Welcome to Rayrowling's Blog. Media Berbagi Cerita.

Menulis dan membaca saat ini sudah mulai menjadi trend di kalangan Remaja. Selain itu banyak juga bermunculan cerita untuk kaum minoritas yakni cerita kaum pelangi yang isinya dominan dengan adegan panasnya. Dengan berdasar kedua alasan tersebut Rayrowling(Founder) membangun Blog ini sebagai Media Berbagi Cerita khususnya cerita cinta kaum pelangi yang tidak memfokuskan di adegan Hot-nya untuk lebih jelasnya silahkan baca Visi dan Misi Blog di About Site.
Apa Aja sih yang ada di Ray Rowling's Blog?
1. Tentunya berisi Cerita yang bertema kaum pelangi, baik fiksi maupun non fiksi dari pemilik Blog silahkan lihat label CORETANKU dan dari beberapa tulisan sahabatnya dengan label CORETAN SHABAT
2. Berisi karya lain dari penulis seperti puisi, Argument dan lain-lain untuk itu silahkan kunjungi PETA SITUS kami untuk mengetahui apa yang ada di blog ini. Terimakasih atas kunjungannya.

Thursday, 24 January 2013

Mengejar Masa Lalu 06


            Akhir dari part Mengejar Masa Lalu 05, Adam bertemu dengan Roni yang mengatakan bahwa Adam memilik wajah sama dengan Vicky. Hal itu merupakan secercah harapan Adam untuk bertemu dengan Keluarganya.Terimakasih buat yang setia mengikuti kisah ini, semoga Aku bisa menyelesaikannya hingga di part akhir yakni part 10. Doakan saja semoga selalu diberi kesehatan dan lancar segara urusan yang saat ini semakin banyak . J
Kebahagiaan**
            Adam terbangun oleh suara Johar yang membangunkannya untuk segera Sholat. Terlihat lingkar mata Adam lebih gelap karena dia tidur terlalu larut memikirkan tentang keberadaan keluarganya. “Kak, Udah waktunya sholat loh, semalam tidur jam berapa kok sampai sembab gitu” Johar yang sudah sholat membangunkan Adam. “Gak tahu Dek, Ini sudah Jam berapa?” Tanya Adam. “Sudah Jam lima kak! Cepat sholat!” Kata Johar dan akhirnya Adam bergegas ke kamar mandi dan berwudlu.
            Setelah Sholat, Adam selalu menyempatkan membaca Ayat Suci Alqur’an meski itu hanya sebentar. Namun tidak seperti biasanya, Adam membaca Al Qur’an dengan suara berat dan bersedih. Hal itu membuat Johar merinding dan terdiam melihat Adam, Hingga Akhirnya Adam menyelesaikan Mengajinya. “Kak!” Kata Johar ragu. Adam terdiam menghilangkan kesedihannya. Johar menghampiri Adam, “Apa yang kakak pikirkan?” tnya Johar sambil memegang pundaknya.
            “Ntahlah, mengapa nasib kita seperti ini ya dek, mengapa kita harus berpisah dengan keluarga kita!” Jawab Adam sambil menyanggah kepalanya di atas meja. “Loh? Kok kakak Ngomong gitu?” Johar heran. “Tadi Aku sempat memikirkan Mbok Dek, mengapa Mbok tega memisahkan kita.” Kata Adam bersedih. “Loh? Kenapa Ngomong gitu sekarang? Kakak kecewa dengan Mbok? Bukannya kita semua menyayangi Mbok Kak?” Kata Johar sambil memaksa Adam untuk melihat ke arahnya.
            “Aku gak kecewa! Kalau Aku gak memikirkan Mbok ngapain Aku datang ke surabaya? Ngapain dek?!” Suara Adam meninggi. “Maaf Kak, mungkin situasi yang kakak alami lebih berat, Mbok sengaja memisahkan kakak, tidak seperti diriku yang memang dibuang oleh orang tuaku!” Kata Johar dengan suara bergetar. “Aku hanya mohon pada Kakak, jangan salahkan Mbok dan mengeluh kak! Itu akan memberatkannya di akhirat nanti!” Kata Johar sambil memegang tangan Adam. “Maaf dek, kalau kakak membuat suasana di pagi ini tak nyaman!” Adam memeluk Johar dengan penuh kehangatan.
            “Kalau kakak mau Ayo kita temui Roni, biar kakak bisa memastikan keraguan itu!”, johar mencoba melepas pelukan Adam. “Yaudah, tapi hanya kita berdua dek, Aku tak mau orang lain tahu!” Kata Adam. “Kenapa kak?” Tanya Johar heran. “Kalau ada hal yang kurang menyenangkan biarlah menjadi rahasia kita berdua” Adam menjelaskan alasannya
            “Hemmm… bagaimana kita menghubungi Roni? Nomor Roni kan ada di Roy?” Kata Johar. “Haduh… Sepertinya kita harus mengajak Roy!” keluh Adam. “Sekalian ajak Alex kak, jadi kita bisa minta anter mereka!” Johar bersemangat. “Ih, Kalau Alex ikut nanti pasti cerita ke Stella” Adam ragu. “Ya Juga sih, tapi gimana kak? Kita tidak punya motor!” Kata Johar. “Yaudah, kita hubungi Roy aja, Ayo kita ke Mas Yudi untuk minta satu SMS!” Kata Adam sambil keluar dari kamarnya.
            “Mas, Boleh minta tolong sms ke Roy nggak? Maaf mas numpang SMS lagi!” kata Adam malu-malu. “Iya, itu nomornya Roy masih belum kuhapus kok, Eh, jangan gitu Dam kita kan saudara!” kata Yudi sambil menjulurkan ponselnya. “Kalian mau belajar kelompok lagi?” Suara Nico yang mengagetkan Johar yang tepat berada di depannya. “Ah Nico, Ngagetin aja!” Kata Johar sambil melihat Nico dan tersenyum. “Hehehe, Maaf… Ada kerja kelompok lagi ya?” Nico mengulang pertanyaannya.
            “Enggak Nic… hanya ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan Roy” Kata Adam  datar. “Oh, kirain belajar kelompok lagi…” Nico langsung berbalik menuju dapur. Tak lama setelah mengirim SMS ke Roy, Roy langsung menelfon ke nomor Yudi dan Adam membicarakan hal penting itu di depan rumah. Di saat yang bersamaan Johar mengikuti Nico ke dapur dan menarik kaos Nico. “Nic, Sebentar… ini perasaanku atau kamu memang.…” Johar menghentikan kata-katanya ketika Nico berbalik. “Apa Jo?” Sungut Nico mengarah pada Johar.
            “Kamu itu berubah Nic, Gak seperti biasanya dan perubahan kamu ini sejak Aku dan kak Adam mengajak teman-teman main kesini” Kata Johar. “Heh, Biasa aja jo… Itu hanya perasaanmu aja!” Nico membalikan Badannya dan menuju kompor untuk menyalakan kompor minyak. “Nggak, Ini gak biasa, Kak Adam juga merasakan hal yang sama!” Kata Johar. Nico hanya diam dan sambil menyiapkan keperluan memasak.
            Johar mendekati Nico dan meraih panci yang dipegang Nico. “Ngomong Nic, Apa gak boleh Aku mengajak teman ke rumah ini?” Kata Johar terengar sedikit emosi. “Apa sih, Sini pancinya Aku mau nyuci beras!” Kata Nico. “Biar Aku yang mencuci!” Johar langsung mengisi panci dengan beras dan pergi mencucinya. “Kalau kamu memang gak suka dengan teman-temanku, atau kami tidak boleh menerima tamu berikan alasannya!” Johar masih berusaha meminta kejelasan pada Nico. “Aku sudah bilang tadi, kenapa kamu masih ngotot?” Nico mulai geram.
            “Sudahlah, Aku tak mau mencari masalah dengan kamu Nic, maaf jika Aku berlebihan….Aku janji tidak akan membawa teman-temanku datang ke sini lagi!” Johar meletakan beras yang sudah dicuci di atas kompor dan masuk ke kamarnya. Di dalam kamar Adam membongkar isi lemari mencari sesuatu. “Cari apa kak?” tanya Johar heran. “Cari cicin peninggalan Mbok dek. Aku lupa dimana meletakannya!” Kata Adam yang terus sibuk mencari cicin peninggalan di dalam lemari.
            “Loh? Bukannya ada di saku kemeja itu kak?” kata Johar menunjuk kemeja Adam yang digantung di lemari. “Astaghfirullah, Aku lupa dek….Ini foto ayah ibumu juga ada disini” kata Adam yang mengambil dua barang peninggalan mereka. “Iya kak, Aku menyimpannya disana….” Jawab johar.
            “Oia, Roy bilang satu jam lagi dia akan kesini, Alex juga ikut dek!” Kata Adam. “Alex ikut beneran? Wah jadi kita bisa minta antar mereka kak!” Jawab Johar yang senang. “Kamu ini seneng banget jika Alex ikut, padahal dulu kalian saling membenci!” Kata Adam yang tersenyum. “Hahaha… Bukan gitu kak, ada-ada aja kakak ini!” Johar malu.
            “Eh, Udah masak?” tanya Adam. “Masih masak Nasi kak! Sana bantuin Nico… Kasihan sendirian!” Kata Johar. “Aku masih mau beresin baju-baju ini” Adam menunjuk baju-bajunya yang berantakan. “Biar Aku yang beresin, tadi Aku berdebat dengan Nico, jadi lebih baik kakak yang bantu Nico” jawab Johar sambil membereskan baju-baju Adam. “Kenapa lagi tuh?” Adam melihat ke arah Johar.
            “Seperti yang kita bicarakan kemarin, Nico itu sedikit berubah sejak kita sering mengajak teman-teman main kesini. Yaudah kutanyakan kenapa dia sampai seperti itu, tapi dia tidak mengakui dan malah jawabnya sewot!” Johar mengkerutkan alisnya. “Aku yakin yang salah kamu Jo, kamu kalau bicara biasa aja, jangan seperti orang emosi. Pasti Nico salah paham! Yaudah Aku ke Nico aja.” Adam langsung menemui Nico untuk membantunya memasak.
            Satu setengah jam berlalu, Adam dan Johar sudah selesai makan dan mandi. Mereka berdua menunggu Roy yang tak kunjung datang. Ketika duduk di depan rumah, Johar melihat Alex berjalan dari gang. “Mana Roy?” tanya Adam. “Ada di depan, Ayo!” Ajak Alex. Akhirnya Johar dan Adam mengikuti Alex keluar dari gang menemui Roy yang sudah ada di sana. “Roy, sudah hubungi Roni?” Tanya Adam.
            “Sudah, dia menunggu di depan Amore café. Ayo pakai helm….” Roy memberikan helm pada Adam. Adam langsung meraih dan memasangnya, dan menaiki boncengan Roy, sedangkan Johar berada di boncengan Alex. Mereka berdua melajukan motornya sangat cepat, tak peduli dengan keramaian kota surabaya. “Hati-hati Al” Johar mengingatkan Alex. “Tenang saja Jo, berdoalah agar selamat!” kata Alex.
            Sesampainya di depan Amore Café, Roni sudah menunggu di depan café dengan motornya. “Hey Ron, rumahnya masih jauh?” Tanya Adam. “Dekat kok, Ayo ikuti Aku aja!” Roni memakai helmnya dan langsung melajukan motornya. Ketika memasuki gerbang perumahan, Alex berbicara pada Johar, “Jo…. Ini komplex perumahan elit!” kata Alex. “Oia? Pantesan rumahnya gede banget Al!” Johar terkesima melihat barisan rumah besar berjejer.
            Mereka mengendarai motor sangat pelan, karena itu adalah wilayah perumahan. Johar membuka helmnya dan kagum melihat bangunan-bangunan mewah. “Al…. Rumahnya bagus banget ya!” berkali-kali Johar memuji barisan rumah membuat Alex tertawa. “Jangan tertawa” Johar mencubit pinggang Alex. “Eh… Sakit dodol!” Kata Alex.
            Akhirnya Roni berhenti di depan rumah yang lumayan besar berwarna putih. “Ini rumah Vicky!” Roni menunjuk rumah itu. “Tapi Aku malu untuk masuk, karena sebenarnya Aku dan Vicky tidak terlalu akrab, dia hanya teman SDku dulu, dan ketika SMP dan SMA saat ini kita sudah jarang bersama, meski terkadang kita berjumpa hanya sekedar tegur sapa!” Kata Roni ragu. “Gimana sih Ron, berarti belum pasti orang ini mirip denganku kan?” Adam mulai kecewa.
