Welcome to Rayrowling's Blog. Media Berbagi Cerita.

Menulis dan membaca saat ini sudah mulai menjadi trend di kalangan Remaja. Selain itu banyak juga bermunculan cerita untuk kaum minoritas yakni cerita kaum pelangi yang isinya dominan dengan adegan panasnya. Dengan berdasar kedua alasan tersebut Rayrowling(Founder) membangun Blog ini sebagai Media Berbagi Cerita khususnya cerita cinta kaum pelangi yang tidak memfokuskan di adegan Hot-nya untuk lebih jelasnya silahkan baca Visi dan Misi Blog di About Site.
Apa Aja sih yang ada di Ray Rowling's Blog?
1. Tentunya berisi Cerita yang bertema kaum pelangi, baik fiksi maupun non fiksi dari pemilik Blog silahkan lihat label CORETANKU dan dari beberapa tulisan sahabatnya dengan label CORETAN SHABAT
2. Berisi karya lain dari penulis seperti puisi, Argument dan lain-lain untuk itu silahkan kunjungi PETA SITUS kami untuk mengetahui apa yang ada di blog ini. Terimakasih atas kunjungannya.

Tuesday, 10 July 2012

AKU, KAMU dan SURGA KECIL


By : Nulal (Ahsanul Hilal)
Aku terdiam, tepatnya duduk bersandar pada kursi bercorak putih tanpa lengan. Aku berada dibawah payungan pohon akasia. Sejuk dan damai. Begitulah, dua kata yang terangkai dalam benak untuk menggambarkan suasana tempatku ber-adempouse (beristirahat) ini. Di belakangku terdapat rumah sakit yang berseberangan jalan raya. Ini bukan taman, juga bukan kebun bunga. Melainkan sebuah rumah dari burung-burung gereja.

Aku mendongak ke atas. Mataku kini menyapu bersih dedaun pohon akasia. Sesekali daun-daun kecil menguning rontok menerpa wajahku. Hidungku menghirup udara segar, walau tak sesegar atmosfir pagi. Kupenjamkan mataku perlahan sambil menghembuskan nafas perlahan-lahan. Suara cicit burung gereja yang tipis-tinggi membentuk simfoni yang acak tapi harmonis.
Aku membuka mataku dan langsung membentur puluhan-puluhan burung gereja bertengger di ranting akasia. Rupanya, bulan ini musim kawin dan bertelur. Terlihat si jantan dan betina melintas sambil membawa ranting kecil dan rumput kering di paruhnya. Mereka sedang membangun sarang, ternyata. Sungguh! Potret kehidupan yang asri.
Kepala kuturunkan dari dongakan. Aku tidak sendirian. Disebelahku, teronggok gitar coklat kesayanganku. Aku tersenyum, senyuman yang tak dapat kuartikan sebagai kebahagian atau kesedihan. Yah, beginilah. Sehabis mengamen, aku menyempatkan diri datang sejenak ke sini demi merehat badan yang terkuras energinya. Selalu begitu, setiap hari malah.
"Bisakah kamu menyanyikan sebuah lagu untukku?" sebuah suara menggugahku untuk mengalihkan tatapanku dari gitar.
Aku menoleh ke belakang, sebab kurasa dari sanalah asal suara itu. Mataku menangkap sesosok lelaki yang lebih tepatnya cowok tengah berdiri. Jidatku mengernyit. Ia menyuruhku menyanyikan sebuah lagu?
Cowok itu mendekat ke arahku. Aku bisa lebih jelas melihat sosoknya. Dengan setelan pakaian berwarna biru dengan topi kupluk merah yang nyaris menutupi semua bagian kepalanya. Dari pakaiannya pun, aku sudah mengira kalau ia adalah salah satu pasien rumah sakit. Di tangannya terselip sapu tangan. "Bolehkah aku duduk?" tanyanya seraya menunjuk kursi.
Aku mengangguk, mengiyakan lalu menggeser tubuhku, memberikan ruang kosong untuk didukinya.
Bibirnya menyimpul. "Terima kasih..." ia lantas duduk di sampingku. "Bagaimana dengan tawaranku barusan?"
"Apa?"
"Gitar itu milikmu, kan?" dagunya diangkat sedikit, "Mainkan satu lagu untukku!" perintahnya.
Otot di sekitar alisku berkontraksi. Siapa ia? Kenal, tidak. Kenapa seenaknya menyuruhku bernyanyi? Aku berkata, "Kamu mau bayar berapa?"
Ia mengerjab-erjab sembari memasang tampang bodoh namun lucu menurutku. Cowok ini menarik nafas. "Baiklah, aku bakalan membayarmu sehabis kamu memainkannya."
Anggukan kepalaku menandakan setuju. "Oke!" jawabku mantap. Lalu mengambil gitar yang tergelor manis di sampingku dan merebahkannya di pangkuan. Aku berdeham sebelum memulai permainanku. Kulirik, ia tertawa kecil melihat tingkahku. "Kenapa? Ada yang lucu?" ia menggeleng cepat. Aku pun mengawali atraksiku dengan menjentikan jari di hadapannya.
Petikan-petikan senar mengalun, beritme serta menggetarkan udara. Sepintas kulihat wajah polosnya yang serius memandangi jemari-jemariku.
~~~
Sampai saat ini.
Rasaku tertahan di sini.
Rasa yang tak akan hilang oleh waktu.

Ku tidak di sini.
Aku pun tiada di hatimu.
Jiwaku ikut menghilang bersamamu.

Tak terkira di sampingku...
Adalah hal terindah yang pernah ku inginkan...
Tak terkira di pelukmu...
Adalah hal terindah yang pernah ku rasakan...

~~~
Aku mengakhiri permainanku ketika mendengar tepukan dari tangannya.
"Wah... Kakak hebat! Suara kakak bagus banget." pujinya. Sunggingan bibirnya tiada henti memamerkan rentetan giginya. Aku baru tahu bila ia punya lesung pipi di pipi kanannya. Senyuman yang begitu menarik. Senyum itu seolah-olah menguapkan rasa lelahku tanpa berbekas pun.
"Benarkah sehebat itu? aku nggak yakin kamu benar-benar mengucapkannya dari hatimu," aku berusaha tidak menghiraukan kata-katanya, yang menggunakan kata "kakak" bukan kamu.
"Kakak bernyanyi layaknya Elvis Presley." katanya membandingkanku dengan sang Raja Rock n'' Roll itu.
Aku nyengir. "Sayangnya, aku tak punya jambul sepertinya." timpalku berkelekar. Ia terkekeh. Melihatnya tertawa, seakan bisa mencairkan hatiku yang beku sekalipun. Tunggu! Kalimat apa itu? "Oh ya.. Kamu bilang kamu akan membayarku kalau aku sudah menyanyikan sebuah lagu untukmu. Sekarang, mana bayarannya?"
Ia mendengus sekilas, kemudian merogoh sesuatu dari saku celananya. "Ulurkan tangan kakak!" perintahnya setelah memalingkan kepalanya menghadapku.
Aku mengikuti interuksi. Saat itu juga ia meletakkannya ke tanganku. Alisku bertaut. Loly-pop? "Kok loly pop?" tanyaku tak mengerti.
"Karena hanya itu yang aku bisa aku berikan. Aku tidak bawa uang," Ia mengungkapkan.
Aku mengamati loly pop candy ini. Permen bundar bertangkai yang berwarna-warni. "Mengapa kamu tidak jelasin dari awal kalau kamu tidak punya uang?" keluhku muram. "Dan aku nggak bakalan buang-buang tenaga cuma buat nyanyi gratis alias gak dibayar."
Ia cekikikan. "Aku nggak bilang kalau aku gak punya uang, kan? Kubilang aku sedang tidak bawa uang." Jelasnya mengaksentuasikan kata-katanya dengan intonasi sedikit meninggi.
"Yee.. Enak dirimu, lah.. diriku?"
"Sengsara.." gelaknya pecah. Cowok ini sukses membuatku kesal. "Tapi.. Aku berterima kasih sama kakak."
Dahiku berlipat. "Untuk apa?"
"Untul lagunya," sahutnya. "Aku sedikit terhibur hari ini."
Aku pun hanya membulatkan mulutku tanda mengerti.
"Ngomong-ngomong, nama kakak siapa?" ia kembali bersuara.
"Aku Darrel. Kamu?" tak sempat ia menjawab, sebuah teriakan memekik di belakang kami. Kami serempak memutar kepala. Seorang pemuda tengah melambai kepada kami.
"Kakak.. Sepertinya pertemuan kita sampe' di sini dulu deh" ia beringsut dari kursi. "Sampai jumpa besok!"
"Hei! Tunggu!" aku menahannya. Langkahnya terhenti, lalu menoleh. "Namamu?" lanjutku.
"Delvin.." pekiknya sedikit melengking.
Aku tersenyum. 'Delvin... Apakah kita bisa bertemu lagi?' tanyaku dalam hati. Entah, aku berharap sekali berjumpa dan bernyanyi untuknya lagi. Ah, aku hampir lupa. Ia tadi bilang akan menemuiki lagi, bukan? Semoga benar. "Awas saja kalau kau berani tidak menempati janjimu," ancamku pada loly-pop candy yang sebenarnya kualamatkan pada... Delvin.
*****
Pernahkah kalian langsung jatuh cinta waktu berjumpa seseorang? Mungkin karena ia cakep, manis atau tampan yang luar biasa? Atau mungkin bukan sebab fisik dari orang tersebut, melainkan dari sikap atau tindak tanduknya membuat hatimu langsung jadi dag dig dug jika berhadap-hadapan? Tapi tidak menutup kemungkin kalau yang disukai kalian adalah cara berbicaranya, senyumnya serta kedipan matanya sehingga muncul rasa yang menandakan kamu lagi jutuh hati padanya.
Cinta memang sulit ditebak, juga tak bisa diduga kapan akan datang. Bisa jadi, ketika bertemunya kita langsung mengucap kata-kata cinta pandangan pertama kepada si dia yang telah mampu merekrut hati kalian dan memercikkan api cinta pada saat pertama kali jumpa. Namun, semudah itukah merasakan getar cinta? Aku masih ragu tentang adanya kata itu.
Seperti yang terlihat, aku tengah tergesa-gesa menapaki jalan demi bertemu denganya. Cowok manis dengan senyum menghangatkan. Dunia memang tak adil. Bagaimana mungkin, seorang cowok seimutnya bisa membuatku sekalut ini? Ya tuhan. Lagi-lagi aku meneriakkan namaMu kedalam cerita cinta nistaku ini.
Aku menemukannya duduk manis bertemankan buku. Bukan buku, tapi catatan kecil di pangkuan tangannya. "Maaf! Aku membuatmu menunggu," ujarku. "Aku telat berapa menit, Delvin?"
Delvin terkesiap dan mendongak. "Oh.. Tidak, aku baru tiba di sini." Ia menutup catatannya, kemudian memasukkan ke dalam saku bajunya. Aneh, pakaian yang ia pakai masih sama seperti yang kemarin. Hanya saja, topi kupluknya berubah coklat tua. Ya jelaslah lah, bukankah dia pasien rumah sakit? Apakah pasien rumah sakit bisa seleluasa mungkin menghirup udara terbuka? Mungkin ia jenuh terpenjara diranjan sempit dan berlama-lama dengan alat infus serta bau obat yang memuakkan. Mungkin saja.
Aku menghempaskan pantat di dekatnya. "Lagu apa yang ingin kamu dengar?" kataku sambil memangku gitarku.
Delvin memutar-mutar bola matanya. "Terserah kakak deh... Apa pun lagunya, asalkan bisa membuatku terhibur."
"Oke! Dengan senang hati.. tapi jangan marah kalau nanti kamu gak suka."
"Harus suka!" tukasnya. "Maksudku, kakak haris bisa membuatku menyukainnya."
Aku manggut-manggut. "Oke! Siap-siap tutup telinganya ya." Hening sejenak sebelum suara senar gitar berdenting memecah kesenyapan. Aku mulai bernyanyi.
~~~
di saat kita bersama
di waktu kita tertawa menangis
merenung oleh cinta
kucoba hapuskan rasa
rasa dimana kau melayang jauh
dari jiwaku juga mimpiku

biarlah, biarlah hariku dan harimu
terbelenggu satu lewat ucapan manismu

dan kau bisikan kata cinta
kau t'lah percikan rasa sayang
pastikan kita serima
walau terikat rasa hina

sekilas kau tampak layu
jika kau rindukan gelak tawa yang warnai lembar jalan
kita reguk dan teguhkan mimpiku dan mimpimu
terbelenggu satu lewat ucapan janjimu

