Welcome to Rayrowling's Blog. Media Berbagi Cerita.

Menulis dan membaca saat ini sudah mulai menjadi trend di kalangan Remaja. Selain itu banyak juga bermunculan cerita untuk kaum minoritas yakni cerita kaum pelangi yang isinya dominan dengan adegan panasnya. Dengan berdasar kedua alasan tersebut Rayrowling(Founder) membangun Blog ini sebagai Media Berbagi Cerita khususnya cerita cinta kaum pelangi yang tidak memfokuskan di adegan Hot-nya untuk lebih jelasnya silahkan baca Visi dan Misi Blog di About Site.
Apa Aja sih yang ada di Ray Rowling's Blog?
1. Tentunya berisi Cerita yang bertema kaum pelangi, baik fiksi maupun non fiksi dari pemilik Blog silahkan lihat label CORETANKU dan dari beberapa tulisan sahabatnya dengan label CORETAN SHABAT
2. Berisi karya lain dari penulis seperti puisi, Argument dan lain-lain untuk itu silahkan kunjungi PETA SITUS kami untuk mengetahui apa yang ada di blog ini. Terimakasih atas kunjungannya.

Saturday, 5 January 2013

Cinta dan Khayalan


 Pagi yang cerah ini aku duduk di tepi jalan beraspal berbatas jurang yang begitu indah. Suara gemuruh sungai di dasar jurang bersautan dengan suara serangga di pepohonan. Kedua suara bergabung menjadi satu dengan suara hembusan angin dan kicauan burung mejadikan irama yang menenangkan bagiku. Selain indra pendengaran dan penglihatanku, ternyata indra penciumanku juga aktif di tempat ini. Aroma rumput basah dan bunga di tepi jalan menghiasi penciumannku. Semua komponen itu melengkapi keindahan tempat ini, tempat yang selalu aku gunakan berdua dengan orang yang kucintai untuk menghilangkan stress.
**********
Mencintai seseorang adalah bagian paling mudah bagiku, tapi untuk mengungkapkannya merupakan hal tersulit bagiku. Apalagi mencintai sosok laki-laki yang menjadi pusat perhatian teman-teman saat SMA dulu. Iya, bukan sosok perempuan yang aku cintai tapi seorang laki-laki, dan akupun tak tahu apa penyebabnya karena aku merasakan cinta ini mengalir begitu saja.

Memoriku masih menyimpan nama Riko, Riko Zulkifli adalah laki-laki pertama yang aku suka. Kedatangannya ke sekolahku menjadikannya medan maghnet yang menarik perhatian para siswi yang mengagumi ketampanannya. Tak hanya siswi guru muda pun juga ikut-ikutan menjadi penggemar rahasianya. Dari sekian banyak penggemar mungkin hanya aku sendiri penggemar bejenis kelamin laki-laki.

Hampir semua penggemarnya hilang saat dia mendapatkan predikat siswa tersombong di sekolah. kesombogannya menurutku hanyalah sikap cuek di depan teman-teman lain, dia paling anti bicara dan bergurau dengan teman-teman, hanya buku yang selalu dijadikan teman setianya membuat di semakin misterius. Namun, sepertinya hanya aku yang bertahan menjadi penggemar rahasianya hingga dia lulus SMA.

Aku tidak pernah tau kemana dia pergi setelah lulus SMA, namun wajahnya masih tetap menjadi teman mimpiku. Hingga akhirnya di sebuah Universitas aku bertemu dengannya lagi. bertemu dengan orang yang pernah menjadikanku pemimpi terbaik.

 Mungkin Mimpiku akan selalu menjadi mimpi jika aku tidak pernah memperjuangkan mimpiku. Aku beranikan untuk bergabung dengan UKM kesenian dimana Riko merupakan Wakil ketua dari Organisasi tersebut. Ketika mendaftarkan diri di UKM (Unit kegiatan Mahasiswa) kesenian Riko yang menjadi panitia perekrutan.
“Rendy Oktabara” Tanya Riko padaku.
“Iya, Mas” kataku agak sedikit canggung.
“Panggilannya?” lagi-lagi dia bertanya dan hanya melihat biodataku.
“Rendy”
“Baiklah, keahlian apa yang kamu punya dalam bidang seni?” pertanyaan yang sangat kutakutkan akhirnya keluar juga.
“Sebelumnya saya minta maaf, mungkin saya memang tidak punya bakat dalam berseni, namun motifku ingin bergabung dalam UKM ini ialah melatih diri untuk berorganisaasi, karena sebelumnya saya juga aktif berorganisasi di OSIS dan saya sebagai ketua osis dulu” kataku panjang lebar dan berhasil membuat dia memandangku heran.
“Terus bagaimana kamu bisa berpartisipasi dalam bidang seni?” kata Riko heran.
“Gampang saja, meski saya bukan pelaku seni bisa saja saya membantu di belakang panggung memberikan ide kratif saya” kataku sedikit ragu.
“Baiklah, kamu lolos interview tinggal mengikuti Diklat sabtu malam besok” katanya sambil menjulurkan tangannya. Aku langsung tersenyum meraih tangannya untuk berjabat tangan. Itulah kali pertama diriku menyentuh tangannya yang putih mantap, namun dia tetap dingin seperti dulu. Hal itulah yang membuatku semakin bersemangat mencari simpati darinya.

Dua hari berlalu, sekarang aku berada di hutan tepatnya di lereng gunung Arjuna bersama belasan calon anggota UKM kesenian lainnya. Aku measa bingung kenapa mereka melakukan Diklat di tempat seperti ini, ini UKM kesenian atau Pencinta Alam pikirku. Aku hanya bisa diam mengikuti arahan beberapa kakak tingkatan dan sesekali mataku menelusuri mencari sosok Riko di hutan yang mulai sore ini. Akhirnya kedua mataku dapat menangkap dirinya duduk termenung di depan tenda panitia.

“Kalian masih calon anggota, dan dapat dimungkinkan diantara kalian tidak akan lolos dalam seleksi ini” Suara besar kakak tingkatan yang telah kulupakan namanya. Aku memang sulit mengingat sebuah nama jika orang itu hanya biasa-biasa aja. Aku selalu mengingat orang yang paling dominan diantara mereka, paling pintar, paling nakal, bodoh, ganteng, cantik, dan sebagainya.

Satu persatu dari kami diabsen dan mendapatkan nomor tenda yang akan ditempati oleh 3 orang calon anggota dan 1 pendamping. Setelah semua siap aku menuju tenda nomor lima sesuai arahan panitia tadi.
“Hai, tenda no lima?” Tanya laki-laki berpenampilan paling modis diantara kami.
“Hai juga, kita sekelompok ya?” kataku tersenyum padanya sambil melihat pakaiannya.
“Rendy kan?” dia tersenum padaku
“iya, Kita sudah penah kenalan ya?” aku menjabat tangannya.
“Belum, kenalin namaku Davi” kata Davi sambil menjabat tanganku.
“Rendy, hmm.. ngomong-ngomong kamu mau kemana pakaian modis seperti itu?” kataku agak heran.
“Hahaha…” dia hanya tertawa dan melepas jabatan tangannya. akupun hanya geleng kepala melihatnya seperti itu.
“Eh, Iya karena kita satu tim kita saling bantu ya, ngomong-ngomong anggota kita masih kurang satu orang” kataku sambil mencari sosok yang tak tahu orangnya. Ku lihat davi juga menoleh kesegala arah namun tak ada orang yang datang ketenda kami.
Biarlah, mungkin dia terlambat” kata davi sambil memasuki tenda.

Aku mengikutinya masuk ke tenda, tenda yang disediakan memang cocok untuk kapasitas empat orang, namun kami masih berdua di dalam tenda. Jelang beberapa menit ada seorang yang masuk ke tenda, dia adalah Riko.
“Permisi, Aku pendamping kalian menggantikan kak Aldo, dia lagi sakit di rumahnya. Mungkin kalian sudah tau namaku dan sekarang  saatnya kalian perkenalkan nama kalian” Kata Riko sambil meihat ke arahku.
“Rendy” “Davi” kata kami berdua bergantian memperkenalkan nama kita masing-masing.
“Baiklah, kalian harus menjadi tim yang hebat meski kalian hanya berdua karena teman satu kelompok kalian mengundurkan diri. silahkan ganti pakaian” kata Riko sambil keluar dari tenda.

Aku merasa manusia paling bahagia malam ini, karena Riko akan tidur satu tenda denganku. Pikiranku melayang kemana-mana hingga akhirnya aku di kagetkan suara Davi.
“Hei, mikirin apa?” kata Davi sambil membereskan ranselnya.
“Ahh, tidak aku Cuma memikirkan sesuatu tadi” kataku sambil membuka ranselku.
“Pasti pacarnya” ledek davi. Aku tak membalas ledekannya yang kulakukan hanyalah mengeluarkan kaosku dari ransel.

Aku tak mau membuang-buang waktu untuk ganti pakaian, aku langsung membuka kemejaku dan menggantinya dengan kaos yang disediakan kampus. Ketika membuka baju kulihat davi sedang memandangiku. Aku hanya diam dan langsung memakai kaosku.
“Dav, Permisi ya” kataku padanya sambil membuka celana jeansku. Davi hanya diam heran melihatku brganti pakaian seenaknya di depannya. Kulihat berkas merah dipipinya dan titik keringat di dahinya.
“Dav, napa bengong? Kamu nggak mau ganti baju?” kataku setelah selesai memakai celana olahraga.
”Ah, gantian aja Ren” jawabnya sambil mengaduk isi ranselnya.
“Kamu malu ya? kita ka sama-sama Laki Dav, buat apa malu” kataku meledeknya karena aku tau tidak semua laki-laki mau berganti pakaian meski di depan teman laki-lakinya.
“Eh, nggak kok” katanya ragu. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang menyembunyikan rasa malunya.
“Eh, Dav sorry ya aku ganti pakaian seenaknya” kataku padanya. Davi hanya dian dan sibuk dengan Tasnya.
“Dav? Kamu tak apa?” kataku memegang pundaknya.
“Eh, aku tidak apa apa Ren” Kata Davi sedikit kaget.
“Baiklah, aku keluar dulu ya, silahkan kamu ganti pakaian” kataku sambil keluar dari tenda.

Suasana di luar tenda sudah semakin gelap, kulihat dua orang panitia telah menyiapkan Api unggun. Beberapa anggota lain juga mulai menjelajahi sekitar perkemahan dan sebentar lagi kami harus berkumpul untuk melakukan perjalanan.
“Dav, sudah selesai belum?” kataku dari luar tenda.
“Sudah Rend” jawab Davi dan langsung keluar dari tenda. Kami berdua langsung menuju tenda panitia untuk berkoordinasi dengan Riko yang sedang duduk di sana. Langitpun mulai gelap acara diklat dimulai. Aku dan Davi satu-satunya kelompok beranggotakan dua orang, sedangkan yang lain beranggotakan 3 orang.

Satu persatu Pos telah kami lalui, setiap pos kami harus melakukan apa yang disuruh oleh penjaga Pos. dari bernyanyi, menjawab pertanyaan tentang kepemimpinan terakhir perjalanan kami berakhir di depan api unggun. disinilah kami merenung bersama hingga lewat tengah malam.

Setelah semuanya selesai akhirnya kami diperbolehkan kembali ke tenda masing-masing. Aku membuka isi tasku dan mengambil Snack yang sengaja aku bawa dari kos.
“Dav, Silahkan” Aku menyuguhkan snack yang ku bawa
“Wah, prepare banget kamu Ren, aku gak kepikiran buat bawa cemilan ke sini, thanks ya!” kata Davi sambil mencomot makanan kemulutnya.