            “Enggak, Aku serius kalau kamu itu mirip, satu tahun yang lalu, Aku pernah kesini dan bertemu dengan Vicky kok” Kata Roni meyakinkan Adam. “Yaudah, kita pencet bell ini aja! Jangan terlalu lama di luar seperti ini” Kata Alex sambil memencet bell. “Al, haduh…” Adam melemas. “Biar cepat selesai kak!” kata Johar menenagkan Adam.
            Setelah dua kali Alex memencet Bell rumah, barulah seorang Ibu-ibu membukakan Gerbang. “Eh den Vicky!” Kata Ibu itu sambil membukakan pintu. Semua menoleh ke arah Adam. “Kok tambah kurus dan agak sedikit gelap Den?” ibu itu memegang wajah Adam. “Maaf, Ibu ada?” Tanya Roni. Ibu-ibu itu tidak menghiraukan pertanyaan Roni, dia hanya memegang lengan-lengan Adam.
            “Ada apa Bi?” Seorang wanita berpenampilan menarik keluar dari rumah. “Vicky? Pulang gak ngasih kabar?” Kata wanita itu menghampiri Adam. “Maaf, Saya Adam!” Jawab Adam ketika wanita itu mendekat. Wanita itu pun langsung menutup mulutnya karena kaget. “Maaf, wajah kamu mirip sekali dengan Vicky nak” Ibu-ibu yang mulai tadi memegang Adam langsung melepaskannya.
            “Kalian siapa?” Wanita pemilik rumah itu masih heran. “Maaf tante, saya Roni teman Vicky….” Kata Roni memperkanalkan diri. “Oh Aku ingat, kamu teman Vicky waktu SD kan?” Wanita itu memastikan ingatannya. Wanita itu langsung mengubah pandangannya ke Adam. “Nyonya, Dia mirip Vicky!” kata ibu-ibu di samping wanita itu. “Siapa kamu?” Tanya Wanita itu penuh keheranan.
            “Mungkin tante mengenal cicin ini?” Adam menjulurkan cicin yang ada di tangannya. “Ibu itu meraih cincinnya dan melihat relief pada cicin itu. Seketika air matanya menggenang di matanya. “Kamu dapat darimana? Ini cicin pernikahanku dulu!” Kata Wanita itu tak kuasa menahan air matanya. “Aku dapat dari mbok di banyuwangi, kata mbok cicin ini pemberian orang yang melahirkanku!” Adam ragu menceritakannya. “Banyuwangi?” Wanita itu terbata-bata.
            “Kalau itu memang cicin tante, berarti Aku telah berhasil menemukan pemiliknya!” Mata Adam berkaca-kaca. “Kamu anakku!” Wanita itu langsung memeluk Johar. Suara tangis dari wanita itu pecah di depan gerbang. Johar yang berada di samping Alex juga tak kuasa menahan Air matanya. Seketika tangan Alex menggenggam tangan Johar mencoba menenangkannya. Johar membalas genggaman Alex dan diam melihat keharuan Adam dan Ibunya.
            “Ayo kalian semua masuk dulu!” Kata mama Adam. Johar melepas genggaman tangan Alex dan mengikuti Adam masuk. Ada sedikit iri melihat Adam yang bahagia dengan mamanya. Di dalam rumah Adam menceritakan perjalanannya, menceritakan kisah yang diberikan mbok iyem. “Tente,…” Kata Adam terhenti. “Panggil Aku mama ya nak!” Kata Mama Adam. “Ma….” Adam sedikit ragu. “Maafkan kesalahan Mbok Iyem ya! Aku datang mencari Mama karena ini membawa amanah Mbok Iyem. Mbok menyesal ma!” Kata Adam dengan suara yang sangat tulus.
            “Aku tak tahu harus bilang Apa nak, Aku benar-benar sangat shock ketika papamu meyakini bahwa dalam rahimku ada anak kembar. Papamu memastikan ke Rumah Mbokmu namun Papamu tidak mendapatkan bukti. Dan mama semakin tertekan karena Oma kamu atau mama dari Papa kamu meyakini bahwa Aku mempunyai anak kembar dan mereka menuntut untuk mecarimu, namun ketika Aku dan papa kamu ke banyuwangi Kami tak menemukan siapa-siapa, hanya rumah kosong yang sudah hampir roboh. Akhirnya, Aku dan Papa kamu bersepakat, mengatakan bahwa Aku tidak mengandung anak kembar dan membuat dokumen palsu dari rumah sakit. Hal itu tidak membuat Oma kamu mengertin dan hingga saat ini dia tidak mau menemuiku nak!” Kata Mama Adam menceritakan kejadian masa lalunya.
            “Tapi, sekarang Aku sudah ada disini ma, Mama maafkan Mbok ya!” Adam memohon. “Maafkan ya Tante!” Johar juga menambahkan. “Aku maafkan, dan Aku senang kalian bisa menemukanku, dan Mbok kamu merawatmu hingga seperti ini!” Kata Mama Adam dan membuat mereka semua tersenyum. “Roni… Tante juga berterimakasih pada kamu!” Mama Adam melihat Roni.
`           “Roni hanya kebetulan tante, Oia Vicky jarang pulang?” Roni menanyakan Vicky. “Iya Tante, boleh kami lihat foto-foto Vicky?” Tanya Johar. “Sebentar ya!...” Mama Adam mengambilkan foto-foto Vicky. “Ini foto-foto Vicky.” Mama Adam menyodorkan album foto pada mereka. Johar dan Roy sangat antusias untuk melihat foto Vicky. “Eh mirip banget ya!” Kata Roy bergantian menatap foto dan wajah Adam. “Iya, Tapi masih gantengan yang di foto ini” Ledek Johar memandang Adam.
            Adam hanya tersenyum tersipu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Tante, ini siapa? Ayah kak Adam ya?” Tanya Johar sambil menunjukan foto Vicky dan seorang laki-laki. “Iya, dia Papa Adam juga… seandainya papa masih ada pasti dia yang paling bahagia, karena dia mempunyai keyakinan kalau Aku dulu mengandung anak kembar” kata Mama Adam bersedih. “Maaf tante, sekarang Om ada dimana?” tanya Adam ragu. “Setahun yang lalu dia telah wafat!” Kata Mama Adam lesu.
            “Iya, Setahun yang lalu Jo, Aku datang ketika pemakamannya!” tambah Roni. Mendengar itu, Adam langsung mengambil foto yang ada di tangan Johar. Dilihatnya sosok laki-laki yang dirindukannya sebagai seorang Ayah. Tak kuasa Adam menahan Air matanya dan seketika langsung mengalir dipipinya jatuh di atas album itu. “Andai saja Aku datang lebih cepat, pasti Aku akan bertemu dengannya!” Adam terisak. “Sudahlah Nak, Masih ada mama disini, tak ada yang sia-sia dalam perjalananmu!” Mama Adam mendekati Adam dan memeluknya.
            “Iya Kak, Sabar ya….Sekarang lihat di sekeliling kakak, kakak masih memliki harapan dan orang yang menyayangi kakak!” Johar memegang lutut Adam. Tak ada suara yang keluar dari bibir Adam, dia hanya mengangguk pasrah sambil memeluk mamanya. “Oia, mama akan mengabari Vicky di jakarta!” Kata mama Adam. “Dia selalu bermimpi mempunyai saudara!”  tambahnya sambil memencet ponselnya.
            “Vicky, bisa kamu pulang minggu ini? Atau besok yang penting secepatnya” Mama Adam menelfon Vicky. “Ada Apa Ma?” Suara Vicky terdengar sayup. “Tidak ada apa-apa mama punya kejutan untukmu nak, cepat pulang jangan lupa kabari mama kalau mau pulang!” kata Mama Adam sambil menutup telefonnya.
            Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, hari semakin siang dan Alex mengajak Roy untuk segera pulang. “Kalian mau pulang?” tanya Adam. “Iya Dam, kamu disini aja dulu kasihan mama kamu sendirian dan masih kangen tuh” Jawab Alex. “Iya kak, Jo juga mau pulang dulu!” Tambah Johar. “Jo, disini aja temani kakak!” pinta Adam. “Sudahlah kak, jangan kayak anak kecil gitu! Jo harus pulang mengabari Nico dan Mas Yudi” Kata Johar.
            “Yaudah, Nanti balik lagi ya Jo!” Kata Adam memohon. “Insyallah…! Ayo Al kita pulang!” Kata Johar mengajak Alex dan Roy. “Yaudah kita pamit dulu ke mama Adam” Usul Alex. Adam masih canggung berkomunikasi dengan mamanya, berkali-kali dia memanggil tante namun langsung dirubah menjadi kata Mama. “Teman-teman mau pamit pulang” Kata Adam menemui mamanya yang sedang membereskan meja makan.
            “Loh? Johar juga mau balik nak?” Tanya Mama Adam memastikan. “Iya Tante, Jo masih banyak pekerjaan di rumah” Kata Johar sopan. “Nginap disini saja Jo! Temeni Adam, kalian kan bersaudara.” Kata Mama Adam. “Maaf tante, terimakasih… tapi Jo benar-benar tidak bisa meninggalkan rumah!” johar berpamitan dan langsung keluar dari rumah itu. Di pintu gerbang Adam mengingatkan Johar, “Nanti sore Datang lagi dek!” Kata Adam. “Insyallah kak, Jo pulang dulu ya!” kata Johar di atas boncengan motor Alex. “Duluan Dam” Kata Alex dan Roy.
            Adam kembali masuk ke rumah duduk di ruang tamu, melihat beberapa foto kenangan milik Mamanya. Terlihat vicky sangat bahagia dan beruntung bisa berkumpul dengan keluarganya, namun tak ada rasa iri sedikitpun di benak Adam. Adam merasa hidupnya juga sangat bahagia bersama Mbok Iyem dan Mbak Yani juga bersama Johar. Satu persatu Adam membalikan lembar Album dan tersenyum sendiri.
            “Gak capek nak?” Kalau capek tidur aja di kamar Vicky!” Mama Adam mendekati Adam yang duduk sendiri di ruang tamu. “Enggak ma, terimakasih!” Adam masih terdengar canggung. “Ayo ikut mama ke lantai atas, lihat kamar Vicky dan kamu bisa beristirahat di sana” Ajak Mama Adam. Adam mengikuti Mamanya menuju lantai atas dan mendapati ruangan rapi milik Vicky. Di ruangan itu tidak terlalu banyak perabotan karena Vicky membawa barang-barangnya ke jakarta.
            “Ma, Vicky di jakarta tinggal dimana?” tanya Johar. “Di rumah Oma kamu Dam, Nanti kalau Vicky sudah pulang kita main ke jakarta” kata Mama Adam. “Yaudah, kamu istirahat di sini dulu” Mama Adam meninggalkan Johar di kamar Vicky. Adam melihat setiap sudut ruangan kamar itu, beberapa Foto Vicky terpampang di sana, dan ketika tidur di kasur yang empuk membuat Adam teringat Johar.
            Di sisi Lain, Johar masih berada di atas motor Alex yang jauh di belakang Roy. Alex sengaja mengendarai motornya pelan sambil memberi tahu jalan-jalan yang ada di surabaya. “Jo, kita jalan-jalan dulu ya!” kata Alex. “Kemana?” tanya Johar. “Ada deh” jawab Alex dan langsung membelokkan motornya di pertigaan. Beberapa menit kemudian mereka tiba di taman, Alex mengajak Johar masuk ke taman dan duduk di kursi. “Sejuknya!” Alex meregangkan otot kakinya.
            “Iya!” kata Johar datar. “Kok murung gitu?” tanya Alex. “Ntahlah, sepertinya Aku akan jauh dengan kak Adam!” Johar mengeluh. “Yah, gak mungkinlah… kita masih satu sekolah Jo, kamu bisa kapan saja main ke rumah Adam, dan belum tentu juga Adam akan tinggal disana, atau kamu ikut tinggal disana aja Jo”Banyak Pertimbangan yang diutarakan Alex pada Johar. “Tak semudah itu Al, Aku tidak mungkin tinggal di rumah besar itu, meninggalkan Nico dan mas Yudi di kontrakan!” Kata Johar semakin lesu.
            “Oh ceritanya berat ninggalin Nico yang imut itu?” tanya Alex dengan nada menyindir. “Bukan hanya Nico Al, mas Yudi juga!” Kata Johar. Alex terdiam tidak merespon kalimat terakhir Johar. “Terserah lah, menurutku jalan terbaiknya kamu harus ikut Adam” Alex berdiri meninggalkan Johar. “Hei, mau kemana?” Tanya Johar mengejar Alex. “Pulang!” Jawab Alex datar. “Aku mau ditinggal disini?” Johar terus mengikuti Alex. “Kalau kamu mau tinggal di taman ini silahkan” Alex mulai tersenyum. “Oh… ngajak berantem nih” Johar meledeni canda Alex. “Berantemnya lain waktu Aja Jo, Ayo Pulang!” Ajak Alex.