~~~
Seperti biasa, di akhir laguku tiada hentianya Delvin bertepuk tangan.
"Kakak bernyanyi dengah penuh penghayatan sampek aku merindin dengernya." pujinya seakan-akan melebarkan telingaku.
"Alaahh.. Kamu terlalu berlebihan memujiku. Katakan kalau suaraku memang jelek." ucapku merendah.
Delvin tersenyum.
"Benar kan suaraku jelek?"
Ia semakin tergelak. Tidak terpikir bagiku untuk mencemberutkan mukaku saat ia terlihat sebegitu riangnya. Batinku sendiri tersentuh melihat raut wajah bahagianya. Tiba-tiba aku mendadak merasa lega ketika ia tertawa sesumringah itu, sampai-sampai paru-paruku kehilangan banyak oksigen. Ah, kenapa aku?
"Nih... Bayarannya hari ini," Delvin menyodorkon loly-pop candy.
"Kenapa harus loly-pop? Jangan bilang kamu nggak bawa uang lagi," gerutuku.
Delvin nyenger kuda.
"Semaniak itukah kamu sama loly-pop? Apa yang kamu suka dari permen ini yang seharusnya cocok dimakan anak kecil?" tanyaku sambil menerima permen itu.
Ia memiringkan kepala. "Aku lebih suka warnanya dari pada rasanya," matanya dierling-erlingkan. Sejujurnya, air liurku akan menetes saat itu juga bila mendapati erlingan mata cowok ini yang terkesan seakan ingin meggodaku. "Warnanya seperti pelangi, sangat kontras denganku."
Keningku melisut. Kalimat selanjutnya membingungkan. Apa maksudnya? tapi aku tak mau tahu. Aku tetap memperhatikan seluk beluk wajahnya. Mata bulatnya yang indah ketika berkedip, alis tebalnya yang naik-turun dan bibir tipis yang selalu bergerak ketika berucap. Aish, otakku terserang apopleksi kali ini.
"Kak Darrel," panggil Delvin. Caranya mengucapkan namaku agak membuatku sulit memasukkan bubungan ludah yang apabila dibiarkan bakalan ngacir lewat sela bibirku.
"Ya.." jawabku gugup.
Delvin menggenggam tanganku. Genggamannya tak kuat, tapi mampu memperkerjakan jantungku di batas kenormalan. "Maukah kakak memainkan satu lagu lagi untukku besok?" katanya.
"Tentu saja.. Bahkan, setiap hari pun aku rela dibayar loly-pop candy," kulirik ia sejenak. "Asal itu darimu," ucapku, tanpa sadar aku mengucapkannya.
Kulihat sudut kiri bibir Delvin tertarik ke atas. Ia tersenyum. Kami saling berhadapan dan sama-sama salah tingkah. Delvin melepaskan genggamannya lalu berbalik membelakangiku. Benarkah ia salah tingkah? Tidak, ia sepertinya menyembunyikan sesuatu dariku. Malu? Juga bukan. Aku mendengar Delvin batuk. "Kamu nggak apa-apa?" dari punggungnya aku sedikit bisa melihat Delvin sedang menutup mulutnya dengan sarung tangan.
"Ah... nggak apa-apa kok, kak. Aku cuma batuk biasa doang." jawabnya seusai memasukkan kembali sapu tangan ke sakunya.
"Oh.." gumanku singkat.
"Kak,"
"Ya?"
"Aku duluan ya kak," katanya. "Bincang-bincangnya dilanjutin besok."
"Loh... Kok udah mau pulang," tanyaku heran. "Padahal kita nggak sampai satu jam di sini." aku tak mau dia berlalu begitu saja dariku.
Delvin tersenyum. "Kan masih ada hari esok." matanya menatapku lekat rekat. "Kakak masih bisa bernyanyi untukku besok, kan? Kenapa kakak bertingkah seolah-olah kakak mau lenyap dari bumi?"
Astaga, kalimatnya barusan seperti ingin membekap mulutku saja. "Tidak.. tidak," aku menggeragap. "Bukan itu maksudku. Hanya saja.."
Delvin melihatku dengan alis bertaut. "Hanya kenapa?"
"Ah, sudahlah! Lupakan!" ucapku terbata. Tak tahu kenapa, cowok yang satu ini selalu membuatku gugup. Gugup dalam artian tak mampu berkata-kata, selalu ragu. "Ya.. Sudah! Ngapain masih duduk di sini?"
Lantas Delvin menegakkan tubuhnya. "Kalau gitu.. Sampai jumpa besok!" katanya lalu beranjak pergi meninggalkanku. Mengamati punggun Delvin menjauh, aku berguman, "Semoga kamu menepati janjimu!"
*****
Kadang... di saat cinta hadir menyapa, kita merasa dunia berpihak kepada kita, tersenyum dan selalu ingin menyaksikan kisah-kisah romantis yang kita rajut bersamanya. Dan selalu ingin membaitkan puisi-puisi cinta dimana pun berada, terutama pada saat bertemu dengannya. Bahkan, ingin membawakan setangkai bunga mawar atau cocklat love untuknya. Namun, bagaimana jika yang kita bawa adalah sebuah loly-pop candy berbentuk hati serta seuntai lagu uangkapan cinta kepadanya?
Layaknya aku ini, meski terlalu dini untuk menyatakan cinta pada pandangan pertama yang hanya bertemu dua hari saja dengan cowok itu, tapi kalau perasaan itu ada, tidak ada salahnya untuk mengungkapkan kata cinta seperti yang akan kulakukan hari ini. Aku telah memikirkan keputusanku semalam hingga aku dibuat tidak bisa tidur. Menerka kemungkinan-kemungkinan hal yang bakalan terjadi. Ditolak atau pun diterima, yang terpenting aku sudah berterus terang padanya.
Aku melemparkan pandangan ke beberapa arah. "Giliran dia yang telat," lirihku sembari mendudukkan pantatku ke pangkuan kursi dan menyampingkan gitar kesayanganku.
"Siapa yang telat?" nada bariton itu mengagetkanku.
Aku terbeliak melihatnya telah duduk di sampingku.
"Aku sudah lama menunggu, kakak." ucapnya. Kuamati Delvin, ia memakai kaos oblog dan celana tiga perempat. Kepalanya di tutupi kupluk lagi. Tapi ia nampak imut jika memakai topi itu. Wajahnya sedikit pucat.
"Apa yang harus aku lakukan demi menebus keterlambatanku?" tanyaku.
Sekilas Delvin berpikir, lalu. "Berikan gitarmu!" titahnya.
Aku mengernyit bingung. "Kamu ingin mengambil gitarku?"
"Katanya ingin menebus keterlambatan kakak."
"Ya... Kamu boleh memintaku melakukan yang lainnya, asalkan jangan kamu jadikan gitarku sebagai korbannya dong!" aku memelas.
"Tadi aku bilang mau ngambil gitar kakak, enggak kan?" Ia merebut gitarku. "Aku cuma pingin meminjamnya."
"Buat apa?"
"Mau dipatahkan... ya, buat dimainkan lah kak," kemudian Delvin memetik-metik senar gitar.
"Memang kamu bisa?" tanyaku yang terdengar meremehkannya.
Ia menghentikan jentikan senarnya. "Lihat dulu! Baru kakak bilang 'wow'" ia membusungkan dadanya.
Aku tertawa kecil. Dengan seksama, kuperhatikan ia melantunkan sebuah lagu. Hm, padahal aku ingin sekali menyatakan cinta kepada Dalvin lewat sebuah lagu. Tapi.. tak apa lah.
~~~
dikala hati resah
sribu ragu datang memaksaku
rindu semakin menyerang
kalaulah aku dapat
membaca pikiranmu
dengan sayap pengharapanmu ingin terbang jauh

biar awanpun gelisih
daun-daun jatuh berguguran
namun cintamu kasih terbit laksana bintang
yang bersinar bersinar cerah menerangi jiwaku

andaikanku dapat mengungkapkan
perasaanku hingga membuat kau percaya
akan kuberikan seutuhnya
rasa cintaku... selamanya... selamanya...

andaikanku dapat mengungkapkan
perasaanku hingga membuat kau percaya
akan kuberikan seutuhnya
rasa cintaku..
rasa cintaku.. yang tulus dari dasar lubuk hatiku...

Tuhan... Ijinkanlah cinta besama selamanya...
~~~
Oh dear! Aku terperangah. Aku tak tahu bagaimana reaksi mukaku, yang jelas mulutku ternganga dan pupil mataku melebar. Dalvin bernyanyi menggunakan perasaan. Apa pesan yang tersirat dari lagunya itu? Walaupun kedengarannya serak, seolah ia sedang menangis... tapi tunggu, mata Delvin berair. Jangan menangis... aku tidak ingin melihatnya. "Delvin, kenapa kamu menangis?"
"Oh.. tidak," Delvin menyesap air matanya lalu tersenyum kepadaku. "Bagaimana? Suaraku bagus, kan?" Ia bebicara sengau. Sama sekali tak mau menjawab pertanyaanku. Baiklah.
"Agak sedikit sengau! Kamu sedang pilek, ya?" candaku sambil terkekeh.
Delvin mengerucutkan bibirnya. Aku kembali terpingkal-pingkal hingga hening melanda diantara kami berdua.
"Dalvin..."
"Kak Darrel..."