Sambil Istirahat dan santai, aku dan Davi banyak mengobrol tentang diri kita masing-masing. ternyata Davi adalah mahasiswa luar kota dan tinggal di kota ini dengan tantenya. Dan baru aku tahu ternyata Davi merupakan mahasiswa semester tiga dan baru mengikuti UKM ini setelah setahun dia kuliah. Dia merupakan anak tunggal dan kedua orang duanya tinggal di paris. Sekilas aku dapat menilai Davi dari cara berbicara dan sikapnya dia merupakan anak yang supel dan menyenangkan. Meski penampilannya terkesan sangat mewah tapi dia tetap rendah hati dan tidak sombong.
“Oia, Fokus senimu apa Ren?” Tanyanya.
“Oh, aku tidak punya bakat seni, tapi aku suka berorganisasi aja, dan sedikit punya keinginan untuk belajar seni” kataku sedikit malu.
“Bagus kalau gitu, Aku sendiri hanya bisa main musik Ren” kata Davi datar.
“Alat musik apa yang dapat kau mainkan Dav?”
“Untuk sementara aku hanya bisa main piano dan gitar”
“Kapan-kapan Aku ajari bermain gitar ya” kataku sambil tersenyum menandakan suatu permohonan padanya.

Beberapa menit kemudian ada seseorang yang membuka tenda kami, dan menyuruh kami berdua untuk keluar. aku sudah dapat menebak dari suaranya siapa yang menyuruh kami keluar yakni Riko. Aku dan Davi segera keluar dari tenda dan menghadap kearahnya.
“Salah satu anggota kehilangan Handphonenya dan terpaksa kita menggeledah satu persatu Tenda, Don periksa barang mereka” kata Riko memerintahkan kak Doni. aku santai saja karena aku yakin barang yang mereka cari tidak ada di dalam tenda kita.
Selang beberapa menit, Doni keluar dari tenda membawa Tasku “Ini Tas siapa?”
“Ini Tas saya kak, kenapa?”
“Oh, ini Handphone siapa?” Dony menunjukan handphone yang tak kukenal kepadaku.
“Saya tidak tahu kak” kataku keget melihat barang yang tak ku kenal ada di Tasku.
“Baiklah, kalau kamu mengaku kami tidak akan melaporkan kamu ke polisi” Bentak Riko.
“Kenapa? Kenapa saya mau dilaporkan Polisi?” Kataku
“Sudah jelas ini Ponsel yang hilang, dan kamu pencurinya”.

Suasana semakin memanas, beberapa anggota berhamburan keluar dari tenda mereka menuju tendaku. Beberapa wajah melihatku penuh kebencian. Ku lihat wajah Davi yang tidak percaya kalau aku yang mencuri benda itu, namun aku benar-benar tidak tau tentang benda itu. Sumpah demi sumpah telah ku lontarkan namun balasannya hanyalah makian dan tuduhan yang memperkuat bahwa akulah pelakunya.

Aku sempat berfikir bahwa ini adalah jebakan dari temanku sendiri, teman yang baru aku kenal yakni Davi. “Dav, jelaskan pada mereka kalau aku tak bersalah, aku selalu berdua denganmu dari sore tadi” kataku memohon pada Davi.
“Iya kak, tadi Rendy selalu bersamaku” kata Davi.
“Oh, berarti kalian berdua bersekongkol ya?” kata Riko. Kulihat Davi merasa ketakutan, apa mungkin davi orang yang telah merencanakan ini. namun apa salahku padanya hingga dia tega menuduhku mencuri.
“Laporin polisi aja”, “Keluarin dari UKM”, “Dasar Maling” beberapa suara mulai bersautan dari kerumunan panitia.
Akhirnya aku dibawa kedepan api unggun dan duduk di sana berdua dengan Davi.
“Kami disini tidak mencari maling, tapi kami mencari orang yang royal pada organisasi kami” kata Riko. Sungguh rasa malu yang sangat besar ketika dituduh sebagai maling. Tak terasa air mataku mendobrak untuk keluar, namun aku selalu menahan air mata itu, karena aku tak mau menjadi laki-laki cengeng.

Aku harus menghadapi masalah ini, aku harus bertanggung jawab pada mereka meski aku hanyalah korban fitnah.
“Rendy, kalau kamu tidak mengaku terpaksa aku laporkan Davi juga ke polisi sebagai komplotan pencuri” kata Dony dengan suaranya yang besar.
Maaf kak, sekali lagi saya katakan bahwa saya tidak mencuri barang itu menyentuhnyapun tidak, percaya atau tidak yang jelas aku dan Davi tidak berencana menjadi maling, jadi hukumlah saya” kataku untuk menyelamatkan Davi.

Oh, akhirnya kamu mengaku kalau kamu yang mencuri?” kata Riko. Aku tak berani menjawab lagi, meski aku menjawab dan membela diri bukti dan saksi lengkap untuk menuduhku sebagai pencuri. Aku menundukan kepalaku merenungi nasib.

“Hei Rend, angkat kepalamu” bentak Riko.

Ketika aku mengangkat kepala, Satu timba air mengguyurku dan langsung membasahi tubuhku. bersamaan dengan guyuran air suara nyanyian selamat ulang tahun besautan di belakang. Aku langsung berdiri tertawa kepada mereka semua, rasa bahagia dan terharu campur jadi satu. Riko menjabat tanganku dan Davi Juga mendekatiku mengucapkan selamat ulang tahun. Aku tak pernah berfikiran mendapatkan surprise semacam ini sebelumnya karena akupun juga lupa kalau hari ini adalah ulang tahunku.

Ketika semuanya bubar, aku berganti pakaian dan memakai jaket di dalam tenda. Suasana sudah sangat sepi dan ternyata Riko tidak bergabung dengan tenda kami. Hanya aku dan Davi berbaring di dalam tenda. Gara-gara guyuran air itu aku merasa sangat kedinginan. Jaket yang kulekatkan di tubuhku tak juga menghangatkanku.  Kulihat Davi sudah terlelap dalam tidurnya.
“Dav, aku numpang selimutnya ya” kataku membangunkan Davi.
“Kamu kenapa Rend? Kedinginan ya? silahkan rend” Davi sedikit bergeser dan membentangkan selimutnya. Perlahan akhirnya rasa dingin yang kurasakan berkurang. Hingga aku terlelap dalam tidurku.

********

            Suara kicauan burung sudah terdengar mengusik tidurku aku mencoba membuka mataku dan langsung kaget ketika diriku memeluk Davi. Perlahan aku melepas pelukanku dan berbalik arah membelakangi Davi. Aku yakin Davi tidak merasakan bahwa aku telah memeluknya, untung saja dia masih terlelap.

Aku langsung keluar dari tenda menuju sisa api unggun tadi malam, tanah basah sisa guyuran tadi malam masih terlihat. Aku mengambil ranting pohon dan mengais bara api yang masih menyala. “Mau kopi?” tanya Riko mendekatiku dengan dua gelas kopi.
“Boleh, terimakasih” kataku sambil menerima segelas kopi hangat darinya.
“Kamu dari mana?” dia mulai membuka pembicaraan.
“Aku dari kediri kak” kataku sambil meniup kopi hangat di gelasku.
“Oh, sepertinya aku pernah melihatmu tapi aku lupa”
“Hehehe, bukan sepertinya kak, tapi memamng benar kakak pernah melihatku kok”
“Oia, emang dimana?” tanyanya ingin tahu.
“Dulu pas waktu SMA kak” kataku sambil tersenyum.
“SMA yang mana? Soalnya pas mau naik kelas tiga dulu aku pindah sekolah”
“SMA pindahan kakak, saat itu aku masih kelas satu dan di kelas teman-temanku yang cewek pada heboh membicarakan kak Riko” aku panjang lebar menceritakan respon teman cewekku di kelas ketika kak Riko mula pindah  ke sekolahku.

            Obrolan demi obrolan mengalir begitu saja, banyak yang aku bicarakan dengan Riko mengenai sekolah kami dulu hingga tak terasa cahaya matahari semakin terang menembus lebatnya hutan.
“oia, kalau acara diklat ini selesai jangan panggil Kakak, panggil Riko saja” kata Riko sambil berdiri dari tempat duduknya.
“Ok boss” kataku sambil mengangkat tanganku yang memegag gelas plastik berisi kopi.
“Yaudah, silahkan kamu berkemas, karena nanti siang kita akan kembali ke kampus” Riko menimggalkanku sendiri di depan bara api yang sudah hampir mati.

Segera aku kembali menuju tenda dan ku lihat Davi sudah bangun dari tidurnya.
“Udah bangun Dav?” sapaku ketika masuk ke tenda.
“iya, semalam aku tidur nyenyak banget” katanya sambil melipat selimutnya dan langsung dimasukan ke ranselnya.
“Ayo kita mandi ke sungai, pastinya teman-teman juga sudah di sana” ajakku pada Davi. Kulihat ada keraguan dalam diri Davi ketika ku mengajaknya mandi bareng di sungai. Sekali lagi aku mengajak Davi namun dia beralasan yang tak masuk akal.
“Dav, aku tahu kamu pasti malu ya mandi bareng teman2 lain?” kataku padanya.
“eh, enggak kok Ren” jawabnya kaku.
“hahaha, yaudah kalau begitu kita tidak usah gabung bersama mereka, lebih baik kita berdua aja ke sungainya dan memilih tempat yang berbeda dengan mereka, ntah di hilir atau di hulu sungai yang agak jauh dari mereka, gimana?” saranku pada Davi. Tak usah ku ulangi dua kali ternyata davi menyetujuinya.

Segera aku dan davi berjalan menyusuri jalan setapak untuk mencapai sungai yang jernih. Sesampainya di sungai aku langsung membuka semua pakaianku dan melompat ke sungai. Rasa segar langsung mengguyur tubuhku dan aku lihat Davi masih berdiri melihat ke arahku.
“Dav, ayo airnya segar loh” aku berteriak memanggil Davi.
“iya Ren” kata davi sambil membuka kaosnya. Kulihat badan Davi ok juga tak kalah bersih dengan badanku. Aku kira Davi memiliki penyakit kulit di tubuhnya karena dia tidak mau membuka baju di depanku namun semua terbantahkan badannya bagus bersih.
Perlahan Davi turun ke sungai tanpa melepas celananya. “Dav, buka saja celanamu gak ada yang melihat kok” kataku menyarankannya.
“Aku tidak memakai celana dalam Ren” jawabnya
“Loh? Kamu pikir aku ini pakai celana dalam?” aku langsung berdiri memperlihatkan tubuhku yang telanjang bulat.
“Hahaha, biarin terserah aku Ren” Davi tertawa melihatku.

akhirnya Davi sudah masuk kedalam air menikmati dinginnya air sungai yang jernih. Sesekali aku mencipratkan air kearahnya dan berhasil membuat kita bedua tertawa seperti anak kecil. Aku menghampiri batu besar di pinggir sungai dimana handukku berada di sana. Ku raih handukku dan kulilitkan di pinggangku.

“Dav, ayo kita kembali ke tenda, dingin banget nih” kataku padanya. Davi langsung mengarah ke batu besar dimana aku duduk di sana.
“Ren, tolong ambilkan handukku” katanya meminta tolong. Terlintas di otakku untuk mengerjai davi.
“Ambil sendiri Dav” kataku datar.
“Ayolah Rend, aku juga kedinginan”
“Kamu ini Dav, naik aja kesini lagian kamu pakai celana tuh” kataku sambil mengerutkan alis.

Kulihat Davi sedikit ragu namun akhirnya dia memutuskan untuk naik menuju batu besar. Ketika kulihat selangkangan davi ternyata alat vitalnya menonjol tercetak jelas. Aku sedikit menahan senyum melihat kejadian itu.