            Sesampainya di rumah, Johar menceritakan apa yang terjadi di hari itu kepada Nico dan Yudi. Mereka terdengar sangat senang mendengar bahwa Adam menemukan keluarganya. “Oia Mas, maaf sebelumnya kalau kami merahasiakan sesuatu kepada kalian, sebenarnya kami mendapatkan pekerjaan bernyanyi di café setiap malam sabtu dan minggu. Bayarannya lumayan mas, semalam kami mendapatkan seratus ribu” kata Johar. “Loh? Sejak kapan Jo?” Nico heran. “Iya bagaimana bisa kalian bernyanyi di cafe?” tanya Yudi.
            Johar menceritakan tentang bagaimana dia bisa bernyanyi di café, Nico dan Adam hanya bisa kagum mendengar cerita Johar. “Wah hebat banget kalian!” Kata Yudi memuji Johar. “Iya, baru mengamen tiga bulan sudah manggung di café, bagaimana kalau tiga tahun ya!” Tambah Nico dan membuat johar malu. “Ah bisa aja bikin Jo malu” kata Johar sambil tertawa.
            Keika matahari sudah pulang keperaduannya, langit senja berwarna Jingga Adam sedikit terbiasa dengan kehidupannya yang berubah seratus delapan puluh derajat. Namun ketika teringat Johar, dia menjadi gelisah dan berat jauh darinya. Adam memilih duduk sendirian di teras rumah sambil menunggu Adzan maghrib. “Ada apa kok melamun Nak?” Tanya mama Adam mendekatinya. “Nggak Ma, merasa tidak percaya aja Aku bisa menemukan mama!” Adam tersenyum pada mamanya.
            “Yaudah masuk aja, sudah gelap tuh!” Kata mamanya mengajak masuk. Ketika mendengar suara Adazan, Adam langsung melaksanakan Sholat, tidak mau seperti hari pertama datang ke surabaya yang salah kiblat, Adam bertanya tentang arah kiblat kepada mamanya. Setelah Sholat, Adam merebahkan diri di atas tempat tidur dan akhirnya terlelap dalam tidurnya.
            Tiba-tiba Adam terbangun, dan kaget mendapati dirinya berada di kamar yang bagus. “Johar” Adam menyebutkan nama Johar dan langsung berbalik menatap jam dinding. Jam sudah menunjukanpukul 23:00 WIB, sudah terlalu malam bagi johar datang ke rumah itu. Ketika mengingat Johar Adam merasa lapar dan langsung menuju dapur yang sudah gelap. Hanya bagian meja yang masih diterangi lampu, dan terdapat tulisan di atas meja. “Adam, kalau mau makan semuanya sudah siap, maaf mama tidak tega membangunkan kamu!” Adam membca tulisan itu dan lansgung tersenyum.
            Adam menikmati makanan yang dihidangkan oleh mamanya, Ayam goreng dan ikan yang jumlahnya terlalu banyak untuk tiga orang di rumah itu. Ketika menyantap masakan itu, Adam teringat lagi pada Johar, membayangkan Johar makan bersama dengannya. “Tidak sepantasnya Aku makan makanan seperti ini, Johar dan yang lainnya di kontrakan pasti makan seadanya, tahu dan mie instan sudah menjadi menu tetap mereka” Kata Adam yang langsung kehilangan selera makan.
            Malam itu adalah malam terberat bagi Johar, Johar tidur di kasur sendirian dan selalu membayangkan Adam di sampingnya. “Kak, Akhirnya kamu bisa hidup enak!” kata Johar sambil mengelus guling milik Adam. “Sedang apa kamu kak? Pasti kamu sudah pulas tidur di kasur yang empuk” Johar terus berbicara sendiri. Namun tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar.
            “Jo, udah tidur?” suara Nico dari luar kamar. “Belum Nic, ada apa?” Johar membukakan pintu kamarnya. “Boleh Aku tidur disini?” Tanya Nico ragu. “Yaudah Nic, temeni Aku… Aku sendirian merasa kesepian tanpa kak Adam” Johar melebarkan pintunya dan Nico pun masuk ke kamar Johar. Setelah menutup kembali pintu kamar, Johar tidur bersebelahan dengan Nico.
            “Nic, kamu pernah jauh dari mas Yudi nggak?” tanya Johar. “Belum pernah Jo, tapi Aku tahu suatu saat kita akan berpisah karena mas Yudi akan berkeluarga” Jawab Nico. “Iya juga sih, tapi Aku belum siap kalau kak Adam jauh dari kehidupanku” Kata Johar. “Tenang Jo, Aku masih disini kok, masih ada mas Yudi juga” Nico memegang tangan Johar yang berbaring di sampingnya. “Yaudah, Ayo kita tidur Nic!” Johar melepas genggaman Nico dan meletakan tangannya di keningnya.
            Ke esokan harinya Johar terbangun dengan keadaan tangan Nico memeluknya. Perlahan Johar melepas pelukan itu dan langsung menuju kamar mandi untuk berwudlu. Selesai Sholat, Johar membangunkan Nico untuk segera Sholat, namun Nico enggan mau bangun hingga jam dinding menunjukan pukul 6 pagi. “Nic, sudah Jam enam, kamu gak ke sekolah?” tanya Johar dan berhasil membuat Nico terbangun dan langsung keluar dari kamar Johar.
            Johar hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tempat tidur berantakan tak karuan. “Ya ampun anak itu kalau bangun tidur tidak merapikan kamarnya kali…!” johar menggerutu ketika membereskan tempat tidurnya. Ketika Johar sudah berseragam rapi, tiba-tiba ada suara yang mengagetkan dirinya di pintu kamar. “Lupa ya dengan janjinya akan menemuiku?” Adam berdiri di depan pintu.
            “Kak Adam…” Johar terlihat sangat senang. “Semalam Aku gak bisa tidur memikirkan kamu Jo” Kata Adam. “Aku nggak kak, malah sangat nyenyak tidur sendirian” kata Johar sambil tertawa. “Huft… dasar!” Kata Adam sambil menimpuk kepala Johar. “Yaudah Kakak mau ganti baju dulu, terus kita berangkat!” Kata Adam. “Ok Boss!” Johar langsung keluar.
            “Dek, Ayo cepat… kita ditunggu pak Joni di depan gang” kata Adam buru-buru. “Pak Joni? Siapa tuh?” tanya Johar. “Sopirnya mama!” jawab Adam sambil menggendong ranselnya. “Kayaknya berat banget tuh ransel” celetuk Johar melihat ransel Adam yang penuh. “Ini beberapa pakaian ganti, Aku di minta menginap di sana lagi dek! Adek ikut ya!” kata Adam. “Maaf kak, disana bukan tempatku” jawab johar datar. “Kok bilang gitu? Kamu gak sayang ma kakak? Mama kakak juga mama Adek!” kata Adam mendekati gang dan menuju Mobil.
            Adam menitipkan beberapa pakaiannya ke pak Joni sebelum mereka turun dari mobil. Adam meminta untuk diturunkan agak jauh dari sekolah, karena dia tidak mau teman-temannya tahu bahwa dia diantar pake mobil. Turun dari mobil perdebatan mereka yang tertunda dimulai lagi.
            “Pokonya adek nanti ikut kakak pulang ke rumah mama!” Adam sedikit memaksa. “Liha aja nanti, males bahas itu lagi kak!” johar langsung masuk ke sekolah. “Assalamualaikum Bu” Kata Johar melewati Bu Ana. Adam pun juga hanya menyapa Bu Ana yang berdiri di depan kantornya. Ketika berada di dalam kelas, Stella langsung mendekati Adam dan menanyakan kebenaran cerita Alex dan Roy. Adam kurang berminat menceritakannya dan langsung duduk.
            “Jangan terlalu di ekspose, Aku malu!” Kata Adam pelan. “Maaf, tapi Aku ngomongnya pelan kok” jawab Stella. Johar di samping Adam hanya diam melamun memandang papan hitam yang bersih. “Jo, kok melamun?” suara Alex bergabung dengan Adam dan Stella. “Banyak pikiran!” jawab johar datar. Seharian Johar kurang bersemangat, tidak seperti Adam yang berwajah berseri-seri.
            Ketika pulang sekolah, Johar buru-buru meninggalkan sekolah tanpa menghiraukan Adam. Johar tak ingin Adam membawa Johar ke rumahnya. Johar berjalan menjauh dari sekolah, ketika berjalan di pinggir jalan tiba-tiba Alex dengan motornya mendekati Johar. “Butuh tumpangan untuk kabur?” tanya Alex sambil tertawa. Johar tersenyum dan langsung naik ke motor Alex.
            “Alex memilih melewati jalan alternatif yang jaraknya semakin jauh, ini dilakukan karena Johar tidak memakai helm. “kamu kenapa sih Jo? Jangan bersikap gitu pada Adam… berikan dia kesempatan untung menikmati kehidupannya” Kata Alex. “Emang Aku kenapa Al? Aku hanya menolak diajak tinggal di rumahnya itu!” Kata Johar. “Yaudah, kamu hanya perlu bicara baik-baik dan beri alasan kepada Adam” Alex memberi saran.
            Alex memilih memasukan motornya kedalam gang dan beristirahat di kontrakan johar. Ketika berada di kontrakan Johar, Alex berbaring di kamar Johar. “Kalian benar-benar sudah tak bisa dilepaskan Jo, Adam bercerita kepadaku kalau semalam dia memikirkan kamu” kata Alex. “Aku juga begitu Al, tapi Aku gak menceritakannya biar dia bisa tenang tinggal di rumahnya” Jawab Johar pasrah.
            “Kamu gak mau pulang?” Tanya Johar melihat Alex. “Yeeee… Baru sebentar sudah diusir!” Jawab Alex. “Bukan gitu Al, takutnya kamu itu dicari orang tuamu, dan nanti sore Aku akan mengamen” Kata johar. “Sendiri?” Alex meminta kepastian. “Nggak, berdua sama gitar kamu. Hehehe” jawab Johar sambil mengambil gitar pemberian Alex dulu. “Gak usah ngamen Jo, libur sehari aja ya!” rengek Alex.
            “Heh, kamu kok malah seperti anak kecil?” Jawab Johar. “Kalau Aku gak ngamen, darimana Aku mendapatkan ongkos ke sekolah? Darimana Aku makan Al!” kata Johar sambil tertawa. Masalah ke sekolah, biar Aku yang antar jemput kamu, makan gampang bisa di rumahku Jo” Saran Alex. “Wah, masalah ke sekolah boleh aja Al, kalau makan di rumah kamu Ogah” kata Johar tertawa. “Yah, kapan kamu mau datang ke rumahku Jo? Kita sudah berteman cukup lama tapi Adam dan kamu gak pernah main ke rumah” Kata Alex.
            “Nanti aja Al, kan masih banyak waktu buat main ke rumahmu” Johar tersenyum sambil memetik gitarnya. “Alex meraih gitar Adam yang ada di sampingnya dan memainkan gitar seirama permainan Johar. Keduanya tersenyum, suara gitar mereka saling bersautan. Tak lama kemudian Nico mengetuk pintu kamar Johar. “Ada apa Jo?” tanya Johar membuka pintu. “Aku pikir kak Adam, eh ternyata Alex!” Nico langsung kembali ke kamarnya. “Kenapa dengan Nico?” Alex berdiri melihat ke luar. “Gak tahu Al, biarin lah!” Kata Johar sambil meletakan gitarnya di samping meja.
            “Oia, Ikut Aku yuk Jo! Pasti kamu bosen gak ada Adam disini!” Kata Alex. “Hmmm… Tapi Aku harus mengamen Al!” Jawab Johar. “Yah… sekali aja libur ngamennya!” Alex memohon. “Yaudah, Aku ganti baju dulu ya!” Kata Johar. “Ok, Aku tunggu di luar aja!” Kata Alex dan langsung keluar menuju motornya.
            Akhirnya Johar siap dan rapi menggunakan jaket kesangannya. “Kemana Jo?” Tanya Nico. “Jalan-jalan sama Alex. Hehehe… titip rumah ya Nic” kata Johar sambil tertawa ke Nico dan keluar menuju Alex. Nico tak menjawab hanya diam melihat Johar berboncengan dengan Alex, “Hati-hati di jalan” Jawab Nico pelan. Rasa cemburu semakin menjadi, Nico sepertinya sudah tak tahan dengan rasa cemburunya. Kedekatan johar dan Alex membuat Nico gampang emosi. Tak ayal Nico selalu meremas atau membanting bantalnya.
            Ketika Nico sedang kesal di kamar, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar. “Nic, Johar dimana?” tanya Adam. “Eh kak Adam, tadi Jo keluar bareng temennya.” Kata Nico. “Siapa?” tanya Adam. “Siapa lagi kalau bukan Alex!” Nico terdengar sangat tidak menyukai Alex. “Jangan gitu Nic, gak baik membenci orang” kata Adam mengingatkan. “Benci? Aku gak benci kok!” Kata Nico mengelak. “Kelihatan dari muka kamu Nic. Hehehe. Yaudah Aku ditunggu di depan, rencananya mau jemput Johar” Kata Adam.