Kami mengatakanya bersamaan dan rasanya aneh. Sejak kapan aku dilanda kecanggungan? Ya, ini berubah kikuk karena ada sesuatu yang ingin kuutarakan. Yang sudah beberapa jam terpendam dalam-dalam. Dan mungkin saatnya aku harus mengeluarkannya. Tuhan, beri aku keberanian. "Kamu ingin mengatakan apa?" nyatanya aku masih sukar mengutarakannya.
"Mm, kakak dulu deh.." tawarnya.
Aku mendapati dirinya menatapku dalam-dalam. Aku ragu, apakah aku harus mengutarakan yang sebenarnya bahwa aku menyukainya. Ia mengerjab-erjab. Tuhan, bantulah aku. "Ada yang pengen aku omongin."
Mata Delvin terpencing. Buru-buru kurogoh loly-pop candy yang sengaja aku beli-special untuknya. "Ini untukmu," kataku, dengan suara bergetar.
Delvin tidak merasakan kekikukanku. Ia menerimanya dan tersenyum. "Loly-pop candy? Bukankah seharusnya aku yang kasih loly-pop? Tumben, bentuk hati lagi," Delvin melirikku.
"Sebenarnya-aduh.. darimana dulu mulainya, ya," bisikku pada diri sendiri.
"Kenapa kak?" tanyanya, kini Delvin mengolengkan kepalanya. Tampang innocentnya sangat menggemaskan.
"Vin.. Aku tak tau harus bilang apa. Semenjak pertama melihatmu, aku merasa kamu begitu dekat sekali denganku. Seperti ada yang nyaman saat berada di sisimu, meskipun kita baru kenal dua hari yang lalu," ada jeda. "Aku tahu sepenuhnya ini salah. Dan tidak seharusnya aku melibatkanmu ke dalam perasaanku," aku memaksa diriku bernapas karena kalau tidak aku pasti akan jantungan. "Aku menyukaimu... Aku mencintaimu, Dalvin..." akhirnya... kalimat itu terucap. Meski terdengar pelan, dan mungkin hanya di antara kami saja yang mendengarnya. Kelegaan membanjiriku. Aku sudah mencurahkan semuanya. Aku sudah melakukan yang bisa aku lakukan. Kini tinggal dirinya, terserah ia mau menerimaku atau tidak. Sekarang keputusan ada di tangan Dalvin. Loly-pop yang sedari tadi tergantung di tangannya, tiba-tiba jatuh. Air mukanya tak dapat terungkap oleh kata-kata. Kalut, terkejut, heran segalanya terekspresi jelas di wajahnya.
Delvin menarik napas. Mulutnya terbuka, namun tidak terucap sepatah katapun dari sana. Ia mengatupkan bibirnya dan menyampingkan pandangannya. Ia tak mau menatapku. Ku lihat air matanya mengalir. "Delvin.." lirihku di sela-sela tangisnya.
Lantas ia menatapku. Matanya kelihatan sembab. "Kak," ucapnya, "Kak Darrel," ulangnya dengan nada bergetar. Jantungku pun berdegup kencang dan yakin akan meledak. Kepalan tangan melembab akibat ketegangan ini. "Aku minta maaf, kak. Aku tak bisa menerima kakak," ia tak mampu membendung air matanya. Tangisannya semakin pecah.
Aku mimbisu. Aku masih tak percaya dengan apa yang ia katakan. Kecewa, putus asa, sesal, marah terpadau menjadi satu, yakni sakit. Sakit yang menyebabkan aku lupa cara bernapas lagi. Beribu-ribu pertanyaan merebak di benak. Kenapa ia menolakku? Apa aku seorang lelaki? Apa aku tak pantas mencintainya?... Lalu Delvin beranjak pergi dengan air mata yang masih mengalir. Aku mematung layaknya terserang apopleksi hingga suara gedebuk halus menyadarkanku dari serangan itu.
Delvin terjerembab di sekitar pohon akasia. Aku tidak peduli, bukan karena aku jahat, tapi karena ia tidak ingin disentuh olehku. "Kamu nggak apa-apa, Delvin?" tanyaku cemas.
Ia menepis tanganku saat aku mencoba mengangkat tubuhnya. "Maafkan aku, kak! Aku nggak cinta sama kak Darrel!" kata-kata itu berupa bisikan, tetapi sudah cukup menohok bahkan merajang ulu hati. Aku tak mengerti, kenapa ia seemosi itu? Padahal aku hanya mengatakan bahwa aku mencintainya. Itu diluar prediksiku. Delvin menjauh dariku yang masih memandangi jejak punggungnya hingga benar-benar menghilang. Aku tak menyangka jika reaksinya akan seperti itu. Aku telah melakukan kesalahan padanya.
*****
Besoknya. Besok lagi, serta hari-hari setelah besok. Dalvin tak pernah terlihat duduk di sana lagi. Tak terlihat sosok yang setia dengan kupluknya. Sosok yang selalu memintaku untuk bernyanyi dan sosok yang selalu membayarku dengan permen loly-pop candy. Aku menyesal atas kebodohanku. Yang serampangan mengucapkan kata-kata cinta padanya. Sungguh, aku kehilangan dirinya.
Hari ke-14 setelah kejadian itu, aku masih menunggu kehadirannya kembali di surga kecil ini. Surga di mana para burung-burung gereja bersimbiosis. Masih bertemankan gitar kesayanganku, aku menundukkan kepala ke permukaan tanah. Ada sesuatu yang menyita perhatiannku. Loly-pop candy. Permen berbentuk hati yang telah menghancurkan kenanganku selama tiga hari bersamanya. Permen itu tak utuh seperti saat aku membelinya. Berlendir dan berair. Warnanya pun bercampur menjadi satu dan tak tahu berwarna apa lagi. Mungkin terik matahari melelehkannya.
Aku menghembus nafas panjang. Saat ini aku lemas. Saking lemasnya aku merasa bisa tidur di sini dan tak mau terjaga lagi. Udara-udara siang nan sejuk namun tak sesejuk batinku, menerpa dan membawa pesan damai. Bola mataku terbang menuju sinar-sinar mentari hangat yang tersaput ranting-ranting nakal akasia. Burung-burung gereja beterbangan dari dahan satu ke dahan lainnya, terkadang mereka menerobos daun-daun kuning hingga melayang terbawa desiran angin. Cericitanya membelah siang.
Lalu aku teringat, di saat seperti ini lah aku mendengarnya. Mendengar sapaan pertamanya. Aku merindukan sapaan itu. Sungguh.
"Bisakah kamu menyanyikan sebuah lagu untukku."
Ah! Efek rinduku menjalari sel-sel otakku sampai-sampai aku berhalusinasi. Otat tak tau diri, rutukku dalam hati.
"Kak Darrel,"
Barangkali aku kecapaian atau perutku yang kelaparan? Tuhan, jangan Kau uji aku dengan ini. Aku mencengkram mukaku ke dalam tangkupan tangan sambil meringis. Argh! Mengapa otakku terlalu penuh dengan dirinya? Namun instingku menjawab keheranan. Aku mengintip di sela-sela tanganku dan menemukan sosoknya. Aku tertegun sepersekian detik. Kupikir mataku terkelabuhi fatamorgana. Nyatanya Dalvin tersenyum di depanku. "Dalvin,"
"Iya... benar, ini aku" katanya, meyakinkanku akan terkaan otakku.
Aku mengerjab-erjab. Dalvin bersama seseorang yang kutaksir ia adalah kakaknya, sebab mata bulatnya juga diturunkan pada pemuda itu. Dan yang membuatku tak percaya ialah Dalvin berkursi roda. "Awalnya aku pikir, aku sedang berhalusinasi. Tapi ternyata ini benar-benar dirimu, Dalvin," aku berlutut disampingnya.
Dalvin mendongak, menatap pemuda itu. Pemuda itu langsung mengerti apa yang harus ia lakukan. Kemudian pemuda itu tersenyum kepadaku sebelum meninggalkan kami. "Dia kakakku," ucap Dalvin.
"Dalvin... Aku minta maaf. Aku gak bermaksud menyinggungmu. Aku cuma ingin mengutarakan perasaanku saja. Kumohon, jangan membenciku. Setidaknya, kita masih berteman atau sekedar teman ngobrol, itu sudah cukup bagiku. Aku..."
"Aku tak mau mendengarnya," hardik Dalvin. Aku tercengang. "Lebih baik aku mendengarmu bernyanyi dari pada mendengar penjelasan tak berbobot kakak," ia menunjuk gitarku. "Cepat mainkan!" bentakanya kian meninggi.
Cepat-cepat kugiring tubuhku ke kursi. "Semoga kau terhibur," kupetik gitarku dilanjutkan alunan lagu dari bibirku. Kami saling bernyanyi. Sepintas aku curi pandang terhadapnya yang menyibukkan diri melihat jari-jariku yang menari di atas senar. Ketika nyanyian berakhir, Dalvin bertepuk tangan. Senang melihatnya tertawa. "Mana bayarannya?" candaku.
Ia terkekeh kecil. "Kakak memang tak mau rugi."
"Tenang! Kini aku nggak marah kok mau dibayar loly-pop."
Delvin mengeluarkan loly-pop hati dari sakunya. "Kakak sebelumnya pernah memberiku loly-pop seperti ini, kan? Sayangnya, kena buang. Astaga, bukankah itu loly-popnya?" matanya tak sengaja mengarah ke bawah kursi.
"Sudahlah! Lupakan loly-pop itu! Menyebalkan," aku kembali teringat akan kejadian itu.
Ia tersenyum ketika menyuguhkan permen itu ketanganku. "Kak Darrel, bisakah kakak berbagi tempat duduk? Aku ingin duduk di sebelah kakak," pintanya.
"Oh.. Kenapa tidak? Lagi pula, kursi ini bukan milik kakak."
Aku memapahnya ke kursi. Rasa penasaranku tiba-tiba muncul. "Kamu sebenarnya sakit apa?" tanyaku ketika ia telah berada dalam posisi duduk yang benar.
Delvin menarik napas. Kemudian ia melepaskan topi kupluknya. Betapa terkejutnya aku mendapati kepalanya blontos tanpa rambut satu pun. "Mungkin selama ini kakak bertanya-tanya kenapa aku selalu mengenakan topi kupluk," ia mengucapkannya diselangi rekahan bibirnya. "Ya... Inilah kak, aku menderita kanker darah stadium akhir dan mungkin hidupku tak akan lama lagi," Delvin menjatuhkan pandangannya ke bawah.
"Dalvin," aku mengangkat dagunya, menghadapku. Dari sini akupun dapat dengan jelas melihat wajah sendunya. Kantung-kantung hitang mengantung di sekitar matanya. Ia pasti menderita oleh penyakit ini. "Kenapa kamu berpikiran seperti itu?"
"Apa kakak masih akan mencintaku?" ia tak menjawab pertanyaanku melainkan berbalik tanya padaku.
Aku memasangkan kembali topi kupluknya ke kepala Dalvin. "Aku akan mencintai Dalvin yang ini. Yang selalu memintaku bernyanyi, dan selalu membayarku dengan lolypop."
Tiba-tiba Dalvin membenamkan mukannya ke dadaku. Sementara aku tak bergeming. Bagiku ini serasa hanya mimpi. Tapi kurasakan kehangatan Dalvin yang membantalkan kepalanya- nafasnya menghangatkan debaran jantungku. "Jika kakak benar-benar mencintaiku. Berjanjilah satu hal!" Dalvin sedikit mendongak beserta seutas senyum terabadikan di bibir keringnya. "Lepaskanlah aku kak! Biarkan aku terbang bersama burung-burung geraja itu, dan Aku akan lebih leluasa melihat cinta kakak diatas sana. Akan aku ceritakan kepada seluruh penghuni surga, bahwa cinta kita akan selalu terkenang... selamanya..."
Aku termangu, tepatnya tak ada respon. Telingaku tak ingin aku pasang, karena itu membuatku pusing. Aku menengadah ke atas, bukan ingin menikmati kicauan burung. Tetapi, ingin menahan tangis. Jangan menangis.. jangan menangis.. jangan.
"Kakak menangis?" pipiku terasa diraba. Ya, tangan Dalvin menghapus butiran air mataku yang terjun bebas. Aku tak sanggub bersuara. "Aku cinta kakak, maka penuhi janjimu itu," ia merogoh sesuatu dari kantong bajunya, catatan kecil. "Aku punya satu permintaan lagi. Kakak wajib memenuhinya," ada jeda. "ceritakan pada dunia tentang kisah kita." Dalvin meletakkan catatan itu di telapak tanganku. Kepalanya masih direbahkan di dadaku. Ia sama sekali tak ingin merubah posisinya.
"Ini apa?" tanyaku serak.
Dalvin tersenyum. Itu senyuman terhambar yang terlukis dari raut wajahnya. "Itu diary-ku. Sahabat curahan hatiku." ucapnya parau. "Kakak.. peluk aku lalu nyanyikan sebuah lagu lagi untukku."
Perlahan-lahan aku melingkarkan ke dua lenganku ke lehernya, kemudian mulutku bergetar menyenandungkan lagu.
"Tak terkira di sampingku...
Adalah hal terindah yang pernah ku inginkan...
Tak terkira di pelukmu...
Adalah hal terindah yang pernah ku rasakan..."