“Kenapa ketawa?” tanya Davi padaku.
“Hahaha, punya Alat vital gede seperti itu malu” kataku meledeknya. Muka Davi langsung memerah ketika ku menyinggung tentang alat vitalnya. Aku semakin ingin mengerjainya, langsung kutarik celananya dan alhasil Mr.P setengah tegang milik davi mencuat keluar.
“Hahaha, Kamu lagi On ya?” katakau meledeknya.
Davi langsung menutupi kemaluannya dengan handuk yang dililitkan kepinggangnya.
“Kurang ajar kau Ren” kata Davi sedikit tertawa
“Kenapa bisa ereksi gitu? Hem jangan-jangan kamu nafsu sama aku ya?” kataku meledeknya.
“Hei, dikira apaan bisa nafsu ma kamu ren” balasnya sedikit cemberut.
“Yah siapa tahu kamu itu ada kelainan, terus melihat aku yang telanjang begini kamu jadi horny” ledekku semakin menjadi.
“Oh, seharusnya yang bilang ada kelainan itu aku padamu Ren” Davi mulai menjawab ledekanku dengan serius.
“Kenapa harus aku Dav?” tanyaku ingin tahu.
“Semalam kamu meluk aku, dan bilang Riko..Riko aku mencintaimu, dan berkali-kali menciumku” Davi mengerutkan alisnya.
Aku langsung terperangah mendengar cerita Davi, “Heh, jangan fitnah Dav” kataku ketakutan.

“Hahaha, gak usah ketakutan gitu Ren, kamu mimpiin Riko kan?” Davi sekarang berbalik menyerangku. Aku hanya diam memikirkan apa benar kata Davi kalau diriku memeluknya dan menyebut nama Riko. Kemungkinan besar memang benar karena semalam aku mimpi lagi jalan bersama Riko.

“Jangan melamun Rend, kalau boleh jujur sebenarnya aku memang punya kelainan seksual, aku suka cowok Rend” pengakuan Davi membuat jantungku berdegub.
“Dav, Aku minta maaf kalau memang memeluk dan menciumimu” Kataku mulai membuka percakapan. Aku mengakui bahwa diriku sangat mengagumi sosok Riko dari SMA dulu, namun aku tak punya keberanian untuk mengungkapkannya karena aku yakin Riko adalah laki-laki normal.
“Sudahlah Rend, kamu perjuangkan cintamu itu dan aku akan membantumu kawan” kata Davi sambil memegang pundakku.

******

            Dua bulan kemudian Aku dan Davi semakin akrab, Kami saling percaya pada satu sama lain seperti saudara yang selalu menjaga. Meski kami sama-sama Gay, tak ada dalam diriku niatan untuk bergumul dengannya. Begitu juga dengan Davi, dia masih saja menjaga sikap dihadapanku. Akupun tak mau bersikap seperti  awal bertemu dengannya yakni berganti pakaian layaknya laki-laki normal lainnya.

Selain sebagai sahabat, Davi merangkap menjadi guru musicku, Davi mengajarkanku bermain gitar, sedikit demi sedikit aku bisa memindahkan posisi jemariku untuk mengubah kunci nada gitar. Perjuanganku untuk bermain musik tidaklah sia-sia, meski ujung jari tanganku mulai keras yang penting aku bisa bermain gitar. Hingga suatu hari Davi menghadiahkanku sebuah gitar akustik.
“Ren, sepertinya kamu sudah mahir bermain gitar” kata Davi ketika mendengar petikan gitarku.

“Haha, bisa aja kau Dav” kataku sedikit malu mendengar pujiannya.
“Oia, aku punya hadiah buat kamu” Davi berdiri keluar dari kamarku kosku menuju mobilnya. Bingung rasanya Davi memberikan hadiah untukku, karena hari ini bukanlah hari spesialku. Aku mendekati Davi menuju mobilnya, dan ternyata Davi memberikan sebuah Gitar.

“Ren, kali ini kau bisa bermain gitar sepuasmu, dan ini lebih bagus dari yang kamu pegang itu” kata Davi sambil menjulurkan gitanya.
“Wah, thanks ya Dav gitarnya bagus banget, nih gitar tuamu ku kembalikan. Haha” kataku sambil memberikan gitar lama yang dipinjamkan Davi padaku.
“Meski ini gitar tua, ini sudah turunan dari kakekku Ren, makanya aku ingin kau memiliki gitar itu agar kau cepat mengembalikan gitar bersejarah ini ini ” timpalnya.
Bukan hanya gitar yang diberikan oleh Davi, namun beberapa barang terkadang diberikannya, ntah Topi, Kaos, Jam tangan dan aksesoris lainnya. Berkali-kali aku selalu melarangnya namun semakin dilarang dia semakin membelikanku yang aneh-aneh.

Aku tak bisa membalas kebaikannya, karena aku tak mampu membelikan dia barang-barang sama yang dia berikan padaku. aku hanya bisa mentraktir dia makan baso, mie ayam dan lain-lain. Namun tetap sama aku juga yang sering di traktir olehnya.
“Dav, Jangan terlalu berlebihan terhadapku” kataku ketika pulang dari jalan-jalan
“Berlebihan gimana?”
“Sikap kamu itu Dav, terlalu over untuk ukuran sahabat” kataku sambil melihat jalan.
“Itu biasa aja kok Ren, aku memang gitu orangnya menyenangkan sahabat itu penting” jawabnya datar. Aku tidak merespon jawaban dari Davi, karena aku lebih tertarik dengan sosok di trotoar jalan. Dua orang laki-laki terlihat sedang bertengkar.
“Dav, berhenti” kataku dan seketika davi menginjak rem mobilnya. Aku langsung keluar dari mobil Davi menuju dua orang itu.
“Riko?” kataku melihat kearahnya.
“Eh, Rendy” jawab Riko sambil meraih tanganku.
“Siapa Dia?” Kata Laki-laki yang tak ku kenal.
“Dia pacarku yang baru, jadi kamu tak ada lagi urusan denganku” kata Riko sambil menarik tanganku. mendengar itu aku langsung shock dan tak bisa berkata apa-apa. Kemudian Davi juga keluar dari mobil dan berdiri di sampingku.
“Ok, Silahkan kalian pergi” kata laki-laki itu.

Kami bertiga langsung masuk ke mobil Davi, Aku dan Davi tetap ada di depan sedangkan Riko Berada di belakang.
“Sorry Ren, Sorry Dav, aku telah mengajak kalian masuk dalam masalahku” Riko meminta maaf.
“Jelaskan saja Rik jangan Ragu” kata davi
“Aku Gay” kata Riko Singkat.
“laki-laki itu?” tanya davi ingin tahu.
“Mantanku, sudah dua bulan kami putus. Kalian boleh membenciku, mungkin kalian juga akan menghancurkan reputasiku di kampus besok” kata riko pasrah.
“tenang saja Rik, rahasiamu akan selalu aman kok” kata Davi santai sambil tersenyum melihatku.

Aku hanya bisa diam mendengarkan obrolan Davi dan Riko, sesekali aku berfikir apakah semua laki-laki di dunia adalah gay? Karena setiap orang yang berhubungan denganku merupakan gay. Di sisi lain aku sangat senang karena kemungkinan besar aku bisa mendapatkan cinta Riko. Namun disisi lain aku merasa ketakutan akan kegagalan mendapatkan cintanya.

Dav, turunkan aku disebrang jalan sana” kata Riko
“Baiklah” kata Davi sambil mengurangi kecepatan dan merapat kesisi jalan.
“Thank Dav, Rend aku duluan”
“Eh iya Rik” kataku sambil tersenyum ke arahnya. Dan selanjutnya Davi mengarahkan mobilnya menuju rumah kosku.

********

Seminggu berlalu, setelah kejadian malam itu, Riko sering main ke tempat kosku. Namun aku dan Davi tidak pernah menceritakan bahwa diriku sama sepertinya.
“Rend, kamu bisa main gitar?” tanya Riko.
“Bisa kalau Cuma genjreng doang Rik” kataku asal.
“Dulu seingatku kamu bilang tak dapat bermain musik?”
“Iya dulu, nih guruku yang mengajariku bermain gitar” aku menujuk Davi yang sibuk menyetel gitar miliknya.
“coba Rend kau mainkan sebuah lagu” Riko memintaku untuk bermain gitar.
“Lagu apa Rik?” kataku sedikit sombong
“Rendy jago dengan Lagu-lagu peterpan Rik” Sekarang davi angkat bicara.
“Kalau begitu, coba mainkan lagu Bintang Di Surga”

“Ok. masih ku merasa angkuh…” langsung saja kumainkan lagu itu dan dengan sepenuh hati ku bernyanyi di depan Riko dan Davi. Kulihat Riko tersenyum melihatku dan ketika melihat Davi, davi juga heran denganku memainkan gitar dengan serius.
 “…dan kasih yang setia dan cahaya nyata.” Akhir lirik yang kunyanyikan dan seketika Riko bertepuk tangan untukku.

“Wah hebat kau Ren, suaramu bagus” Kata Riko tak henti-hentinya memujiku.
“Iya Ren, hebat banget suaramu” tambah Davi dan berhasil membuatku semakin melayang.
“Kamu itu punya bakat Ren, jadi harus dikembangkan” Riko menyarankan untuk mengembangkan bakatku dalam bermusik dan bernyanyi.

******

Semakin hari davi semakin memberikan perhatiannya untukku, di sisi lain Riko juga sudah semakin dekat denganku. Aku masih mengagumi dirinya dan tentunya masih mencintainya. Jika ada kesempatan berdua dengan Riko aku ingin mengatakan Padanya betapa aku mengaguminya sejak SMA dulu, namun aku tak memiliki keberanian untuk itu. yang bisa kulakukan hanyalah mengaduh pada Davi.

“Dav, tindakan apa yang harus aku lakukan?” kataku pada Davi.
“Saranku hanya satu, raihlah apa yang menjadi mimpimu Ren” kata davi terlihat sangat dewasa.
“Kiranya, dia mau menerimaku nggak ya? “ kataku ragu.
“Hahaha, kalau takut ditolak kapan majunya? SEMANGAT Rend” kata Davi sambil memegang pundakku, wajahnya begitu dekatdengan wajahku. Sekilas ada perasaan aneh dalam diriku, perasaan yang begitu saja detang.
“Biarlah Dav, biarlah menjadi Hayalku saja” kataku sambil mundur menjauhi Davi.

Aku langsung duduk di meja belajar Davi, kulihat layar komputernya terpampang jelas foto kami bertiga, yakni Riko disebelah kiri aku ditengah dan Davi di kanan. Foto itu kami ambil ketika liburan di pantai bersama. Aku terus pandangi foto itu namun sepertinya aku lebih tertarik menelusuri raut wajah Davi ketimbang wajahku dan Riko. Tampak jelas wajah laki-laki baik dan penuh perhatian terhadap para sahabatnya.

“Rend, kenapa bengong melihat komputer itu?” Tanya Davi kepadaku.
“Ah.. tidak apa-apa Dav” kataku datar
“Pasti bayangin Riko lagi” kata Davi meledekku.
“Halah, sok tau kamu Dav” kataku sambil berdiri dari meja belajar menuju balkon di kamar Davi. Mungkinkah aku sudah mencintai Davi? Begitu mudahnya aku mencintai orang? Sampai kapan aku akan menjadi orang yang mudah jatuh cinta? Aku terus melamun menghadap jalan dari balkon kamar Davi.

Tiba-tiba motor Riko berhenti di depan gerbang rumah Davi. Seketika itu juga rasa kagumku terhadap Riko menenggelamkan sedikit rasa pada Davi.
“Dav, Riko datang” kataku pada Davi. Davi langsung menghampiriku ke balkon dan menyuruh Riko untuk langsung masuk ke kamar Davi.
“Rik, langsung Masuk aja, di dalam tidak ada orang” kata Davi sambil melambaikan tangan.
“Rend, kumpulkan keberanianmu, katakan perasaanmu pada Riko” Davi menyarankanku untuk mengatakan cinta pada Riko saat itu juga.
“Ngaco kamu Dav, Aku belum siap” kataku dan seketika Riko Masuk Ke kamar Davi.
“Emang mau siap-siap kemana Rend?” Tanya Riko sambil meletakan Tasnya di atas kasur.
“Tau Rik, nggak jelas Rendy mau ngomong apa” kata Davi tertawa padaku.
“Ada aja Rik mau tau aja kamu ini” Akupun juga ikut tertawa.