            “Kak Adam gak mau tinggal di sini lagi?” tanya Nico. “Aku akan kesini lagi kok, tapi sekarang Aku masih ingin berkumpul dengan mamaku Nic, dua hari lagi Aku kembali ke sini” Kata Adam sambil tersenyum meninggalkan Nico di rumah.
Di waktu bersamaan, Johar dan Alex berada di jalan menuju rumah Alex. “Al, kita mau kemana?” tanya Johar. “Ke rumahku Jo” jawab Alex dan terus melajukan motornya. “Hah? Penculikan nih” jawab Johar sambil tertawa. “Eh, Aku malu loh ke rumah kamu” tambah Johar. “Kenapa mesti malu? Orang tuaku baik kok!” Jawabnya. Johar tidak merespon lagi apa yang dikatakan oleh Adam dan Akhirnya mereka tiba di rumah bertingkat dua seperti rumah Adam.
“Wah, rumah kamu sama besarnya kayak rumah mama Kak Adam ya!” Kata Johar kagum. “Biasa aja Jo, ayo masuk!” Alex mengajak Johar masuk. “Assalamualaikum Ma” Alex menyapa mamanya yang duduk di ruang tengah. “Walaikumsalam, kok baru pulang Al?” Tanya mama Alex. “Iya ma, Masih nungguin Johar di rumahnya!” Jawab Alex sambil menunjuk Johar. “Assalamualaikum tante” kata Johar menyalami Mama Alex. “Walaikumsalam, Oh ini Johar yang waktu itu? terimakasih ya nak udah nolongin Alex dan sedikit merubah sifatnya” kata Mama Alex memuji Johar.
“Emang kenapa dengan sifatku ma? Aneh ya?” Sungut Alex pada mamanya. “Enggak, sepertinya kamu sekarang sudah mendapatkan teman yang klop. Buktinya kamu sekarang rajin belajar, yaudah Ajak Johar makan dulu!” kata Mama Alex. “Hehehe, yaudah ma Aku sudah laper!” Jawab Alex melangkahkan kakinya ke dapur. “Eits, ganti baju dulu dong!” Kata Mama Alex dengan nada memanjakan Alex. Mendengar itu Johar langsung tersenyum.
Di dalam kamar Alex masih bercanda dengan Johar. “Heh, Maksud kamu apa tadi senyum-senyum?” Alex merangkul Johar layaknya mau bergulat. “Hahaha, Manja banget kamu yah!” Jawab johar. “Aku gak manja, Joooo….! Alex membanting Johar keatas kasurnya dan langsung menggelitik Johar. “Ampun Al..” Johar tertawa kegelian. “Rasakan yah siksaan ini” Kata Alex sambil terus memeluk Johar dan menggelitiknya.
Johar semakin kegelian dan meronta-ronta. Dan tak sengaja ketika Johar membalikan tubuhnya, wajah mereka sangat dekat. Alex terdiam dan memandang Johar, begitu juga Johar. Tiba-tiba Alex mendaratkan bibirnya tepat di bibir Johar dan berpautan satu sama lain. Johar lansgung mendorong Alex dan duduk di atas kasur.
“Maaf Jo” Kata Alex. Johar terdiam dan keluar menunggu di luar kamar Alex. Johar masih memikirkan apa yang sedang terjadi beberapa saat yang lalu, Alex melumat bibirnya dan dia hanya membalasnya. “Aneh!” umpat Johar pelan. “Ayo makan dulu Jo!!” kata Alex datar dan langsung menuruni tangga. Ketika makan, keduanya hanya diam, Johar selalu membuang muka di hadapan Alex.
“Jo, maafin Aku” Kata Alex pelan disela makannya. Johar diam dan terus menghabiskan makanannya. Ketika selesai, Johar membawa piring dan sendok kotornya ke tempat cuci piring dan mencucinya. “Biarin Jo, gak usah dicuci” kata Alex mendekati Johar. Johar masih terdiam dan langsung bergegas duduk di ruang tamu.
“Aku mau pulang!” Kata Johar ketika Alex duduk di sampingnya. “Langit gelap loh, sebentar lagi Hujan!” Kata Alex. “Daripada disini? Antarkan Aku pulang atau Aku jalan sendiri!” Kata Johar. “Kamu marah Jo? Maafin Aku Jo, tadi…” Alex memotong pembicaraannya. “Lupakanlah Al” Johar langsung pergi dari rumah Alex. Suara Alex memanggil Johar namun tak digubrisnya.
Johar terus berjalan keluar dari komplex perumahan, Alex dengan wajah kesal dan penuh tanda tanya melihat kearah Johar. Johar berjalan tanpa arah, mengikuti trotoar jalan raya dan berjalan menjauh dari rumah Alex. Johar melihat Alex sedang berusaha mencari dirinya, Namun Johar terdiam berkumpul dengan para pekerja kantor yang menunggu angkot.
Ketika Alex sudah tak terlihat, Johar memutuskan akan menaiki Angkot. Namun sayang Johar tidak membawa uang sepeser pun. Johar memutuskan untuk berjalan kaki meski jarak yang harus ditempuh terlalu jauh. Dan akhirnya hujan benar-benar turun dan membasahi Johar. Johar mencoba berteduh di emperan toko, namun dilihatnya Hujan tidak akan redah dan membuat Johar memutuskan melanjutkan perjalanannya.
Perjalanan Jauh yang ia tempuh dengan pakaian yang basah membuatnya kedinginan, hingga akhirnya dia tiba di kontrakannya. “Kehujanan Jo?” tanya Yudi. “Sudah pasti mas, kelihatan dari pakaian basah ini kan?” kata Johar yang masih kesal. “Johar langsung mengganti pakaian dan menghangatkan diri di dalam selimut. Suhu tubuhnya semakin tinggi, dan tak seorang pun peduli padanya.
Ketika malam semakin larut, Demam Johar semakin parah. Diam-diam Nico masuk kamar dan mengobati Johar. “Jo, Kamu sakit ya? Kamu minum obat dulu” Kata Nico. Setengah sadar Johar meminum obat pemberian Nico dan langsung berbaring lagi.
Keesokan harinya, Johar terbangun dari tidurnya dan mendapati Nico berada dipelukannya. Johar kaget dan membuat Nico terbangun. “Kamu kok disini Nic?” tanya Johar. “Maaf Jo, semalam kamu demam dan Aku memberikan obat dan menemanimu disini” kata Nico. “Terus mengapa kamu tidak pakai baju?” Kata Johar masih heran. “Kamu kedinginan Jo, Aku menghangatkanmu…!” kata Nico datar.
“Kamu homo ya? Kamu pasti berbuat macem-macem!” kata Johar sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. “ssst… Ngapain harus keras sih? Kalau Aku homo kenapa? Kalau Aku suka kamu kenapa? Hah?” Nico mendekati Johar. Johar terdiam ketakutan, “Pergi Nic” kata Johar. “Aku suka kamu Jo, kenapa kamu tidak mau mengerti?” Kata Nico sambil memeluk Johar. “lepasin Nic! Pergi dari kamar ini!” kata Johar sambil melepaskan pelukan Nico.
Nico langsung pergi dri kamar Johar, Johar pun kembali berbaring di kamarnya meratapi apa yang sebenarnya terjadi disekitarnya. “Kenapa harus Aku?” Kata Johar. Ketika merenung, bayangan Alex selalu ada pada dirinya dan itu membuat Johar semakin takut bertemu Alex. Akhirnya Johar memilih untuk mengunci kamar dan bolos sekolah.
Beberapa orang mengetuk kamar Johar, pertama adalah Yudi, Nico, dan Alex. Hingga siang hari suara Adam terdengar membujuk Johar membukakan pintunya. Mendengar suara Adam, Johar langsung bangun dan membukakan pintunya. Johar langsung memeluk Adam dan menangis. “Kak, tinggallah bersamaku, Aku tak bisa sendiri seperti ini” Kata Johar terisak.
“Kamu kenapa dek? Ada masalah? Kenapa kamu tidak sekolah?” banyak pertanyaan yang dilontarkan Adam. “Aku hanya sakit kak!” Jawab Johar datar. “Iya, badan kamu panas, sudah makan?” tanya Adam. johar hanya menggelengkan kepalanya. “Oia, kemana mas Yudi dan Nico?” tanya Adam yang mendapati rumah sepi. “Mungkin mereka ngamen kak” jawab Adam lesu.
“Tadi Alex juga datang kesini dek, katanya kamu gak mau keluar! Itu yang membuatku khawatir! Kakak janji akan tinggal disini lagi bersama Adek. Mama mengijinkanku dek!” kata Adam tersenyum. “Jadi kita akan bersama lagi kak?” Johar bersemangat. “Iya, dua hari saja sudah membuat kamu sakit, jangan sakit lagi ya!” kata Adam.
Johar sudah semakin bingung dengan Apa yang dialaminya. Meski ada sedikit rasa kepada mereka yakni Alex dan Nico, Johar menganggap Rasa itu hanyalah hubungan pertemanan yang kuat. Bersambung ke Mengejar Masa Lalu 07 Terimakasih sudah embaca, tinggal 4 Part lagi J


Monday, 21 January 2013

Mengejar Masa Lalu 05


            Kemarin di Akhir Mengejar Masa Lalu Part 4, Johar terbaring tak berdaya di rumah sakit karena mencoba melawan tiga preman setengah mabuk. Hal itu dilakukan semata hanya ingin menolong Alex yang tak berdaya melawan mereka bertiga. Namun Adam tidak mengetahui keberadaan Adiknya dan gelisah menunggunya di rumah.
Secercah Harapan Masa Lalu
            Di rumah, Adam sudah gelisah menunggu Johar yang tidak pulang. Jam dinding terus berputar mendekati pukul 22:00 WIB. Nico dan Yudi yang pulang dari terminal tidak menemukan Johar. Semua semakin bimbang dan Adam memutuskan untuk mencari Johar sendiri. “Kak, Kak Adam masih kurang Sehat!” Nico membujuk Adam agar tidak keluar rumah. “Aku baik-baik saja, Aku khawatir dengan Johar!” Adam meraih jaketnya dan langsung berjalan keluar.
            “Adam, Kamu mau kemana? kamu tunggu di rumah saja, biar Aku mencari Johar” Kata Yudi memegang bahu Adam. “Tapi Mas, Aku tidak bisa tenang jika tidak ada kejelasan mengenai Johar” Jawab Adam resah. “Iya, Aku akan berusaha menghubungi teman teman yang lain untuk mencari tahu kabar Johar” Yudi mencoba menenagkan Adam. “Tapi Mas….” Jawab Adam terpotong. “Sudahlah, kalian masuk saja dan tunggulah di rumah”, Kata Yudi dan berhasil membuat Adam dan Nico masuk.
            Adam memilih menunggu Yudi di ruang tamu, sedangkan Nico berbaring di sebelah Adam. Akhirnya Ketika jam dinding menunjukan pukul 02:00 WIB Yudi datang dan tidak mendapatkan kabar mengenai Johar. Adam pun semakin gelisah dan bersedih mengkhawatirkan Adiknya. “Besok kita keliling Dam, sekarang sudah terlalu malam dan kita tunggu Johar pasti pulang besok pagi” Kata Yudi meyakinkan. Dan Akhirnya mereka bertiga tidur di ruang tamu menunggu Johar pulang.
            Ketika Matahari terbit, Adam terbangun dan mendapati dirinya sendirian di ruang tamu. Tiba-tiba Nico keluar dengan seragam SMP-nya, “Mas Yudi mencari Johar kak!” Kata Nico melihat Adam yang duduk lemas. “Kemana Mas Yudi mencarinya?” Tanya Adam. “Aku kurang tahu, tapi sebaiknya Kak Adam istirahat saja!” Kata Nico mengingatkan tentang kesehatan Adam. “Aku baik-baik saja Nic, Lebih penting Johar daripada yang lain!” Jawab Adam dan langsung berdiri.
            “Yaudah Kak, Aku berangkat dulu karena hari ini ada ulangan, Sebenarnya Aku ingin membantu mencari Johar” Nico murung. “Yaudah, kamu sekolah saja, biar kami yang mencari Johar!” Kata Adam dan langsung menuju kamar mandi.
