Rafa mulai berkaca-kaca.
“Tak ada pilihan lain selain menjadi gigolo hanya demi lembaran rupiah untuk menanggung beban hidupnya dan hidupku” Rafa mulai meneteskan air mata. Rafa tak menghiraukan Kafa yang ada di kamar itu, Rafa terus membereskan barang-barangnya. “Semua makin parah ketika aku mengalami kecelakaan, membuat mataku buta akibat kecelakaan itu” Rafa meraih sepatunya. “Cara terakhir yang abang lakukan adalah, mendonorkan hatinya buat kamu dan matanya buat diriku agar aku bisa melihat indahnya dunia” Rafa langsung menggendong tas ranselnya. “Kafa, aku pergi dulu, sayangilah ibumu sebelum kau kehilangan semuanya sepertiku, dan gunakanlah hati itu sebaik-baiknya” Rafa langsung keluar dari kamar.
Kafa langsung memegang tangan Rafa dan memohon padanya “Rafa, maafkan aku, maafkan semua kesalahanku padamu, aku lakukan semua ini hanya merasa ingin di perhatikan oleh mama.”, Kafa meneteskan air matanya. “Rafa langsung berbalik dan memegang pundak Kafa, “Kafa, jika kepergianku bisa membuat kamu bahagia aku akan pergi dari sini” Rafa tersenyum.
“’Gak ada yang boleh pergi dari sini, Rafa aku mohon tetaplah tinggal disini, dan jadilah sahabatku” Kafa sepontan memeluk Rafa. Akhirnya Rafa tak jadi pergi dari rumah itu, karena Kafa berjanji akan bersikap lebih baik.
Tiba-tiba tante Rika mendekati mereka, “Kalian sudah bisa akur?” tanya tante Rika. “Mama, maafkan kesalahan Kafa ma” Kafa memeluk mamanya. “Kafa, apa mama tak salah? Kenapa nak kamu berubah seperti ini?” tante Rika heran. “Kafa sadar ma, tak ada yang lebih berharga selain mama di dunia ini” Kafa terus memeluk tante Rika.
Rafa hanya bisa tersenyum melihat pemandangan mengharukan itu. “Rafa, terimakasih ya” kata Kafa. “Tante juga berterimakasih telah mengembalikan anak tante menjadi lebih baik” tante Rika tersenyum. Akhirnya mulai saat itu Rafa tak pernah bermasalah dengan Kafa lagi, keduanya menjadi seorang sahabat.
Hadiah Terbesar Dalam Hidup (Keluarga)
Setahun berlalu dan tak terasa Rafa sudah menjadi seorang mahasiswa di universitas tinggi negeri di kota itu. Rafa dan Kafa menimba ilmu di universitas yang sama, dan mengambil jurusan managemen. Mereka berdua selalu berangkat ke kampus bersama-sama, namun di kampus Rafa memilih untuk bergaul dengan teman-teman SMAnya, sedangkan Kafa juga bergaul dengan teman satu SMA dengannya. Hingga pada suatu hari Rafa melihat gadis berjilbab yang sangat cantik yang lewat di depannya. Pada saat itu juga Rafa merasa bahwa Rafa menyukai gadis itu. Rafa mengikutinya hingga perempuan itu memasuki kelasnya.
“Hei, ngapain kamu Raf?” Kafa mengagetkannya. “Eh, tadi ada perempuan berjilbab dan sangat cantik” Rafa tersenyum. “Oh, ceritanya lagi ngejar cewek nih” , kata Kafa sedikit menyindir.
“Lho, kamu kok sepertinya gak suka liat aku ngejar cewek Kaf? Hayo kamu iri ya?” kata Rafa meledek. Kafa langsung terdiam dan membela dirinya, “Apaan sih, ayo pulang udah siang nih” Kafa menarik Rafa.
Di rumah Rafa selalu memikirkan gadis berjilbab yang di temuinya di kampus kemarin. Kafa selalu melihat Rafa melamun dan tersenyum seperti orang gila. Melihat Rafa yang lagi kasmaran Kafa merasa cemburu pada Rafa. Entah apa yang dia rasakan, dia hanya tak mau kehilangan Rafa. “Heh, ngapain kamu liatin aku seperti itu Kaf?” tanya Rafa. Kafa tak menjawabnya dan langsung pergi. Melihat tingkah Kafa, Rafa jadi penasaran.