Kedatangan Riko ternyata untuk membicarakan konsep pentas seni tahunan tingkat Universitas. Ternyata tingkat universitas memilik agenda lomba untuk semua mahasiswa di kampusku. Riko menginginkan UKM kami mengikuti lomba itu, beberapa sudah mendaftarkan diri. dan Riko menyarankanku untuk ikut berpartisipasi dalam lomba tahunan itu.

“Rend, Kamu ikut lomba itu ya!” kata Riko padaku.
“Hah? Aku manggung di pentas?” kataku sedikit kaget.
“Iya Ren, Kenapa Tidak? Sekali aja aku ingin melihat kamu di panggung “ Kata Davi
“Nggak, Aku gak mau Dav, kamu tau kan aku masih belajar bermain musik dan tak tahu teknik vokal” protesku pada mereka.
“Untuk terakhir kalinya Ren, Aku ingin melihat penampilanmu di panggung” Davi terlihat sangat serius kali ini.
“Emang kamu mau kemana dav? Kan bisa tahun depan” kataku datar.
“Kalau taun depan Aku yang gak bisa melihat kamu Rend” kata Riko menimpagli pertanyaanku pada Davi.

Aku tahu riko tahun depan sudah lulus kuliah dan meski tahun depan aku mau menampilkan aksiku bermain musik Riko tidak akan pernahmelihatku. Seharusnya Aku mau, karena dengan begitu aku bisa berlatih untuk percaya diri.
“Aku pikir-pikir dulu  Ya!” kataku pada mereka.
Keduanya langsung tersenyum melihat responku yang sudah 60% menyetujui ajakan mereka semua.

Riko mencarikan lagu di untukku, lagu yang cocok untukku. Ketika Riko menawarkan lagu berbahasa ingris aku langsung menolaknya karena jujur aku kurang bisa melafalkan kalmat bahasa inggris. Aku memintanya untuk mencarikan lagu Dari pop indonesia saja, pastinya bisa dinyanyikan solo.

“Rend, kamu kan sahabat Peterpan? Bagaimana kalau lagu peterpan saja? Aku punya versi akustiknya” saran Riko padaku.
“Baiklah, Aku mau lagu-lagu peterpan, Enaknya lagu Apa ya Dav?” tanyaku pada Davi agar dia juga ikut andil dalam penampilanku nanti.
“Mungkin Nanti, Aku suka lagu itu” kata Davi padaku. Tanpa disuruh dua kali aku langsung menyetujuinya begitu juga dengan Riko.

Hampir tiap hari aku berlatih bersama Davi di kosku, Davi juga selalu bermain gitar setelah aku istirahat latihan. Aku melihat Davi sedang asyik bermain gitar, ntah lagu apa yang dia nyanyikan itu, namun sepertinya dia sangat mendalami lagu itu. Aku bisa menangkap Lirik dari lagunya adalah tentang hayalan seseorang untuk pujaannya. Sepertinya lagu itu cocok dengan ku nyanyika.
“Hemmm Dav, itu lagu siapa? Aku baru dengar lagu yang kau nyanyikan itu” tanyaku ingin tahu.
“Hmm. Ini lagu lama Rend, lagu yang bandnya tidak dikenal orang. Kalau ingin tahu cari saja di google ketik KHAYALKU-LOONEY” kata Davi. Aku hanya tersenyum pada Davi, sepertina davi memang lagi suka menyanyikan lagu itu.

Dua hari menjelang Pentas seni, aku mendatangi warnet dekat kampus, aku download lagu dan lirik yang sering di nyanyikan oleh Davi, sepertinya aku lebih tertarik pada Lagu yang dinyanyikan  Davi daripada lagu-lagu peterpan. Untung saja chordnya gampang dingat dan liriknya pun gampang di hafal. Selama dua hari itu aku belajar menyanyikan lagu itu tentunya secara diam-diam.

******

            Suasana kampus malam itu sangat ramai, dan aku mendapatkan urutan terakhir dalam kompetisi itu. melihat penampilan peserta lain aku menjadi sangat grogi dan agak pesimis. Riko menjadi panitia dalam acara itu, sehingga dia sibuk mengurusi semuanya. Di sampingku hanya ada Davi yang selalu menemaniku.
“Dav, sepertinya aku tidak bisa” kataku sedikit gemetar.
“Tenang Rend, aku yakin kau pasti bisa” Davi menyemagatiku. Aku masih ragu lagu apa yang akan aku nyanyikan. Lagu peterpan atau lagu looney? Yang jelas aku harus memilih salah satunya.

Tak lama kemudian suara pembawa acara mulai memanggilku. “Selanjutnya peserta terakhir akan tampil solo menyanyikan Lagu peterpan” Suara dari sound memanggilku.
“Dav, doakan aku” kataku pada Davi
“Rend, tunggu” kata Davi sambil mengikatkan tali yang dianyam menyerupai gelang.
“Apa ini?” kataku bingung
“Ini akan membuatmu semakin percaya diri, Ingat Rend nyanyilah Sepenuh hati bawalah semua yang ada di sini mengalir dalam nyanyianmu” kata-kata davi menyemangatiku.
Aku menaiki panggung, dan berhasil membuat tubuhku dingin karena gerogi. Beberapa pasang mata melihatku dan semakin membuatku membatu. Ku lihat Riko ada di depan panggung bersama Davi tersenyum padaku
.
“Selamat malam, Lagu ini Aku peruntukan untuk seseorang yang selalu berada di hatiku, entah orang itu tau atau tidak yang jelas aku mencintainya” kata-kata pembukaan pertamaku.
Aku langsung duduk di kursi dan memangku gitarku. Ku posisikan jari tangan kiriku membentuk kunci nada D, dan jari kananku mulai memetik gitar.
Kucoba tepis semua rinduku..
Kucoba hapus semua anganku..
Berharap semua cepat berlalu..
Khayalku tuk miliki dirimu..”

Aku menyanyikan lagu itu dengan sepenuh hati, kulihat Riko tersenyum padaku, dan disamping Riko Davi sudah tidak ada di sana. Hingga akhirnya aku selesaikan lagu itu dan semua penonton disana diam tanpa memberikan respon atas penampilanku. Namun ketika aku berdiri mengucapkan terimakasih suara riuh tepuk tangan dan siulan ramai terdengar. Aku langsung berlari ke belakang panggung untuk menemui Davi.

Davi langsung memeluk dan tanpa terkendali Davi Menciumku, aku membalas ciuman bibirnya. Namun aku sadar bahwa diriku berada di belakang panggung meski sepi kemungkinan besar ada orang lain disana. Untung saja suasana memang sepi.
“maaf rend, aku terbawa suasana” kata davi tak nak hati. Dan akhirnya tiba pengumuman pemenang, meski hanya menjadi juara dua aku sudah bangga karena dapat menyanyikan lagu dari hati.

****

Keesokan harinya hapeku mendapat pesan dari Riko
“Rend, setelah mendengar lagu kamu itu, ada suatu hal yang akan kukatakan padamu, temui aku nanti malam di café tempat bisa kita nongkrong, datanglah sendiri” rasa senang langsung muncul dalam diriku
.
Malampun tiba, aku menceritakan bahwa aku akan menemui Riko di café.
“Rend, kamu mau ke café berpakaian seperti itu?” tanya Davi.
“Kamu ini mau menemui laki-laki idamanmu, semuanya akan ditentukan malam ini juga” tambahnya.

Davi membawaku ke mall dan membelikanku baju dan merapikan semuanya untukku. Dia juga menyemprotkan parfum dan merapikan rabutku yang agak berantakan. Aku tahu Davi mencintaiku, kenapa dia takpernah mengungkapkannya?
“Dav, aku mau tanya suatu hal”
“apa Rend?”
“kenapa kamu enjoy banget mempersiapkan semuanya untukku, padahal aku tahu kamu juga mencintaiku”
“Ah, kata siapa aku mencintaimu?”
“Dav, kalau aku ngomong tatap mataku”
“udah beres, sekarang kamu bisa berangkat” kata davi ketika memakaikan jam tangannya di tanganku.
“Cukup dav” aku melepas jam tangannya dan pergi dari rumahnya. Aku terus berlari dan langsung naik Taxi menuju café dimana Riko sudah menunggu di sana.

Ku lihat Riko sedang duduk di meja nomor 8 sendirian, dan ketika melihatku dia langsung melambaikan tangan dan tersenyum. Aku mebalas senyumannya itu dan langsung menuju tempatnya
“Sory Rik lama ya nunggu aku?”
“wah, kamu keren banget malam ini Ren”
“Haha, thanks Rik”
“Aku traktir kamu makan malam ya, sebelum aku ngomong sesuatu”

Setelah makan akhirnya Riko mengatakan maksudnya mengundangku ke café ini.
“Ren, sorry mungkin aku kurang peka dengan perasaanmu padaku, sebenarnya aku juga memiliki rasa padamu, namun aku pikir kalian berdua, maksudku kamu dan davi adalah sepasang kekasih. Namun aku salah, karena ternyata kalian hanya bersahabat dan aku baru tahu kalau kamu menyukaiku dari Davi malam pensi kemarin.”
“iya, terus?” kataku pada Riko.
“Mau nggak kamu menjadi kekasihku?” kata riko sambil memegang tanganku. aku tersenyum padanya, menghargai apa yang dia katakan padaku, namun aku harus jujur padanya bahwa sebenarnya aku sudah tidak mencintainya lagi.

“Maaf Rik, sebenarnya lagu itu ku peruntukan untuk Davi, yah aku mencintai davi, aku cinta padamu namun aku lebih mencintai davi” kataku jujur padanya. Riko tersenyum menerima kenyataan bahwa aku menolaknya.
“Ren, kalau kamu memang tak mau menjadikan aku sebagai kekasihmu, maukan kamu menjadi adikku?” kata Riko tersenyum padaku.
“Kalau itu aku mau, karena sebelumnya aku sudah memanggilmu kakak” kataku membalas senyumannya.
“Hahaha, baiklah Ren besok aku temani kamu temui Davi dan kita beri kejutan bersama-sama dirumah tantenya”

******

Ke esokan harinya tepat jam 10 pagi aku dijemput Riko di kos.
“Udah siap?”
“Udah kak” aku tersenyum padanya
“Ayo kita berangkat” Riko langsung melajukan motornya menuju Rumah tante Davi.
Aku memencet bel rumahnya dan ternyata yang keluar adalah tantenya.
“Permisi Tante, Davi ada?”
“Wah, kebetulan kamu datang Rend, Davi menitipkan sesuatu untukmu” kata tante Davi
“loh emang Davi kemana tan?”
“gimana kamu Ren, sahabat sendiri pergi kok gak tau?”
“pergi kemana Tante?”
“Loh? Davi kan lagi nerusin sekolahnya Di prancis sana?”
“sekolah diperancis? Bukannya Davi itu mahasiswa dikampusku tan?”
“Loh, Davi di sini hanya cuti selama satu tahun dan mengisi waktu sekolah ekonomi D3 di sini, wajarlah kalau dia berhenti sekolah ekonomi karena dia sebenarnya siswa bidang desain dan music” kata tante Davi panjang lebar.

Tante davi memberikan gitar Tua milik Davi dan Sebuah flashdisk.
Dengan berat hati aku meninggalkan Rumah Davi, Di kamar kosku Aku meminjam Laptop riko untuk membuka isi flshdisk pemberian Davi. Ada dua folder di dalam flashdisk itu, folder berisi foto-fotoku hasil kamera hape Davi. Dan satu folder lagi adalah 3 materi lagu dan surat dari Davi. Isi Surat itu Davi mengatakan salam perpisahan dan menginginkan aku serius dalam bermusik dan mendoakanku agar bahagia bersama Riko. Membaca itu aku tau bahwa Davi sangat mencintaiku, aku tak kuasa meneteskan air mata. Air mataku sangat berharga, jika aku menangis maka orang itu adalah orang spesial dalam hidupku.