            Nico pun berjalan menuju jalan raya untuk menunggu Angkot. Ketika menunggu Angkot ada sebuah mobil yang berhenti di sampingnya dan keluarlah Stella dari mobil itu. “Mas, boleh tanya sebentar?” Kata Stella ramah. “Iya ada apa ya?” jawab Nico. “Aku mencari seseorang bernama Adam, Aku pernah melihatnya berkeliaran di sekitar sini” kata Stella. “Mbak Siapa?” tanya Nico. “Aku temannya, oia Adam itu pengamen ya Mas, katanya sih pengamen Di terminal Purabaya!” Kata Stella menambahkan.
            “Kalau kak Adam yang mbak maksud Aku tahu, karena dia tinggal di rumahku. Tapi sayang Aku terburu-buru ke sekolah dan gak bisa antar Mbak ke dalam” jawab Nico sambil menunggu angkot. “Yaudah, dimana rumahmu?” Stella bersemangat. “Mbak masuk gang ini saja, terus lurus ikuti jalan dan kalau ada gang masuk kiri hingga ada warung, tanya saja rumah Yudi ke orang sekitar situ, maaf ya mbak Aku harus segera pergi!” Nico berpamitan dan langsung naik angkot.
            Akhirnya Stella masuk gang dan mencari alamat yang ditunjukan Nico, dan menemukan sebuah rumah sederhana dengan pintu yang tertutup. “Permisi!” Stella mengetuk pintu rumah itu. Cukup lama Stella mengetuk pintu dan akhirnya Adam keluar dari rumah itu. “Stella? Ada Apa?” Kata Adam yang kaget melihat Stella datang ke kontrakannya. Adam merasa ada hal buruk yang akan disampaikan Stella.
            “Akhirnya Aku menemukanmu, ini menyangkut Johar Dam” Kata Stella terburu-buru. “Johar? Kenapa dengan Johar?” tanya Adam khawatir. “Nanti kujelaskan, kamu ikut Aku ke rumah sakit, Johar ada di rumah Sakit!” Stella langsung mengajak Adam ke rumah sakit. Adam pun bergegas menutup pintu kamar dan pintu rumah untuk segera pergi ke rumah sakit dengan Stella.
            Ketika di rumah sakit dan melihat Johar yang berbaring tak berdaya, Adam langsung berlari ke arah Johar. “Adek, Bangun dek…!” Kata Adam sambil menangis di samping Johar. Alex dan Rendy hanya diam di Sofa. “Adam, Johar tidak apa-apa, biarkan dia beristirahat!” Bujuk Stella menenangkan Adam. Adam mundur beberapa langkah dan langsung melihat ke arah Alex. Melihat Alex, Adam langsung mengarah padanya dan memukul Alex tepat di  pelipisnya. “Ini pasti ulah kamu ya?” Kata Adam penuh amarah.
            Alex terdiam kesakitan, sedangkan Rendy berusaha menghalang Adam. “Adam, ini bukan salah Alex!” Kata Stella yang juga terlibat diantaranya. “Kalau bukan dia siapa lagi? Kenapa sih kalian selalu mengusik ketenangan kami? Kalau ada hal buruk menimpa Johar jangan harap hidup kalian tenang!” Kata Adam sambil mendekati Johar. “Kak, Ini bukan salah mereka!” Suara Johar terdengar lemah. “Alhamdulillah!” Adam sangat senang melihat Johar membuka matanya.
            “Kak, Jangan menyalahkan mereka lagi, ini murni kecelakaan” Kata Johar meneruskan. “Maafkan Aku ya kak, Kemarin tidak izin berangkat mengamen, kakak Sehat?” Kata Johar menanyakan keadaan Adam. “Seharusnya Aku yang harus menanyakan tentang keadaanmu, Maafin kakak juga karena tidak bisa melindungimu!” Adam memegang tangan Johar.
            Tak lama kemudian, seorang suster masuk bersamaan dan diikuti Stella. Stella memanggil suster untuk memeriksa keadaan Johar yang sudah siuman. “Syukurlah, kondisinya sudah membaik, jangan terlalu diganggu dulu dan banyaklah beristirahat” Kata suster sambil menyuntikan obat ke Johar. “Kak, Kita pulang aja!” kata Johar merengek lemah. “Iya kalau kamu sudah sembuh dek!” Jawab Adam ramah.
            “Secepatnya kak, jangan buang-bunag uang di rumah sakit, kita tidak punya uang yang cukup untuk membayar semua ini” Johar terdengar sangat khawatir. “Kakak Akan berusaha mencari uang Dek, yang penting Adek bisa pulih kembali….” Adam mencoba meyakinkan Johar. “Jo, jangan memikirkan biaya rumah sakit, ini semua salahku dan Papa sudah membayar sebagian biaya Ini, jadi biaya kamu akan ditanggung oleh papa Jo” Kata Alex mendekati Johar.
            “Kami tidak bisa membayar hutang itu Al, meski Aku dan kak Adam berusaha keras butuh waktu lama untuk memenuhinya!” Kata Johar. “Adek, masalah itu nanti kita bicarakan lagi, adek istirahat aja dulu!” Kata Adam. “Kalian tidak usah menggantinya, karena kamu begini semata ingin menolongku Jo, kalau tidak ada kamu mungkin Aku yang berbaring di sana.” Alex tersenyum pada Johar. ‘Terimakasih Al” Kata johar lemah.
            “Yaudah adek istirahat dulu, Kakak dan yang lain akan menunggu di luar.” Adam keluar dan diikutin oleh Alex, Rendy dan Stella. Di luar ruangan Alex menceritakan kronologi kejadiannya. Mendengar kebenaran dari Alex, Adam merasa bersalah pada Alex karena telah menghadiahi pukulan di wajahnya. “Maaf Al, Aku tadi terlalu berfikiran buruk!” Kata Adam. “Aku mengerti Dam, kita selalu bermasalah dan semua pasti akan mengira kami yang melakukannya.” Jawab Alex.
            “Eh Stell, kamu gak berangkat ke sekolah?” tanya Rendy memecah keheningan diantara mereka. “Eh, Aku males ke sekolah. Tadi Aku sudah menyuruh pak Joko untuk bilang ke mama papa kalau Aku ada di sekolah” Kata Stella. “Kalian sendiri bagaimana?” Tanya Stella sambil melihat Adam, Alex, dan Rendy bergantian. “Aku juga tidak mau masuk, Aku masih mengkhawatirkan Johar.” Jawab Adam singkat. “Aku juga malas ke sekolah” tambah Rendy. “Kamu memang pemalas kan Ren?” ledek Alex. “Nah kamu juga, kenapa gak ke sekolah?” Tanya Rendy pada Alex. “Eh… Aku kan juga sakit!” Alex tertawa sambil memegang wajahnya.
            “Maaf Al, Aku menambahkan luka lebam di wajahmu.” Kata Adam tersenyum. “Tidak masalah, ini kuanggap hutang, biar suatu saat Aku bisa mengambil giliranku!” Jawab Alex dengan nada bercanda. “Aah….Masih saja mau berantem!” Stella mengeluh dan menjauh dari mereka bertiga. “Aku bercanda Stell” Kata Alex mengejar Stella yang memilih untuk duduk di kursi panjang depan kamar rawat Johar,
            “Oia, kita hubungi Roy yang di sekolah, suruh buatin Surat untuk kita” Usul Rendy. “Pasti kalau kita bersamaan mengirim surat akan mencurigakan guru, kita semua tidak akan dipercayai” kata Alex. ‘Yaudah, kita suruh Roy untuk membuat surat untukku dan untuk Adam” dengan begitu guru tidak curiga” Usul Rendy asal. ‘Yaudahlah, Aku juga sudah terkenal bandel di sekolah” Jawab Alex pasrah. Semua tertawa dan sedikit melupakan Johar yang berbaring di dalam ruangan.
            Ketika matahari semakin tinggi, Rendy dan Alex berpamitan untuk pulang sebentar untuk mandi dan berganti pakaian. Dan di rumah sakit hanya ada Adam dan Stella menemani Johar. Adam terdiam ketika berdua dengan Stella, begitu juga dengan Stella sesekali hanya melihat kearah Stella. Hingga Akhirnya Adam mencoba berbasa-basi menanyakan rumah Stella. Dari situlah mereka memiliki obrolan yang membawa mereka dalam suasana akrab.
****
            Beberapa jam kemudian, Rendy datang ke rumah sakit dengan membawa makanan untuk Adam, “Dam, Kamu makan dulu! Aku yakin kamu belum makan.” Kata Rendy menjulurkan Nasi kotak. “Terimakasih Rend” Jawab Adam sambil meraih nasi Kotak yang ada di tangan Rendy. ‘Stella gak makan?” Adam melihat Stella yang memandangnya. “Sudah… tadi sebelum berangkat Aku sarapan” jawab Stella terdengar kaget. Melihat itu Rendy terkekeh menahan tawa dan berhasil membuat Stella merengut pada Rendy.
            Tak lama kemudian Alex datang dengan membawa beberapa snack untuk mereka, dan buah untuk Johar jika sudah bangun. “Halah, Johar gak mungkin enak makan, Biar kita yang ngabisin Al” Kata Rendy sambil tertawa. “Ssst… Kalian malah ribut disini” Kata Alex mengingatkan. “Daripada di luar Al, mengganggu yang lain juga kan?” Kata Rendy membela diri. “Iya, tapi Johar lagi tidur tuh” jawab Alex sangat perhatian pada Johar.
            “Cie, sudah lupa ya? Diantara Adam dan Johar yang paling kau benci dulu siapa?” ledek Rendy sambil membuka snack. Mendengar itu, Alex reflek menimpuk kepala Rendy denga Snack lain yang dipegangnta. “Wah, Berarti sama nih, Johar juga paling gak suka pada Alex!” kata Adam menambahkan. “Iya, tapi semoga setelah kejadian ini kita bisa berteman” Jawab Stella yang duduk sambil mengupas buah jeruk. “Biar bisa deket dengan Adam kan?” ledek Alex dan berhasil membuat wajah Stella memerah.
            Semua terkekeh melihat Stella yang salah tingkah. Ketika semua tertawa Johar terbangun dari tidurnya “Sepertinya Aku ketinggalan pesta nih.” Kata Johar melihat ke arah mereka. “Adek sudah Bangun? Maaf tadi kita rame disini dan menggangu tidur adek” Adam mendekati Johar dan mencoba melihat keadaan Johar. “Aku sudah tidak apa-apa kak” Jawab Johar sambil tersenyum. “Al, terimakasih ya!” Kata Johar ketika melihat Alex. “Sama-sama Jo, Cepat sehat aja biar kita bisa berantem lagi” Jawab Alex tersenyum.
            “Iya Jo, cepat sehat ya….Gak bisa dibayangkan kalau kamu tidak kembali ke sekolah, gak ada orang yang akan Aku kerjain lagi” tambah Rendy tersenyum. “Jangan dengarkan orang-orang sinting ini Jo” Kata Stella menambahkan. Johar tersenyum ke arah mereka. “Adek mau makan buah?” tanya Adam. Namun Johar menggelengkan kepalanya, “Oia, Nico dan mas Yudi kemana kak?” tanya Johar. “Kakak, tadi tidak mengabari mereka dan mereka semalam mengkhawatirkan Adek, terutama Nico” kata Adam.
            “Cepat kabari mereka kak, katakan kalau Aku baik-baik saja!” kata Johar. “Iya nanti kakak pulang untuk mengabarinya” jawab Adam. “Kenapa gak di SMS atau ditelfon saja?” Saran Rendy. “Kami tidak punya ponsel Ren” Kata Adam datar. “Ouw, yaudah biar nanti Aku antar kamu pulang Dam” Usul Alex pada Adam. “Nanti saja Al, Aku masih ingin disini” Jawab Adam.
            Ketika jam dinding di ruangan itu menunjukan pukul 13:00 WIB, Roy datang ke rumah sakit bersama Bu Ana. “Johar, bagaimana keadaanya?” tanya Bu Ana dengan nada khawatir. “Saya baik-baik saja Bu, Hanya memar sedikit” Kata Johar. “Memar? Lihat kepalamu yang diperban itu, pasti parah Jo” Bu Ana melihat kening Johar yang dibalut kain kasa. “Terasa berat sih, tapi ini benar-benar tidak apa-apa Bu” Jawab Johar memastikan keadaannya.
            “Bagaimana Sih ceritanya sampai luka parah begini?” Bu Ana meminta kejelasan pada Adam. Adam menjelaskan kronologi kejadiaannya dan membuat Bu Ana meringis. “Yaudah, semoga ini menjadi pelajaran buat kalian semua, Sebentar lagi Bu Sarah juga datang!” Kata Bu Ana. Dan beberapa menit kemudian Bu Sarah juga berada di rumah sakit. Namun Bu sarah dan Bu Ana hanya sebentar dan langsung pamit pulang.