Bulir-bulir itu kembali jatuh dari pelupuk mataku. Jatuh ke wajah Delvin yang sudah tak bernyawa lagi. Ia meninggal dalam keadaan tersenyum. Aku menjerit tak mampu menahannya. Aku janji akan menceritakannya.. Aku janji...
****
Diary Delvin
Halaman Ke-1
"Aku melihatnya. Setiap hari aku melihat lelaki itu termenung seorang diri dengan gitar coklatnya. Wajahnya selalu memandang ke atas. Menerawang, menjelajahi ke semak-semak pohon. Dia sedang melihat apa? Ingin rasanya menghampiri lelaki itu. Ingin mendengarnya bernyanyi. Aku yakin suaranya pasti bagus. Ah, ada apa denganku?"
Halaman ke-2
"...Apakah Dia terlahir dari ayah seorang summo, sehingga sanggup menjungkir-balikkan perasaanku? Atau ayahnya adalah seorang penjual loly-pop candy, hingga mampu memberi warna pelangi di hatiku?
Argh! Apa-apaan ini! Padahal aku sama sekali tak mengenal lelaki. Tetapi, kenapa ia mampu memberikan sinyal-sinyal cinta untukku. Aku tak habis pikir, terkadang cinta itu pelik. Tak pernah memandang status sosial, ekonomi maupun jenis kelamin. Seperti rasa penasaranku pada lelaki itu..."
Halaman ke-3
"...Tak terkira disampingku,
adalah hal terindah yang pernah ku inginkan...
Harus kuakui bahwa sair lagu itu benar-benar diriku. Aku nyaman di sisinya, bahkan aku pun tak bisa menggambarkan rasa nyaman itu. Serasa nyeri menggerogoti dadaku.
..Darrel, yang artinya belahan jiwa. Nama yang bagus, sebagus mata keemasannya. Suara merdu memikatnya masih terngiang ditelinga. Aku penasaran, apa lagi yang istimewa darinya?"