 Riko mencoba menenangkan diriku denagan cara merangkulku, saat itulah aku mulai berjanji pada diriku dan Davi akan lebih serius dalam bermusik. Davi orang yang yang telah dikirim Tuhan untuk menunjukan takdirku. Aku tak pernah berfikiran aku akan menjadi musisi yang terkenal saat ini. semua ini adalah dukungan dari Davi dan Riko.

*****

Dua tahun berlalu, aku sudah berhasil menjadi orang terkenal di jagat hiburan, saat ini aku menjadi penyanyi solo. dan kali ini aku kembali ke kota dimana aku bertemu penuntun takdir serta orang yang aku cintai untuk mengisi acara di kampusku. Sengaja Aku datang sehari sebelum Pertunjukan agar aku bisa mengenang masa saat Kuliah dulu, masa saat bersama Davi.

Dengan Mobilku Aku sendirian menuju tempat favoritku dulu bersama Davi, yakni jalan menuju puncak. Di tikungan inilah aku selalu mengahabiskan waktu bersamanya ketika kita sama-sama penat dengan urusan kuliah.

Aku telah buktikan bahwa aku bisa menjadi musisi yang hebat, dan disinilah aku berada. Di pinggir jalan beraspal tepatnya di tukungan menuju puncak. “Dav, terimakasih kamu telah membuatkan jalan untukku, sehingga aku bisa menjadi seperti ini” kataku dalam hati sambil memakai earphone dan mendengarkan lagu looney. Aku memejamkan mata untuk mengingat semuanya yang telah berlalu.

Tiba-tiba aroma rumput bercampur dengan aroma parfum yang aku kenal.
“Dav, bukan hanya pikiranku mengingat kamu, tapi penciumanku seperti mencium aroma parfummu, mungkin aku sudah gila” kataku dalam hati. Namun aroma parfum itu sangat jelas merasuk hidungku. Aku membuka mataku dan kaget ketika ada seseorang di sampingku.
“sangat bahaya buat seorang superstar melamun sendirian ditempat seperti ini” Orang itu memandangku sambil tersenyum.
“Davi?” Aku langsung berdiri dan diapun juga berdiri
“Ya”, dia membuka tangannya dan siap-siap menerimaku dalam pelukannya. Aku langsung memeluknya dengan erat melepaskan rinduku selama ini. Davi juga membalas pelukanku dan memukul lemah punggungku.

The end

Cerita di atas hanyalah karangan belaka, dengan tujuan menghibur pembaca. Silahkan Dihujat.! Karena hujatan kalian memang selalu aku nanti.. keep writing (sorry tulisannya blepotan, harap maklum).


Cinta dan Lain-Lain

Rayrowling.blogspot.com

Cinta dan Lain-lain adalah Kumpulan Cerpen yang menceritakan tiga tokoh utama yakni Romy, Radit, dan Jimmy. Cerpen-cerpen ini sebenarnya sudah pernah di publikasikan di sebuah blog yang dulunya terkenal blog tersebut adalah Blog Tuki dan Juki, namun tulisan ini banyak menuai kritikan pedas, mulai dari isi dan tata penulisan yang berantakan. Kali ini Aku sebagai penulis dan pemilik cerpen ini akan memosting ulang cerpen-cerpen yang sebelumnya sudah di sunting ulang. Oia Lupa Cerita Ini juga pernah di Posting di page facebook CERITA PENGALAMAN GAY, Namun Admin dan pemilik Page tersebut tidak memiliki ETIKA asal Copas tanpa meletakan sumbernya.    Dan Ingat cerpen-cerpen dibawah ini hanyalah FIKTIF belaka, dan tidak terjadi di dalam kehidupan NYATA. Hehehe. Ok, Cerpen-cerpen tersebut antara lain :
  1. Jimmy dan Surat Kecilnya. Ini menceritakan tentang persahabatan antara Romy dan Jimmy. Dengan sudut pandang orang pertama yakni Romy. Dan ini merupakan titik baru bagi Romy sebagai seorang laki-laki. (Last Edited 05 Januari 2013)
  2. Ada Cinta Di Bali. Dalam cerpen ini diceritakan bahwa Romy dan Jimmy berlibur ke pulau Dewata bali. Nah Saat di pulau itu Romy bertemu dengan Radit yang tak lain adalah sepupunya sendiri. Romy menghianati Jimmy dengan menjalin hubungan dengan Radit.  (Last Edited 05 Januari 2013)
  3. Jember In Love. Dalam Cerpen Ini diceritakan bahwa Jimmy dan Romy Akhirnya berpisah, dan Raditlah yang memliki Romy seutuhnya. (Last Edited 05 Januari 2013)
  4. Kisah Cinta Radit (Antara Cinta Pertama dan Cinta Terakhir). Kali ini isi cerpen ini bukan merupakan Kelanjutan cerpen 1, 2, dan 3 diatas. Cerpen ini menceritakan kisah perjalanan cinta Radit dan tentunya tokoh utamanya Radit dengan sudut pandang orang pertama yakni Radit. (Belum diedit)
  5. Jimmy Love Story's : Ini juga merupakan Sekuel dari kisah 1, 2, dan 3. Menceritakan kisah perjalanan Cinta Jimmy dengan penceritaan menggunakan sudut pandang orang pertama yakni Jimmy sebagai tohoh utama. (Belum diedit)
  6. Judulnya takut kontroversial... nanti kuperbaiki lagi. hehehe
  7. Sama, Endingnya juga kontroversial.. so Lain waktu aja ya hahaha....
Itulah Beberapa Cerpen yang kubuat dulu dengan tema Cinta dan Lain-lain. Setelah kumpulan cerpen itu dipoting, Aku masih menulis beberapa cerpen lain diantaranya Cinta Tak Berujung, Because your heart and my eyes, dan terakhir Cinta dan Khayalan

Nb: Jika tidak tampak Link, Maka Cerita tersebut belum diposting diblog ini, Terimakasih.


Wednesday, 2 January 2013

Mengejar Masa Lalu 01


Mengejar Masa Lalu - Wasiat si Mbok (Last Edited 9 Januari 2013)