            Sore Hari, Adam pulang diantar Roy dan Rendy untuk mengabari Yudi dan Nico, Namun Hanya ada Nico di rumah dan Nico langsung ikut Adam ke rumah sakit. Ketika melihat Johar Nico yang berbaring di tempat tidur, membuatnya lega karena Johar sudah ditemukan, namun ada rasa iba dan kasihan ketika melihat keadaan Johar. Dan di sore itu, Semua berkumpul bersama menemani Johar.
            “Semuanya, terimakasih ya!” Kata Johar. Stella dan Adam mendekati Johar dan melihat keadaan Johar yang sudah membaik. “Aku mau kejadian ini menjadikan hubungan kita membaik, Aku ingin berteman dengan kalian” Kata Johar melihat Alex yang masih duduk di sofa bersama Rendy dan Roy. Stella langsung memberi kode agar mereka mendekat. “Pastinya Jo, Kita juga senang kalau kita bisa berteman” Kata Stella. “Yah, Kita gak bisa berantem lagi deh!” Tambah Rendy dengan nada candanya yang khas. “Halah, kamu ini hoby banget berantem, sebelumnya tidak ada johar, kita sering berantem!” kata Roy menyenggol Rendy.
            “Kalau kamu itu Beda, kamu itu orang yang paling menyebalkan di dunia ini” Kata Rendy melihat Roy. “Kurang ajar! Kamu pikir Aku itu siapa?” Roy mentoyor kepala Rendy. Rendy membalasnya dan terjadilah keributan ringan di ruangan itu. “Sudah, sudah! Kalian selalu berantem!” Kata Stella memandang mereka berdua dengan kesal. Melihat ulah mereka membuat Johar dan Adam tertawa, “Ternyata di geng kalian ada tom end Jerry ya!” kata Adam melihat ke arah mereka. “Dia tikusnya!” Kata Rendy menunjuk Roy dengan sigap, dan membuat mereka berdua beradu mulut lagi.
            “Aku kira kalian adalah orang-orang yang tidak menyenangkan, ternyata kumpulan orang-orang yang menjengkelkan menghasilkan suasana yang berbeda dan hangat” kata Johar. “Al, Maafkan Aku kalau disekolah sering buat kamu kesal” Johar menjulurkan tangannya. “Aku juga minta maaf Jo!” Alex tersenyum membalas jabatan Alex. “Aku juga minta maaf Al” Adam meletakan tangannya diatas jabatan tangan Alex dan Johar. “Aku juga” tambah Stella. Dan diikuti oleh Tangan Roy dan Rendy yang juga menggabungkan tangannya menjadi satu. “Aku harap kita menjadi teman selamanya, tak ada maslah lagi diantara kita baik di sekolah atau dimana pun kita berada kita tetap teman” Kata Adam dan membuat meeka semua tersenyum menyetujuinya. Akhirnya di sore itu Mereka semua berikrar untuk selalu berteman dan tidak akan bermasalah lagi.
******
            Seminggu berlalu, Sekarang Johar sudah kembali pulih dan kembali ke sekolah. Seperti biasa Johar dan Adam turun dari angkot di depan gerbang sekolah. “Akhirnya, Aku bisa berjumpa lagi denganmu… Gerbang Sekolah.” kata Johar memandang Gerbang sekolah. Mendengar itu Adam hanya terkekeh dan langsung mengajak Johar masuk ke dalam. Seperti biasa mereka selalu berpapasan dengan Bu Ana di depan ruangannya. Baik disengaja maupun tidak mereka selalu mengobrol sebentar di depan ruangan.
            Ketika sedang mengobrol dengan Bu Ana, tiba-tiba Stella menyapa mereka berdua dari belakang, “Hai Jo, Sudah sehat?” Stella tersenyum manis pada Johar. “Alhamdulillah Stel, Berkat kalian juga kan?” kata Johar tersenum ramah. “Yaudah, kalian sebaiknya cepat bawa Johar ke kelas, kasihan kan baru sehat!” saran Bu Ana. Mereka semua tersenyum dan langsung mengajak Johar menuju kelas.
            Di dalam kelas sudah ada beberapa Siswa yang senang melihat Johar, diantara mereka juga ada Rendy dan Roy menyambut Johar. “Wah, Jagoannya sudah masuk sekolah tuh!” Kata Roy meledek Johar. “Apaan sih, Kalian pikir Aku superman?” jawab Johar sambil duduk di kursinya. “Bukan, Tapi superboy!. Hahaha” Jawab Rendy sambil tertawa.
            “Kemana Alex?” tanya Stella yang mencari sosok Alex. “Palingan juga terlambat Stell, Sepertinya dia tidak bersemangat lagi kesekolah!”, Jawab Rendy. “Emang kenapa Rend?” kata Adam yang hampir bersamaan dengan Johar. “Yah… bagaimana mau bersemangat kalau hobynya sudah dibatasi!” jawab Roy menggantikan Rendy. “Kalian berdua jangan aneh-aneh deh!” Stella merengut. “Hahah, Alex gak bersemangat karena tidak ada lagi yang akan diganggunya di sekolah, kalian berdua kan musuh bebuyutan Alex dulu, eh sekarang malah kita berteman begini!” Kata Rendy dan terus tertawa.
            Mendengar itu Johar dan Adam tertawa, sedangkan Stella tidak suka dengan candaan Rendy. Tiba-tiba Alex masuk ruangan, masih dengan jaket berwarna biru dia bergabung dengan yang lain yang berada di sekitar bangku Johar. “Hei, sudah masuk ya?” tanya Alex ketika melihat Johar. “Bosan di rumah terus, terlalu damai!” jawab Johar tersenyum.
            “Eh, Johar juga masih kangen dengan berantemnya, Eh Jo… Lain kali kalau mau brantem ajak kita-kita donk!” Kata Roy. “Enak saja kalian, kalau kalian berdua seperti ini bagaimana? Aku juga yang susah!” kata Alex sambil menimpuk kepala mereka dengan bukunya. “Yaudah, nanti kita lanjut ngobrolnya bell sudah berbunyi dan sebentar lagi bu lidya masuk” Stella membubarkan gerombolan itu untuk segera duduk di tempat masing-masing.
            Kali ini hari-hari Johar dan Adam sudah berubah, Hampir sebulan lamanya mereka berteman dengan Alex dan gengnya, Alex beserta teman-temannya sering berkunjung ke kontrakan Adam. disana mereka menghabiskan waktu hingga sore hari bermain gitar bersama. Setiap hari persediaan uang Johar dan Adam semakin menipis, mereka sudah lama vacum mengamen. Mereka ingin segera bisa mengamen lagi.
            “Kak, lama ya kita gak ngamen!” kata Johar melihat ke arah Adam. “Yah, Besok kakak akan ngamen dek, Johar jangan ikut ya!” kata Adam. “Enak Aja, Aku ikutlah… kan sayang kalau gak ikut kak!” kata Johar. “Kamu loh gak ada gitar!” Kata Adam. “Aku ada gitar di rumah!” Jawab Alex. “Kalau mau dipake besok kubawakan!” tambahnya. “Pake gitarku aja Jo!” Usul dari Nico yang keluar dari kamarnya. “Terserah saja deh, yang mana Asal boleh dipinjam” Kata Johar tersenyum pada mereka.
            “Udah Pake punya Alex aja Jo, Alex banyak gitarnya tuh!” Tambah si Roy. “Yaudah, besok Aku bawa Aja gitarku kesini, kamu pake buat mengamen juga boleh kok!” kata Alex. “Kalau rusak bagaimana Jo? Masih mau ganti kan? Pake punyaku aja ya!” Kata Nico yang terdengar memaksa. “Iya Al, nanti rusak kalau dibuat mengamen!” Johar melihat Alex. “Gitarmu rusak gara-gara menolongku kan?, masak Aku gak rela jika gitarku rusak untuk menolongmu Jo, kamu pakai saja anggap itu adalah hadiah dariku dan sebagai pengganti gitarmu dulu, Ok” kata Alex panjang lebar.
            Mendengar itu Nico terdiam dan hanya melihat ke arah Johar yang tersenyum bahagia. Ada sedikit kecewa didalam dirinya karena Johar lebih memilih gitar Alex daripada miliknya. Nico juga tidak terlalu senang dengan kedatangan Alex dan teman-temannya ke rumahnya, menurutnya mereka semua urakan dan tidak tahu sopan santun. Namun dibalik itu semua Nico memiliki rasa cemburu pada Alex.
            Ketika malam tiba, Alex datang lagi dengan membawa gitarnya. “Alex? Malem-malem gini kamu sendirian?” Johar terlihat sangat senang melihat Alex. “Mana Adam?” tanya Alex melihat ke dalam rumah. “Kak Adam ada di dalam sedang baca buku!” Kata Johar. “Yaudah, Aku hanya mau ngasih ini” Alex memberikan gitarnya. “Kok sekarang Al? katanya besok?” tanya Johar sambil menerima Gitar dari Alex. “Gitar itu sudah tidak sabar untuk kau mainkan Jo, yaudah Aku pamit dulu, salam buat Adam ya! Sampai jumpa di sekolah besok!” Kata Alex dan langsung berjalan menjauh dari rumah Johar.
            “Siapa dek?” tanya Adam keluar dari kamar. “Alex kak, tapi dia buru-buru mau pulang dan memberikan ini padaku” Kata Johar. “Wah bagus banget gitarnya coba dek!” kata Adam mencoba meraih gitar dari tangan Johar. Adam langsung memetik gitar Alex dan memainkannya. Mendengar suara petikan gitar, Nico menghentikan belajarnya dan keluar bergabung dengan mereka berdua.
            “Gitar siapa tuh?” Tanya Nico datar. “Oh, Gitar dari Alex Nic, bagus kan?” kata Johar terlihat sangat senang. “Oh, iya Bagus” kata Nico datar dan langsung pergi ke kamarnya. Melihat respon Nico Adam menghentikan petikan gitarnya dan mengajak Johar masuk ke kamar. “Dek, mungkin ini hanya perasaanku saja ya! Sepertinya Nico gak suka kalau adek pakai gitar bagus ini!” kata Adam setengah berbisik. “Aku juga berfikiran begitu kak, mungkin dia itu Iri!” jawab Johar. “Iya dek, lebih baik jangan terlalu memainkan gitar ini didepan Nico, kasihan kan nanti dia-nya minder” saran dari Adam dan disetujui oleh Johar.
            Akhirnya Johar dan Adam kembali lagi kejalanan sebagai penghibur para penumpang bus. Suatu hari ada sebuah bus pariwisata yang berhenti di sekitar halte, Johar dan Adam meminta izin untuk mengamen di bus itu, sang sopir mengijinkan mereka dan ternyata di dalam busa adalah para bapak dan ibu-ibu. Dari penampilan mereka sudah dipastikan adalah orang-orang yang berekonomi menengah ke atas.
            “Permisi pak, bu, Kami datang untuk menghibur perjalanan anda semua, kami akan menyanyikan lagu untuk menemani perjalanan bapak-napak dan ibu-ibu sekalian” Kata Johar sebagai ucapan pembuka. Setelah itu Adam langsung memetik senar gitarnya, alunan petikan gitar Adam sangat lembut dan akhirnya semakin lama Adam menaikan tempo permainan gitarnya, naiknya tempo permainan gitar Adam sebagai pertanda bagi johar untuk berkolaborasi dengannya. Permainan gitar mereka menarik perhatian para penumpang dan ketika berhenti bermain Semuanya bersorak.
            “Ini, lagu yang Aku persembahkan untuk ayah yang entah ada dimana!” Kata Johar dan langsung memainkan alunan gitarnya. Johar menyanyikan Lagu berjudul Ayah yang dipopulerkan oleh Band peterpan, dengan sangat dalam dan membuat beberapa penumpang kagum.
“Diiiimaaaanaaaa…. Aakan kuuu cari… Aaaku meeenangis.. seorang diri…!” Johar mulai bernyanyi. Bersautan berkolaborasi dengan Adam dan Semua penumpang bertepuk tangan setelah mereka menyelesaikan nyanyiannya. Mereka juga bagga dan senang karena banyak dari ibu-ibu memberi mereka uang dan makanan.
            “Mau turun dimana dek?”  tanya Sopir. “Ini lewat terminal nggak?” tanya Johar. “Iya, kita lewat jalan Purbaya nanti, kalian turun disana?” Sopir memastikan. “Iya pak, turunkan kami disana saja” Jawab Adam ramah. Ketika mereka berdiri diperjalan menuju terminal, mereka masih bernyanyi menghibur para penumpang.
            Ketika Bus berhenti, Mereka langsung turun dari bus, namun ada seorang bapak-bapak memanggil mereka berdua. Bapak itu adalah penumpang bus pariwisata yang juga turun disana. “Loh? Bukannya bapak rombongan dengan bus tadi?” Johar heran melihat Bapak-bapak itu. “Iya, tapi Aku masih tertarik dengan permainan kalian, jadi Aku ingin mendengar kalian bernyanyi lagi” Kata Bapak itu.