Halaman ke-4
"Jujur, aku kalah menipu diriku sendiri, bahwa aku mulai menyukainya dari senyumnya, tampang kesalnya, juga kalimat konyolnya. Uf! Tuhan tega melibatkan aku pada cinta yang tak semestinya ini.
Aku tak ingin jatuh cinta, sebab akan menyesal di kemudian hari. Kenapa bisa? Bisa saja.. Karena aku terkungkung oleh penyakit terkutukku."
Halaman ke-5
"Kata-katanya sungguh di luar dugaanku. Memang, kata-kata itu tak banyak tertumpah keluar dari bibir kak Darrel tapi begitu terucap bagai tertimbuni beton-beton berat yang menyesakkan.
Dia mencintaiku? Itu tidak boleh... Tidak. Aku tak mau memberikan harapan padanya. Aku tak mau dia sampai jatuh cinta padaku meski aku menginginkanya. Biarlah rasa sesal ini yang aku simpan.
Sekali lagi maafkan aku.."
Halaman ke-6
"Dear...
Aku bukan Rose DeWitt Bukater yang harus kehilangan kekasihku, Jack Dawson. Juga tak mau seperti Satine yang hanya mampu membawa cinta Christian ke surga. Namun, aku teramat ingin menjadi Isabella Swan, yang bisa merajut cinta terlarang bersama seseorang yang aku sayangi, Edward Cullen.

Beri aku kesempatan, Tuhan. Meski itu sekecil butiran dubu. Beri aku pilihan!"
Halaman ke-7
"...Kak Darrel..
I LOVE YOU TOO...

Aku cuma bisa mengatakannya lewat kau, diary...
Sampaikan pesan cinta ini padanya.. Sampaikan melalui suara burung-burung gereja. Sampaikan melalui daun-daun kuning akasi bahwa aku mencintainya..."
*****
Epilog
3 Bulan Kemudian

Aku menyaksikan pergantian musim. Pohon akasia kembali menghijau. Burung pipit kini sudah bersahut-sahutan. Hukum semesta, yang tak berubah hayalah perubahan. Aku merindukan burung geraja, merindukan daun-daun kuning akasia. Diam-diam aku berharap, semoga musim cepat berganti, suapaya aku bisa mengenang saat-saat bersamanya di surga kecil ini.

THE END


COWOK LOLYPOP


By : FY
Satu halaman, dua halaman, tiga halaman, balik lagi ke halaman satu, kehalaman dua,, balik lagi,,, arghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh, bolak-balik aku mencoba mencerna kembali kata-kata yang tertulis di notebook ,,, aishhhhhhhhhhhhh... kok susah yah bikin cerpen nih? gak seperti biasanya. sementara permen lolypop masih ku emut dengan manisnya,, masih manis,, ah,,, padahal aku dah ngemut nih permen,,, ini kan kata kunci buat ikutan cerpen ini,,,,sial,, aku malah gak dapat ide...
"tit,, tit,, tit,,," tiba-tiba suara hp ku berdering,, hahahhaha nada deringnya titit,,,,, hap,,,, ku ambil segera hp kesayanganku itu,, hemmmm (keningku berkerut, mataku membesar,,, kucek2 dulu ah takut aku mimpi) nih sms dari "BEY" kan.. 0896XXxxxxxx. tumben dia sms,, seketika ku lempar notebook,, aishhhhhhhhhhh gak deh,, aku tinggal doang,, itu kan notebook kesayangan gw... ku buka sms nya,, isinya apa yah?
"hi.... gy apa nih?" isi sms bey,,, tik tok, tik tok,,, aku bingung mu jawab apa,, cos nih sms klise kalau menurutku,, aishhhhhhh tapi ini kan sms dari si "BEY". ku cepat-cepat membalasnya, tktkktktktktkktktk suara jariku mengetik dengan cepat,,, send,,,, item terkirim,, yes,,,, tik tok, tik tok, tik tok,,aku menunggu balesannya..
"oh,,,, besok ada acara gak?" tanyanya lagi,,, awwwwwwwwwwwww aku guling2an dikasur,,, kok tumben sih? lalu jariku pun menari lagi, tktkktktktktkktktk send, item terkirim...
"ok deh,, besok aku jemput jam 3 sore yah" . wow.................... aku manggut2 kegirangan,,, lalu kubalas kembali smsnya,,
"ok bey"...
"ahhhhhhhhhhhh besok bakal ngapain yah"
-----------------------------------------------------------------------------------------------
"lima menit lagi aku nyampe". jreb,, itu sms dari BEY,,, aishhhhhhhhhhhh. aku lupa kalau hari ini  BEY mau ngajak aku keluar,,,,, bodo bodo bodo,, napa mesti lupa, napa mesti bangun kesiangan, napa mesti gak pasang alarm, napa gak ada yg banungin,, kenapa kenapa???? aishhhhhhhhhhhhh kalau aku menggerutu terus,,, bisa2 dia dah nyampe didepan rumah nih....tok tok tok, tok tok tok...deg....... mendadak kepanikanku hilang,,,, suara itu.... itu suara pintu diketuk kan? apa itu BEY? oalah,,,, mampus aku....bergegas aku turun,,, dan klek.... bunyi handle pintu terbuka,, kini nampaklah dihadapanku,, sosok itu,,, tersenyum tipis...
"nampaknya aku terlalu cepat menjemputmu fy,, atau emang kamu sudah siap dengan penampilan kamu seperti ini?" kembali senyum itu membuat aku terbata-bata.... aish,,,,
"kamu masuk bey,, tunggu 10 menit,, aku dah pastikan aku siap" clungggggggggggggggggg. aku bergegegas lari ke kamar mandi, tak ku pedulikan BEY yg masih berdiri diambang pintu,,,,,,,, sial sial sial,,,,,, bodohnya aku..... dan kini aku pun sedang menikmati kucuran air dikamar mandi...
------------------------------------------------------------
"hai sahabatku jangan pernah melimpahkan kesalahanmu,
pada aku yang kau anggap merebut kekasih hatimu,
mencuri pasangan jiwamu.
karena sesungguhnya bila kamu kehilangan cinta sejatimu,
itu semua karena kamu, tak sungguh sungguh pelihara dan menjaga cinta matimu.
tak ada yang salah bila satu insan mencintai dua hati atau lebih,
karena pada dasarnya, relung hati manusia,
tak terbatas tempatnya untuk bisa di isi oleh yang namanya cinta.
begitupun dia, aku, dan kamu.
cinta ini jangan lah dijadikan alasan kau membenciku.
karena aku pun mencintaimu dan dirinya.
inilah setiap relung hati insan."
begitulah,, lirik lagu cinta mati 2 yang ku rubah sesuai suasana hati ini, aku dengarkan dan dendangkan di kamarku ini... rencana mau sebentar,, kini hampir setengah jam aku bersiap2, dan entah tanpa ku sadari, BEY masih tetap setia menungguku di bawah sana...
"Yap,,,, sudah manis,,,,, ok dah,,, aku siap jalan2 hari ini" dengan langkah riang aku berjalan dan ku dapati BEY yang memandang dengan senyum tetap indah di bibirnya.
------------------------------------------------------------
"dah siap?" tanyanya tiba-tiba, ketika aku sudah berdiri dihadapannya. dan anggukan kepalaku mewakili jawabannya.
"gak ada yang lupa?" tanyanya kembali,,,
"eits,,,, lupa? apa yang aku lupakan?" gumamku dalam hati, akupun celingak-celinguk melihat penampilanku sekarang, ada yang salahkah? apaan sih yang lupa? dan gelengan kepalaku mengakhiri aktivitas kecilku barusan.
"Yakin?" sahutnya kembali...
"Ia bey,,, aku yakin gak ada yang lupa kok, emang apaan sih yang aku lupakan?" balik ku tanya dia,,,
"Hem..... ya sudahlah kalau kamu merasa gak ada yang kelupaan, nanti juga bakal ngeuh sendiri kamu" lalu diapun beranjak keluar duluan...
"aneh..........." dan tanpa pikir panjangpun aku mengikuti dia keluar rumah...
"emang mau kemana sekarang kita BEY?" tanyaku ketika kini kita dalam perjalanan..
"nanti juga kamu tau kok". dan clek,,,,,, lagu mantra by ANGGUN, terputar menemani perjalanan kita...aku pun menikmati lagu itu....
“detakkan di dada bergetar di bibir
ku tak bisa lupa yang telah menggoda hati
ku tak ingin kecewa, tak ingin kualami
ku tak mau terlena, dan tak ingin berdosa.”
-----------------------------------------------------------------------