Siang itu langit kabupaten banyuwangi terlihat gelap tetutup awan pekat dan terlalu dini untuk sang tirta langit turun ke bumi. Hal itu membuat seorang anak laki-laki di sebuah SMP swasta harus segera menyelesaikan soal terakhir Ujian sekolahnya. Dia bernama Johar Sugiono, Anak laki-laki itu akrab dipanggil dengan sebutan Jo di kalangan teman-teman SMP-nya. Sesekali Johar memandang langit dan tampak sangat gelisah, Bukan masalah soal UAS yang menjadi beban baginya namun tentang seorang perempuan yang selalu dipanggilnya Embok di rumahnya.
Soal terakhir berhasil ia selesaikan dan kini saatnya memberi kesempatan bagi teman-temannya untuk menyalin jawabannya. Untung saja teman sebangku Johar dapat diandalkan dan dia menyuruh Johar untuk keluar pertama. Johar pun bergegas menuju meja pengawas dan meletakan lembar jawabannya di atas Meja. Dengan sigap Johar langsung menuju ke luar kelas dan meraih tasnya berlari menuju kantor sekolah.
Setelah mendapatkan Ijin, Johar pun berlari menuju rumah kecil yang berjarak  1 KM dari sekolah. Terdengar dari jauh suara gemuruh petir yang membuatnya semakin kencang berlari. Beberapa menit kemudian akhirnya Johar berdiri di depan rumah kecil dari bilik bambu. Rumah itu adalah rumah yang melindunginya dari hujan dan panas matahari. Terlihat di dalam rumah sosok perempuan muda yang selalu dipanggilnya dengan sebutan mbak Yani sedang merawat Mbok Iyem.
Melihat Mbok Iyem yang mulai duduk di ruang tamu membuat Johar tersenyum karena merasa bahagia melihat Mbok Iyem sehat dari sakitnya. Dengan Nafas masih ngos-ngosan Johar mendekati rumah itu dan suara motor terdengar dari belakang. Ketika Johar menolehkan pandangannya terlihat laki-laki berseragam putih abu-abu datang bersama seorang tetangga terdekat. Pemuda itu bernama Adam yang merupakan kakak Johar.
“Mbok kenapa Dek?” tanya Adam sambil melompat dari boncengan motor. “Aku baru nyampek kak, dan itu Mbok Sehat” Jawab Johar sambil mengikuti langkah cepat Adam menuju ruang tamu. Di dalam Ruang tamu ada Bi Inah tetangga samping rumah mereka, perempuan tua bernama Mbok Iyem yang merupakan Orang tua Adam dan Johar juga seorang perempuan muda bernama Yani yang merupakan kakak perempuan satu-satunya Adam dan Johar.
“Mbok kenapa Mbak?” tanya Johar kepada Yani. “Tidak apa-apa dek, cepat kalian ganti baju dulu” jawab Yani begitu tenang. “Kenapa pak lek Joko jemput saya ke sekolah?” tanya Adam sedikit khawatir. “Kalian ganti baju dulu, dan cepat temeni Mbok disini nak” kata Bi Inah penuh kasih.
Akhirnya Johar dan Adam bergegas ke kamar mereka dan langsung ganti pakaian santai. Johar mendekati Mbok Iyem di ruang tamu, dan selanjutnya Adam yang mengambil posisi di samping Johar. “Kalian sudah makan?” tanya Mbk Iyem Lemah. “Sudah Mbok, Mbok istirahat di kamar aja ya!” Jawab Johar sambil memegang tangan Mbok Iyem. Mbok Iyem hanya menggelengkan kepala dan meneteskan air matanya.
“Adam, sini nak mendekat pada mbok” kata Mbok Iyem. Mendengar itu, Johar ganti posisi dengan Adam, dan sekarang Adam yang berdampingan dengan Mbok Iyem. “Mbok Istirahat di dalam aja ya Mbok, Mbok tidak mau sehat lagi?” kata Adam sambil mencium tangan Mbok Iyem. “Nanti Mbok juga istirahat lama nak, sekarang Mbok hanya ingin berkumpul dengan kalian semua” kata Mbok iyem di sela batuknya.
Yani yang berdiri di bersama Bi inah hanya bisa meneteskan air mata melihat Adam dan Mbok Iyem berdampingan. “Adam, Mbok banyak salah dengan Adam. Maafkan mbok ya nak!” Kata Mbok Iyem sambil Menangis. “Kenapa Mbok? Adam yang banyak salah pada Mbok” kata Adam sambil menangis. Johar juga berkaca-kaca di samping Adam.
“Johar, Mbok juga banyak salah padamu nak… maafkan mbok ya” Kata mbok iyem perlahan. Johar hanya diam dan melihat mbok iyem yang semakin melemah. “Yani, tolonglah Mbok ya nduk! Tolong sampaikan kebenaran pada mereka, Mbok Sudah tidak kuat lagi!” kata mbok Iyem dan lagi-lagi disertai batuk. Yani semakin terisak, tangisannya sudah tak terbendung lagi, Bi Inah berusaha memegang tubuh Yani yang berdiri di samping Mbok.
“Adam, Johar Maafkan Mbok ya nak” kata maaf terlulang dari bibir Mbok membuat Adam dan Johar semakin sedih. “Mbok, jangan ngomong gitu… Mbok pasti sembuh dan kita akan bersama selamanya Mbok” kata Johar melepas kesedihannya dengan isak tangisnya. “Pokonya Mbok berdosa kepada kalian berdua, dan Mbok Mohon maaf sebesar-besarnya dan Mbok harap kalian bisa rukun bersama dan membantu mbok menebus kesalahan mbok di masa lalu. Maafkan mbok ya nak” Kata Mbok Iyem dan langsung lemas tak berdaya. Suara Yani langsung melengking meneriaki kata Mbok. Adam Hanya bisa memeluk Mbok Iyem yang sudah tak bernyawa. Sedangkan Johar roboh di samping Adam mendapati mbok kesayangannya meninggal di depan matanya.
Beberapa tetangga terdekat masuk dan mengurus jenazah Mbok Iyem. Adam yang lebih tabah dapat mengontrol emosinya dan membantu mengangkat Johar ke kamarnya. Akhirnya Jenazah Mbok Iyem bersemayam di atas dipan yang berada di ruang tamu dan di samping jenazah itu Yani terus saja menangis. “Mbak, sudahlah… Jangan tangisi Mbok! Lebih baik kita doakan Mbok dan kita baca Yasin bersama” kata Adam sambil memeluk Yani di sampingnya. “Adek Johar kemana dek?” tanya Yani menyadari tentang Johar. “Johar masih pingsan mbak, mbak harus tenang dan sebaiknya mbak ngaji buat mbok” kata Adam dengan Bijak.
Setelah memastikan Yani tenang, Akhirnya Adam menuju kamar mandi dan berwudlu. Yani juga menuju kamar mandi untuk berwudlu, suara lantunan surat yasin terdengar memenuhi ruang tamu yang kecil itu. Sebelum mengaji, Adam masuk ke kamar Johar dan melihat Johar masih tak sadarkan diri ditemani Bi Inah. “Biar saya yang bangunin Bi” kata Adam mendekat. Bi Inah pun keluar dari kamar bergabung dengan yang lainnya.
“Adek, bangun dek!” kata Adam sambil menepuk tangan Johar. “Kalau Adek begini terus Mbok akan merasa berat, Dek ayo sadar!” Adam mencoba memukul pelan pipi Johar. Perlahan akhirnya Johar membuka matanya. Dia masih terlihat kosong dan hanya menatap langit-langit rumah tanpa menghiraukan Adam di sampingnya.
“Adek….” Kata Adam singkat ketika melihat Johar yang sudah sadar. “Mbok, dimana Mbok kak?” Johar langsung bangun dan berusaha menuju ruang tamu, namun Adam memegangnya dan memeluknya. “Yang sabar ya dek, Mbok sudah pergi meninggalkan kita” kata Adam sambil menangis. “Iya, dimana mbok? Aku sudah tidak apa-apa kak Aku juga tahu itu, suara lantunan surat yasin itu sudah memperjelas semuanya” kata Johar sambil melepas melukan Adam. “Janji ya, jangan bersedih lagi dan lebih baik kita doakan Mbok!” kata Adam mengingatkan Johar. “Aku mau lihat Mbok kak!” kata Johar dengan nada pelan.
Akhirnya Adam memapah Johar menuju ruang tamu, beberapa tetangga langsung melihat ke arah mereka dan Yani masih terus mengaji di samping Mbok iyem. Johar mendekat ke jenazah Mbok iyem dan membuka kain batik penutup jenazah. Dan ketika itu juga Johar menangis dan mencium jenazah Mbok Iyem. Semua menjadi haru, baik Adam maupun Yani tak tahan melihat Johar yang bersimpuh di samping Jenazah Mbok Iyem. “Mbok, secepat itu kah Kau meninggalkan Jo? Sebentar lagi Jo lulus SMP mbok, Sebentar lagi Jo akan memakai seragam putih Abu-abu… Mbok pernah bilang kalau embok ingin melihat Jo memekai seragam putih Abu-abu, sebentar lagi akan terlaksana Mbok. Kenapa Mbok lebih dulu pergi? Mbok… Sekarang siapa yang akan membangunkan Jo untuk sholat shubuh? Mengingatkan Jo untuk selalu berbuat baik?” kata Johar sambil terus menangis di samping Mbok Iyem yang sudah membujur kaku.
Adam mendekati Johar dan mengajak Johar untuk lebih tabah. “Adek, jangan bikin Mbok tambah berat meninggalkan kita. Ayo adek Mandi dulu dan Mengaji untuk Mbok” Adam memegang lengan Johar dan berusaha membangunkannya. Dengan isak tangisnya Johar bangkit dan langsung mengikuti arahan Adam.
Ketika berada di dekat kamar mandi, Adam mengingatkan Johar untuk ikhlas atas kepergian Mbok. Adam juga memberikan masukan Agar Johar lebih dewasa lagi, dan tidak merasa bahwa dirinya sendiri. “Dek, Kamu itu tidak sendiri, masih ada Aku dan masih ada Mbak Yani. Aku ini kakakmu, Tak mungkin aku menyia-nyiakanmu. Jangan bersedih gitu, semua akan mengalami kehilangan dan semua akan merasa sedih namun tak semua orang larut dalam kesedihan.” Kata Adam sambil memegang pundak Johar.
Johar terdiam sejenak dan kemudian mengangguk. “Baiklah, kamu mandi dulu, setelah hujan reda kita akan memandikan Mbok di halaman” kata Adam penuh nada kesabaran. Johar pun masuk dan suara air terdengar dari dalam, Johar menyiram tubuhnya tanpa membuka Baju dan celananya. Dan setelah bisa mengontrol kesedihannya Johar pun mandi dengan bersih. Ketika selesai mandi, Johar bingung mencar handuk, karena sebelumnya dia tidak membawa handuk.
Ketika membuka sedikit pintu kamar mandi, Adam masih berdiri di depan kamar mandi dengan Handuk dan pakaian untuk Johar. “Kak….”, Kata Johar sambil menjulurkan tangannya. Adam memberikan Handuk dan sarung milik Johar. Beberapa menit kemudian Johar keluar dari kamar mandi dengan kain sarung yang terlilit dipinggulnya. “Kamu ambil wudlu dulu, kakak akan tunggu di ruang tamu. Sepertinya hujan mulai reda dan kita mesti cepat memandikan jenazah Mbok” kata Adam sambil menuju ruang tamu.
Johar pun sudah berada di ruang tamu dan terdengar agak serak suara lantunan surat yasin dari mulutnya. Sedangkan Adam membantu para tetangga membenarkan tempat mandi jenazah di halaman rumah. Setelah semua beres, akhirnya Adam masuk dan memberi instruksi kepada Johar untuk mengangkat jasad Mbok iyem. Johar dan Adam membantu memindahkan jasad Mbok iyem ke halaman dengan lantuntan tahlil. Setelah itu giliran Ibu-ibu dan Ustadzah yang mulai memandikan jasad Mbok Iyem.
Beberapa menit kemudian, jasad Mbok Iyem sudah selesai dimandikan. Pak RT menyuruh Adam dan Johar untuk mengangkat Jenazah Mbok Iyem. Namun Yani yang saat itu berada di luar melarang Adam dan Johar mengangkat jenazah Mbok Iyem. “Jangan, Mereka tidak boleh mengangkat Mbok”Kata Yani pelan sambil mendekat ke Pak RT. “Kenapa Yan?” tanya Pak RT. Yani pun menjelaskan alasannya dan Akhirnya Pak RT mengerti, Namun Johar dan Adam masih ingin membantu para ibu-ibu yang menggotong jenazah Mbok Iyem.
Setelah itu, Jenazah dibalut dengan kain Kafan dan disemayamkan sambil menunggu kabar dari tetangga yang menggali kubur. Sambil menunggu kabaritu , ibu-ibu membaca tahlil bersama dan Pak RT mengajak warga untuk bersiap-siap sholat jenazah. Usai tahlil bersama para ibu-ibu keluar dan sekarang giliran bapak-bapak masuk untuk sholat jenazah. Adam berdampingan dengan Johar berada di shaf terdepan.
Akhirnya kabar dari tetangga yang ada di kuburan datang, Jenazah Mbok Iyem di gotong menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Dan ketika semua orang pergi meninggalkan pemakaman itu, hanya ada Yani, Adam dan Johar yang terus duduk di dekat makam si Mbok. Tangis pun pecah ketika Yani meminta maaf sambil mengelus batu nisan Mbok iyem, “Mbok’e Yani banyak dosa pada Mbok’e dan Yani janji akan melakukan Apa yang Mbok’e pasrahkan pada Yani, Mbok’e tenang saja di sana dan semoga gusti Allah menempatkan mbok’e di tempat orang-orang yang beriman!”, kata Yani sambil terus menangis.
Melihat itu, Adam langsung menenangkan Yani dan suami Yani datang kembali ke pemakaman membujuk Yani pulang. Johar pun duduk di dekat batu nisan dan mengangkat kedua telapak tangannya dan berdoa untuk Mbok Iyem. Adam mengikuti Johar dan Setelah itu mereka bergegas pulang ke rumah.