            “Terus bagaimana dengan bapak? Mereka sudah pergi loh!” Kata Adam sambil melihat bus yang sudah jauh. “Tidak masalah, Kami sebenarnya orang surabaya, dan di dalam bus tadi juga ada Istriku kok” Kata Bapak itu dengan ramah. “Oia, Perkenalkan nama Saya Andi!” Bapak itu menjulurkan tangannya. Johar dan Adam bergantian menjabat tangan Pak Andi dan menyebutkan namanya.
            “Bapak mau ikut kami ke rumah?” Adam mencoba menawarkan diri. “Tidak usah, Sebenarnya Aku hanya ingin mendengar kalian bernyanyi lagi dan mendengar alunan gitar kalian” Kata Pak Andi. “Iya, di rumah aja pak!” kata Johar. “Bagaimana kalau di warung itu?” Tawar pak Andi menunjuk salah satu warung di pinggir jalan.
            Akhirnya mereka bertiga menuju warung dan mengobrol bersama. Sesekali Johar dan Adam memainkan gitarnya dan bernyanyi di depan Pak Andi. “Benar-benar bagus…. Saya salut pada kalian berdua, bagaimana kalau kalian berdua bernyanyi di café baru saya?” Tawar pak Andi yang membuat Johar dan Adam heran. “Café? Buat kita pengamen?” Adam memastikan kepada pak Andi. “Iya, kalian bisa datang di hari Jum’at malam dan sabtu menghibur mulai jam tujuh malam hingga jam sepuluh, kalian masing-masing akan saya beri uang 50rb, bagaimana?” Pak Andi mencoba memberi penawaran.
            “Masing-masing 50rb? Berarti kita dapat seratus ribu setiap malam sabtu dan minggu pak?” Tanya Johar memastikan. “Iya, kalian layak mendapatkannya, kalau selanjutnya café semakin rame maka akan saya beri bonus untuk kalian, ini nomor telfon dan alamat café saya, saya tunggu kedatangan kalian di hari jumat ini” kata Pak Andi menjulurkan kartu namanya. “Loh? Berarti besok pak?” tanya Adam. “Iya, saya tunggu ya, maaf saya harus pulang dulu!” Kata Pak Andi dan langsung menuju jalan mencari taksi.
            Adam dan Johar membawa kabar bahagia ke rumahnya, keduanya bersemangat dan terus melihat kartu nama yang dipegangnya. “Kanapa senyum-senyum?” tanya Nico. “Eh, nggak ada Nic, Senyum karena kami dapat rezeki, Nih banyak makanan kan?” Kata Johar pada Nico. “Iya Nic, Ayo kita makan!” Adam melihat Nico dan kemudian tersenyum pada Johar. Mereka memilih merahasiakannya pada Nico karena mereka berfikir Nico akan Iri dan bersedih seperti masalah gitar dari Alex.
            Ke esokan harinya di sekolah Johar dan Adam bercerita tentang tawaran bernyanyi di café, Alex dan teman-temannya antusias dan mendukung Adam dan Johar. “Dimana Alamatnya? Biar Aku yang jemput kalian nanti” Kata Alex bersemangat. “Wah Aku juga ikut donk” Kata Rendy dan Roy juga ingin ikut. “Stella gimana?” Tanya Alex. “Boleh, nanti malam kita ke café itu, sekalian jalan bersama!” Kata Stella. “Yaudah, kita naik motor aja ya!” Jawab Alex.
            “Yaudah, jemput Aku Roy” Kata Stella tersenyum. “Ok Non, Nanti malam Aku jemput kamu, tapi Aku tunggu di luar aja ya! Takut sama papamu yang galak itu” Kata Roy sambil tertawa. “Eh.. kata siapa papa galak? Dia baik kok!” Stella membela papanya dan semua tertawa di kelas itu.
            Tepat jam 18:00 WIB, Alex menjemput Johar dan Adam di rumah kontrakannya. “Kalian sudah siap?” tanya Alex ketika melihat Johar dan Adam berdiri di depan rumah. “Yaudah, kita berangkat…. Rendy di depan gang?” tanya Johar memastikan. “Jo Mau kemana?” tanya Nico pada Johar. “Nih mau jalan dengan teman-teman Nic, salam ke mas Yudi ya!” Kata Johar sambil tersenyum pada Nico. “Duluan ya Nic” Kata Adam dan Alex juga berpamitan. Nico hanya diam dengan wajah cemburunya. Nico penasaran dan mengikuti mereka hingga depan gang. Melihat Johar yang dibonceng Alex membuat Nico semakin cemburu.
            Akhirnya Mereka berangkat menuju alamat yang diberikan pak Andi, lumayan jauh jaraknya karena mereka harus berputar dan mengambil jalan lain agar lancar, namun jalannya semakin jauh. Dan tiga puluh menit kemudian mereka tiba di depan bangunan bernama “Amore Café”. “Ini tempatnya?” tanya Johar, “Iya, lihat saja tulisan itu” kata Adam sambil menunjuk tulisannya. “Astagfirullah, kita lupa bawa gitar!” kata Johar teringat dengan gitarnya. “Tenang saja, pasti mereka punya banyak alat music kok’ kata Alex sambil mendorong mereka berdua masuk.
            Mereka bertiga di sambut oleh para pramusaji yang cantik, dan menyuruh mereka memilih tempat duduk. “Maaf mbak, kami sebenarnya ingin bertemu dengan pak Andi” Kata Adam pada pelayan itu. “Tunggu sebentar ya, saya panggilkan pak Andi, Untung saja beliau ada disini” kata Pramusaji itu dan langsung pergi meninggalkan buku menu di meja mereka. Alex membuka buku menu dan memikirkan apa yang akan dipesannya, dan tak lama kemudian Roy menelfon Alex mengabarkan kalau dia sudah berada di depan cafe.
            Alex langsung keluar menemui Roy dan Stella, dan saat bersamaan Pak Andi datang mendekati meja mereka. “Selamat malam Pak” kata Adam sambil bersalaman. “Wah, kalian benar-benar datang ya! Yaudah kalian pesan minuman dulu, Untuk malam ini gratis buat kalian” kata pak Andi. “Maaf pak, kami bawa teman datang kesini, mereka juga ingin melihat café pak Andi” kata Johar. “Iya, silahkan saja!” kata Pak Andi.
            Dan  Akhirnya Stella dan Roy bergabung di meja itu. “Om Andi?” Kata Stella heran. “Stella? bagaimana kamu bisa disini?” Pak Andi langsung menghampiri Stella dan memeluknya. “Mereka semua teman-teman Stella Om, Stella juga gak nyangka ini café milik Om, bagaiman Tante?” Tanya Stella. “Semua sehat kok, bagaimana dengan papa mama kamu?” Tanya Pak Andi. “Mereka juga sehat Om!” Kata Stella tersenyum. “Yaudah, Setelah kalian minum, Johar dan Adam langsung ke ruangan saya. Maaf saya tinggal dulu, masih banyak yang harus dikerjakan” Kata Pak Andi dan langsung kembali ke ruangannya.
            Melihat Stella kenal dengan Pak Andi, membuat teman-temannya heran dan bertanya. Ternyata Pak Andi adalah saudara Ayah Stella, namun mereka berdua tidak akur karena perebutan harta warisan. Mendengar itu Johar dan Adam menjadi prihatin atas perpecahan yang terjadi di keluarga Stella. hingga akhirnya minuman yang mereka pesan datang dan setelah minum Johar dan Adam masuk ke ruangan Pak Andi.
            Di ruangan Itu, Johar dan Adam mendapat pengarahan apa yang harus dilakukan oleh mereka berdua. “Maaf pak, gitar kami ketinggalan di kontrakan” Kata Johar polos. “Lihat, disana ada banyak alat music dan belum ada yang mengisi, kalian mainkan saja dan salah satu dari kalian harus bernyanyi. Di sana juga ada dua gitar acoustic khusus mereka yang suka dengan lagu acoustic” kata Pak Andi memamerkan alat-alat musiknya yang ada di café itu.
            Adam dan Johar pun tidak membuang-buang waktu, mereka langsung mencoba gitar dan memainkan sebuah lagu. Permainan mereka sangat lembut dan pas untuk lagu-lagu slow, dan beberapa pengunjung memberikan tepuk tangannya. Suasana semakin panas ketika pengunjung bergabung bermain alat music dan bernyanyi bersama. Melihat Johar dan Adam yang gampang berinteraksi dengan pengunjung membuat Pak Andi puas dengan penampilan mereka.
            Alex dan teman-temannya terus memberi sorak kepada mereka berdua, meja mereka berdua yang paling riuh jika dibanding dengan yang lain. Hal itu membuat Johar dan Adam selalu tersenyum melihat para sahabatnya yang mendukungnya. Ketika mereka berdua beristirahat, mereka berkumpul dengan Alex dan teman-temannya. “Wih, super keren permainan kalian!” Kata Stella. “Oh, Stella kan baru lihat mereka bermain music dan bernyanyi, wah makin ada yang tambah cinta nih” ledek Rendy melirik Stella.
            Stella tersenyum malu dengan wajahnya yang memerah. “Sudah… nanti ada yang GR loh” ledek Johar sambil melirik Adam. Adam juga tersyum dan mengacak rambu Johar, mereka tertawa bersama. Dan ketika mereka bergurau bersama, para pengunjung menginginkan Johar dan Adam bernyanyi lagi. “Mampus, Aku masih kurang materi lagu nih” kata Adam pada teman-temannya. “Iya, masak lagu ngamen kita yang akan dinyanyikan?” tanya Johar ragu.
            Tiba-tiba Alex menarik tangan Adam dan Johar menuju stage. “Selamat malam!” kata Alex. “Mereka berdua adalah sahabat terbaik kami, dan mereka berjuang sebagai musisi jalanan!” Kata Alex menghentikan kalimatnya. Semua pengunjung langsung diam dan tak bersuara. “Namun, Kali ini mereka mencoba peruntungan dengan tampil di café ini, dan jujur mereka masih harus banyak belajar menghafal lagu-lagu. Untuk itu, Di penampilannya yang terakhir Aku akan menemaninya menyanyikan sebuah lagu yang cocok untuk mereka berdua!” Alex langsung menuju ke piano.
            Suara alunan music yang familiar bagi pengunjung membuat mereka terdiam meresapi alunan music piano. Intro untuk lagu berjudul Ayah yang dipopulerkan oleh peterpan membuat Johar mematung memandang Alex. Dengan Sigap Adam memadukan Alunan Piano dengan Gitarnya. Alex melihat ke arah Johar dan mengangguk meyakinkan Johar untuk bernyanyi. Johar menyanyikan Lagu Ayah dengan hanyut kedalam emosinya, dia benar-benar ingin bertemu dengan ayahnya yang ntah ada dimana.
            Sambil terus bernyanyi Johar mendekati Adam dan bergantian melantunkan lirik Ayah. Stella tak kuasa meneteskan air matanya, karena haru melihat keduanya hanyut dalam lagu itu. “Ayah…. Dengarkanlah, Aku ingin bertemu… walau hanya dalam Mimpi…” Johar meteskan air matanya ketika menyanyikan lirik itu. “Alunan piano Alex menambah haru keduanya, dan mereka bertiga sukses membuat pengunjung juga tenggelam dalam keharuan. Suara sorak dan riuh terdengar begitu ramai ketika mereka  mengakhiri lagunya.
            “Terimakasih” kata Johar pada pengunjung yang masih bertepuk tangan. Alex mengambil Mix dari tangan Johar. “Terimakasih, kita doakan mereka berdua cepat bertemu dengan ayahnya, itulah alasan mereka meneteskan air mata ketika menyanyikan lagu itu, mereka benar-benar berada di situasi yang sama dengan lagu ini, mereka berdua berpisah dengan kedua orang tuanya sejak kecil dan sampai sekarang belum bertemu, untuk itu beri tepuk tangan sekali lagi untuk mereka berdua, terimakasih!” kata Alex dan langsung turun menuju meja Stella.
            Akhirnya, malam itu benar-benar menjadi malam terindah bagi Adam dan Johar karena mereka berdua menjadi bintang di malam itu. kisah mereka menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Dan ketika jam dinding di café itu menunjukan pukul 22:00 WIB mereka bergegas pulang, namun sebelumnya Johar dan Adam menemui Pak Andi. “Kita mau pamit dulu pak, soalnya besok kita harus sekolah” kata Adam dan Johar. “Saya benar-benar puas dengan penampilan kalian, Saya lihat para pengunjung juga puas, jadi ini untuk kalian dan jangan lupa Besok datang lagi ke café ini” Pak Andi menjulurkan uang seratus lima puluh untuk Johar dan Adam.