"Bey, tempat ini kan!". tiba-tiba suaraku menggantung ketika kita berdua sudah sampai ke tempat tujuan. dan dia terus saja berjalan tanpa memperdulikan aku yang masih terbengong-bengong dengan keadaan ini, lalu aku pun berlari kecil mengejarnya.yah, tempat ini memang tak semewah dugaanku, tapi ada satu nilai tersendiri buat tempat ini, karena....
"kamu suka tempat ini kan?" seakan tau jalan pemikiranku, tiba-tiba Bey memecah kebengonganku. dan otomatis aku celingak-celinguk tak tau harus menjawab apa.
"eh,, eu,, ia Bey, aku suka". akhirnya aku pun menjawab meski dengan terbata-bata dan rona wajah memerah.
"gimana aku gak suka BEY, ini kan tempat yang aku selalu pinta ke kamu untuk diajak berdua disini, dan sekarang, ini menjadi kenyataan,, namun aku serasa masih bermimpi". gumamku dalam hati, sementara kulihat BEY memandang kosong ke depan sana, seakan ingin menyapu hamparan luas kebun teh yang terhampar didepan kita berdua hingga makanan  tiba..
"hei,, kapan kau memesan ini BEY?". tanyaku heran.
"Fy, boleh aku ngomong sesuatu?" bukannya menjawab pertanyaanku dia malah balik mengajukan pertanyaan.
"Eh,, boleh kok Bey, emang mau tanya apaan?" dan seperti sudah direncanakan semula, tiba-tiba kupingku memasang dengan tajamnya...
"Aku,,,,," suara itu begitu menggantung.
----------------------------------------------
"Aku gak bisa menerima cintamu fy". deg,,, eh,,,,, uhuk,,,, seketika jagung bakar yang kumakan keluar dari mulutku dan sedikit berhamburan ke celananya,,
"Eu,,, kamu ngomong apa sih Bey, maksudmu barusan apa?" tanyaku heran.
"Sudahlah fy, gak perlu di tutupi lagi, aku tau persaanmu selama ini kepadaku, perhatianmu yang begitu berlebih kepadaku bila itu hanya sekedar teman, status-status fb mu tentang aku, kepura-puraanmu yang begitu mendukung saat aku menyukai seseorang walau sebenarnya aku tau hatimu menolaknya..aku tau, aku tau itu semua fy, tapi maaf, aku gak bisa, setidaknya untuk saat ini pemikiranku menolak semua kenyataan ini, namun percayalah, aku tak akan pernah menjauh darimu, sedikItpun aku tak akan marah kepadamu karena rasa sukamu ini kepadaku." disini Bey menghentikan kata-katanya, tarikan nafasnya begitu terdengar jelas ditelingaku, sementara aku hanya bisa menundukkan kepala, melihat kaki ku yang terjuntai dengan lemahnya.
"Ya Tuhan,, jadi selama ini dia mengetahui persaanku" gumamku dalam hati.
"sejak lama sebenarnya aku mengetahui perasaanmu itu, ingin sebenarnya aku berbicara dari dulu, namun entah kenapa aku masih belum menemukan waktu yang pas, sekali lagi maafkan aku fy, ini keputusanku, sekali lagi kuharap, kamu takkan menjauh dan membenciku, kita akan tetap jadi sahabat seperti dulu". kembali Bey melanjutkan ucapannya setelah sepersekian menitnya kami membisu.
"ehm" aku mencoba menjawab, sekilas aku tersenyum, untuk mengumpulkan kekuatan ini.
----------------------------------------------------------------------------------
"akhirnya, kamu tau juga perasaanku selama ini Bey, maaf bila selama ini perlakuanku membuat kamu gak nyaman, risih atau mungkin benci."
"engga fy, aku gak merasa itu semua, aku.." seketika bey memotong ucapanku dan aku pun dengan sigap memotong ucapannya.
"tunggu dulu bey, biar aku menjelaskan semuanya. yah, ku akui, aku gak punya keberanian untuk terus terang dengan perasaanku ini, selama ini aku hanya bisa seakrab mungkin denganmu, melihatmu tersenyum seakan adalah kebahagiaanku tersendiri, aku sudah yakin sepenuhnya kalau rasa ini takkan berakhir sesuai dengan harapanku, tapi aku ikhlas Bey, aku tegar, aku terima semuanya karena aku tau, aku yang salah, terlalu bodoh bila aku menyukaimu." disini aku berhenti, mencoba mengumpulkan berliter-liter udara untuk ku hirup dan menjadi kekuatan cadangan...
"disaat kedekatan itu, entah kenapa aku begitu nyaman dengan dirimu, aku berusaha semaksimal mungkin untuk bisa selalu lebih akrab denganmu, perhatianmu yang biasa saja menurutmu namun begitu aku artikan luar biasa bagiku, namun yah,, beginilah akhirnya waktupun yang menjawab semuanya, tanpa aku mengutarakan isi hatiku, kau terlebih dahulu telah menjawabnya, aku terima itu semua Bey, sebaik-baiknya keputusanmu itu, namun ijinkanlah saat ini buatku untuk mengatakan secara langsung kepadamu, bahwa..."
----------------------------------------------------------------------------
"aku sangat mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu sampai aku lelah dan mendapat pengganti cintamu". dan sesaat lamanya kita berdua terdiam, sementara pengunjung lain mulai silih berganti datang dan pergi ke tempat ini. namun kita seakan terhanyut sendiri dalam suasana, sementara makanan yang tersaji masih belum tersentuh semua, hanya jagung bakar inilah yang masih tergenggam dengan eratnya,,
"aku harga itu fy, karena rasa tak ada yang salah, apapun itu alasannya, namun kembali aku tak mau memberikan harapan padamu, aku mau kita hanya berteman saja, seperti biasanya".
"ok Bey, aku juga menghargai perasaan, dan mungkin aku lebih banyak mengetahui tentang rasa, jadi kamu gak usah khawatir, aku baik-baik saja dengan kondisi saat ini".
"jadi...." kata Bey menggantung..
"kita teman". jawabku mantap.. dan kulihat BEY tersenyum begitu manis.
"oh ia fy, dulu kan kamu selalu minta dua permintaan kepadaku".
"eh, permintaan, apaan Bey, aku lupa nih!" seketika suasana kembali membaik tak setegang barusan.
"dulu kamu begitu ngotot, sms berkali-kali kepadaku untuk minta diajak ketempat ini, sekarang aku sudah memenuhi satu permintaanmu itu, dan untuk permintaanmu yang kedua itu,,," seketika BEY terdiam,, lalu tanpa aku ketahui.
"cup". satu kecupan manis berhasil mendarat mulus dikeningku. seketika aku mematung, beku, gelap, tegang, ah,, apalah sebutannya,,, aku seakan tak percaya,
"Bey mengecupku" teriakku dalam hati,,, karena tak mungkin aku berani selancang itu teriak ditempat umum.
"itu adalah permintaanmu yang ke dua, dan itu adalah kecupan rasa sayangku sebagai sahabatmu" ucap bey selanjutnya.
"makasih Bey" akan selalu ku ingat hari ini. tak kan pernah ku lupa..
"dan ini, buat kamu" lalu tanganku meraih apa yang ada di tangannya, ku cerna benda itu,,
"LOLYPOP" ucapku tertahan, yah sebuah permen lolypop lucu dan manis, selucu dan semanis yang memberikannya.
"itu kan permen kesukaanmu fy, tapi entah  kenapa kamu bisa sampai melupakannya untuk tidak mengemutnya hari ini"
"ya ampun,, jadi ini toh yang kamu maksudkan pas berangkat tadi?"
"Yup, dimakan yah, aku ingin melihat wajahmu yang begitu manis ketika menikmati permen itu"
"jiah,,,,, gombal...heeee" tapi aku pun mulai mengemut permen lolypop itu. dan kini tangan kami bertemu, berpegang erat, disini didalam hati, berjanji satu sama lain, untuk tidak memaksakan hati masing-masing. yah lolypop ini, begitu manis, seakan hari ini adalah hari termanis buatku, tak peduli aku tak mendapatkan hati yang sempat aku inginkan selama ini. karena aku yakin, ini lah yang terbaik dan yang termanis buat diriku dan dirinya. DAN kembali daun-daun teh itu bergoyang lembut seakan tersenyum kearah kami berdua. AH,,,, SORE YANG INDAH.