Untuk kedua kalinya Rafa bertemu dengan gadis berjilbab itu, dan dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk berkenalan. “Hai, maaf mbak ganggu” Rafa berbasa-basi. Perempuan itu lansung melihat kearah Rafa dan menatap wajahnya. “Rafa?” kata gadis itu. “Loh, kamu tau namaku?” Rafa heran dan tersenyum.
“Beneran kamu Rafa? Rafa J.Septian?” kata gadis itu memastikan. “Aneh, tau darimana nih?” kata Rafa. Kemudian gadis itu tersenyum dan menunjukan gantungan kunci dari kayu. “Aku Vika Raf, masak kamu gak kenal?” Vika langsung terlihat senang. “Vika aprilia?” tanya Rafa memastikan.
“Iya, kamu sekarang sudah berubah Raf, makin gagah saja” Vika memuji Rafa. “Eh, dunia sempit ya, kamu juga vik, udah gak gendut lagi seperti dulu, dan kamu makin cantik dengan jilbab itu” kata Rafa membalas pujiannya. Akhirnya mereka ngobrol di kantin kampus.
Ketika melihat Rafa sedang asik ngobrol dengan Vika, Kafa merasa sangat tidak suka. Sepulang dari kampus saat di mobil Rafa terus tersenyum mengenang pertemuannya dengan Vika. “Makin gila aja kamu Raf,” kata Kafa. “Iya, aku gila Kaf, gila gara-gara aku bertemu dengan Vika” Rafa menjawab dengan enteng. Seketika Kafa menghentikan mobilnya, dan berhasil membuat Rafa kaget. “Ada apa Kaf?” kata Rafa. “Maaf, tadi ada kucing nyebrang jalan” kata Kafa. Sebenarnya Kafa tida suka jika Rafa bercerita tentang Vika di depannya.
“Raf, kamu jadi ikut camping?” tanya Kafa memastikan. “iyalah Kaf, kamu juga kan?” tanya Rafa. Kafa hanya tersenyum dan mengangukan kepalanya. Setibanya di rumah Rafa langsung masuk ke kamarnya sedangkan Kafa langsung menuju dapur.
Tiba-tiba Kafa mengetuk pintu kamar Rafa. “Ada apa Kaf?” kata Rafa sambil membuka kancing bajunya. “Gimana kalau nanti kita jalan-jalan? Membeli perlengkapan yang harus di bawa besok” kata Kafa. Rafa melepas kemejanya dan berkata, “Ok nanti malam yah” kata Rafa. Kafa hanya terdiam melihat Rafa bertelanjang dada. Rafa berusaha membuka celana jeansnya dan seketika sadar karena di dalam kamar ada Kafa. Rafa langsung membalikan badannya ke arah Kafa yang sedang tidur di kasur. “Kaf, ngapain kamu liatin aku seperti itu?? Rafa merasa heran.
“Ah enggak kok, aku tadi Cuma memikirkan barang apa saja yang akan di bawa nanti” kata Kafa. sebenarnya Kafa sangat menikmati pemandangan di depannya, yakni tubuh Rafa yang bertelanjang dada. “Yaudah, Aku mau ganti celana dulu. Kamu mau di sini melihatnya?” sindir Rafa. “Halah, siapa juga mau liat punya kamu, ku pastikan masih lebih bagusan punyaku”, kata kafa terkekeh sambil keluar dari kamar.
******************
Tiba saatnya mereka mengikuti camping, satu tenda berisi dua orang, Rafa dan Kafa tidur satu tenda. Pada malam hari udara di hutan sangat dingin, untung saja masih ada api unggun jadi mereka menghangatkan badannya di dekat api unggun. Hingga malam semakin larut, mereka memutuskan untuk tidur, udara malam sangat dingin, semakin lama semakin dingin, karena kedinginan Rafa tak sengaja memeluk Kafa. ternyata Kafa membalas pelukan Rafa.
Entah siapa dulu yang memulai, dari berpelukan menjadi saling ciuman. Hingga pagi menjelang, Rafa  kaget ketika mendapati dirinya sedang telanjang bulat dan Kafa masih di pelukannya. Kafa juga membuka matanya perlahan dan dia juga kaget. Keduanya langsung meraih pakaian masing-masing. Rafa memakai celananya sedangkan Kafa tetap memandang Rafa. “Raf, kamu tau apa yang telah kita lakukan semalam?” kata Kafa. “Maaf ya Kaf, semalam aku khilaf” Rafa langsung keluar dan menuju sisa-sisa api unggun semalam.