            “Wah, ini bonusnya pak?” tanya Adam yang senang mendapat tambahan lima puluh ribu. “Bukan, itu dari Aku dan kita lihat besok bagaimana keadaan café, besok saya pastikan kalian mendapatkan bonus!” Kata Pak Andi tersenyum pada Johar dan Adam. “Yaudah pak, kami sudah ditunggu teman-teman” kata Adam. “Oia, salam buat Stella, maaf saya masih banyak pekerjaan” kata Pak Andi sambil tersenyum pada mereka berdua.
            Ke esokan harinya di sekolah, Video penampilan Adam dan Johar yang diiringi oleh permainan piano Alex menyebar di area sekolah. Hal itu membuat mereka terkenal di lingkungan sekolah, Banyak yang memuji mereka dan tidak sedikit menjelek-jelekan mereka karena iri. “Bagaimana video itu ada disini?” tanya Adam heran. “Eits, Kami merekamnya sebagai dokumentasi” kata Roy memperlihatkan poselnya.
            “Tapi kan, ini memalukan Roy! Aku menangis nih” kata Johar agak kesal. “Itulah keunikannya Jo, Luamayan kan kalian terkenal di sekolah ini? Wah bakal hidup lagi ekstrakurikuler kesenian nih” Kata Alex senang. “Nanti malam kami akan kesana lagi, sesuai tawaran dari pak Andi setiap malam sabtu dan Minggu kita kesana!” kata Johar. “Aku ikut” kata Stella bersemangat. “Maaf Aku gak bisa ikut” Kata Alex datar.
            “Loh kenapa Al?” tanya Rendy. “Aku ada janji dengan papa dan mama!” Kata Alex lemah. “Yah, kalau gitu Aku juga gak datang!” kata Stella merengut. “Kamu datang aja Stell, kalau ada kamu Adam bersemangat loh” ledek Alex dan berhasil membuat Adam dan Stella tersipu malu. “Yaudah, nanti malem Aku dan Rendy yang mengantar mereka ke café” Kata Roy bersemangat. “Terus Aku ma siapa Roy?” Tanya Stella. “Loh katanya kamu gak mau ikut Stell, gimana sih kok plin plan gitu?” Roy megeluh dengan sikap Stella. “Yaudah Kita lihat nanti malem Aja, kalau Aku gak dateng yah berarti Aku gak bisa Ok!” kata Stella tersenyum.
            Seperti yang sudah direncanakan, kali ini Adam dan Johar menunggu Roy dan Rendy di depan gang, hal ini dilakukan untuk menghindari pertanyaan Nico. Dan Akhirnya mereka berangkat menuju café. Tidak sama seperti malam sebelumnya, kali ini café sangat ramai dan di dalam sudah ada alunan musik. Ketika memasuki café, semua meja sudah penuh dan akhirnya Roy dan Rendy mengikuti Adam dan Johar ke ruangan Pak Andi. “Café begitu ramai, jadi kalian tidak mendapatkan tempat duduk” kata pak Andi.
            “Kok Ramai banget pak?” Johar heran. “Ada yang merayakan ulang tahunnya di café ini” kata Pak Andi. “Semua ini?” Johar memastikan. “Bukan, hanya mereka yang bergerombol di dua meja itu” Pak Andi menunjuk para remaja seumuran mereka sedang mengobrol. “Yaudah pak, kami membawa gitar kami, dan kami ingin memainkannya di café ini” Kata Adam.
            “Yaudah, kalau stagenya sudah tidak digunakan, kalian boleh bermain di sana” kata Pak Andi sambil melihat Stage yang digunakan pengunjung untuk bermain music dan bernyanyi.  Akhirnya Stege sudah kosong, mereka berdua langsung menuju stage itu dan mengucapkan selamat malam kepada para pengunjung.
“Selamat Malam, Sepertinya malam minggu ini adalah malam minggu teridah bagi pengunjung sekalian, Ada yang lagi kasmaran dipojokan, ada yang lagi merayakan ulang tahun, dan Ada yang sekedar ingin menikmati makanan di café ini, menghabiskan malam minggu yang panjang. Ok, Kali ini kita akan menghibur semua yang ada disini dengan permainan gitar kami berdua. Semoga kalian menikmatinya!” kata Johar mengakhiri salam pembukanya.
            Seperti biasa, Andalan mereka berdua adalah kolaborasi memainkan gitarnya. Suara senar milik Adam berasutan dengan Milik Johar. Membuat yang mendengarnya bersemangat dan melihat kearah mereka. Hampir semua pengunjung terkagum-kagum melihat tekhnik bermain gitar mereka.
            “Maaf, hanya suara gitar saja ya? Maklum suara kami pas-pasan dan kami takut membuat semua yang ada disini lari ketakutan mendengar kita bernyanyi” kata Johar dan berhasil membuat pengunjung tertawa. “Ada yang mau nyanyi nggak? Kita nyanyi bersama, kalau gak Ada kita yang nyanyi!” kata Johar sambil tertawa. “Siap menutup telinga?” kata Johar sambil tetawa kepada pengunjung.
            Johar pun langsung duduk di kursi dan meletakan mix di stand Mix. Terlihat wajah serius di wajahnya sesaat memejamkan mata dan mulai memetik gitarnya. Intro gitar untuk lagu dari Metalica menggema dari gitar johar dan Adam. Lagu yang berjudul “Nothing Else Matter” dinyanyikannya dengan sangat mendalam. Dan ketika menghentikan nyanyiannya semuanya bersorak seperti biasa. “Ok, terimakasih! Terimakasih!” Kata Johar sambil tersenyum kepada pengunjung café.
            Kali ini Adam memposisikan dirinya untuk bernyanyi, “Selamat malam! Tak bosannya kami menyuguhkan hiburan untuk kalian yang sedang bermalam mingguan di café Amore ini. Baiklah satu lagu lawas dari band terkenal luar negeri akan mengiringi malam minggu kalian semua” Kata Adam dan langsung memetik gitarnya. Ketika Adam mulai memainkan intro gitar lagu dari GNR yang berjudul Sweet Child O mine pengunjung mulai bersorak. “She's got a smile that it seems to me….!” Adam sambil memandang Johar.
            Johar tersenyum melihat Adam asyik bernyanyi, dia hanya bisa mengiringinya dengan gitarnya. Johar dan Adam memang mahir dalam mengkolaborasikan permainan gitar mereka. Ketika hampir di ending Lagu, Adam mendapati Stella yang berdiri di belakang melihatnya bernyanyi. “Adam semakin bersemangat dan ketika mengakhiri lagunya dengan kalimat “Sweet Child O mine” Adam menunjuk Stella yang berdiri dan hampir semuanya menoleh sejenak ke Stella. “Terimakasih” Kata Adam mendengar suara sorakan dari pengunjung.
            Malam minggu pertama dalam penampilan mereka benar-benar sangat memuaskan Pak Andi, seperti janjinya Johar dan Adam mendapatkan Bonus di malam itu, Mereka mendapat tambahan uang transport dan membawa pulang uang sejumlah Rp. 160.000 untuk empat jam penampilan mereka. Cukup lumayan baginya yang memang sangat membutuhkan uang. Ketika urusan dengan pak Andi selesai, mereka langsung pulang bersama teman-temannya. “Hebat kalian berdua!” kata Rendy sambil merangkul pundak mereka berdua. “Kapan-kapan traktiran nih” tambah Roy dibelakang.
            “Heh, kamu makan saja yang dipikirkan, tidak malu minta traktiran ke Johar dan Adam?” Kata Rendy merengut. “Yeee….jangan sewot gitu napa!” Roy malah ikut-ikutan bicara dengan nada kesal. “Oh, minta diketok kepalamu?” kata Rendy mendekati Roy. “Silahkan, kalau kamu mau kepalamu bencol” kata Roy yang juga siap dengan Rendy. “Hei…Hei, Beginilah kalau Alex gak ada!” kata Stella tiba-tiba bergabung dengan mereka.
            “Nih si tukang makan dulu yang mulai” kata Rendy. “Eh tukang tidur, kamu yang nyolot duluan” kata Roy. “Sudah., erggh… Pusing kepalaku dengan sikap kalian yang kekanak-kanakan” kata Stella menjauh meninggalkan mereka berempat. Johar dan Adam hanya tertawa karena mereka berdua sudah tahu jika Roy dan Rendy sebenarnya bersahabat dan tidak mungkin akan melukai satu sama lain. “Kenapa kalian tertawa?” tanya Roy. “Enggak, Cuma bayangi Tom and Jerry Aja” Kata Johar dan langsung sedikit berlari menuju motor mereka. “Tom and Jerry? Berarti kamu tikus Roy” kata Rendy. “Kamulah yang tikusnya!” Jawab Roy sambil tertawa.
            Ketika mereka berempat berada di dekat motor dan siap untuk pulang, tiba-tiba ada seorang pemuda menemui mereka. “Vicky! Kapan kamu datang?” Kata pemuda itu sambil melihat Adam dengan wajah senangnya. “Maaf saya bukan Vicky, saya ini Adam!” Kata Adam menjelaskan pada pemuda itu. “Adam? hahaha!” bisa aja kau Vic selalu bercanda, Meski rambut kamu agak pendek bukan berarti Aku lupa sama kamu!” Kata pemuda itu.
            “Maksudnya apa mas?” Johar bertanya baik-baik pada pemuda itu. “Mas salah orang kali, ini Adam!” Kata Rendy menambahkan yang terdengar kesal. “Ya Tuhan, Iya Aku lupa Vicky ada tahi lalat kecil di dagunya, Kamu bukan Vicky ya? Pantesan kamu tidak mengenalku” Pemuda itu memastikan. “Sudah dari tadi mas Aku bilang kalau Aku bukan Vicky!” Kata Adam sedikit kesal dan langsung naik kebonjengan Roy.
            “Maaf mas, soalnya Kamu mirip banget dengan Vicky!” Kata Pemuda itu yang berdiri di dekat Johar. Adam dan Roy sudah meninggalkan tempat parkir, dan Johar mengajak Rendy untuk menyusul Roy dan Adam. “Sebentar kak, Pasti Kak Adam benar-benar mirip dengan yang dimaksud pemuda itu” johar menghentikan berbicara di atas motor. “Iya, kalau sama berarti kemungkinan itu kembaran kamu Dam” Rendy menambahkan. “Iya dek, mungkin saja… Roy kita balik dulu!” Kata Adam. Mereka pun berbalik menuju café dan berharap pemuda itu masih ada.
            Ternyata pemuda itu masih belum beranjak dari tempatnya, “Maaf Mas, Mas siapa ya?” tanya Adam sambil turun dari motor Roy. “Aku Roni” Roni menjulurkan tangannya, mereka semua saling berkenalan. “Oia, Beneran teman mas itu mirip dengan saya?” tanya Adam serius. “Mirip sih, yang membedakan hanya potongan rambut dan tahi lalat kecil di dagu Vicky, juga warna kulit kalian berbeda!” Kata Roni.
“Mas bisa antarkan Aku ke Vicky? Dimana rumah dia?” Kata Adam semakin bersemangat. “Maaf, Vicky itu teman SMPku dulu, namun sekarang dia Sekolah di Jakarta” kata Roni.
            Mendengar itu, Adam kecewa dan harapannya untuk menemui Vicky sirna. “Tapi Aku tahu rumah orang tua Vicky!” Kata Roni yang membuat Adam dan teman-temannya bersemangat lagi. “Kalau kalian ingin ke rumahnya saya bisa antar kalian kapan saja, simpan nomorku ya!” Kata Roni. “Roy tolong simpan nomornya!” Pinta Adam pada Roy. Akhirnya mereka berpisah di tempat parkir dengan Roni.
            Ketika di rumah, Adam memikirkan nama Vicky dan keluarganya, tidak sabar Adam ingin ke tempat itu. bertemu dengan keluarga yang memiliki anak berwajah mirip dengannya. Namun, Ada sedikit keraguan dalam dirinya, banyak kemungkinan yang pasti terjadi. Kemungkinan pertama adalah itu memang keluarga Adam, namun mereka tidak akan mengakuinya sebagai bagian keluarga. Kedua adalah wajah Vicky hanyalah mirip, dan banyak manusia yang memiliki kemiripan. Hingga larut malam Adam masih merenungkan apa yang akan terjadi jika dia menemui keluarga itu. kebahagian atau malah sebaliknya, hingga akhirnya Adam larut dalam sunyinya malam berselimut udara dingin dan terlelap dalam tidurnya.
            Bagaimana kisah selanjutnya? Apakah Adam akan mendapatkan Masa Lalunya? Baca kisah selanjutnya di Mengejar Masa Lalu 06, thanks Atas kunjungannya. Jangan lupa tinggalkan komentar biar Ray bisa membenarkan beberapa tulisan yang salah.

**RayRowling**