I’M YOUR LOLLIPOP



By : AnimalMorpher
Ian menutup laptopnya sambil menghela napas panjang. Ian adalah seorang gay, yang di mata masyarakat masih dianggap ‘penyakit’ yang harusnya diberantas, dimusnahkan hingga ke pelakunya. Padahal bukan salah kaum gay, tidak ada yang menginginkan ‘anugerah’ ini. Tidak seorang pun di dunia ini yang mau seumur hidupnya di caci, dimaki, dan dihina layaknya manusia, bukan, layaknya makhluk rendahan yang tidak memiliki harga diri dan hati nurani. Pada dasarnya gay sama seperti semua orang, juga manusia yang memiliki kasih sayang dan rasa ingin dibutuhkan, bukan sebagai seseorang yang harus dijauhi karena orientasi seksualnya.
            Ian merasa dadanya sesak, dipenuhi kebencian dan amarah yang meluap-luap. Artikel yang dibacanya di salah satu situs telah menggores hatinya, bagaimana banyak orang sepertinya dibantai, dicaci maki bahkan dibunuh oleh orang-orang homofobik yang selalu menganggap gay adalah dosa. Padahal tidak ada satu ajaran agama pun yang mengajarkan pelaku gay adalah kaum berdosa. Logikanya, Tuhan menciptakan semua orang dengan satu tujuan. Tuhan menciptakan kaum gay,  bukan untuk mencari dosa. Mustahil jika Tuhan yang menciptakan, menghendaki agar kaum Gay ‘ada’  tapi Dia juga yang menghukumnya karena yang dilakukan ciptaannya berdosa.
            Ian rasanya ingin berubah. Ia tidak mau hidup seperti ini, hidup dalam kepura-puraan dan alibi. Bersembunyi dari orang-orang disekitarnya. Berpacaran dengan wanita, hanya untuk formalitas semata yang padahal ia tahu bahwa itu hanya akan menyakiti wanita yang dipacarinya. Bersembunyi, mencari alasan ketika Mr. dan Mrs. Livingstone, kedua orang tuanya bertanya kapan ia akan menikah. Ian sudah lelah hidup seperti itu.
            “Ya Tuhan, aku lelah hidup seperti ini. Aku lelah.” Batinnya getir.
            Diambilnya foto salah seorang sahabatnya. Sahabat yang sangat ia cintai sepenuh hati. Ian begitu menyayanginya, hanya dalam hati. Ia tahu cintanya bertepuk sebelah tangan, yang membuat hatinya tersayat setiap mengingatnya. Tapi ia selalu ingat, yang penting bukan kebahagiaan dirinya, tetapi kebahagiaan sahabatnya itu, meskipun ia harus melepasnya bersama orang lain.
            Ian mendekap foto itu erat-erat, mengalirkan segenad darah dan detak jantungnya kepada sahabatnya itu, berharap mereka akan selalu bersama, sebagai sahabat.
            Kemudian ia terdiam. Diam yang lama.
            Akhirnya ia hanya menangis, mengingat hidupnya yang telah berbeda dari orang lain, tetapi dipaksa untuk mengikuti norma yang ada di lingkungannya itu walau itu bertentangan 180 derajat dari hati nuraninya.
*************************************************************************************
            “Kurasa akhir-akhir ini Ian semakin menutup diri dari kita. Ia bertambah murung saja.” Kata Andy Flynn kepada Gabe Anderson, sahabatnya. Keduanya adalah sahabat Ian Livingstone.
            Keduanya sudah tahu Ian seorang gay. Dan hanya mereka yang tahu bahwa Ian seorang gay. Mereka juga tahu bahwa Ian mencintai Andy, meskipun Ian berpikir bahwa temannya itu tidak mengetahuinya. Andy juga seorang gay sebenarnya. Wajahnya ganteng bukan main, menurut Ian bahkan Andy tidak jauh beda dengan Zac Efron karena memang Andy memang mirip dia. Tapi ia masih menutupinya. Ia masih tidak yakin bahwa dirinya adalah seorang gay atau hanya ketertarikan yang berbeda yang akan pulih dengan sendirinya. Sementara Gabe 100% straight, namun ia masih menerima Ian apa adanya. Gabe orang yang baik, wajahnya tampan, hidungnya mancung dan ia masih keturunan Portugis dari kakeknya, ia juga masih menganggap gay itu normal adanya. Kalau Ian sih manis, memang sih ia itu ganteng, tetapi kemanisannya lebih mendominasi. Ketiganya tidak bisa lepas satu sama lain.
            “Mungkin sibuk mengerjakan tugas kuliahnya, mungkin saja kan.” Jawab Gabe acuh tak acuh. “Jangan terlalu dipikirkan, nanti juga akan seperti biasanya lagi.”
            “Tapi ini sudah seminggu Ian tidak ada kabarnya. Ayolah, apa kau tidak cemas?”
            “Cemas sih, tapi tidak usah berlebihan begitu lah.”
            Andy kesal dan memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan. Ia memutuskan untuk menghubungi lagi Ian setelah berkali kali ia mencoba menghubunginya. Ia harap ini berhasil, karena sebelumnya nomor Ian tidak aktif sekali pun.
            Belum sempat Andy menghubunginya, Handphonenya bunyi. Ia bergegas keluar dari kamar Gabe untuk menjawabnya.
            Gabe memperhatikan temannya itu berbicara, tapi tak sedikitpun ia mendengar apa yang dibicarakannya.
            Tak lama kemudian Andy masuk.
            “Tadi siapa?” tanya Gabe.
            “Ian. Ia mengajak kita untuk makan malam di Wendy’s malam ini.” Katanya. Terdengar nada khawatir pada perkataannya.
            “Tuh kan, apa kubilang. Kau saja yang terlalu khawatir, buktinya semua baik-baik saja.” Kata Gabe santai.
            “Tapi..”
            “Tapi apa?” Gabe yang sedang tidur-tiduran mendongak.
            “Ian terdengar begitu gembira tadi. Tidak seperti Ian yang biasanya.”
            “Loh, bukannya itu bagus? Berarti ada kemajuan dong?” kilah Gabe.
            “Tapi ini tidak seperti biasanya. Ada sedikit keanehan dalam nada bicaranya. Ada keganjilan yang aku tidak tahu apa maksudnya itu.” Andy menggigit jari.
            “Santai saja. Kau tahu? Sifatmu yang terlalu gampang cemas sesungguhnya merepotkan lho..” kata Gabe menenangkannya.
            Mungkin Gabe benar, pikir Andy. mungkin aku saja yang terlalu cemas.
            Tapi bagaimana jika firasatku benar?
*************************************************************************************
           Malamnya di Wendy’s, Ian menepati janjinya. Ia sudah memesan segelas wine ketika Andy dan Gabe datang.
            “Ian!” panggil Gabe dari pintu masuk kepada Ian yang duduk di pojokan. Gabe dan Andy bergegas menghampirinya.
            Andy menarik kursi dan melepas jaket coklatnya.
            “Mengapa akhir-akhir ini kau tidak ada kabarnya, sob?” tanya Andy ringan.
           Andy memperhatikan Ian. Malam ini Ian terlihat begitu mewah. Pakaiannya Andy tahu bernilai ratusan dollar. Dan dari parfumnya, ia tahu itu tidak bisa dibeli orang sembarangan. Itu membuat Andy bingung. Ian yang ia kenal biasanya selalu berpakaian santai. “Buat apa beli pakaian mahal-mahal. Buang buang uang saja.” Begitu katanya setiap Gabe mengajaknya untuk membeli pakaian bermerk. Andy menoleh ke Gabe. Gabe nampaknya juga menyadari keanehan ini.
            “Biasa, aku sibuk sekali akhir-akhir ini. Maaf ya.” Katanya singkat. Ia lalu memesan minuman. Minuman mahal seharga 271 dollar sebotolnya!
            “Ian! Minuman itu harganya ratusan dolar!” Gabe kebingungan.
            “Tidak apalah. Saat-saat terakhir harus selalu berkesan. Aku tidak ingin melewatkannya begitu saja.” Katanya sambil tersenyum. Ia menatap Andy dan Gabe bergantian. “Yang terakhir harus selalu berkesan, kan?”
            Andy tercekat. Ian biasanya selalu berhemat. Maklum, ia bukan tergolong orang kaya, jadi harus pandai-pandai mengatur keuangannya. Tapi Andy merasa orang yang ada di hadapannya bukanlah Ian yang ia kenal.
            “Apa maksudmu sih? Bicaramu kok melantur gitu?” tanya Andy heran.
            Ian menghela napas panjang dan..
            “Tidak ada lusa, Andy, Gabe. Aku ingin besok, kalian ada di apartemenku untuk menemaniku.”
            “Menemanimu? Untuk apa?” tanya Gabe.
            “Aku ingin kalian menemaniku…” Katanya begitu yakin. “saat aku mengakhiri hidupku.”
            Andy begitu tercekat mendengarnya. Begitu juga Gabe. Pikiran mereka berdua saat itu langsung blank dan hampa. Kosong.
            “Ah, kau pasti bercanda kan? Ayolah, Ian, ini sama sekali tidak lucu.” Tawa Gabe penuh kecanggungan sesaat setelah ia bisa mengendalikan diri.
            “Tidak, aku tidak sedang bercanda, Gabe. Aku serius.” Terbesit keyakinan yang begitu jelas di matanya ketika ia berkata seperti itu.
            “Ta-tapi mengapa?” kata Andy masih belum percaya. Ia masih belum bisa berkata apa-apa. Saking kagetnya, mulutnya terasa kelu.
            “Aku sudah lelah hidup seperti ini. kau tahu? Di luar sana banyak orang yang membenci gay sepertiku. Bahkan banyak gay yang dibunuh! Aku tidak mau seperti mereka. Hidup dalam penderitaan hingga akhir hayat mereka. Sebaik apa pun aku, dimata mereka aku --dan kaumku yang lain—selalu salah. Mereka menghujat kami kalian tahu? Mencaci maki kami dengan membawa segala kutipan agama yang mereka yakini melarang hal seperti ini juga. Aku tidak bisa seperti yang lain, yang telah mati dengan membawa penderitaan yang begitu berat. Sudah saatnya aku menentukan hidupku sendiri, sebagai seorang yang bebas. Dan aku memutuskan untuk mengakhiri penderitaan itu esok malam di apartemenku. Dan, dan..” kata-katanya terputus. Di matanya hanya tersirat kekosongan. Kosong yang penuh rasa sakit.
            “Tapi tetap saja, itu, itu…. Salah.” Kata Gabe.
            “Gabe benar, Ian. Kau tidak bisa berbuat seperti itu, Ian! Kami ini sahabatmu, ingat. Kami tidak bisa membiarkan apa pun terjadi padamu. Ayolah, singkirkan pikiran itu. Kau harus tahu kami menyayangimu. Kami akan selalu ada di sisimu..” belum selesai Andy berbicara Ian langsung memotongnya.