Malam pun tiba, beberapa tetangga datang ke rumah kecil itu untuk melakukan acara tahlil bersama, tak banyak yang datang karena sebelumnya Pak RT bilang bahwa acara tahlilan hanya dilakukan secara kekeluargaan. Namun, mereka yang datang mengingatkan kepada Yani juga pada Adam dan Johar agar tidak terlalu repot dalam memberikan suguhan pada tetangga yang datang. Bagaimanapun juga walau hanya sekedar teh manis harus tetap disuguhkan, Karena ini merupakan ucapan terimakasih kepada para tetangga yang sudah meluangkan waktu untuk mendoakan Mbok bersama.
**************
            Seminggu berlalu di pagi yang cerah seperti biasa Adam dan Johar sudah Mandi dan siap beraktivitas. Adam yang sedang menghadapi ujian sekolah kenaikan kelas harus bergegas menuju sekolah, sedangkan Johar hanya tinggal menunggu pengumuman yang akan keluar seminggu lagi. Hal itu membuat Johar begitu santai dan tidak perlu datang ke sekolah. “Adam, Nanti kalau bisa langsung pulang ya! Mbok mau ngomong penting, kalau gak salah sekarang hari terakhir kamu ujian kan?” Tanya Yani sambil mengaduk teh hangat. “Insyallah, Adam usahain pulang secepatnya kalau Adam lancar ngerjakan saoal ujiannya Mbak. Hehehe” Jawab Adam sambil memasang sepatu.
            “Oia, Mbak Yani kenapa pagi-pagi begini udah datang ke rumah? Bagaimana dengan Mas Naryo?” tanya Johar pada Yani. “Mas Naryo lagi libur Jo, Jadi Mbak tidak perlu membuatkan bekal untuk Mas Naryo biar Mbak masak di sini saja” jawab Yani sambil meletakan dua gelas teh hangat di meja. “Baiklah, Adam berangkat dulu mbak” Kata Adam sambil mendekati Yani dan meraih tangannya. “Eh, teh hangatnya diminum dulu biar nggak laper” kata Yani mengingatkan. Setelah minum teh Adam menuju Johar dan menjulurkan tangannya, Johar pun meraihnya dan mencium tangan Adam. “Sukses ya kak” kata Johar. “Selalu, pasti sekarang juara satu lagi dek” jawab Adam percaya diri. “Halah sok banget… Udah sono berangkat!” kata Johar sambil tertawa melihat Adam.
            “Kalian ini sudah besar masih saja bersaing dan adu mulut terus” kata Yani melihat mereka bedua. “Yaudah, Assalamualaikum!” kata Adam sambil keluar menuju menuju jalan raya. Di dalam rumah sekarang hanya ada Yani dan Johar, Yani langsung meraih kain dan membersihkan meja di dapur. Sedangkan Johar langsung menuju kamarnya dan merapikan kamar tidurnya. Setelah mebersihkan kamar, Johar membantu Yani memasak di dapur, mulai memotong sayur hingga menggoreng ikan.
            Di sela memasak, Johar menanyakan Anting-anting Yani yang sudah tak menggantung di telinganya lagi. “Mbak, Kemana anting-antingnya?” tanya Johar saat menggoreng ikan. “Ada kok dek, Mbak simpan di rumah mas Naryo” jawabnya sedikit ragu. “Mbak jangan bohong, Kak Adam sudah bercerita katanya Anting-anting Mbak dijual ya? Untuk menutupi kekurangan dana acara tahlilan Mbok?” kata Johar sambil melihat Yani.
            “Eh, Adam tahu darimana? Jangan terlalu dipikirkan itu juga pemberian Mbok iyem kok” kata Yani sambil tersenyum. “Yah, tapi seharusnya mbak tidak perlu menjual anting itu, jual saja beras dan sembako yang dari tetangga ini mbak” kata Johar sambil menunjuk karung-karung berisi sembako. “Itu bisa kalian gunakan untuk makan Jo, Janganlah kalian jual sembako itu” kata Yani sambil terus menghaluskan bumbu.
            “Oia, tadi Mbak bilang mau ngomongin sesuatu yang penting kan, Ngomongin apa mbak?” tanya Johar penasaran. “Nanti saja setelah semua berkumpul Jo, Mbak ingin ngomong saat kamu dan Adam berkumpul. “Yaudah nanti aja, oia apalagi yang harus digoreng mbak?” tanya Johar sambil mengecilkan kompor minyak. “Sudah-sudah, biar mbak yang terusin, Jo Beresin ruang tamu saja” kata Yani dan Johar pun langsung keluar menuju ruang tamu.
            Di waktu bersamaan, di sekolah Adam sedang mengerjakan soal-soal Ujian Kenaikan kelas untuk mata pelajaran Matematika. Adam begitu cekatan mengerjakannya, dan penjaga kelas mengira Adam menyembunyikan contekan. “Heh, Coba berdiri” kata pengawas sambil memandang Adam. “Ada apa Pak?” Adam terlihat gugup. “Kulihat semua teman-temanmu itu kesulitan, tapi kamu malah santai dan terus mengerjakan soal itu, Jangan-jangan kamu curang ya?” kata guru penjaga kelas.
            “Curang bagaimana pak? Silahkan cek saja pak” kata Adam sambil berdiri. Guru itu pun memeriksa soal dan lembar jawaban Adam, memeriksa laci dan kursi Adam. “Di saku kamu itu apa?” tanya Guru pengawas. “Tidak ada pak, hanya saputangan.” Jawab Adam. Tanpa bertanya lagi guru itu menggeledah seluruh saku milik adam. dan saat itu juga Wali kelas Adam masuk keruangan itu.
            “Pak Bagiyo? Ada apa?” tanya wali kelas Adam. “Eh Anak ini terlalu lancar mengerjakan soal, jadi Aku kira dia melakukan kecurangan Bu” jawab Guru pengawas itu. “Tidak mungkin pak, saya wali kelasnya dan saya tahu semua murid saya, apalagi Adam yang memang sudah pandai dari awal masuk sekolah, dan dialah sang juara di kelasku pak” kata wali kelas Adam. “Oh, maaf bu kalau begitu, maaf ya nak Adam, bapak kira kamu melakukan kecurangan” jawabnya sambil terus meminta maaf.
            Adam hanya mengangguk dan melanjutkan menjawab soal-soalnya. Hingga beberapa menit kemudian Adam selesai pertama dan langsung mengumpulkan soal-soal itu. Segera Adam menuju pintu gerbang untuk pulang. Dan sesampainya di pintu gerbang Adam bertemu dengan Pak RT yang lewat di depan sekolah Adam. Adam pun memanggil Pak RT dan numpang menuju rumah.
            “Assalamualaikum” Adam mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. “Walaikumsalam” jawab Johar di dalam kamar. “Sudah pulang kak?” Johar menyapa Adam. “Belum, masih di sekolah Dek” Kata Adam agak kesal. “Loh? Kenapa sewot gitu?” Kata Johar sambil memegang pundak Adam. “Hahaha… Kena deh. Kamu kira kakak Marah ya? Nggak kok, meski tadi dibuat badmood sama pak Bagio yang sudah hampir pensiun itu” jawab Adam sambil membuka Bajunya.
            “Oalah, Aku kira ada masalah serius kak” Jawab Johar sambil membenarkan Rambutnya yang lurus. “Mana mbak Yani dek?” tanya Adam. “Mbak pulang kak, nganter makanan untuk suaminya, katanya sih sebentar lagi balik” jawab Johar sambil menuju dapur. Adam hanya diam dan langsung berganti pakaian dan celana Abu-abu miliknya diganti dengan kolor tigaperempat. “Adek udah makan?” tanya Adam ketika berada di pintu dekat dapur.
            “Belumlah, kapan Aku tega meninggalkan kakakku makan sendirian?” jawab Johar sambil meletakan nasi di piringnya. “Halah, emang Aku kapan pernah makan tanpa memikirkan dirimu dek? Kita kan selalu makan bersama saat ada Mbok dulu” jawab Adam sambil menuangkan Air putih. “Mbok… Jadi kangen si mbok kak” Kata Johar pelan. “iya dek, pasti Mbok sekarang sudah tenang dek” kata Adam yang juga terlihat kalut.
            “Sudah, Mbok jangan dipikirin terus nanti malah tambah berat loh ninggalin kita disini” kata mbak Yani mengagetkan. “Eh Ayo mbak makan bersama!” kata Johar sambil terseyum. “Mbak sudah makan sama mas Naryo tadi, kalian makan dulu setelah itu kita bicara di ruang tamu” Kata Yani sambil membantu menyiapkan makan untuk Adam. “Oh iya emang mau ngomongin apa mbak? Sepertinya penting banget!” Kata Adam sambil piring yang sudah berisi nasi jangung. “Makan dulu, biar Mbak tunggu di ruang tamu ya!” kata Yani sambil menuju ruang tamu.
            Akhirnya Adam dan Johar menyelesaikan makannya dan menuju ruang tamu dimana ada Yani yang menunggu mereka. “Apa itu Mbak?” Tanya Johar ketika melihat kotak tua yang dipeluk Yani. “Eh, kalian sudah selesai makannya? Silahkan duduk disini” kata Yani sambil membenarkan posisinya. “Emang itu kota apa?” kali ini Adam yang menanyakan. “Ini adalah kotak wasiat milik Mbok Dek, dan mungkin hari ini Mbak akan berikan Wasiat yang sudah dititipkan Mbok” kata Yani sambil membuka kotak itu.
            “Pertama adalah Cicin ini yang diwariskan untuk Adam, Cicin yang selalu dijaga oleh Mbok meski saat-saat kekurangan uang Cincin ini tidak akan dijualnya” kata Yani sambil menjulurkan cicin emas pada Adam. Adam menerima cicin itu dan membolak-balikan cicin itu, “Sepertinya ini bukan ukuran Mbok deh” kata Adam sambil memperlihatkan Cicin itu ke Johar. Johar hanya diam dan melihat cicin yang indah itu.
            “Cicin itu adalah salah satu warisan Mbok, tapi ada wasiat yang lebih penting lagi, ini menyangkut jati diri kalian berdua” Kata Yani terdengar sangat serius. “Jati diri? Maksudnya?” Kata Johar dan Adam hampir bersamaan. “Sebelumnya mbak mau tanya kepada kalian berdua, kalian Sayang dan cinta pada Mbok?” tanya Yani. “Tidak ada Orang lain yang paling kusayangi selain Mbok seorang” Kata Johar mantap. “Begitu juga dengan diriku Mbak” Adam menambahkan.
            “Alhamdulillah, kalau begitu kalian bisa membantu Mbok menebus kesalahannya dimasa lalu, dan ini menyangkut diri kalian dan hal ini juga yang membuat Mbok meminta maaf pada kalian berdua diakhir hayatnya.” Kata Yani dengan mata yang berkaca-kaca. “Iya Mbak, Tapi kami tidak tahu kalau mbak Yani tidak Cerita apa sebenarnya yang terjadi” Kata Adam. “Kalian bukan Anak kandung Mbok” Kata Yani singkat sambil menundukan kepala.
            “Maksudnya Mbak? Kami bukan anak kandung si mbok? Terus kami anak siapa?” Tanya Adam beruntun. “Berikan Mbak Waktu untuk bercerita!” kata Yani sambil mengusap Air matanya. “Saat itu Mbak masih berumur sepuluh tahun dan Hidup berdua dengan Mbok setelah bapak meninggal. Aku masih ingat saat itu Mbok menginginkan seorang anak laki-laki, namun Bapak memberikan anak pertama berjenis perempuan dan setelah dua tahun kemudian Bapak Meninggal dunia. Saat itu tepatnya tujuh belas tahun yang lalu, kami tinggal di sebuah desa terpencil namun desa itu merupakan akses antar kota. Mbak masih ingat saat Mbak bermain di depan rumah ada seorang laki-laki berlari menuju rumah Mbok yang berada di tempat terpencil itu. Dia meminta tolong pada Mbok untuk membantu istrinya yang akan melahirkan bayi yang dikandungnya. Laki-laki itu tidak bisa membawa istrinya ke rumah sakit yang masih jauh karena ban mobilnya pecah.” Yani menghentikan Ceritanya.
            “Siapa laki-laki itu Mbak?” tanya Adam penasaran. “Dia adalah Ayahmu dek” jawab Yani pelan. “Apa ayahku?” Adam sangat Heran. Kemudian Yani melanjutkan ceritanya, “Mbok saat itu adalah seorang dukun beranak, dan entah berapa kali Mbok membantu persalinan perempuan dari desa-desa terdekat. Mbok langsung bergegas menuju ayahmu  dan membantu dia memapah ibumu masuk ke rumah. Mbok menyuruhku untuk mempersiapkan air hangat dan membawa kain batik untuk menutupi paha ibumu. Ayahmu sepertinya tidak kuasa melihat ibumu yang akan melahirkan dan dia memutuskan untuk menunggu di luar rumah. Setelah beberapa lama kemudian terdengarlah suara tangisan seorang bayi dan ibumu pingsan karena kelelahan.” Sesekali Yani menghentikan pembicaraan dan melihat keluar rumah.
            “Itu pasti kak Adam” Kata johar merespon cerita Yani. Adam langsung memandang Johar dan seketika Johar merasa canggung, Adam sangat konsentrasi mendengar cerita Yani dan tak mau ada orang lain merusak jalan ceritanya. “Lanjut mbak!” kata Adam serius. “Suara bayi itu bukanlah suara tangisan Adam, melainkan suara saudara kembarnya!” Jawab Yani sambil melihat ke arah Adam dan Johar. “Kembar? Aku dan kak Adam kembar?” Kata Johar merespon Cerita Yani. “Bukan Dek, Kalian bukanlah saudara kandung!” Kata Yani.