Kafa menyusul Rafa di perapian, mereka berhadapan dan tidak lama kemudian teman-teman lain bergabung dengan mereka. Tugas untuk Kafa dan Rafa adalah mencari kayu bakar di hutan, Rafa dan Kafa langsung bergegas ke dalam hutan. “Raf, kenapa kamu bersikap dingin seperti ini?” Kafa bertanya dari belakang. “Kafa, sudah aku katakan aku minta maaf atas kelakuanku semalam” Rafa menatap mata Kafa.
“Kenapa harus minta maaf? karena aku juga menikmatinya kok” Kafa tersenyum pada Rafa. “Apa? Kamu menikmatinya? Why?” Rafa heran. “Aku menikmatinya, karena sebenarnya akulah yang memulainya semalam, kamu tau aku lakukan itu karena aku cinta kamu Raf” Kafa berbalik.
“Apa? Kamu cinta pada diriku? kamu sadar apa yang kau ucapkan?” Rafa membalikan tubuh Kafa. “Kenapa? Aneh ya? Kamu jijik? Jawab Rafa!” Kafa sedikit membentak. “Aku tak percaya kamu mencintaiku Kaf, sebenarnya aku juga sudah suka pada dirimu sejak kita pertama kali bertemu, namun aku tak mau mengambil keputusan yang salah mencintaimu, karena aku kira kamu laki-laki normal” Rafa memegang tangan Kafa.
“Sekarang kamu tau kan Raf? kenapa aku bersikap aneh ketika kamu bersama Vika, semua itu karena aku cinta kamu, aku tak mau kehilanganmu” Kafa memeluk Rafa. “Rafa langsung membalas pelukannya dan mencium bibirnya, “Kafa, aku juga mencintai kamu”, Rafa tersenyum menatap Kafa. Kafa juga tersenyum dan memeluk Rafa sangat erat. Pohon pinus dan semak belukar menjadi saksi jalinan cinta mereka.
Di hari ulang tahunnya yang ke dua puluh Rafa mendapatkan hadiah dari tante Rika, yakni sebuah amplop lusuh. “Rafa, kini saatnya tante berikan titipan almarhum abang kamu, dia memintaku untuk membeRikan pada kamu setelah kamu berumur dua puluh tahun.” Tante Rika membeRikan sebuah amplop berwarna coklat tua. Rafa langsung bergetar ketika mengetahui masih ada surat dari abangnya yang dititipkan untuknya. “terimakasih tante” Rafa sedikit bergetar ketika menerima amplop itu. perasaan senang langsung menerpa Rafa, Rafa langsung pamit menuju kamarnya.
Di bukanya amplop tersebut, dan ternyata di dalamnya terdapat dua lembar surat dan satu amplop lagi. “Assalamualaikum Rafa adik tersayang, sekarang adik pasti sudah dewasa. Ini adalah surat terakhir abang yang akan membantu Rafa menemukan jati diri Rafa. Sebenarnya abang akan menceritakannya secara langsung setelah Rafa berumur dua puluh tahun, namun Allah tak mengijinkannya. Berawal dari tiga puluh tahun yang lalu, di gubuk kecil yang kita tempati dulu hidup seorang wanita tangguh, wanita tersebut bertama tiara adinda yang populer dengan nama Rara. Rara adalah anak orang miskin yang tak punya pilihan lain lagi selain menjadi penjaja seks di kota kita dulu.
Dari kelalaian ibu, akhirnya beliau hamil anak pertama dan entah siapa ayah dari anak pertama ini. anak pertama tersebut bernama Putra ardiyansah. Iya.. Putra adalah diriku sendiri. setelah berhenti setahun karena hamil, akhirnya ibu kembai lagi menjadi pelacur demi menghidupi aku dan dirinya sendiri. aku selalu di bawa ketempat pelacuran oleh ibu hingga aku berumur empat tahun.