            “Karena kalian sahabatku. Aku ingin kalian ada di sisi ku ketika aku mengakhiri hidupku. Karena kalian sahabatku.” Kata Ian tulus. Ia menggenggam tangan kedua sahabatnya itu. Sejenak Andy bisa merasakan penderitaan yang dirasakan temannya itu.
 “Oh ya, aku hampir lupa. Aku akan mengatakannya sebelum aku mati. Andy, aku mencintaimu, bukan sebagai sahabat, tetapi ‘cinta’ yang sesungguhnya. Entah kau akan membenciku, tapi selama ini aku sayang padamu. Aku hanya ingin kau tahu itu.”
“Anyway, kalian mau menemaniku kan? Ayolah, lakukan untukku.” Tambahnya.
            Gabe menoleh kearah Andy yang terdiam mendengarnya. Nampaknya itu bukanlah suatu kejutan mengingat mereka berdua sudah mengetahuinya sebelumnya. Namun Andy tidak berkata apa pun. Tetap saja terasa aneh bila diucapkan.
            Andy dan Gabe lalu bertatapan. Mereka ragu. Ragu, kaget, dan otak mereka masih menganggap ini semua hanyalah lelucon belaka. Tapi kesungguhan yang terpancar dari diri Ian membuat Andy dan Gabe hanya bisa terdiam.
*************************************************************************************
            “Apa yang harus kita katakan kepada Ian?” tanya Gabe cemas keesokan harinya.
            Masih dikamar Gabe, Andy berpikir keras apa yang harus mereka lakukan nanti malam. Semalam mereka belum memberi jawaban atas permintaan Ian yang super mengejutkan itu.
            “Bagaimana pun itu salah. Aku tidak ingin kehilangan sahabatku sendiri.”
            Dalam hati Andy mengiyakan perkataan Gabe. Ia juga belum siap—sama sekali tidak siap—untuk kehilangan teman terdekatnya. Mereka bertiga sudah bersahabat sejak High school. Sampai sekarang mereka masih bersahabat walau pun masing-masing beda universitas.
            Entah perasaan apa yang Andy rasakan, tapi ia merasa ada perasaan lain selain rasa sebagai ‘sahabat karib’. Hati kecilnya seperti tidak mau kehilangan Ian, karena rasa yang lain.
            Ah, ini hanya perasaanku saja, batinnya.
            “Aku juga berpikir seperti itu. Tapi rasanya ia bersungguh-sungguh ingin melakukannya. Ingat pakaiannya semalam? Juga wine yang ia pesan seharga ratusan dolar itu? Itu bukan dirinya lagi, Gabe. Ia melakukannya karena ia tahu hidupnya kan segera berakhir. Ia sudah siap untuk melakukannya. Sangat siap.” Kata Andy getir.
            “Tapi, tapi.. itu salah. Dan..” Gabe tidak melanjutkan perkataannya.
            “Aku juga merasa Ian belum siap untuk ini. tapi apa kau lihat penderitaannya? Ia sudah sangat menderita. Mungkin ia telah menemukan cara lain untuk mengakhiri penderitannya. Berakhir dalam damai.” Kata Andy, seolah membaca pikiran Gabe.
            Gabe terdiam. Lama. Ia benar-benar tidak bisa berpikir jernih sekarang.
            “Kurasa kita sudah mendapatkan keputusan,” kata Andy getir. Kerongkongannya terasa tercekat.
            Gabe terdiam tanda ia menyetujuinya walau pun berat.
*************************************************************************************
            “Sebentar.” Sahut Ian.
            Ian terlihat begitu gembira ketika mendapati dua sahabatnya sudah berdiri di hadapannya. “Ayo masuk!” katanya sambil membuka pintu lebar-lebar.
            Andy dan Gabe duduk di sofa besar di apartemen itu. Terdapat tiga gelas wine putih di meja di depan mereka dan sebuah botol yang tidak diketahui isinya. Ian lalu mempersilahkan kedua temannya untuk minum.
            “Terima kasih kalian mau datang ke tempatku. Kalian tidak tahu betapa aku menghargai perbuatan kalian ini. terima kasih. Hanya ucapan terima kasih yang bisa kuberikan sebagai tanda terima kasih terakhirku untuk kalian.” Katanya. Saat itu Ian terlihat begitu bersih dan segar, seakan sudah mati dengan kepucatannya itu. “Untuk teman-temanku, yang ada di sampingku hingga aku mati,” katanya lalu bersulang dengan Andy dan Gabe.
            Andy dan Gabe hanya terdiam, bersulang dengan hampa tanpa meminumnya sedikitpun. Hampa. Itulah yang Andy rasakan saat itu. Ingin rasanya ia menghalangi Ian, namun sisi lain hatinya beranggapan bahwa tekad Ian sudah bulat, mustahil untuk merubahnya.
            Lama sekali mereka berdiam diri tanpa berucap satu sama lain.
            “Well, ini saatnya.” Kata Ian akhirnya, lirih. Ia mengambil botol kecil di meja dan menuangkannya ke wine putihnya. Ketika bubuk-bubuk putih dari botol itu tertuang ke minumannya, seketika wine putih itu berubah warna menjadi merah tua.
            Ian memegang gelasnya. Gemetar ia memegangnya. Tepat sebelum Ian menegak minumannya, Andy berdiri.
            “Ehm, Ian, ingatkah kau ketika kita bertemu di High School dulu? Kita satu kelas saat ospek, ingat? Aku, kau dan Gabe. Ingatkah apa yang mempertemukan kita hingga kita menjadi sahabat seperti sekarang?” tanya Andy sambil menoleh kearah Ian.
            Ian sedikit menerawang, mengingat masa-masa saat mereka bertiga ospek dulu. Ia lalu meletakkan gelasnya di meja.
            “Ya aku ingat. Kita memakai baju aneh, topi dari jerami dengan wajah coreng moreng hitam yang membuat kita menjadi aneh. Awalnya kita tidak saling kenal. Lalu saat ada permainan berkelompok, kita bertiga sekelompok. Kita kalah, dan kita harus menghabiskan satu permen lollipop bertiga, secara bergantian. Ya, aku ingat itu. Memangnya kenapa?”
            “Ingat Lollipopnya, Ian! Bagaimana manisnya, yang membuat kita bertiga menjadi seperti sekarang. Manis yang kita bertiga rasakan, yang kita bagi hingga kita semua dapat merasakannya. Ingat saat itu, kita berbagi! Tak peduli betapa malunya kita saat itu, kita menikmatinya iya kan? kita menikmatinya karena kita bersama, Ian.” Sambung Gabe.
            Ian kembali mengingatnya kepada saat-saat itu. “Lalu maksudmu?” tanyanya.
            “Yang dimaksud Gabe adalah kita harus berbagi, seperti kita berbagi lollipop itu. Kau ada masalah, kami ada. Aku ada masalah, kalian ada. Gabe kesulitan, kita berdua disisinya. Aku dan Gabe tidak akan membiarkanmu dalam kesulitan, Ian. Ayolah, kita ini teman. Kau tidak bisa menyimpan masalahmu sendirian. Biarkan aku dan Gabe membantumu. Kami akan membantumu melaluinya.” Andy menambahkan sambil duduk di sebelah Ian.
            “Tapi semua sudah terlambat, Andy. semua sudah begitu sulit untuk dirubah. Aku sudah tidak sanggup lagi. Kau tidak merasakan bagaimana sakitnya aku, berdiam diri ketika orang-orang sepertiku dibantai diluar sana. Itu menyakitkan. Masalah ini, masalah gay ini. aku takut mengecewakan orang tuaku, aku tidak mau melihat kesedihan di waajah ibuku. Aku lebih baik mati hingga tak ada satu pun yang tahu. Itu akan membuatku labih baik.” Katanya. Ia menatap tajam Andy.
            “Lihat ke dalam hatimu! Bukan ini yang membuatmu merasa lebih baik. Lihatlah!” seru Gabe.
            Ian terdiam lama.
            “Yang membuatku lebih baik adalah saat aku tidak harus mendapatkan masalah seperti ini semua.” Katanya sambil menunduk.
            “Tepat! Aku dan Gabe tidak akan menemanimu bunuh diri, tapi kami akan menemanimu melalui masalahmu. Yang kau butuhkan saat ini hanyalah dukungan teman, bukan mengakhiri hidupmu begitu cepat. Pikirkanlah, Ian.” Kata Andy. ia menggenggam erat tangan Ian dan dirasakannya tangan itu gemetaran.
            Ian menatap kedua sahabatnya. Matanya memerah, kemudian sebutir air bening mengalir dari pelupuk matanya.
            “Ya. Kau benar. Tak pernah kupikirkan itu. Tak pernah terlintas di benakk. Aku memiliki teman yang harus kupertahankan. Ya, seperti teman..” katanya tersendat-sendat.
            “Seperti sahabat.” Tambah Gabe.
            Gabe duduk disebelah Ian, dan kami memeluknya. Erat. Berharap kesedihan dan penderitaannya akan terbagi bersama Andy dan Gabe. Ian hanya menangis sementara tanpa ia sadari bibirnya terus mengucap.
            “Seperti sahabat, sahabat, sahabat,……” ulangnya getir. Giginya bergemeletukan sementara air matanya terus mengalir.
            Andy lalu berdiri.
            “Tidak, Gabe-lah sahabatmu. Aku pacarmu.” Kata Andy.
            Ian menengadah. “ Apa maksudmu?”
            Gabe juga agak kaget mendengarnya.
            “Setelah pernyataanmu kemarin, barulah aku sadar aku juga mencintaimu. Sebagai pacar. Aku tak sanggup kehilanganmu. Sejak peristiwa lollipop itu, aku sudah menyayangimu, tetapi aku tidak yakin perasaan apakah itu. Dan kemarin, aku sadar aku mencintaimu. Aku berjanji akan menjadi lolipopmu, orang yang akan memberimu manisnya kehidupan sementara kau menjalaninya dan kebahagiaan saat kau menikmati saat saat bersamaku. Aku akan menjagamu. I’m your lollipop.. Ian Livingstone, maukah kau menjadi pacarku?” Andy berlutut di hadapan Ian. Gabe agak menggeser posisi duduknya, menjauh.
            Ian tertegun mendengarnya. Sesaat kemudian ia tersenyum penuh haru.
            “Aku mau. Aku mau!” jawabnya sambil terisak. Ia lalu memeluk Andy dan Andy mencium keningnya. Gabe hanya tersenyum melihatnya. Ian hanya terus menangis di pelukan Andy. Menangis dan menangis.
            Menangis bersama lollipopnya.
(maaf kalo masih berantakan dan jelek banget, baru pertama bikin cerpen, hehehe)