            “Lanjut saja mbak, jangan hiraukan Johar yang crewet ini” kata Adam terlihat agak emosi dengan sikap Johar. “Ibumu melahirkan dua anak laki-laki dan anak kedua adalah kamu dek, Namun ada keanehan yang terjadi. Semua bayi yang terlahir ke dunia akan menangis, namun tidak dengan dirimu. Kau hanya menggerak-gerakkan tubuh kecilmu, dan Mbok langsung membungkus Adek dengan kain bersih dan menyuruhku membawa Adek ke kamar Mbok. Dari dalam kamar Aku mengintip keluar dari celah bilik bambu melihat Ayah Adek sudah berada di dekat Ibu Adek.  Sesuai dugaan Mbok, ternyata Ayah adek tidak tahu kalau ada dua bayi di rahim istrinya” Kata Yani dan menghentikan ceritanya ketika Adam merespon cerita Yani.
            “Berarti Mbok menculik Aku?” Tanya Adam. Yani hanya mengangguk dan akhirnya matanya mengalir di pipinya, “Maafkan Mbok ya dek” kata Yani sambil memegang paha Adam. “Tidak apa-apa Mbak, Adam senang kok Mbok merawat Adam dengan penuh kasih sayang” jawab Adam sambil memegang pipi Yani.
            “Sebentar Mbak, Jo mau tanya… sampai kapan Kak Adam tidak menangis dan seberapa lama orang tua kak Adam di rumah itu? pastinya mereka lama dan akan menemukan kak Adam.” Kata Johar mencoba menganalisa situasi masa lalu.
.           “Mereka hanya dua jam di rumah, setelah ibu Adam sadar dan Ayah Adam memasang Ban cadangan barulah Mereka pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan bayi dan istrinya. Tak lama kemudian, Adam mulai menangis dan menjerit histeris.” Kata Yani menjawab pertanyaan Johar.
“Mbak, Ayah dan Ibu tidak pernah datang lagi ke rumah itu?” tanya Adam. “Sebenarnya, dua hari setelah mereka pergi, Ayah Adek datang lagi ke rumah membawa kebutuhan pokok. Aku yang bermain di depan rumah langsung berlari menuju Ibu di dapur ketika melihat Ayah Adek dari kejauhan. Mungkin Adek merasakan bahwa Ayah adek berada didekat Adek, dan seketika Adek Menangis kencang. Aku membantu mencoba menenangkan Adek, sedangkan mbok keluar menemui Ayah Adek. Mbok hanya mengatakan kalau di dalam ada pasien yang sedang melahirkan dan Mbok buru-buru akan mengurus pasien itu. Ayah adek tidak memiliki rasa curiga dan langsung memberikan oleh-oleh kepada Embok dan pamit pulang.” Kata Yanti menjelaskan ketika ayah Adam berkunjung.
“Wah kak Adam memiliki saudara kembar yah… pasti dia juga Ganteng kayak kak Adam” Johar meledek Adam yang terlihat bahagia mendengar cerita itu. “Kalian memang ganteng-ganteng kok, apa kalian tidak sadar bahwa kalianlah pemuda ganteng di desa ini? Lihat Semua pemuda di kampung ini, semuanya berkulit coklat pekat seperti kulit Mbak ini. “Jangan bilang gitu Mbak, Kita kan di Desa banyak pemuda yang bekerja di sawah sedangkan kami diwajibkan bersekolah oleh Mbok. Dan juga di daerah sini jumlah pemudanya juga sedikit Mbak, jadi gak pantas dibandingkan dengan mereka” kata Adam sambil tertawa.
“Oia Mbak, Kalau kisah Jo yang crewet ini bagaimana? Aku juga ingin tahu kenapa dia crewet banget dan siapa sebenarnya orang tua Johar ini” kata Adam sambil mencibir Johar. Johar terlihat tidak suka dengan kalimat Adam, dia hanya diam menatap kotak di pangkuan Yani. “Kalau Johar, Mbok mewariskan ini” Yani mengeluarkan kertas foto yang terdapat gambar sepasang Laki-laki dan perempuan berseragam SMA. “Jo, Mbok juga meminta maaf kepada kamu karena merahasiakan identitas kamu sebenarnya” kata Yani sambil menatap Johar yang fokus memandangi foto itu. “Mbak, ini foto siapa?” tanya Johar penasaran. “Itu orang tua Adek” Jawab Yani datar.
“Iya pemuda ini mirip banget dengan Adek, coba Jo memakai kacamata seperti laki-laki ini pasti tidak ada bedanya” Kata Adam ketika melihat foto itu. “Ceritakan saja mbak, Apa mereka semua meninggalkan Aku pada Embok? Atau Sama seperti kak Adam mbok mengambilku dari kedua orang tuaku?” Kata Johar sangat penasaran.
“Baiklah, Sama seperti Adam… kelahiranmu dibantu oleh Mbok sebagai dukun beranak. Namun saat itu ibumu sangat muda dan merupakan siswi SMA dari luar kota. Mbok menemukan ibumu berada di pinggir hutan dengan perut yang buncit. Saat itu kandungannya sudah tujuh bulan. Ibumu sangat depresi dan lari jauh dari rumah hingga terdampar ke rumah kami dulu. Dua bulan ibumu tinggal bersama kami, namun selama itu dia tidak berbicara sepatah kata pun mengenai dirinya. Mbok yakin Ibumu masih sangat muda dan terlihat sangat depresi. Hingga Akhirnya tiba saatnya kamu lahir ke dunia ini.” Yani mencoba mempersingkat ceritanya.
“Selanjutnya bagaimana Mbak? Kenapa Aku bisa dirawat oleh Mbok?” tanya Johar pada Yani. “Kamu terlahir sehat dan Ibumu juga selamat meski itu adalah pertama kali dia melahirkan di usia yang masih muda. Setelah kelahiranmu ibumu mulai berkomunikasi dengan kami, Aku selalu diceritakan tentang kehidupan ibumu. Dan saat ibumu bercerita barulah kami tahu bahwa ibumu merupakan siswi SMA yang sedang hamil karena kecerobohannya melakukan hubungan intim diluar nikah. Menurut ibumu, Ayah kamu adalah laki-laki yang sangat tampan di sekolah dulu. Meski ayahmu adalah anak pindahan, dia bisa bergaul dengan semuanya dan menjadi pusat perhatian karena ketampanan dan kekayaannya.
Namun semua terjadi begitu saja, ibumu yang menjalin hubungan dengan ayahmu diwaktu SMA harus menanggung beban hidup. Menanggung resiko dari kelakuan mereka berdua.” Kata Yani sambil memegang Tangan Johar. Johar terlihat sangat kecewa mendengar cerita itu, namun Adam merangkul Johar dan menenangkannya. “Semangat Dek! Semua orang pasti berbuat salah kok” kata Adam menyemangati.
“Kenapa ibu bisa menderita dan kenapa Ayah tidak bertanggung jawab? Berarti Aku adalah anak haram Mbak!” kata Johar sedih sambil menundukan kepala. “Jo… gak ada anak haram. Yang ada kesalahan orang tua yang melakukan hubungan di luar nikah, bukan Anak yang di hasilkannya” kata Adam.
            “Iya Dek, Adam benar gak ada yang namanya anak haram. Semua sama dan anak itu tidak akan menanggung dosa orang tuanya yang melakukan hubungan di luar nikah” lanjut Yani. “Iya Mbak, lanjutkan saja ceritanya” kata Johar sambil menarik nafas panjang. “Ibumu juga pernah bercerita bahwa dia pernah menemui Ayahmu dan ibumu tak pernah menceritakan kalau dia sudah telat datang bulan. Hingga suatu hari Ayahmu harus pergi meninggalkan ibumu, dia pergi ke luar kota dan berjanji akan menemui ibumu setelah lulus SMA di luar kota nanti. Namun ibumu tidak pernah mendapatkan kabar dari Ayahmu dan tiap hari perut ibumu semakin buncit. Hingga akhirnya Orang tua ibumu itu mengetahui bahwa ada yang tidak beres dengan perut ibumu.
            “Ibumu mendapat amarah dari kedua orang tuanya dan mereka menyuruh ibumu menggugurkan kandungannya. Pastinya ibumu menolak karena yang dikandungnya adalah hasil dari orang yang sangat dicintainya. Hingga akhirnya ibumu dipaksa meminum sebuah obat penggugur kandungan oleh nenekmu, namun ibumu lari dari rumah dengan perut yang buncit. Ibumu merasa bahwa dirinya telah dibuang oleh keluarganya, hingga dia berakhir di rumah kami yang dulu.
            Setelah kelahiranmu, ibumu tak pernah melihatmu. Menyusuimu pun dia juga tidak pernah, dan Mbok merasa ibumu sudah tidak waras karena tidak peduli kepada anak yang dilahirkannya. Beberapa hari kemudian ibumu hilang dari rumah dan kami tidak tahu kemana dia pergi. Embok sudah mencari dan bertanya kepada orang-orang di sekitar kampung namun hasilnya nihil. Hingga dua hari kemudian terdengar kabar bahwa ada seorang perempuan yang tewas tenggelam di sumber air di desa sebelah. Mbok langsung ke desa itu dan ternyata itu adalah Ibumu. Mbok yakin Ibumu mengakhiri hidupnya sendiri untuk menghilangkan beban hidup.” Yani mengakhiri cerita tentang masa lalu Johar sambil membuka Kotak yang ada di pangkuannya.
            “Dek, jangan sedih dong. Masih ada kakak yang akan selalu menemani Adek sampai adek besar nanti” kata kak Adam sambil merangkul Johar. “Emang Aku masih kecil kak? Hehe..”  Johar memaksakan diri untuk tertawa dan bersikap tegar.
“Terakhir adalah amplop ini, Ini adalah tabungan Mbok dan Mbak telah menghitungnya semua berjumlah Rp 3.452.000,-. Mbok ingin Uang ini membantu Adam dan Johar mencari keluarganya.” Yani meletakan amplop di atas meja. “Embok punya uang sebanyak itu darimana? Kenapa kita tidak pernah tahu?” tanya Johar  pada Yani. “Entahlah, Mbak juga tidak tahu dek” jawab Yani datar.
“Sekarang ini adalah harapanku dan harapan besar Mbok, Temukan Keluarga kalian dan sampaikan permintaan maaf Mbok pada keluarga kalian, terutama Adam, Mbok ingin sekali meminta maaf kepada orangtua Adek, namun Mbok sudah tidak lagi punya kesempatan hingga Ajal menjemput. Semalam Mbak bermimpi Mbok sedang bersedih di ruangan yang sangat sempit, Aku yakin Sekarang Mbok masih belum tenang sebelum kalian menyampaikann rasa maaf Mbok kepada Keluarga kalian” Kata Yani sambil memohon kepada Adam dan Johar.
“Tapi kemana kita mencari mereka mbak? tak ada informasi yang kami tahu tentang mereka!” Kata Adam. “Mbok hanya bilang kalian pegilah ke kota surabaya dan disana kalian Akan mendapatkan petunjuk mengenai Orang tua kalian, Firasat Mbok dulu tidak mungkin salah dek, Aku mohon Adek Mencari keluarga Adek” Kata yani.
“Baiklah, Adam Berjanji akan mencari Orangtua Adam dan menyampaikan permintaan maaf kepada mereka. Johar akan selalu bersamaku sampai kami menemukan keluarga kami” kata Adam mantap. “Tapi kak? Bagimana sekolah kita? Bagaimana cita-cita dan masa depan kita?” Protes Johar. “Masalah Sekolah, Kita lanjutkan di kota Surabaya, Dan kita mulai perjuangan kita disana”. Kata Adam sambil tersenyum pada Johar.
********
Beberapa Minggu setelah kebenaran itu, Akhirnya tiba saatnya mereka Pergi meninggalkan Kabupaten Banyuwangi. Langit yang cerah menyemangati kepergian mereka dan semua kebutuhan mereka sudah dipersiapkan. Bagi mereka berdua, surat-surat dari desa adalah hal paling penting di samping surat Ijazah dan keterangan dari SMA Adam.
Saat Matahari mulai meninggi, Adam dan Johar berpamitan kepada tetangga dekat rumah. Yani yang berdiri di depan rumah melihat mereka berpamitan dan terakhir Adam mendekati Yani. “Mbak, Doakan kami ya! Kami akan merindukan Mbak dan semua kenangan yang ada disini” Kata Adam sambil mencium tangan Yani. Yani hanya terisak dengan tangisannya dan mengelus Kepala Adam.
“Mbak, Rawat peninggalan rumah ini ya, Rumah ini adalah warisan Mbok yang terakhir, dan Tolong Rawat makam Mbok ya. Jangan lupa selalu doakan kami saat mbak Selesai Sholat, dan jangan pernah melupakan kami berdua, Johar akan merindukan Mbak” Johar memeluk Yani dengan Erat sambil terus menangis. “Johar, sampai saat terakhir begini kamu masih saja cerewet, Mbak Janji akan merawat rumah dan makam Mbok, Janji Akan selalu mendoakan kalian”, Yani mengelus kepala Johar.
Akhirnya Adam dan Johar menaiki motor milik Mas Naryo suami Yani, Dan Seorang Ojek dari kampung itu. Adam dan Johar terus melihat ke rumah dari bilik bambu itu, disana masih terlihat Yani dan para tetangga berdiri sambil melambaikan tangannya. Johar dan Adam pun tak berpaling dari pandangan itu, hingga Akhirnya pandangan itu benar-benar hilang. Dan saat itu juga perjuangan Hidup di kota surabaya akan menjadi bagian hidup Johar dan Adam.
Bersambung… next Mengejar Masa Lalu 02