Pada saat aku berumur empat tahun, akhirnya ibu memutuskan berhenti menjadi seorang pelacur. Alasan ibu berhenti melacur, karena ada seorang laki-laki baik hati yang mau menikahi dan menafkahi aku dan ibu. Laki-laki tersebut bernama Farhan jiosira, setahun pernikahan ibu dengan om Farhan mereka di karuniai seorang Putra yakni dirimu, dan membeRikan nama Rafa J. Septian. Sekarang kamu juga tahu asal usul nama kamu, Rafa adalah singkatan dari Rara dan Farhan, huruf J yang selalu kamu tanyakan adalah Jiosira nama papa kamu.
Setelah setahun pernikahan, akhirnya ibu mengetahui bahwa ternyata om Farhan sudah berkeluarga. Namun cinta selalu menuntun ibu untuk berfikir positif. Ibu rela menjadi istri ke dua om Farhan karena dengan begitu ibu tak perlu bekerja lagi menghidupi kita bertiga. Dua bulan sekali om Farhan datang menemui kita, namun setelah kamu berumur dua tahun, om Farhan tak pernah datang lagi, setiap hari ibu selalu menunggu om Farhan.
Tak ada pilihan lain lagi setelah satu bulan om Farhan tidak datang, akhirnya ibu memutuskan untuk tinggal di sebuah gubuk di atas bukit. Gubuk itu adalah peninggalan kakek kita. Tiap hari ibu selalu bekerja menjadi buruh tani, namun hasil yang di dapat tidak dapat menutupi kebutuhan kita. Entah setan apa yang menghasut ibu, akhirnya beliau kembali ke kehidupannya sebagai pelacur. Setahun berlalu saat aku berumur 11 tahun ibu meninggal karena serangan jantung di tempat beliau mangkal. Disitulah titik dimana aku harus merawatmu hingga kamu dewasa, namun aku gagal karena aku harus meninggal sebelum kamu dewasa.
Rafa, sekarang kamu tahu siapa ayah kamu sebenarnya, dan aku terpaksa bohong bahwa ayah kita meninggal akibat tenggelam di laut, karena aku takut kamu akan menanyakan makamnya. Rafa tetap jaga diri ya, jadilah orang sukses, agar Rafa tak menjadi seperti ibu dan abang yang menggunakan jalan salah demi lembaran rupiah.
Wasalam” Rafa meneteskan air mata.
Di dalam amplop ada dua lembar foto, Rafa mengambil foto pertama, foto pernikahan ibunya dan ayahnya. di belakang foto terdapat tulisan “ini foto ibu dan ayah kamu, saat mereka mengikat janji di depan penghulu dan dua saksi”. Rafa tersenyum melihat foto yang selama ini di rahasiakan oleh Putra. Foto kedua adalah foto om Farhan bersama seorang perempuan cantik yang sepertinya dia mengenalnya. Rafa melihat foto itu dan terus menerawang dan akhirnya Rafa dapat mengingat. Foto perempuan ini adalah foto tante Rika saat masih muda dulu. Rafa langsung membalik foto itu dan juga terdapat tulisan “ini foto ayah kamu bersama seorang wanita entah Abang tak tahu siapa wanita ini, Rafa pasti tau siapa Dia”. Rafa langsung menebak, bahwa tante Rika adalah istri pertama om Farhan. Namun Rafa tak mau gegabah mengambil keputusan, karena selama ini Rafa tak pernah menjumpai foto almarhum suami tante Rika.
Tiba-tiba suara Kafa terdengar dari balik pintu, Rafa langsung memasukan surat dan foto kedalam amplop dan langsung menyimpannya di balik bantal. Rafa langsung membuka pintu kamar. “Huft, lama banget buka pintunya Raf?” Kafa sedikit cemberut. “Oh, sory barusan aku lagi ganti baju” Rafa berbohong. “Bohong ya? oia kamu baru nangis ya? pasti ada masalah”, kata Kafa sabil menutup pintu kamar. “Enggak kok, Cuma kelilipan aja” Rafa berbohong lagi. “Hahaha, udah gak usah berbohong terus, karena kamu tak pandai berbohong Raf” Kafa mencubit hidung Rafa. Rafa langsung tersenyum.
Rafa tak mau menyia-nyiakan kesempatan, satu-satunya orang yang dapat memberikan informasi adalah Kafa. “Oia, sampai sekarang aku heran dengan nama kita, kok hampir sama ya, kamu Kafa sedangkan aku Rafa” Rafa memancing Kafa agar mau menceritakan tentang nama tersebut. “Hehe, mungkin sudah takdir kali, tapi yang ku tahu namaku ini adalah pemberian papaku” kata Kafa dengan PD-nya.
“Oia emang nama papa kamu siapa? Kok selama ini aku gak diceritain?” tanya Rafa pura-pura ingin tahu. “Nama papa adalah Farhan Jiosira maka dari itu namaku Kafa Jiosira, Kafa gabungan nama mama Rika dengan papa Farhan” Kafa terlihat sangat senang menceritakan pada Rafa.
Seketika jantung Rafa berdegub kencang, “Apa kamu punya foto ayah kamu?” tanya Rafa. “Ada tapi semua di kamar mama, dulu pernah ada di ruang tamu namun hilang, dari situlah mama memindahkan foto kenangan papa di kamar mama” Kafa sedikit menerawang. Rafa semakin yakin, bahwa Kafa adalah saudara seayah. “Oia, aku masih punya foto papa yang lain, ayo ikut ke kamarku Raf” Kafa langsung keluar. Rafa mengikutinya dari belakang menuju kamar lantai atas. Kafa membuka lemarinya dan mengambil selembar foto di bawah tumpukan baju-bajunya. “Raf, lihat foto ini, papaku ganteng kan?” Kafa memberikan foto ayahnya.
Rafa tak dapat berbicara apa-apa lagi, ternyata dirinya bersaudara dengan Kafa kekasihnya. “Raf, kenapa kamu bengong begitu?” Kafa menegur Rafa. “Tak apa Kaf, aku kekamar dulu” Rafa terlihat sedikit emosi. Kafa merasa heran kenapa Rafa bersikap seperti itu? “kamu kenapa Raf? Kamu sakit ya?” tanya Kafa khawatir. “Aku hanya sedikit pusing saja Kaf, aku balik ke kamar dulu ya!” Rafa langsung memberikan foto itu dan langsung menuju kamar.
Di dalam kamarnya Rafa  merasa sangat membenci dirinya sendiri, Rafa menyesal telah menjalin cinta dengan saudaranya sendiri. Dia juga marah pada ayahnya, karena laki-laki itu telah membuat ibunya menderita dan meninggal. Rafa berfikiran bahwa dirinya akan menjadi beban masalah di rumah ini, dan dia tak mungkin selalu berhubungan dengan Kafa. Salah satu cara  adalah meninggalkan kota itu, meninggakan Kafa dan semuanya.
Pagi buta, Rafa langsung bersiap-siap untuk pergi dari rumah itu, Rafa memasukan beberapa pakaiannya dan langsung pergi dari rumah itu. karena masih pagi, tak ada kendaraan apapun yang melintas di jalan. Terpaksa Rafa harus berjalan kaki menuju terminal terdekat. Rafa tak tau harus kemana karena dia tak punya saudara dan keluarga lagi. hingga akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke kota jember.
Setelah menempuh perjalanan panjang Rafa sampai di terminal, Rafa memutuskan akan ke jember tanah kelahirannya. Namun bus menuju jember masih akan tiba 1 jam lagi, akhirnya Kafa memutuskan untuk menunggu di terminal.
Tiba-tiba terdengar suara memanggil namanya. Rafa menoleh ke arah suara itu, ternyata Kafa sedang berlari menuju arahnya. Rafa langsung lari untuk mengihindar, namun karena kelelahan Rafa tak dapat berlari cepat. “Hei, kamu mau kabur kemana?” Kafa mencengkram tas ransel Rafa.
“Apa lagi yang kamu tutupi Raf?” ceritakan padaku” Kafa menujukan amplop pemberian Putra yang ketinggalan di kamarnya. “Kaf, kamu tahu semuanya?” tanya Rafa. Kafa langsung memeluk Rafa “ Raf, ternyata aku punya saudara, dan itu kamu” Kafa menangis. Rafa hanya diam dan tak berkata apa-apa. Tiba-tiba tante Rika juga ada di sana “Rafa, ternyata kamu anak mas Farhan” tante Rika ikut memeluk Rafa.
Akhirnya mereka duduk di pinggir jalan. “Sebelum kematiannya, papa kamu memberikan sebuah alamat, aku diminta mencari alamat itu, karena disana tinggal seorang wanita dengan dua anak laki-laki. Salah satu anaknya adalah darah daging mas Farhan dari pernikahannya dengan wanita itu. mendengar itu aku langsung shock, namun aku masih mempunyai hati nurani. Demi permintaan terakhir mas Farhan aku ke jember mencari ibu kamu, namun aku datang terlambat, ibu kamu telah pindah dari kontrakan itu dan tak ada yang tahu kemana ibumu pergi.
Akhirnya aku putuskan untuk berhenti mencari ibumu dan terus berharap suatu saat aku bisa bertemu dengan ibu kamu untuk memenuhi permintaan mas Farhan. Dan ternyata permintaan mas Farhan baru bisa terpenuhi saat ini” tante Rika menghapus air matanya menggunakan tisu.
“Kamu dengar Raf? Mama selama ini mencari kamu” kata Kafa. Rafa langsung menuju tante Rika dan memeluknya, “Tante maafkan Rafa, maafkan ibu Rafa tante” Rafa menangis di pangkuan tante Rika. “Aku sudah memafkan ibu kamu sudah dari dulu nak, tapi tante tak bisa memaafkan kesalahan kamu karena kamu tak mau menceritakan siapa dirimu sebenarnya” tante Rika mengelus kepala Rafa. “Tante, Rafa hanya malu, malu karena Rafa adalah anak hasil hubungan gelap antara om Farhan dan ibuku” Rafa menangis.
“Kata siapa hubungan gelap? Mereka resmi menikah” tante Rika melihat Rafa. “tante, maafkan Rafa” Rafa memohon. “Baiklah aku akan memaafkan kamu, dengan satu syarat” tante Rika mulai berdiri. “Apa itu tante?” Rafa bertanya.
“Panggil aku mama, dan kamu tak pergi lagi, lupakan semua masalah yang telah berlalu” tante Rika tersenyum pada Rafa. Rafa juga ikut tersenyum dan langsung memeluk tante Rika, “Terimakasih tante, eh maksud Rafa mama” kata Rafa sambil memeluk tante Rika. Tiba-tiba Kafa mencubit pinggang Rafa “Aduh, sakit Kaf” protes Rafa.
“Heh, itu mamaku juga beri aku ruang juga untuk memeluknya” Kafa tersenyum. Dengan ulah Kafa yang seperti anak kecil membuat mereka semua tertawa bersama. “Kafa, sekarang kita jadi saudara, bukan best friend lagi” kata Kafa sambil tersenyum dan mengangkat alisnya. Rafa langsung mengerti apa yang dikatakan oleh Rafa. Mulai saat itu Rafa dan Kafa mengakhiri hubungan percintaannya dan di gantikan menjadi hubungan persaudaraan.

Lima tahun kemudian
Tak tersa Rafa dan Kafa menjadi seorang sarjana, bahkan mereka berdua menjadi pemimpin perusahaan papanya menggantikan tante Rika. Saham perusahaan di bagi rata oleh tante Rika. Di tangan mereka berdua perusahaan berkembang pesat dan memiliki cabang di beberapa kota lain. Kebahagiaan selalu terpancar dalam keduanya, hubungan persaudaraan yang di dasari kasih sayang membuat mereka tumbuh menjadi pemimpin yang bijaksana. Kebahagiaan lain yang di buat oleh mereka berdua adalah, di adakannya pesta pernikahan mereka berdua di hari yang sama.
Rafa menikahi seorang gadis alim dan cantik bernama Vika aprilia, Rafa memilih gadis itu karena Rafa sudah tahu bahwa Vika sangat mencintainya sejak dia masih SMP dan miskin, cintanya sangat tulus hingga dia tak mau berhubungan atau menjalin kasih dengan orang lain. Sedangkan Kafa, dia menikahi gadis kaya yang di kenalnya saat kuliah dulu, gadis itu bernama Desy Putri Keiza. Meskipun gadis tersebut terlahir di lingkungan keluarga kaya, namun tak penah sesekali dia besikap sombong. Dia mempunyai jiwa sosial tinggi, dan itulah alasannya Kafa memilihnya menjadi seorang istri.
Keduanya hidup rukun hingga mereka di karuniai Putra dan putri. Perasaan cinta yang pernah hadir di antara mereka lenyap digantikan perasaan kasih sayang antar saudara. Kehidupan memang tak bisa di tebak dan terkadang sangat kebetulan, karena itu kita harus selalu bersiap menghadapi kejutan kehidupan itu.
The end.
By: RayRowling






Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih atas kunjungannya, besar harapan penulis tolong tinggalkan jejak dalam kolom komentar, terimakasih....